Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
78


__ADS_3

"Gak tau. Siapa ya dia, kok kayaknya sudah akrab sama Aydin," jawab Kevin yang masih melihat ke arah Aydin dan wanita itu.


"Bukan teman kalian di kampus?" tanya Kiki pada Kevin.


"Bukan, kakak gak kenal," jawab Kevin.


Mata Kiki sudah berkaca-kaca melihat suaminya dengan wanita lain terlihat akrab di depan matanya.


Kevin mengerti jika adiknya saat ini sedang cemburu. Dia jadi teringat perkataan Vina jika Kiki harus bisa melewati kehamilannya dengan tenang agar tidak berakibat buruk seperti dulu. Dan Kevin juga tidak mau jika Kiki kembali rapuh dan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi hal yang buruk dengan kandungannya.


"Dek, kamu jangan salah paham dulu. Lebih baik kamu tanyakan dulu baik-baik pada Aydin. Ingat Dek, kamu tidak boleh lemah seperti dulu. Kamu harus kuat untuk bayi yang ada di kandungan mu. Abang yakin Aydin setia, jadi kamu harus kuat, jangan mudah terpengaruh dan lawan saja siapapun yang ingin memisahkan kalian. Demi anak kalian berdua," Kevin menatap intens mata Kiki dan itu berhasil membuat Kiki memantapkan dirinya seperti yang diucapkan oleh Kevin.


Kiki hendak menyusul Aydin, namun dihalangi oleh Kevin karena dia tidak mau Kiki terluka jika ada adegan jambak-menjambak, dorong-dorongan ataupun pukul-pukulan seperti biasanya yang wanita lakukan jika bertengkar. Kiki sedang hamil, jadi Kevin harus menjaga adiknya meskipun mereka sering bertengkar namun mereka saling menyayangi dengan cara mereka sendiri.


Bunda mendatangi wanita yang sedang duduk di samping Aydin, dan Bunda menyuruh Aydin untuk pergi menemui Kiki.


Tampak dari tempat Kiki berada, Bunda sedang berbicara serius dengan wanita tersebut dan tidak ada senyum di wajah Bunda, yang terlihat hanya kemarahan di wajah Bunda saat ini.


Kiki hanya terdiam ketika Aydin sudah berada di sampingnya dan memberikan minuman yang diambilnya untuk Kiki tadi.


Aydin bertanya pada Kevin lewat tatapan matanya dan Kevin memberi tahu Aydin menggunakan dagunya dengan menggerakkannya ke arah wanita yang tadi bersama Aydin.


Aydin pun mengerti apa yang membuat ibu dari anaknya ini mendiamkannya.


"Sayang... udah belum main airnya? Kita ke dalam yuk, takut masuk angin nanti," Aydin mendorong pelampung yang dinaiki Kiki ke pinggir kolam.


Semua itu tak luput dari pandangan wanita tadi yang bersama Aydin. Dia sengaja kembali karena ingin kembali bersama Aydin. Selama ini dia bertanya pada orang disekitar Aydin, mereka mengatakan bahwa Aydin berubah jadi dingin pada wanita setelah ditinggalkannya. Itu membuat tekatnya untuk kembali pada Aydin semakin bulat. Dia yakin Aydin masih sangat mencintainya, jadi tidak mungkin Aydin akan menolaknya.


Wanita itu memperhatikan tingkah dan perlakuan Aydin pada Kiki. Dia yakin jika Aydin hanya menghukumnya dengan memanas-manasinya, karena menurut berita yang dia dapat Aydin tidak dekat dengan wanita manapun.


Aydin menurunkan Kiki dari pelampungnya dengan cara menggendongnya dan melepaskan rompi pelampung dari tubuh Kiki.


Kiki hanya memasang wajah cemberut. Sungguh dia tidak bisa mengontrol sikap dan kemauannya karena hormon kehamilannya ini.


Tadinya Kiki ingin bersikap biasa saja dan menetralkan kecemburuannya. Namun wajah cemberutnya hadir tanpa disadarinya.


"Sayang... yuk," ajak Aydin pada Kiki.


Namun Kiki hanya meliriknya saja dengan ekpresi seperti ingin mengulitinya. Aydin tidak bisa diam saja, karena ini tidak baik bagi kesejahteraan miliknya. Aydin menggendong Kiki ala bridal style menuju kamarnya.

__ADS_1


Semua karyawan menjadi saksi keuwuan pengantin baru yang merupakan bos mereka. Sejak kemarin mereka disuguhi acara gendong menggendong yang dilakukan bosnya pada istrinya.


Wanita dari masa lalu Aydin itu berjalan cepat hendak mengikuti Aydin yang menggendong Kiki, karena dia tahu tujuan mereka pasti kamar dan wanita itu tidak akan membiarkan Aydin membalas dendam padanya terlalu jauh dengan menggunakan kecemburuannya.


Langkah wanita itu dihentikan oleh Bunda dan Ayah. Kevin yang ada di dekat mereka bersiap memasang telinganya baik-baik untuk mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan Mama dan Papanya malah sedang asyik berduaan mojok sambil berendam di kolam renang. Kevin menggeleng heran dengan keharmonisan Mama dan Papanya, namun dia senang karena Mama dan Papanya sungguh-sungguh menjaga cinta mereka agar tetap abadi.


"Caroline, cukup. Tante harap kamu sudah cukup untuk mengacaukan kehidupan Aydin. Dan tolong jangan dekati Aydin lagi," Bunda berseru dengan nada tinggi untuk menghentikan Caroline.


"Bunda, aku hanya...," Caroline mencoba menjawab, namun belum selesai dia menjawab, perkataannya dipotong oleh Ayah.


"Jangan kamu campuri kehidupan Aydin lagi. Dia sudah bahagia saat ini," Ayah memotong perkataan Caroline.


"Tapi bahagianya itu sama aku Yah," jawab Caroline.


"Om, panggil saya Om dan panggil istri saya Tante," ucap tegas Ayah Aydin.


"Carol minta maaf atas semua yang aku lakukan waktu itu. Aku menyesal dan aku ingin kembali pada Aydin," Caroline mengiba dan memohon.


"Itu sudah berlalu dan kami harap kamu bisa meninggalkan dan menghapus masa lalu kalian," Ayah Aydin kembali berkata tegas pada Caroline.


Ayah dan Bunda tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan menantu dan cucunya yang masih dalam kandungan. Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan kembali untuk menjadi kakek dan nenek.


Vina baru saja datang berpapasan dengan Kiki yang bermuka masam ketika digendong Aydin. Kemudian Vina menghampiri Kevin dan bertanya tentang Kiki yang kelihatannya sedang marah. Vina mengerti perasaan Kiki dari cerita Kevin. Dan Vina mengamati ekspresi Caroline yang memohon pada orang tua Aydin, menurutnya ekspresinya mengatakan bahwa dia tidak tulus atas ucapannya dan juga setelah Vina melihat dan mendengar percakapan Caroline dengan orang tua Aydin tadi, dia bisa menyimpulkan bahwa Caroline hanya terobsesi pada Aydin.


Caroline tidak tahu jika Kevin dan Vina yang ada di jarak dekat dengannya menguping dan memperhatikannya. Caroline berdialog dengan dirinya sendiri yang akan tetap melancarkan misinya untuk mendapatkan Aydin kembali. Dia mengatakan rencananya tanpa tahu bahwa di dekatnya ada orang terdekat dari Aydin dan istrinya.


Setelah puas ngomel dan melampiaskan kemarahannya, Caroline pergi dari tempat itu dan sepertinya dia menginap di hotel tersebut.


Kevin dan Vina mencari solusi untuk melindungi pernikahan Aydin dan Kiki, serta melindungi kehamilan dan kesehatan Kiki agar tidak terjadi hal yang sama pada kehamilan Kiki yang pertama.


Di dalam kamar hotel, Kiki kembali jadi bayi besarnya Aydin. Karena sedari tadi Kiki hanya mengacuhkannya dan diam saja. Tapi Aydin sedikit merasa bersyukur karena Kiki tidak sampai meracau seperti dulu. Namun tetap saja Aydin merasa kehilangan sosok istri yang ceria, manja dan kadang-kadang cerewet yang membuat hari-hari Aydin berwarna.


Dengan telaten Aydin memandikan dan menggantikan baju Kiki. Sebenarnya pada saat memandikan Kiki tadi Aydin hendak bermain-main dan sedikit menjahili Kiki, tapi tatapan menghunus Kiki membuat Aydin menelan ludahnya ketakutan dan dia membatalkan rencananya.


Setelah Kiki selesai digantikan baju oleh Aydin, ponsel Kiki berdering dan dia melihat ada nama Vina pada layar ponselnya. Segera dia angkat telepon itu dan dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vina.


Kiki segera keluar dari kamarnya menuju kamar Vina setelah teleponnya bersama Vina berakhir. Aydin kaget dan mencoba menghentikan Kiki dengan memanggilnya, namun Aydin bernafas lega ketika melihat Kiki berada di depan pintu kamar Vina yang berada di samping kamar mereka.


Di dalam kamar Vina ada Kevin juga. Mereka memberitahukan apa saja yang mereka ketahui tentang Caroline dan mereka memberitahu Kiki untuk tidak menjadi lemah untuk melindungi rumah tangganya. Vina juga menjadi dokter untuk saat ini, dia melakukan konsultasi dan memberikan semangat serta solusi untuk Kiki.

__ADS_1


Kiki masuk kedalam kamarnya tapi tidak ada suaminya di sana. Pikirannya mengembara pada Caroline. Dia berpikir apakah suaminya bertemu dengan masa lalunya dan akan meninggalkannya? Namun dia menggelengkan kepalanya, tidak mungkin Bang Ay melakukan itu padaku dan anaknya yang bahkan belum lahir. Dia sangat menyayangi kami.


Tiba-tiba dia tersadar dari lamunannya karena ada lengan kekar yang membelit pinggangnya dan punggungnya menempel pada dada bidang yang mempunyai aroma khas di indera penciumannya. Aroma itu, wangi parfum kesukaan Kiki jika dipakai oleh Aydin. Dan sekarang Kiki terbuai oleh aroma tersebut.


Aydin mengendus tengkuk Kiki yang membuat bulunya meremang. Aydin membisikkan kata-kata cinta di telinga Kiki. Desiran itu mengalir di hati Kiki dan jantungnya berdegup kencang, matanya terpejam menikmati tiap sentuhan, hembusan nafas dan kata-kata cinta dari suaminya. Luluh lah sudah benteng kemarahan Kiki.


Aydin menggendong Kiki dan mendudukkannya di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang. Aydin mulai memperkenalkan Caroline, wanita di masa lalunya yang pergi meninggalkannya pada hari pertunangannya yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Oleh sebab itu Aydin sangat membenci hari ulang tahunnya dan dia bersikap dingin kepada semua wanita karena mereka mengingatkannya pada sikap Caroline yang membuatnya membencinya dan kaum wanita.


Aydin menceritakan semuanya tentang sebab Caroline meninggalkannya dan tentang penghianatan Caroline dengan sahabat laki-lakinya hingga membuatnya hamil di luar nikah.


Kiki merasa senang karena kini suaminya bisa terbuka padanya. Dan Kiki mengingat saran dari Vina agar dia tetap melindungi pernikahannya dan waspada pada Caroline.


"Terus sayang, tadi dia ngapain kesini? Bukannya dia ada di luar negeri bersama sahabatnya yang menghamilinya itu?" tanya Kiki penasaran.


Aydin menggelengkan kepalanya dan memeluk erat tubuh Kiki.


"Enggak tau sayang... tiba-tiba aja tadi dia udah ada di samping aku," Aydin meletakkan hidungnya pada ceruk leher Kiki yang membuat Kiki memejamkan matanya menahan gejolak yang tiba-tiba ingin dituntaskan.


Kiki menahan sekuat tenaga hasratnya untuk menuntaskan keingintahuannya tentang Caroline.


"Terus tadi ngomong apa aja?" tanya Kiki sambil memejamkan matanya dan mencoba menahan hasratnya akibat ulah suaminya itu.


Aydin menjauhkan kepalanya dari leher Kiki. "Katanya dia mau ngajak balik. Tapi aku acuhkan dia, aku gak ngomong apa-apa ke dia, bahkan mandang dia pun aku gak mau," Aydin terlihat kesal membicarakan Caroline.


Kiki memandang Aydin dan tersenyum padanya. Dirabanya pipi suaminya itu dan...


Cup....


"Hadiah untuk kesetiaan suamiku," senyum Kiki mengembang melihat wajah kaget suaminya.


"Nakal kamu ya... harus dihukum ini," kata Aydin yang sudah berhasil melucuti istrinya.


Tadi Aydin menghubungi Kevin untuk menanyakan Kiki yang masuk dalam kamar Vina. Kevin membenarkan dan Aydin terus saja memohon agar diberitahukan apa saja yang menjadi beban pikiran Kiki sehingga Kiki mendiamkannya.


Aydin memaksa dan memohon pada Kevin dengan mengatasnamakan pernikahan mereka.


Dengan alasan tersebut akhirnya Kevin luluh dan menyalakan panggilan dan speaker untuk didengarkan oleh Aydin yang berada di kamar sebelah.


Oleh sebab itu Aydin tahu semua isi hati istrinya dan dia juga mengetahui niatan dan rencana Caroline yang datang kembali untuk menemuinya.

__ADS_1


Aydin dan Kiki masuk dalam lift untuk turun. Mereka berniat untuk meninggalkan hotel. Kemesraan mereka tebarkan dimana-mana. Hingga di dalam lift pun mereka tidak sadar bahwa ada seseorang yang membenci kebersamaan mereka.


Tiba-tiba saja orang tersebut berada di tengah-tengah Aydin dan Kiki serta memisahkan tautan tangan mereka. Setelah itu orang tersebut memeluk erat tubuh Aydin.


__ADS_2