Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
130


__ADS_3

"Re, kenapa hatiku jadi gak tenang gini ya? Hati dan pikiranku tidak bisa lepas dari Bang Ay. Sungguh aku tidak pernah seperti ini. Apa ada yang terjadi dengan Bang Ay?" Kiki bertanya pada Renita yang sedang menemaninya menonton TV di ruang keluarga dengan mengawasi Raline dan Ken yang sedang bermain bersama.


"Ken, jangan kasih warna merah pohonnya, harusnya warna hijau," Raline memarahi Ken yang seenaknya memberi warna pada gambarnya.


"Ken pernah lihat foto Mami dan Papi di Jepang pohonnya merah. Iya kan Mi?" Ken meminta dukungan Kiki.


"Itu warna pink bukan merah Ken. Dan namanya bunga sakura," Kiki meralat ucapan Ken.


"Oh iya, Ken lupa. Hahahaha...," ucap Ken sambil menaruh tangan kanannya pada dahinya dan tertawa lebar.


"Ah jadi pengen ke Jepang lagi. Apa kita menyusul ke sana saja ya Re, bikin kejutan buat mereka," ucap Kiki yang matanya berbinar ketika mengatakannya.


"Itu ide yang bagus. Tapi apa Bang Aydin gak akan marah sama kamu Ki?" tanya Raditya yang tiba-tiba muncul dari dapur dengan membawakan kue yang dia beli sepulang dari kerja untuk Raline dan Ken.


"Bang Ay gak akan marah kalau aku ikut ke sana, cuma dia takut aku di sana sendirian karena nantinya dia kerja mulai pagi sampai malam agar cepat selesai pekerjaannya," ucap Kiki sambil mengotak atik melihat pesan yang dikirimkannya belum juga dibaca.


"Kok aneh sih. Beneran bikin aku tambah khawatir aja deh," Kiki gelisah memandangi ponselnya.


"Kenapa Mbak?" Renita mendekat ikut melihat layar ponsel Kiki.


"Pesan aku gak dibalas dari tadi pagi Re," ucap Kiki dengan paniknya.


"Lagi sibuk banget kali Ki. Kan tadi bilang kerja mulai pagi sampai malam," Raditya mencoba menenangkan Kiki.


"Tapi perasaan aku gak enak Di," Kiki menyahutnya dengan khawatir.


"A' apa boleh aku antar Mbak Kiki nyusul ke Jepang? Kasihan A' Mbak Kiki dari semalam gak bisa tidur," Renita coba meminta pendapat Raditya.


"Kalau Bang Kenan gimana? Apa kamu juga gak bisa hubungi dia?" Raditya kini mulai ikut khawatir.


"Tadi sih bisa. Coba sekarang aku hubungi dia lagi. Eh tapi aku kirim pesan dulu aja ya, takut ganggu, soalnya mereka kan lagi kerja," Renita meminta persetujuan mereka.


"Ya udah, buruan Re, perasaanku benar-benar gak enak soalnya. Rasanya aku harus nyusul ke sana," ucap Kiki yang masih sangat khawatir pada Aydin.


Secinta itukah kamu Ki sama Bang Aydin? Sampai-sampai kamu sekhawatir itu padanya. Padahal baru satu hari kalian berpisah. Aku jadi iri. Andai saja kamu itu istriku Ki, pasti aku akan lebih bersyukur dan bahagia. Astaghfirullahaladzim... Raditya tersenyum getir melihat Kiki yang masih bingung dan khawatir karena tidak mendapatkan balasan pesan dari suaminya.


Renita mengirimkan pesan pada Kenan menanyakan tentang Aydin. Baru beberapa menit Renita mengirim pesan, langsung saja dia mendapatkan balasan dari Kenan.


Kenan mengirimkan foto pada Renita. Dalam foto tersebut Aydin sedang melakukan meeting dengan wanita cantik yang melihat Aydin dengan tatapan mendamba ketika Aydin melakukan presentasi. Foto tersebut sangat jelas. Sepertinya Kenan sengaja mengambil gambar dengan memperlihatkan wanita tersebut yang bersikap menaruh minat pada Aydin.

__ADS_1


Aydin memang sudah diberitahu oleh Kenan tentang wanita tersebut yang bernama Cindy itu sangat terlihat menginginkan Aydin sehingga di setiap mereka bertemu selalu saja Cindy menempel padanya.


Aydin hanya bisa berusaha menghindar saja darinya, dia tidak bisa marah padanya, karena Cindy merupakan anak dari klien nya yang sedang menjalankan proyek dengannya saat ini dan mereka merupakan investor besar bagi perusahaannya.


Oleh sebab itu Kenan berusaha memberitahu Kiki secara tidak langsung. Saking padatnya jadwalnya bersama Aydin, hingga membuat Kenan lupa jika dia bisa meminta bantuan Raditya untuk membantunya.


Setelah mengirimkan foto tersebut pada Renita, Kenan langsung meminta bantuan pada Raditya untuk membantu Kiki agar bisa datang ke Jepang tanpa Ken agar dia bisa menemani Aydin selalu tanpa harus ribet dengan Ken dan Kenan pun menjelaskan apa yang terjadi pada mereka di sana.


"Mbak, ini balasan dari Bang Kenan," Renita memberikan ponselnya pada Kiki.


Kiki menerima ponsel Renita dan melihat foto tersebut. Jari tangannya mulai menge-zoom foto seorang yang sangat dirindukannya, namun hal lain disadari oleh Kiki. Wanita yang ada di samping Aydin memandangnya dengan tatapan berbeda dengan yang lain. Dari situlah Kiki bertambah yakin untuk menyusul suaminya. Entahlah apa yang dirasakan oleh Kiki,yang dia tau sekarang dia ingin berada di dekat suaminya, itu saja.


"Ki, aku rasa kamu harus menyusul ke sana. Biar Ken di sini bersama Raline. Nanti mereka bisa aku bawa pulang ke rumah atau ke rumah Mama ataupun Bunda. Kamu tenang aja. Tapi kamu harus ditemani Renita. Dan kalian harus selalu menghubungiku setiap akan melakukan sesuatu," ucap Raditya dengan serius.


"Di, masa' iya nanti pas aku mau eek lapor dulu ke kamu?" ucap Kiki heran.


"Ki, ini serius, gak usah bercanda gitu deh," Raditya kesal pada candaan Kiki, namun dalam hatinya dia tertawa dengan sikap konyol Kiki yang selalu saja menghiburnya sejak dulu.


Sedangkan Renita, sudah bisa dipastikan dia tertawa dengan sikap konyol Kiki. Itulah yang membuat Renita selalu senang dekat dengannya, bahkan dulu dia sempat mengharapkan Kiki sebagai kakak iparnya. Namun sayangnya takdir berkata lain. Dan kini Renita tahu jika Kiki sangat mencintai suaminya, Aydin.


"Yaelah Di, canda doang, serius banget sih. Kan yang lagi gelisah aku, ngapain kamu yang serius?" Kiki menatap bingung pada Raditya.


"Ada apa sih Di?" Kiki kembali bertanya.


"Iya, serius banget A'," Renita ikut bingung melihat Raditya yang seserius itu ketika berbicara.


"Barusan Bang Kenan mengirim pesan padaku," Raditya menjeda perkataannya, dia menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan agar bisa tenang menceritakannya pada Kiki.


"Terus....," sahut Kiki.


Kemudian Raditya menceritakan semuanya pada Kiki dan Renita, serta dia memperlihatkan semua pesan yang dikirim oleh Kenan barusan.


Kiki terdiam, dia merasa jika firasatnya memang benar. Dan dia segera memutuskan untuk pergi menyusul suaminya ke Jepang dengan ditemani oleh Renita.


......................


"Mami mau ke mana? Ken gak boleh ikut?" Ken bertanya pada Kiki ketika Kiki dan Renita akan berangkat.


Kini Ken sedang berada di rumah Raditya bersama Ambu, Abah, Raline dan juga Raditya tentunya. Untuk keluarga Aydin dan Kiki juga sudah diberitahukan mengenai kepergian Kiki, dan mereka menyetujuinya.

__ADS_1


Mereka semua akan menjaga Ken bersama tinggal di rumah Aydin dan Kiki. Tentu saja Raline ikut tinggal di sana dengan mereka. Raline sudah menjadi bagian dari keluarga besar Aydin dan Kiki. Mereka semua tidak keberatan karena Raline anak yang sangat pintar dan manis, dan dia juga bisa menjadi sosok kakak bagi Kenshin.


......................


"Mmmm.... Jepang....," Kiki menghirup dalam-dalam udara yang dia hirup.


"Mbak Kiki ngapain?" tanya Renita heran.


"Lagi menghirup udara Jepang Re," Kiki tersenyum lebar karena mendapatkan gelengan kepala karena heran pada tingkahnya.


"Lalu kita kemana sekarang?" Kiki bertanya pada Renita karena yang mengurus semuanya adalah Renita, Raditya dan Kenan.


"Bentar Mbak, ini Bang Kenan sedang menyusul kita sekarang," Renita menjawab pertanyaan Kiki sambil melihat layar ponselnya.


Beberapa saat kemudian, Kenan datang menemui mereka dengan terburu-buru.


"Ayo cepat, aku meninggalkan Aydin bersama mereka karena meeting belum selesai, dan aku hanya minta ijin sebentar untuk membeli sesuatu," ucap Kenan dengan terburu-buru, bahkan dia tidak menyapa istrinya dengan benar.


"Sayang, gak kangen gitu sama istrinya?" ucap Renita kesal sambil berjalan disebelah Kenan.


Kenan menoleh pada istrinya dan mencuri ciuman di pipi Renita yang membuat Renita kaget dan malu. Renita mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Kenan tidak mengetahui bahwa dia sedang malu.


"Mbak Kiki, ayo buruan," seru Renita ketika mendapati Kiki berada di belakangnya dengan mengedarkan pandangan di sekitar bandara.


"Sebentar Re," Kiki berlari kecil menyusul Renita dan Kenan yang berada sedikit jauh di depannya.


"Aku sedang mengingat ketika aku berada di sini bersama Bang Ay. Rasanya seperti dejavu," Kiki terkekeh mengatakannya.


"Nanti aja sama Bang Ay kamu itu dejavu-dejavuan, sekarang kita harus cepat. Karena aku merasa tidak tenang meninggalkan Aydin sendirian di sana, walaupun dengan banyak orang," Kenan berjalan cepat dan diikuti oleh Renita dan Kiki yang hampir tidak bisa mengimbangi langkah kaki Kenan yang lebar.


Setelah itu mereka menaiki mobil yang dikendarai oleh Kenan menuju hotel tempat pertemuan mereka. Hotel itu bukan hotel yang Aydin dan Kenan tempati. Hotel tersebut adalah hotel yang disediakan oleh pihak klien untuk meeting hari ini.


"Hotel? Kalian meeting di hotel?" suara Kiki tiba-tiba meninggi.


"Di restorannya Ki. Jangan berpikir macam-macam," Kenan segera melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


Renita dan Kiki pun mengikuti Kenan yang berjalan cepat dengan sedikit berlari menuju ruang pertemuan.


"Bang Ay...!" seru Kiki dengan suara yang keras dan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2