
Mata Vina terbelalak kaget merasakan benda kenyal menempel pada bibirnya yang sedang meniup dahi Kevin. Dia terdiam sejenak karena rasa kagetnya, lima detik kemudian dia tersadar.
"Aaaaaa... Kevin....," Vina memukul-mukul lengan Kevin, dan tak puas dengan lengan Kevin, dia memukul-mukul dada Kevin. Pukulan dilayangkannya bertubi-tubi hingga Kevin mengadu kesakitan.
"Aww... aww... awwww... ampun Na, ampuuuun....," Kevin meminta maaf disela rintihannya yang masih merasakan pukulan Vina.
"Habisin Kak Vina biar kapok. Hahaha...," Kiki menertawakan kakaknya yang sedang dipukuli Vina bertubi-tubi.
Dasarnya Vina orang yang gak tegaan, jadi dia dengan gampangnya berhenti memukuli Kevin yang mengaduh kesakitan karena pukulannya.
"Dasar adik lucnut, kakaknya lagi kesakitan malah diketawain," Kevin mengusap-usap lengan dan dadanya yang habis dipukuli Vina.
"Mangkanya sapu tuh pikiran kotornya. Otak kok isinya mesum mulu," Kiki berucap sambil mengejek Kevin dengan menjuling-julingkan matanya.
"Enggak," kata Kevin.
"Enggak salah," sahut Aydin.
"Berarti bener dong," sahut Kiki.
"Ck, suami istri sama-sama lucknut. Udah Na ayo kita makan," Kevin mengajak Vina ke meja makan dengan menggandeng tangannya.
"Kak makan aja sesukanya, nanti jangan lupa uangnya ditaruh di bawah piringnya ya," teriak Kiki dari ruang tamu.
"Buat apa uangnya?" Kevin menjawabnya dengan berteriak tidak kalah nyaringnya dengan Kiki.
"Buat bayar makanannya," Jawab Kiki kembali berteriak.
"Dasar pelit, perhitungan," teriak Kevin dari ruang makan.
"Di dunia ini tidak ada makan siang gratis furgoso," Kiki menjawab dengan nada puitis namun dengan suara yang sangat keras hingga bisa didengar dari ruang makan.
"Baiklah Marimar nanti akan aku bagi," sahut Kevin dengan nada puitis tak kalah nyaringnya suaranya dengan Kiki.
"Bagi apanya?" tanya Kiki bersemangat.
"Berbagi tautan. Hahaha.....," tawa Kevin yang membahana dari ruang makan membuat Kiki kesal karena dikiranya Kevin akan membagi uang sakunya pada Kiki.
"Pfft....," Aydin menahan tawanya dengan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia takut jika kelepasan tertawa, sudah bisa dipastikan jika sang nyonya akan marah. Dan yang paling dia takutkan lagi adalah jika dia tidak mendapatkan jatahnya. Auto pusing dong kepala Aydin.
Kiki menatap tajam pada Aydin yang menertawakannya. Meskipun tawanya itu dia tahan, tapi Kiki tahu jika suaminya itu sedang menertawakannya.
"Awas kamu Kak," ancam Kiki pada Kevin.
Karena tak ada sahutan dari Kevin, Kiki jadi meradang, didengarkannya baik-baik suara dari ruang makan yang sedang bercanda.
"Kak Vina.... Kak Vina gak marah tiba-tiba dicium Kak Kevin?" Kiki mengungkit lagi kejadian tadi yang sebenarnya membuat Vina malu, namun sementara dia lupa karena melihat tingkah Kevin dan Kiki yang benar-benar seperti kakak beradik yang sedang bertengkar memperebutkan sesuatu.
Vina kaget mendengar teriakan Kiki yang ditujukan untuknya. Makannya berhenti, sendok dan garpunya masih dalam posisi dipegangnya di atas piring dan kunyahannya pun berhenti. Mukanya merona malu, dan wajahnya tertunduk.
Kevin yang melihat perubahan ekspresi Vina menjadi gemas dengan mulut adiknya yang tidak berhenti menjahilinya.
" Hey boncel diem gak? Ini calon kakak iparmu lagi makan," Kevin berteriak dari ruang makan.
"Dih Kakak ipar, ngaku-ngaku aja, pacaran aja belum," cibir Kiki dari ruang tamu dengan suara yang lantang.
"Gak usah pacaran, langsung nikah aja biar gak kalah sama princess boncel," Kevin membalas ucapan Kiki.
"Yee gak kreatif, bisanya niru-niru. Kita dong kreatif, tiba-tiba besoknya nikah. Ya gak Bang Ay?" Kiki berucap dengan nada lantang agar didengar oleh Kevin yang berada di ruang makan, namun matanya menatap Aydin dan tersenyum padanya.
"Iya sayang... sini...," Aydin menepuk-nepuk pahanya agar Kiki berpindah ke pangkuannya.
Dengan senang hati Kiki berpindah ke pangkuan Aydin. Dia melupakan perang mulutnya dengan Kevin, dan dia mulai bermanja-manja dengan suaminya.
"Vin, kamu jangan ngomong gitu, takutnya mereka menganggap serius omongan kamu," Vina kini menatap mata Kevin karena kini dia sedang serius.
"Siapa yang bercanda sih Na? Aku tuh serius dari kemarin, kamu aja yang menganggap aku bercanda. Gini-gini aku udah punya penghasilan, udah siap nikah. Besok pun aku oke aja kalau disuruh nikahin kamu. Gimana?" Kevin menatap serius mata Vina.
__ADS_1
Dan kini mata mereka saling beradu mencari kejujuran dari masing-masing lawan bicaranya.
Mata Vina sedikit berkaca-kaca karena terharu dengan kesungguhan Kevin, namun dia benar-benar tidak percaya bisa secepat ini Kevin melamarnya, ya meskipun memang tidak secara formal tapi hal itu sukses membuat jantung Vina berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya.
Melihat Vina yang seperti itu, Kevin berinisiatif untuk mengajak Vina jalan-jalan seperti tujuan awalnya.
"Yuk jalan," Kevin menggandeng tangan Vina dengan lembut dan mengajaknya berjalan ke luar Villa.
Di ruang tamu mereka melewati pasangan yang begitu uwu, Kiki sedang bermanja-manja di pangkuan Aydin.dan Aydin dengan telaten membelai rambut Kiki dan sesekali menciumi semua bagian wajahnya sehingga membuat Kevin merinding melihatnya. Berbeda dengan Kevin, justru Vina begitu iri melihat keromantisan Kiki dan Aydin. Dia ingin sekali diperlakukan seperti itu dengan pasangannya kelak.
"Yuk, gak usah liatin mereka, bisa-bisa mata kita ternoda," Kevin mengajak jalan Vina yang sempat berhenti karena melihat Kiki dan Aydin yang sedang bermesraan.
"Yeee... ngomong aja kalau iri," Kiki malah memanas-manasi Kevin dengan memeluk erat Aydin dan mengecup sekilas bibir Aydin.
Vina yang melihatnya jadi malu. Dia menarik tangan Kevin untuk cepat berlalu dari ruang tamu.
"Waaah... bagus bangeet pemandangannya," Vina merentangkan tangannya sambil menghirup dalam-dalam udara yang bersih, belum terkena polusi.
Kevin menoleh pada Vina yang ada di samping kirinya.
"Kamu suka?" Kevin bertanya pada Vina, berharap dia mendapatkan jawaban yang mengesankan.
"Banget," Vina tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.
Baru kali ini Kevin melihat senyum Vina yang begitu bahagia, biasanya dia hanya tersenyum manis dan tersipu malu saja.
Kevin bersyukur dia bisa melihat senyum bahagia itu meskipun mereka belum memiliki hubungan apapun saat ini. Dan dia berjanji pada dirinya untuk bisa menjadikan Vina sebagai pendamping hidupnya.
"Yuk jalan ke sana," Kevin menggandeng tangan Vina mengajaknya untuk berjalan.
" Kita mau kemana Vin?" tanya Vina yang sudah berjalan di samping Kevin dengan tangan yang bergandengan.
"Kita ke kebun teh dulu ya, setelah itu kita ke air terjun. Gimana? Kamu mau?" Kevin menoleh melihat Vina.
"Mau.. mau...," Vina mengangguk antusias.
Mereka berjalan kaki menuju kebun teh dengan tetap bergandeng tangan, mereka menikmati pemandangan di setiap jalan yang mereka lewati. Binar kebahagiaan terpancar jelas di mata Vina, Kevin sangat bahagia hanya dengan menatap Vina yang sedang bahagia. Menurut Kevin sangat mudah membahagiakan wanita yang ada disampingnya ini, tidak seperti wanita-wanita yang lainnya yang merasa bahagia jika diberikan barang-barang mewah. Ah rasanya Kevin jadi lebih semangat untuk cepat meminangnya.
Diperjalanan ke lokasi air terjun, Kevin mendapatkan pesan dari Kenan.
[Bro, gimana caranya hafalin Juz Amma?]
Kevin terkekeh membaca pesan Kenan. Dengan kejahilannya Kevin membalas pesan tersebut.
[Hafalin aja semuanya langsung, dijamin Abah langsung nikahin kalian]
[Dicicil boleh gak?]
[Lu kira Abah tukang kredit?]
Kevin kembali terkekeh membaca pesan dari Kenan. Hal itu membuat Vina merasa heran, kemudian dia bertanya.
"Kenapa Vin?"
"Ini Kenan lucu banget deh, coba kamu baca," Kevin menyodorkan ponselnya di depan Vina.
Vina menggeleng. "Gak usah Vin, gak sopan baca chat orang."
Kevin tersenyum dan berkata, "Gapapa baca aja, lagian kamu kan sebentar lagi akan jadi istri aku."
Langkah Vina terhenti, dia menatap Kevin. "Kamu serius Vin?"
"Serius Na, aku gak pernah ngerasa senyaman ini dan seperti ini sama wanita lain," Kevin menatap lembut mata Vina untuk meyakinkannya.
"Seperti ini gimana?" tanya Vina untuk memperjelas.
"Aku suka keinget kamu dimana pun. Aku juga seneng banget bisa lihat wajah kamu, apalagi bisa deket kayak gini, dan aku tuh selalu deg-degan setiap dekat sama kamu," Kevin mengangkat tangan Vina yang dia genggam dan menciumnya.
__ADS_1
"Vin kamu gak lagu ngegombal kan? Emang kamu dulu sama pacar kamu gak ngerasain itu semua?" Vina mencoba mencari tahu semua jawabannya dari mata dan ekspresi Kevin.
Kevin tersenyum dan menggeleng. " Aku gak pernah ngerasain itu semua, dan aku beruntung bisa lepas dari mereka. Karena dengan begitu aku bisa bersama denganmu."
Kevin kembali mengajak Vina berjalan naik menuju lokasi air terjun. Sesampainya di sana, suasana masih sepi belum ada pengunjung. Kevin melihat ada bunga liar yang tumbuh diantara bebatuan, bunga itu liar tapi indah. Dipetiknya bunga itu dan diberikannya pada Vina.
"Vin, apa kamu bersedia menjadi pasanganku? Aku tau kita baru beberapa kali bertemu, tapi aku yakin kamu adalah takdirku. Aku ingin memilikimu," Kevin berlutut dan memberikan bunga itu pada Vina.
Vina yang semula menatap indahnya air terjun menjadi kaget karena mendapati Kevin yang berlutut dan menyatakan perasaannya setelah memanggil namanya.
Vina menatap lekat mata Kevin, dari tadi dia memperhatikan mata dan ekspresi Kevin memang tidak ada kebohongan di sana. Mata Vina berkaca-kaca karena terharu, baru kali ini dia merasakan dicintai dan mencintai. Vina mengangguk dan berkata, "Ya, aku mau."
Kevin sangat bahagia mendengar jawaban Vina. Dia berdiri dan menyelipkan bunga yang dia pegang tadi di telinga kanan Vina.
Setelah itu mereka bermain air di air terjun tersebut dan berfoto-foto untuk merayakan hari ini.
Di rumah Kenan sedang sibuk menghafal Juz Amma. Dia mondar-mandir dengan membawa buku Juz Amma. Mulutnya komat-kamit menghafal ayat-ayat yang ada dalam buku tersebut.
Mamanya yang melihat anaknya mondar-mandir dengan mulut komat-kamit sambil membawa buku yang bertuliskan Juz Amma menjadi curiga, apa anaknya sedang kesurupan? Ditepuknya keras-keras punggung anaknya itu hingga Kenan berteriak mengaduh kesakitan.
"Aaaauww... Mama apa-apaan sih, sakit tau, mukulnya keras banget lagi," Kenan mengusap-usap punggungnya yang sakit.
"Kamu lagi ngapain mondar-mandir gak jelas? Itu mulut juga komat-kamit kayak orang kesurupan," Mama Kenan memandang wajah anaknya untuk memastikan.
"Lagi hafalan Mama... bukan kesurupan," Kenan mencoba kembali fokus pada hafalannya.
"Hafalan buat apa?" tanya Mama ingin tahu.
"Buat ngelamar anaknya Abah, syaratnya harus hafal Juz Amma," Kenan menunjukkan buku yang dipegangnya pada Mamanya.
"Kamu serius? Sejak kapan kamu jadi suka cewek yang agamis?" tanya Mama menyelidik.
"Sejak ketemu sama dia," Kenan duduk di kursi dekat Mama duduk.
"Bagus deh biar gak sama cewek-cewek yang aneh-aneh itu. Kalau sama yang ini kan syaratnya hafalin ayat-ayat Al-Quran, kalau sama mereka pasti syaratnya disuruh beliin barang-barang branded. Udah, Mama setuju sama yang ini," Mama memegang tangan Kenan meyakinkannya.
"Mama kan belum ketemu sama dia, kok udah setuju-setuju aja?" Kenan bertanya dengan nada bingung
"Gak mungkin juga kamu milihnya yang jeleknya kebangetan," Mama tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Hahaha... Mama pinter," Kenan dan Mama tertawa bersama.
Malam harinya, Kenan berkunjung ke rumah Raditya untuk bertemu Renita dan tentunya juga bertemu dengan Abah.
"Assalamu'alaikum Abah... Ambu...," Kenan masuk ke ruang tamu dan mencium punggung tangan Abah dan Ambu.
"Wa'alaikumusalam...," jawab Abah dan Ambu.
Di ruang tamu hanya ada Abah dan Ambu, Renita sudah bertemu dengan Kenan karena dia yang membukakan gerbang tadi ketika Kenan datang, kini Renita sedang membuatkan minum untuk Kenan di dapur. Sedangkan Raditya sudah berada di kamar bersama istri dan anaknya ketika tahu Kenan datang.
"Ada keperluan apa Kenan malam-malam datang ke rumah Abah?" kini Abah sedang menjahili Kenan, karena jujur Abah merasa terhibur dengan sikap Kenan yang takut tidak direstui oleh Abah.
"Emmm itu Bah, mau setor hafalan," Kenan mencoba menetralkan debaran jantungnya. Dia merasa seperti sidang skripsi untuk kedua kalinya.
"Kamu sudah hafal?" Abah tersenyum dan menatap lekat Kenan yang sepertinya sedang gerogi.
"Emmm... Bah boleh gak kalau dicicil?" Kenan memberanikan diri untuk nego dengan Abah.
"Hahaha... kamu kira Abah Mang Engkus yang ngasih kreditan panci?" Abah dan Ambu tertawa mendengarnya.
Renita yang baru datang dengan membawa minuman dan kue juga ikut tertawa mendengarnya.
"Hehehe... Gak boleh ya Bah?" tawar Kenan kembali.
"Coba kamu setor hafalan kamu dulu, masalah yang lain gampang lah nanti dibicarakan," Abah ingin memulai tesnya.
"Kalau cuma sedikit Bah masih bisa lulus gak?" Kenan kembali menawar.
__ADS_1
"Kamu ini belum dicoba udah nawar-nawar terus kayak emak-emak yang lagi nawar belanjaan di tukang sayur," Abah geleng-geleng kepala melihat tingkah calon mantunya.
Sedangkan Ambu bertanya pada Renita dengan menggerakkan dagunya. Dan Renita menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu.