
"Kenalkan, saya Riko sepupu Linda," Riko memperkenalkan dirinya Pada Kiki sebagai sepupunya.
Kiki mengacuhkan Riko yang sudah menyodorkan tangannya di depan Kiki. Hampir satu menit jabatan tangan Riko tidak disambut oleh tangan Kiki, malah Kiki asyik melihat-lihat dan memeriksa luka Linda.
"Ini hanya luka ringan saja dan kalian tidak perlu khawatir, pasti akan sembuh dengan sendirinya. Saya akan memberikan kamu resep obat agar membantu lukamu cepat sembuh," Kiki menuliskan resep untuk Linda.
Namun tidak ada senyum sedikitpun mulai dari awal Linda masuk sampai sekarang, berbeda jika dia memeriksa pasien yang lain, pasti senyum Kiki selalu menghiasi bibirnya dan sangat sabar menghadapi pasiennya.
Linda hanya diam tidak berniat menjawab ataupun bertanya pada Kiki. Dia sungguh tidak suka berada dalam situasi ini yang menjadikannya membutuhkan pertolongan Kiki. Dan juga sebenarnya dia malu jika harus meminta pertolongan Kiki.
Entah mengapa, Linda sangat membenci Kiki. Awalnya dulu dia sangat berterima kasih pada Kiki karena membantunya dalam menghadapi Dinda waktu dulu disaat Dinda menjebak Raditya yang masih berstatus sebagai suaminya.
"Judes banget Dokternya," sindir Riko pada Kiki.
"Saya tidak perlu ramah pada orang macam anda," jawab Kiki ketus.
"Jadi Dokter tuh harus ramah, sabar, dan senyum. Nah ini udah jutek, galak lagi," Riko mencoba membuat Kiki berinteraksi dengannya.
Kiki malas berdebat dengan orang macam Riko. Dia hanya menuliskan resep dan memberikannya pada Linda.
Tanpa berkata-kata, Kiki hanya duduk dan memandang Linda yang tidak nyaman berada di depannya.
"Udah, hanya gitu saja?" Riko membuka suaranya agar Kiki mau berbicara padanya.
Kiki hanya diam dan melipat tangannya di depan dadanya. Kiki memang sengaja diam, karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Linda dan Riko selanjutnya.
"Udah yuk Rik kita pulang," Linda semakin tidak nyaman melihat pandangan Kiki terhadapnya.
"Eh serius ini cuma begini aja? Gak diajak konsultasi dulu gitu?" Riko memprotes agar dia bisa lebih lama lagi berada disitu dan bisa mendekati Kiki.
"Hanya luka ringan saja tidak perlu banyak pembicaraan," ucap Kiki yang masih ketus pada Riko.
"Hey, sepertinya Dokter ini punya masalah dengan saya," Riko mencoba kembali membuat Kiki untuk berbicara.
__ADS_1
Riko menyukai Kiki yang semakin ketus dan galak padanya, karena Riko menyukai tantangan, apalagi jika wanita tersebut sudah mempunyai suami, pasti akan jadi kepuasan tersendiri jika dia bisa menaklukannya.
"Anda kan yang mencegat saya kemarin di lorong? Anda tidak sopan, jadi saya tidak perlu sopan pada anda," ucap Kiki sambil berdiri.
Kiki berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu bagi Linda dan Riko agar cepat pergi dari ruangannya. Namun ketika Kiki memegang handle pintu, Riko menghentikannya dengan ucapannya.
"Apa dia pacarmu? Lelaki yang tempo hari membawamu pergi dari hadapanku," Riko memancing kembali obrolan bersama Kiki.
"Bukan, dia bukan pacarku," jawab Kiki dengan tegas membuat wajah Riko senang karena sepertinya Kiki tidak mengakui suaminya.
Sedangkan Aydin yang bersembunyi di balik tirai yang ada di ruang ganti terpancing emosi karena Kiki tidak mengakuinya.
"Sudah kuduga, pasti dia cuma-"
"Dia suamiku," sahut Kiki dengan tegas.
Ucapan Kiki yang mengatakan bahwa Aydin adalah suaminya, membuat Riko kesal dan kecewa karena dia tidak berhasil memancing Kiki. Sedangkan Aydin bersorak gembira dalam hatinya karena Kiki mengakuinya sebagai suaminya tidak sebagai pacarnya.
"Benar kan Lin, Bang Aydin suamiku?" tanya Kiki pada Linda yang hanya diam saja melihat Kiki dan Riko berbicara.
Linda menoleh karena namanya merasa dipanggil, namun dia tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Kiki dan Riko, karena sedari tadi pikirannya entah melayang kemana, dia hanya melihat saja ketika Kiki dan Riko berbicara.
"Hah? A-apa?" tanya Linda bingung.
"Bang Aydin itu suamiku kan?" tanya Kiki yang masih berdiri di depan pintu dan memasukkan kedua tangannya pada kantong jasnya.
"Kenapa kamu bertanya padaku?" tanya Linda sambil mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata Kiki.
"Agar kamu selalu ingat dan tidak mengganggunya!" jawab Kiki dengan tegas dan intonasi yang sangat jelas.
"Aku tidak seperti kamu ya yang sudah bersuami tapi masih mengharapkan suami orang lain, bahkan nempel sama suami orang lain," Linda tidak terima dengan peringatan yang diberikan oleh Kiki padanya.
"Oh ya?" Kiki tersenyum meremehkan Linda.
__ADS_1
Linda kesal dan hampir saja dia emosi karena pikirannya sedang kalut dan sekarang dia harus menerima peringatan yang juga terdengar sebagai hujatan baginya.
"Sudahlah, kalian kenapa jadi ribut? Dok, tolong buatkan Linda surat pemeriksaan jika dia dianiaya dan dipaksa seseorang karena melawan," kini Riko berganti ke rencana selanjutnya.
Sambil menyelam minum air, itulah yang dilakukan oleh Riko sekarang. Dia ingin mendekati Kiki dengan lebih lama berbicara dengannya sekaligus juga ingin meminta surat hasil pemeriksaan agar Linda bisa menuntut dan mengancam Aydin.
"Untuk apa hasil pemeriksaan seperti itu?" tanya Kiki yang masih dengan posisi berdiri membelakangi pintu.
"Untuk melaporkan seseorang," jawab Riko dengan entengnya.
"Surat laporan apa maksudmu? Sudah jelas dia jatuh, ini luka yang disebabkan oleh aspal. Jadi aspal yang akan kalian salahkan?" ucap Kiki dengan tertawa kecil.
"Tau apa kamu tentang ini? Kamu tidak tau yang sebenarnya bahwa-"
"Jelas aku tau yang sebenarnya, aku udah biasa nanganin luka ringan seperti itu. Hanya luka jatuh di aspal aja buat apa minta pertanggung jawaban?" Kiki menyela perkataan Linda karena dia tahu arah pembicaraannya kemana.
"Sok tau banget. Cuma jadi Dokter biasa aja udah sok, sombong pula. Bagaimana kalau jadi yang punya rumah sakit?" Linda mengomentari Kiki.
"Hahahaha... belum tau dia sus," Kiki mengajak perawat yang berada disebelahnya untuk bergabung menertawakan Linda dan perawat itupun ikut tertawa kecil.
"Kasih tau dia Sus siapa saya sebenarnya," Kiki berkata disela tawanya.
Linda dan Riko saling memandang bingung, mereka tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Kiki.
"Dokter Kiki ini adalah penanggung jawab Rumah Sakit ini Pak, Bu. Dan Rumah Sakit ini milik keluarga suaminya, jadi itu berarti Dokter Kiki bisa dibilang juga bahwa dia adalah pemilik dari Rumah Sakit ini," ucap suster yang ada di sebelah Kiki menjelaskan.
Linda melotot kaget dan tangan kanannya membungkam mulutnya agar tidka mengeluarkan suara. Sedangkan Riko, dia semakin bersemangat untuk mendapatkan Kiki dan hartanya.
"See... apalagi yang akan kamu ingin tau?" Kiki menantang Linda agar berbicara dan terpancing kemarahannya untuk mengutarakan secara tidak sengaja keinginannya dan rencananya.
"Yang membuat aku seperti ini adalah Kak Aydin. Dia memaksaku untuk ikut dengannya pada saat bertemu denganku di jalan yang sepi, dan ini... ini aku terjatuh karena aku melawannya," ucap Linda dengan sarkasnya.
"Apa maksudmu?" terdengar suara laki-laki tapi bukan Riko yang berbicara.
__ADS_1