
"Kalian tadi ngapain aja?" tanya Kiki pada Raline dan Kenshin.
Mata Kiki menatap dengan tegas Kenshin dan Raline secara bergantian.
Mata Raline berkaca-kaca, dia takut jika Mami dan Papinya marah padanya. Karena dari sejak kecil Aydin dan Kiki tidak pernah marah padanya.
"Ken yang meminta dia menunggu di sini agar Ken bisa tidur dengan nyenyak. Jangan salahkan dia," ucap Ken dengan menutupi tubuh Raline dengan tubuhnya.
"Bagaimana jika Ayah Raline tau? Apa kamu tidak takut dihajar olehnya?" Kiki bertanya pada Kenshin dengan tatapan tegasnya.
"Lagipula Ayah gak bakalan tau. Kita juga gak ngapa-ngapain kok. Setelah aku minum obat yang diberikan olehnya, aku langsung tertidur, dan itu karena dia berada di sisiku. Jika gak ada dia, pasti aku gak akan bisa tidur nyenyak tadi."
Kenshin memberikan alasannya pada Mami dan Papinya agar tidak lagi mempermasalahkan tentang kejadian mereka tidur dengan saling berpelukan.
"Sembarangan, Ayah gak tau tapi Allah tau."
Aydin sudah tidak bisa menahan kekesalannya pada Kenshin yang terus-terusan memberi alasan.
"Ya sudah, nikahkan saja kami," jawab Kenshin dengan entengnya.
Seketika mata Aydin dan Kiki terbelalak sempurna mendengar apa yang diinginkan oleh Kenshin.
Sontak saja punggung Kenshin dipukul oleh Raline sambil berkata,
"Ken!"
"Apaan sih sayang.... kan bener, daripada dosa, lebih baik kita nikah aja. Iya kan Mi, Pi?"
Kenshin mengatakan hal itu dengan entengnya, tidak memikirkan dari sudut pandang Raline.
"Kamu masih SMA Ken, masih sekolah. Mau kamu kasih makan apa istrimu?"
Aydin bertanya pada Kenshin dengan menekankan setiap katanya agar anaknya itu memahami setiap kata yang diucapkannya.
"Papi lupa jika Ken sudah bisa bekerja sekarang? Papi sendiri yang mengatakan itu pada Ken. Papi memuji hasil kerja Ken. Dan Papi sama Mami gak lupa kan jika Ken sudah memiliki rumah Ken sendiri?"
Kenshin menyombongkan dirinya dan apa yang dia miliki sekarang ini sudah bisa dibilang jika dia sangat siap untuk menjadi kepala keluarga.
Seketika Aydin terdiam, dia merasa telah tertipu oleh putranya sendiri.
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu belajar bisnis dan meminta pekerjaan dari Papi itu karena ini? Dan itu, uang hasil kerja kamu yang sudah kamu jadikan rumah itu juga karena ini?"
Aydin bertanya pada Kenshin untuk memperjelas dugaannya.
Dan benarlah dugaan Aydin, dengan segera Kenshin menganggukkan kepalanya setelah mendapatkan pertanyaan dari Aydin.
Kiki tersenyum menahan tawanya. Dia ingin sekali menertawakan suaminya yang telah dibodohi oleh putranya sendiri.
Ternyata Aydin mengerti jika Kiki menertawakannya dalam diamnya. Dan itu membuat Aydin semakin kesal karena merasa bodoh dan kalah strategi dengan putranya sendiri.
Memang Aydin tidak hanya begitu saja menjadikan Raline sebagai guru di sekolah miliknya. Ada suatu rencana yang memang dia inginkan untuk Raline. Namun dia kalah cepat dari putranya sendiri. Dan itu membuat Aydin kesal padanya.
Kiki mengeluarkan ponselnya dan dia mengirim semua foto yang diambilnya tadi. Foto-foto Raline dan Kenshin yang saling berpelukan tadi dikirimkan Kiki kepada Raditya.
Raline masih merasa takut dan bersalah. Dia masih menundukkan kepalanya dan air matanya menetes tanpa dia sadari.
Bodoh... bodoh... bodoh....! Raline bodoh! Kenapa bisa ketiduran sih kamu? Kenapa bisa kepergok Mami sama Papi? Aaaah... bodohnya aku....
Raline merutuki dirinya dalam hati, dia menyalahkan dirinya sendiri yang bisa tertidur nyenyak dalam pelukan Kenshin.
"Dan kamu Ken, cepat ganti bajumu," kini Kiki berganti memerintah Ken.
"Jangan mandi Ken. Badanmu masih belum enakan. Kamu seka saja badanmu, setelah itu ganti bajumu. Dan Mami tunggu di ruangan kerja Mami untuk diperiksa," ucap Kiki kemudian.
"Gak mau ah Mi, Ken udah sembuh. Kan tadi udah dirawat sama dokter cintanya Ken," ucap Ken sambil mengalihkan pandangannya pada Raline.
Raline yang mendengar itu jadi salah tingkah, dia benar-benar dibuat syok oleh sikap dan tingkah Kenshin akhir-akhir ini padanya.
Kiki dan Aydin saling memandang, mereka tidak percaya dengan jawaban Kenshin yang sedari tadi seolah-olah memberitahukan bahwa dia mencintai Raline dan menginginkan untuk menjadi istrinya.
"Ya sudah, sekarang Raline pergi ke kamarmu dan mandilah. Setelah itu turun ke bawah, kita makan malam bersama," ucap Kiki memerintahkan Raline seraya memandangnya hingga keluar dari kamar Kenshin.
Setelah kepergian Raline, Aydin hendak membuka kembali mulutnya untuk mengomel pada Kenshin. Sayangnya, Kiki yang cepat tanggap segera menarik tangan suaminya itu untuk pergi meninggalkan kamar anaknya.
"Ken, setelah ini turunlah ke bawah! Kita makan malam bersama!" Kiki berteriak seiring langkahnya keluar dari kamar Kenshin.
"Mi, Papi kan mau-"
"Udah biarin dulu, anak masih sakit mau diomelin. Percuma gak masuk ke otaknya," Kiki menyela ucapan Aydin dengan entengnya.
__ADS_1
Terpaksa Aydin menuruti kemauan istrinya. Dia berjalan dengan tangan yang masih ditarik oleh Kiki.
Hingga mereka berpapasan dengan Miyuki yang keluar dari kamarnya. Miyuki tertawa melihat Aydin yang berjalan mengikuti Kiki dengan tangan yang ditarik seperti hewan yang mengikuti majikannya.
"Papi nurut banget sama pawangnya," ucap Miyuki sambil tertawa menertawakan Papinya.
Kiki yang mendengar hal itu menahan tawanya agar Aydin tidak bertambah kesal, karena dia tahu jika saat ini sudah bisa dipastikan bahwa Aydin kesal mendengar ucapan Miyuki.
Dan benar saja, Aydin menggerutu memarahi Miyuki disetiap.langkah kakinya.
"Dasar anak durhaka, seenaknya saja ngomongin Papinya. Awas aja nanti kalau ada kesempatan, pasti akan ku jewer telinganya itu."
Kiki mempersilahkan Aydin untuk duduk di kursi makan yang sudah ada di dekatnya. Di tekannya kedua bahu Aydin agar duduk di kursi tersebut sambil berkata,
"Udah, gak usah gerutu gitu. Duduk dan makan dengan tenang agar pencernaannya lancar."
"Apa kita gak nunggu anak-anak dulu Mi?" tanya Aydin dengan heran.
"Nunggu dong, sekarang Papi sama Mami ngomongin tentang Raline sama Kenshin dulu. Gimana mereka sekarang, apa Papi sudah percaya dengan apa yang Mami katakan tadi?"
Kiki bertanya dengan menatap intens mata Aydin sambil tersenyum yang membuat Aydin menjadi kesal.
Senyuman Kiki itu seolah mengatakan bahwa Aydin tidak bisa mengetahui isi hati anak-anak mereka. Dan Kiki lah yang benar atas pemikirannya tentang anak-anak mereka.
"Assalamu'alaikum....."
Terdengar suara salam dari arah pintu depan dan Bik Narsih berlari kecil untuk membukakan pintu depan.
"Bang... Ki... foto tadi...."
"Duduk dulu Di, kita makan malam bersama."
Kiki menyela ucapan Raditya yang baru datang dengan wajah cemas.
"Duduklah, kita makan bersama, setelah itu kita bicarakan masalah tadi," ucap Aydin sambil menggerakkan dagunya menunjuk kursi yang ada di hadapannya untuk menyuruh Raditya duduk di kursi tersebut.
Terdengar suara langkah kaki dari atas tangga menuju ke ruang makan.
"Ayah?!"
__ADS_1