Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
195


__ADS_3

Rania masih memandang dari tempatnya saat ini dia berada. Dia berdiri tidak jauh dari tempat Resti dan Ali yang sedang berbicara.


Ada rasa yang aneh dirasakan dalam hati Rania. Dadanya bergemuruh terasa ingin sekali marah, dan dia merasa hatinya sakit melihat Ali bersama dengan Resti, apalagi Rania melihat Resti memeluk Ali dengan sangat erat tadi.


Meskipun memang Ali marah pada saat Resti memeluknya, tapi hal itu tidak meredakan sakit hati dan kemarahan yang dirasakan oleh Rania saat ini.


Apa ini yang namanya jatuh cinta? Apakah sesakit ini jika melihat orang yang kita cintai bersama perempuan lain? Haruskah aku menerima Ali sebagai pacarku? Atau aku harus menghindarinya saja? Rania berkata dalam hatinya sambil memandang ke arah depannya di mana Ali dan Resti sedang berdebat.


Masih dalam lamunannya, Resti menatap lurus ke depan tanpa sadar jika saat ini Ali sedang menatap ke arahnya.


Ali kaget ketika menoleh ke arah sekolahan, matanya terbelalak ketika melihat Rania memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikannya.


Ali hendak melangkah ke arah Rania, namun Resti menghentikannya. Resti tidak mengerti jika Aki hendak mendekat ke arah Rania, dia hanya berpikir jika Ali akan menghindarinya dan meninggalkannya.


"Kamu akan pergi ke mana Ali? Bukankah kamu ke sini untuk menjemputku? Ayo kita pergi sekarang, aku sedang tidak ingin berada di sekolah sekarang," ucap Resti sambil memegang lengan Ali untuk berniat menghentikan langkahnya.


"Aku sudah gak ada urusannya denganmu. Dan aku gak ingin dekat lagi sama kamu. Bagiku diriku yang kemarin sangat bodoh karena bisa mempunyai rasa kasihan dengan ular berbisa seperti kamu," Ali menimpali ucapan Resti dengan sangat pedas karena Ali tidak ingin Rania salah paham padanya.


Ali pun menghempaskan tangan Resti dengan sangat kasar, dan memandang Resti dengan tatapan seperti seorang pembunuh padanya.


Setelah itu dengan berjalan cepat dan langkah lebarnya, Ali mendekati Rania. Namun tanpa sadar, Rania berlari menghindari Ali yang sudah berada dekat menuju tempatnya berdiri tadi.


"Sayang....," Ali memanggil lirih Rania saat Rania berlari ketika Ali akan selangkah lagi berada di depannya.


Ali merasa sangat frustasi karena Rania pergi begitu saja ketika dia akan mendekatinya. Ali menjambak rambutnya dan menendang batu kecil yang ada di hadapannya menuju ke arah Resti.


Resti yang sedari tadi memperhatikan Ali merasa bingung dan kaget mendapati Ali yang kini menatap penuh amarah padanya.

__ADS_1


Resti memang tidak mengetahui perempuan yang didekati oleh Ali tadi adalah Rania. Resti melihat pada saat perempuan yang didekati Ali berlari masuk ke dalam sekolahan.


Resti hanya berpikir jika perempuan tersebut berlari karena merasa takut didekati oleh Ali. Dan dia tidak mengetahui jika perempuan itu adalah Rania, teman sekelasnya, sahabat dari Raline yang sangat dibencinya.


Ali berjalan ke arah Resti, dan Resti menyambutnya dengan senyumnya. Namun Resti tidak memperhatikan raut wajah Ali yang sangat marah melihatnya.


Ternyata tidak seperti perkiraan Resti, Ali hanya melewatinya dengan muka marahnya menuju motornya. Ali segera menyalakan motornya dan dengan emosinya dia mengendarainya hingga kecepatan tinggi.


Resti yang bersiap untuk naik ke boncengan Ali pun merasa kaget ketika motor Ali melaju dengan kecepatan tinggi ketika kaki Resti sudah akan naik dan terpental layaknya orang yang terserempet motor Ali.


Resti jatuh terduduk di jalanan dengan lutut yang tergores oleh aspal. Dengan kemarahannya dia berniat balas dendam pada Ali atas perlakuannya.


"Sial... sial... sial...!!! Ali berengsek!!! Akan ku balas! Lihat saja nanti," Resti berteriak memaki Ali seiring kepergian Ali.


"Aaaarrggghh....!!!" Ali berteriak di danau yang pernah dia kunjungi bersama dengan Rania.


"Kenapa selalu dia yang menghancurkan kebahagianku? Harusnya setelah ini aku akan bersama dengan Rania. Sekarang aku harus bagaimana menjelaskannya?" Ali berkata dengan frustasi dipinggir danau.


Kemudian Ali kembali melajukan motor sportnya menuju sekolahan Rania. Ali menghentikan motornya di tempat yang tidak jauh dari sekolah tersebut. Dan Ali memperhatikan dengan seksama setiap siswa yang keluar dari sekolahan tersebut.


Resti sudah pergi dari depan sekolahan tadi dengan kaki yang sedikit tertatih-tatih karena lututnya yang tergores aspal. Dia mengomel dan memaki Ali di setiap langkahnya karena bukan hanya lututnya yang terluka, ternyata sikunya dan lengannya pun terkilir dan tergores.


Harinya sungguh buruk, dari awal pagi hingga siang hari di sekolah, tidak ada hal yang baik terjadi padanya hari ini.


Rania berjalan dengan lesu dan tidak bertenaga. Rasa sakit hatinya tidak bisa teredam meskipun dia sudah mencoba melupakannya dengan bercanda dan berbaur dengan teman-temannya. Bahkan Raline pun tidak mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.


Rania berjalan lesu dengan kepala tertunduk keluar dari gerbang sekolah. Dia tidak melihat ke arah manapun kecuali melihat langkah kakinya yang sedang berjalan. Hingga dia berhenti ketika melihat sepasang sepatu berada di depannya.

__ADS_1


Kepala Rania mendongak melihat pemilik sepasang sepatu yang ada di depannya. Alangkah kagetnya dia ketika melihat sosok yang membuat hatinya sakit dan harinya tidak menyenangkan.


"A-Ali?!" ucap Rania tanpa sadar ketika melihat Ali tersenyum padanya.


"Aku antar pulang yuk Sayang," ucap Ali dengan senyumnya.


"Ta-tapi Res-"


"Gak usah sebut nama wanita sialan itu! Aku udah gak mau dengar nama dia lagi, apalagi melihatnya aku gak bakal sudi," Ali berseru dengan penuh emosi membuat Rania ketakutan.


"Ma-maaf Sayang, aku hanya gak suka aja jika dia membuat hubungan kita menjauh," Ali berkata lembut dan memegang kedua tangan Rania.


"Kamu pasti salah sangka kan sama aku? Tadi aku benar-benar-"


"Kita bicara di tempat lain saja Al," Rania menyela perkataan Ali.


Ali tersenyum senang, dalam hatinya dia berseru dan bersorak penuh kemenangan.


"Ayo Sayang, kita berangkat," Ali menggandeng tangan Rania.


Rania heran dengan hatinya yang ternyata sangat nyaman dan senang ketika digandeng tangannya oleh Ali. Rasa sakit dalam hatinya tadi sudah hilang dengan sendirinya. Dan gemuruh di dadanya yang sedari tadi dia rasakan, sekarang menjadi kebahagiaan yang seolah-olah hatinya itu dipenuhi oleh bunga-bunga yang sedang bermekaran.


Tak terasa terbit senyuman di bibir Rania. Entah mengapa dia bisa semudah itu menghilangkan rasa sakit hatinya pada Ali.


Untuk kali ini dia tidak memikirkannya lagi, karena baginya saat ini lebih penting kebahagiaannya dari pada kemarahannya pada Ali karena terlihat oleh matanya sedang bersama dengan Resti.


"Ran, gimana? Apa kamu menerima cintaku? Apa kamu mau menjadi pacarku?" Ali bertanya dengan menatap intens mata Rania.

__ADS_1


Rania menghirup nafas dan mengeluarkannya perlahan, kemudian dengan malu-malunya dia menganggukkan kepalanya.


"Yess!!!" Ali bersorak di tepi danau merayakan kemenangan hatinya.


__ADS_2