
"Morning Mami.... Papi...," Miyuki berteriak ketika menuruni tangga.
"Morning Princess manis...," jawab mereka semua yang sudah terlatih karena sudah terbiasa menginap di sana.
"Morning semuanya....," teriak Kenshin tidak kalah dengan Miyuki yang juga masih berada lantai atas hendak menuruni tangga.
"Morning Tuan Muda ganteng...," jawab semuanya sama seperti menjawab salam dari Miyuki.
"Pagi semuanya....," tiba-tiba suara Raline mengagetkan semuanya.
"Kakak cantik?" Kenshin dan Miyuki berbarengan menyebut nama Raline.
Raline tersenyum manis dan merangkul Kenshin di samping kirinya dan Miyuki di samping kanannya sambil menuruni tangga bersama.
Semua yang berada di lantai bawah terbengong melihat Raline. Tak terkecuali Raditya yang merasa lupa jika putrinya itu memintanya untuk menjemputnya semalam, namun dia lupa dan tertidur karena tidak bisa menahan kantuknya setelah meminum obat flu.
"Raline kapan datang kok Ayah gak tau?" tanya Raditya yang merasa bersalah pada anaknya satu-satunya.
"Semalem. Kamu tidur sampai gak bisa dibangunin. Kasihan si cantik tuh nungguin di sekolahan. Mau dijemput sama supir, eh kok ada ehem... calon mantu yang nganterin ke sini," Kiki yang menjawab pertanyaan Raditya.
Aydin tersenyum mendengar jawaban istrinya yang tadinya mengomeli Raditya tapi setelah itu malah berakhir menggoda Raline.
"Calon mantu?" ucap mereka bersamaan.
"Iya, kemarin Raline dianter sama cowok. Kayaknya dia suka deh sama si cantik. Iya kan Pi?" Kiki mencari dukungan Aydin.
"Kayaknya sih iya," Aydin ikut menggoda Raline.
"Siapa sih? Kenapa gak bangunin Ken aja sih biar jemput kakak cantik?" Ken berucap kesal.
"Weeeeiii... ada yang marah nih bodyguard nya," celetuk Kenan yang membuat Kenshin bertambah kesal.
"Siapa bodyguard nya? Masa' ganteng keren gini disamain sama bodyguard," Ken kesal dan menatap tajam Kenan sehingga tawa Kenan seketika hilang.
"Pecat aja tuh Pi," Kenan mengeluarkan jurus andalan untuk menaklukan Kenan.
"Ya... jangan dong. Bukan Ken kok bodyguard nya, yang jadi bodyguard kan uncle Kenan," Kenan menyelamatkan dirinya sendiri.
Semua menahan tawanya melihat Kenan yang tidak berkutik melawan Kenshin. Mereka hanya meledek Kenan melalui gerakan hingga membuat Kenan merasa kesal dengan mereka semua.
__ADS_1
"Siapa Mi.. Pi... yang ngantar Kakak cantik?" Kenshin masih saja ingin mengetahuinya.
"Tristan ya kalau gak salah namanya? Bener gak cantik?" Kiki bertanya pada Raline karena merasa sedikit lupa.
"Dia lagi. Kenapa sih dia selalu gangguin Kakak cantik?" Kenshin menggerutu kesal.
"Bukannya gangguin Ken, dia itu sepertinya lagi pendekatan sama Kakak cantikmu itu. Biarkan aja, biar Kakak cantikmu itu bisa punya pacar," Aydin mencoba memberi Kenshin pengertian.
"Enggak, gak boleh," jawab Kenshin kesal setelah itu meneguk minumannya dengan sekali teguk.
Semua orang terkekeh melihat Kenshin yang memang sedari dulu sangat dekat dengan Raline hingga dia tidak memperbolehkan Raline untuk berpacaran atau dekat dengan cowok lain.
Raline hanya tersenyum dan mengacak-acak rambut Ken dengan gemas karena merasa senang di sayangi Ken seperti saudaranya sendiri hingga Ken melindunginya di mana saja dan kapan saja.
Kenshin menangkap tangan Raline dan mencium tangannya membuat semua orang berseru melihat Ken yang menuruni sikap Aydin, cuek dan dingin tapi romantis.
"Cieeee....," semua orang di meja makan berseru melihat sikap Kenshin pada Raline.
"Coba kalau yang jadi Ken itu Kiki, pasti tangan Raline udah digigit tuh," ucap Kevin bermaksud untuk mengingatkan tingkah bar-bar Kiki.
"Sama kayak Mimi tuh," sahut Kenshin dengan menjulurkan lidahnya pada Miyuki.
"Sama kayak kalian berdua. Tuh Mami sama uncle Kevin kayak kalian gitu dari dulu," kini Mama Kiki yang berbicara setelah hanya jadi pendengar setia saja semenjak tadi.
Week end kali ini terasa sangat indah, mereka semua dapat berkumpul tanpa direncanakan. Yang sangat bahagia sekali atas berkumpulnya mereka semua adalah Aydin. Dia sangat bersyukur karena Allah telah baik padanya dengan memberinya kesempatan kembali berkumpul bersama mereka semua.
Dilihatnya satu persatu wajah semua orang yang hadir disitu. Aydin merasa tenang jika memang dia nantinya akan berpulang terlebih dahulu, karena istri dan anak-anaknya masih punya banyak orang yang sayang dan menemani mereka. Dia yakin semua orang akan melindungi Kiki, Kenshin dan Miyuki.
"Pi, minum obat dulu ya," ucap Kiki pada Aydin.
Kiki memberikan obat pada Aydin kemudian Kiki memberikan gelas minuman yang dibawanya pada Aydin. Kiki menatap wajah suaminya yang semakin dicintainya. Dia merasakan berkali-kali lipat cintanya bertambah ketika Aydin dalam keadaan tidak sadarkan diri selama berminggu-minggu.
"Kenapa Sayang?" Aydin bertanya dengan wajah heran menatap Kiki.
"Gapapa. Aku hanya merasa bersyukur aja mempunyai suami seperti... ini...," suara Kiki bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis. Aku juga bersyukur, bahkan sangat bersyukur mempunyai istri yang cantik, baik dan pintar seperti Mami," ucap Aydin menenangkan istrinya.
"Aku sangat sangat sangat mencintaimu," ucap Kiki sambil memeluk Aydin.
__ADS_1
"Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu istriku," Aydin menjawab pernyataan cinta istrinya dengan memeluk erat istrinya.
Semuanya yang berada di halaman sedang bermain tidak melihat Aydin dan Kiki yang berada di teras. Sedangkan Aydin yang sedang bermain bola bersama Kenshin, Lucas dan Max berhenti sejenak dan tersenyum melihat Aydin dan Kiki yang berpelukan seperti itu.
Ada rasa senang dan iri dalam hati Raditya. Memang benar dia ingin seperti itu dengan pasangannya, terlebih lagi jika pasangannya adalah Kiki. Namun dia tidak bisa begitu saja melawan takdir. Allah sudah menentukan jalannya, dia tahu itu. Kini dia berharap akan mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.
"Bro, gak pengen kayak gitu?" Aldo bertanya pada Raditya ketika melihat arah pandang Raditya melihat Aydin dan Kiki yang sedang berpelukan.
Raditya tersenyum dan menggeleng, kemudian dia berkata,
"Mending kerja, cari duit buat Raline biar bisa hidup layak."
"Tapi kan gak ada yang nemenin tidur Bro," Aldo kembali mengompor-ngompori Raditya.
"Udah pernah ngerasain," jawab Raditya kemudian kembali berlari menjemput bola meninggalkan Aldo yang masih berdiri di tempatnya.
"Gak pengen nganu?" tanya Aldo ketika berhasil menjejeri Raditya.
"Udah pernah," jawab Raditya kembali.
"Gak mungkin gak pengen lagi," Aldo masih saja menggoda Raditya.
"Pengen tapi sama orang yang tepat. Dan sekarang belum mau mikirin itu," akhirnya Raditya memberikan jawaban yang sesungguhnya pada Aldo.
"Kalau ketemunya sekarang gimana?" tanya Aldo kembali pada Raditya.
"Hatiku masih belum berbicara, artinya belum ada yang masuk nyantol ke hatiku," jawab Raditya.
"Bilang sama hatimu suruh menyingkirkan nama Kiara dari hatimu yang terdalam," kini Aldo berbisik pada Raditya, takut jika didengar orang lain.
Raditya tersenyum dan berkata,
"Iya, sampai nama Abah dan Ambu aja digeser-geser sama dia," dagu Raditya mengarah pada Kiki.
Bunda dan Ayah memanggil penjual bubur ayam dan siomay untuk datang ke rumah Aydin dan Kiki agar mereka bisa menikmati makanan tersebut sambil bermain. Semuanya sudah dibayar oleh Ayah Aydin, sehingga mereka tidak perlu lagi berjualan.
Aydin dan Kiki sedang menikmati bubur ayam dan melihat Raditya dan Aldo sedang memperhatikan mereka.
"Di, Do, sini makan," Kiki berseru memanggil Raditya dan Aldo yang sebenarnya sedang membicarakannya.
__ADS_1
"Ya ketauan tuh Bro kalau kita lagi ngomongin dia," ucap Aldo sambil terkekeh.
"Belum tau ya kalau dia cenayang," jawab Raditya sambil terkekeh dan berjalan mendekat ke arah Aydin dan Kiki.