
Raline merasa sangat sedih merasa tidak dianggap oleh Kiki dan Kenshin. Dia merasa bersalah hingga membuat Kiki marah padanya. Memang Raline hanya bercanda pada Kiki namun dia benar-benar tidak menginginkan jika Kiki mengetahui bahwa Tristan menyatakan perasaannya padanya.
Di satu sisi Raline merasa malu pada Kiki, Aydin dan Raditya. Namun di satu sisi Raline takut akan dimarahi oleh mereka jika dia memiliki pacar di usianya sekarang.
Alasan terpenting Raline tidak boleh berpacaran karena Raline akan melaksanakan ujian akhir dan harus mempersiapkan untuk masuk perguruan tinggi.
Aku harus minta maaf sama Mami, aku gak mau dicuekin begini. Ya, sekarang aku harus minta maaf sama Mami, Raline berkata dalam hatinya dan meyakinkan hatinya untuk meminta maaf pada Kiki.
Tok... tok... tok...
"Siapa?" tanya Kiki dari dalam kamarnya.
Raline ragu hendak menjawab dengan menyebutkan namanya. Dia takut jika Kiki tidak akan membukakan pintu kamarnya jika mengetahui Raline lah yang mengetuk pintunya.
"Masuk!" ucap Kiki ketika tidak ada jawaban dari orang yang mengetuk pintunya.
Raline memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar tersebut. Namun niatnya untuk meminta maaf pada Kiki sangat kuat, sehingga mendorongnya untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
Ceklek!
Pintu kamar itupun terbuka. Tampak Kiki yang menoleh berbarengan dengan Raline yang masuk ke dalam kamar tersebut.
"Mami!" Raline berlari ke arah Kiki dan memeluknya dengan erat diiringi dengan isakan tangisnya.
"Maafin Raline ya Mi.... Raline... Raline gak bermaksud membuat Mami marah. Raline... Raline... minta maaf sama Mami. Maafin Raline Mi... Mami jangan marah lagi sama Raline," ucap Raline disela isakan tangisnya.
Kiki tersenyum dalam pelukan Raline. Tangan Kiki membalas pelukan Raline dan tak terasa air mata Kiki pun jatuh menetes ke pipinya.
"Mami gak marah sama Raline. Mami hanya gak suka kalau Raline main rahasia-rahasiaan sama Mami. Mami ini Mami kamu loh, Mami harus tau apa yang terjadi sama kamu karena Mami sayang dan cinta sama kamu. Kecuali... Raline sudah tidak menganggap Mami sebagai Mami kamu," Kiki mengatakan apa yang seharusnya dia katakan di kamar Raline tadi, namun dia menahan untuk tidak mengatakannya agar Raline mengerti arti Kiki dalam hidupnya.
"Raline sayang sama Mami, Raline gak mau jauh sama Mami dan Raline gak mau didiemin sama Mami apalagi dicuekin sama Mami kayak tadi. Raline gak mau Mi.... Maafin Raline Mi... Raline bakalan cerita sama Mami apa yang terjadi tadi," ucap Raline yang masih terisak di pelukan Kiki.
__ADS_1
Kiki mengurai pelukannya dengan perlahan, ditatapnya wajah Raline yang sudah basah dengan air matanya. Diusapnya seluruh wajah Raline yang basah itu karena air matanya sendiri.
"Anak Mami yang cantik gak boleh nangis sampai kayak gini ah, nanti cantiknya ilang gimana? Kalau sampai cantiknya ilang Tristan gak suka lagi sama kamu gimana?" ucap Kiki sambil terkekeh.
"Biarin aja Mami, Raline gak keberatan kok. Biar aja dia suka sama yang lain. Raline gak mau pacaran sebelum dapat restu dari Ayah, Mami sama Papi," jawab Raline dengan ekspresi kesal dan mengelap ingusnya dengan tisu yang baru saja dia ambil di meja yang berada di balkon itu.
"Ehem... jadi ada yang patah hati dong karena cintanya ditolak," Kiki menyindir Raline dengan menampilkan senyum jahilnya.
"Ih apaan sih Mi... siapa yang patah hati?" ucap Raline sambil memalingkan wajahnya karena takut Kiki akan mengetahui jika dirinya sedang berbohong.
"Tadi katanya mau cerita hayo... sini cerita sama Mami tadi ngapain aja sama Tristan di mobil," Kiki mulai mengorek informasi dari Raline.
Raline pun mendekat dan duduk di samping Kiki. Kemudian dia memeluk Kiki dari samping dan menyandarkan kepalanya di dada Kiki.
"Tristan tadi....," Raline ragu mengatakannya pada Kiki.
"Nembak kamu? Dia menyatakan perasaannya sama kamu?" Kiki memberondong Raline dengan beberapa pertanyaan.
Raline tak mampu berbohong, sebagus apapun dia berbohong pasti Kiki bisa mengetahuinya jika dia berbohong. Oleh sebab itu dia tidak pernah berbohong lagi.
Raline mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh Kiki barusan, kemudian dia bertanya,
"Kok Mami tau sih?"
Kiki pun tersenyum dan mengusap rambut Raline dengan penuh kasih sayang.
"Meskipun kamu sudah besar, Ayah, Papi dan Mami tidak akan melepas kamu begitu saja. Kami masih tetap mengawasi anak-anak kami sehingga kami tidak akan kehilangan kalian," Kiki menjelaskan dengan sangat lembut pada Raline seperti biasanya.
Seketika saja Raline melepaskan pelukannya dan menciumi wajah Kiki dengan sangat antusias.
"Raline sangat sa....yang Mami," ucapnya disela kegiatannya menciumi wajah Kiki.
__ADS_1
Kiki tertawa melihat Raline yang memperlakukannya dengan demikian. Mereka memang terlihat seperti ibu dan anak, bahkan tidak ada yang mengira jika mereka tidak ada hubungan darah apapun.
"Terus gimana ceritanya?" Kiki kembali bertanya pada Raline.
Kemudian Raline menceritakan apa yang terjadi tadi pada Kiki. Dan Raline pun meminta pendapat Kiki sebagai seorang ibu dan sebagai seorang sahabat bagi Raline.
Keesokan harinya, di sekolah Raline merasa canggung. Dia malu berhadapan dengan Tristan. Dan dia takut jika bertemu dengan Tristan karena dia belum memberikan jawaban untuk pernyataan perasaan Tristan padanya.
"Pagi cantik...," sapa Tristan dari belakang Raline ketika berjalan menuju kelas mereka.
Raline kaget mendengar suara Tristan dan panggilan dari orang tuanya yang masih saja digunakan oleh Tristan ketika memanggil namanya.
"Eh e... pa-pagi Tris," jawab Raline gugup.
Tristan mensejajarkan langkahnya dengan Raline sehingga mereka terlihat berjalan bersama.
Tristan memang sengaja mendekati Raline lebih getol lagi agar Raline bisa luluh padanya. Rasa cinta Tristan sudah mentok pada Raline sehingga yang ada dalam mata, pikiran dan hatinya hanyalah Raline.
Wajah Raline, senyumnya dan namanya audah terukir indah di benak dan hati Tristan. Bahkan setiap dia memejamkan matanya, selalu saja terlihat wajah Raline yang sedang tersenyum padanya.
"Ra, maaf ya yang kemarin. Apa kamu dimarahi sama kedua orang tuamu?" Tristan berucap dengan wajah mengiba pada Raline.
"Gapapa Tris, mereka gak marah kok. Mereka semua hanya khawatir saja sama anak gadis mereka yang tidak langsung pulang ketika pulang sekolah," Raline menjawab dengan jujur, namun Tristan merasa seolah Raline menyindirnya, sehingga membuat Tristan merasa bersalah.
"Maaf deh Ra, gimana kalau nanti istirahat aku traktir kamu sebagai permintaan maaf ku? Ok?" Tristan masih berusaha untuk mendekati Raline.
"Gak usah Tris, aku bisa-"
"Gak ada penolakan Ra. Kamu kan kemarin udah janji mau dekat sama aku, agar aku bisa buktikan ke kamu gimana perasaan aku yang sebenarnya ke kamu," Tristan menyela ucapan Raline sehingga Raline tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
"Ya udah deh terserah kamu," jawab Raline sambil terkekeh melihat Tristan yang senang mendengar jawaban dari Raline.
__ADS_1
"Loh kalian berangkat bareng? Kalian pacaran?"