Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
87


__ADS_3

"Aduuh... aduuuh...," wanita tersebut mengadu kesakitan.


"Dasar wanita j****g, beraninya kamu menggoda suamiku," seru Kiki yang masih menjambak rambut wanita itu.


"Aduuh... tolong... sayang.... tolongin...," rengek wanita itu kesakitan pada Aydin.


"Sayang-sayang, suami aku tuh bukan suaminya situ. Awas kalau berani deketin suamiku lagi!" ancam Kiki pada wanita tersebut.


Terdengar kasak-kusuk dari pengunjung sekitar, namun Aydin memberi kode pada mereka agar tidak melerai atau ikut campur.


Beruntung sekali kemarahan Kiki cepat reda, jika lama berlangsung bisa dipastikan mereka akan didatangi pihak keamanan.


"Udah yuk sayang, kita bayar belanjaannya," ucap Aydin seraya mendekap Kiki agar tangannya tidak lagi meraih rambut wanita tersebut.


"Caroline, kamu itu harus tau diri. Jangan kamu coba-coba deketin aku lagi. Dan satu lagi, jangan ganggu keluarga kami. Aku sangat mencintai istriku, jadi aku tidak akan berpaling darinya," setelah mengucapkan itu Aydin pergi bersama Kiki untuk membayar belanjaan mereka di kasir.


"Wuuuiiih hebatnya istri Abang," ucap Aydin ketika sudah berada di dalam mobil.


Kiki menoleh dan menatap tajam mata Aydin.


"Gal kesenangan kan di deketin mantan?" tanya Kiki menyelidik dengan tatapan tajamnya.


Aydin meraih pundak Kiki dan membawa dalam dekapannya.


"Sumpah, Abang gak senang sama sekali sayang. Abang kan cinta mati sama istri cantik Abang ini,"Aydin menengadahkan wajahnya pada wajah Kiki.


Setelah itu dia mengecup singkat bibir Kiki. Namun lagi-lagi mereka lupa akan situasi dan tempat. Kini kecupan itu menjadi lebih dalam karena Aydin mendapatkan respon dari Kiki. Hingga selang beberapa menit, ciuman itu diakhiri karena bibir Aydin digigit oleh Kiki yang kehabisan nafas.


"Aww... sakit sayang... kok digigit sih?" Aydin mengadu kesakitan dengan memegangi bibirnya.


"Mau bikin mati kehabisan nafas biar bisa balik sama mantan lagi, iya?" sindir Kiki sambil merapikan lipstiknya yang berantakan karena ulah suaminya.


"Tuh kan mulai lagi. Gak mungkin sanggup hidup aku kalau gak ada istriku ini. Sumpah sayang, gak bakalan ada yang lain, gak ada yang bisa gantiin kamu. Suer," ucap Aydin mengiba dengan tatapan penuh permohonan.


"Ya udah ayo buruan pulang. Aku lapar," rengek Kiki yang tiba-tiba berubah manja.


"Makan di rumah aja nih, gak pengen makan apa-apa gitu? Mumpung kita lagi di luar," tanya Aydin yang sudah bersiap mengemudikan mobilnya.


"Emmm... lagi gak pengen apa-apa sayang... pengennya makan disuapin sama kamu, terus dipijitin kakinya sama kamu," Kiki mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum membuat Aydin gemas terhadapnya.


"Udah deh gak usah mancing-mancing gitu, bisa-bisa nanti ada insiden mobil bergoyang lagi," Aydin terkekeh sambil berucap.


Disambut tawa Kiki karena mengingat kekonyolan mereka yang tidak bisa menahan hasrat mereka.


Sesampainya di rumah, mereka segera merapikan barang belanjaan mereka, dan Aydin menghubungi restauran nya untuk mengirimkan makanan ke alamat rumahnya yang baru.


Sesuai keinginan dari nyonya besar, Aydin menyuapi Kiki ketika makanan mereka sudah datang.


Kiki dengan lagak nyonya besarnya meletakkan kakinya di pangkuan suaminya sambil disuapi oleh suaminya, sedangkan Kiki sibuk menonton tayangan televisi.


Setelah Aydin menyuapi Kiki dan dirinya sendiri secara bergantian, kini dia memijat kaki Kiki sampai istrinya itu tertidur di sofa.


Dengan telaten Aydin memindahkan tubuh istrinya itu dengan menggendongnya ke lantai atas dimana kamar mereka berada.


Namun disaat Aydin meletakkan tubuh Kiki di atas ranjang, mata Kiki terbuka dan ditariklah tubuh Aydin jatuh di atas ranjang.


Kemudian Aydin berada di bawah kungkungan Kiki. Dengan senyum Kiki yang tidak bisa Aydin artikan, Kiki mulai melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh suaminya ketika mereka sedang melakukan acara pembukaan untuk acara inti mereka.

__ADS_1


Aydin serasa dibuat melayang oleh setiap sentuhan yang dibuat oleh istrinya. Dan terjadilah malam panas yang lebih didominasi oleh sang istri.


Setelah mereka berdua melakukan pelepasan secara bersamaan, mereka tumbang bersamaan dan tidur dalam keadaan berpelukan hingga pagi menjelang.


Sinar mentari pagi masuk ke dalam celah jendela menerpa wajah sepasang suami istri yang masih berada dalam selimut.


Hingga akhirnya mata Kiki terbuka karena terusik oleh sinar matahari yang menembus masuk ke dalam kamarnya itu.


Kiki bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, mau kemana?" tanya Aydin dengan suara parau yang masih memejamkan matanya.


"Mandi, abis ini kita jalan-jalan keliling komplek ya," ucap Kiki sembari masuk ke dalam kamar mandi.


Aydin tidak menjawab, dia masih setia dengan kasurnya.


Satu jam sudah berlalu, Aydin mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya. Matanya menyisir seluruh ruangan kamar namun tidak ditemukannya istrinya di dalam kamar.


Aydin beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dalam kamar mandi. Niat hati ingin cepat-cepat mandi karena takut jika istrinya berjalan-jalan sendiri keliling komplek tanpa dirinya.


Mata Aydin membelalak kaget ketika melihat istrinya dalam keadaan tidur di dalam bathub. Di dekatinya tubuh istrinya itu dengan kecemasan dan kekhawatiran yang luar biasa.


Namun seketika Aydin menghela nafasnya lega dan tersenyum ketika mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut istrinya itu. Ternyata Kiki sedang tertidur di dalam bathub ketika berendam dengan wewangian aromatherapy.


"Sayang... sayang... bangun, yuk udahan berendamnya, katanya mau jalan-jalan," ucap Aydin sambil membangunkan Kiki dengan menepuk-nepuk halus pipinya.


Namun sayang, Kiki tak kunjung bangun. Dia malah mengeluarkan dengkuran halusnya kembali. Dengan ide jahilnya, Aydin memainkan kedua gundukan milik Kiki seperti memainkan squishy.


Sekarang bukan suara dengkuran yang keluar dari mulut Kiki melainkan suara yang bisa membangkitkan jiwa kelaki-lakian Aydin yang sedang memainkan squishy-nya.


Mata Kiki pun terbuka dengan diiringi alunan kenikmatan yang dikeluarkan olehnya. Dan terjadilah kembali pergulatan mereka di dalam kamar mandi.


Mereka berjalan sampai ujung jalan komplek dan mereka melihat ada tukang bubur yang berjualan di ujung jalan tersebut. Mereka memesan dua porsi bubur ayam dan teh hangat. Setelah itu mereka berjalan pulang kembali melalui jalan yang sama.


Di depan rumah mereka, Kiki menghentikan jalannya. Dan secara otomatis, langkah kaki Aydin pun terhenti.


"Kenapa sayang?" tanya Aydin menoleh ke samping dimana istrinya berada.


"Rumah ini menjadi saksi kebahagiaan kita mulai hari ini," ucap Kiki sambil tersenyum dan menatap lurus ke depan dimana rumah mereka berdiri.


Aydin tersenyum dan membawa tubuh Kiki dalam dekapannya.


"Sampai kapanpun kita akan bahagia di dalam rumah itu dengan anak-anak kita," sahut Aydin menanggapi ucapan Kiki.


Kemudian aydin membawa Kiki masuk ke dalam rumahnya.


"Dan kamar ini menjadi saksi keganasan istriku semalam," ucap Aydin ketika mereka sudah berada di dalam kamar untuk berganti pakaian.


"Iiisssh... gak usah diperjelas deh, kan malu," Kiki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Gak usah malu gitu. Gimana kalau kita lanjut lagi kayak semalam, biar kamu gak malu," goda Aydin pada Kiki sambil membuka telapak tangan Kiki yang menutupi wajahnya.


Kiki tersenyum dan berkata,


"Bang Ay beresin itu ya, jangan lupa dicuci sekalian biar bersih," Kiki menunjuk ke arah ranjang yang suasana sprei dan selimutnya berserakan.


"Loh kok Abang sih sayang? di loundry in aja ya," rayu Kiki.

__ADS_1


"Gak ada, Abang aja yang nyuci, kan udah dikasih full servis semalam," Kiki terkekeh melihat muka masam daei suaminya.


Kiki turun ke lantai bawah untuk menggoreng frozen food yang dia beli semalam sebagai camilan untuk menonton TV.


Aydin dengan berat hati menjadikan satu semua sprei dan kawan-kawannya untuk dia bawa ke lantai bawah dimana tempat pencucian baju berada.


Dengan menggerutu Aydin membawa gundukan kain itu ke ruang laundry. Namun gerutuannya berhenti ketika ada Kiki di dekatnya. Dia tidak berani melawan nyonya besarnya karena dia takut akan berpuasa di malam hari jika melawan istrinya itu.


Setelah memasukkan semuanya ke mesin cuci dan memutar timer-nya, Aydin bergabung bersama Kiki untuk menonton TV sambil memakan cemilan.


Tiba-tiba ponsel Kiki berdering menampilkan nama Kenan di layar ponselnya. Kiki mengangkat panggilan itu ketika Aydin berada di dapur untuk membuatkan Kiki susu ibu hamil.


"Sayang... ini Kenan nanyain kenapa HP kamu gak aktif?" seru Kiki dari ruang televisi.


"Ah masa' sih? Aktif kok, tadi sepulang dari jalan kan tak taruh di kamar. Bentar deh aku ambil dulu hp nya di kamar," jawab Aydin sambil berjalan ke arah Kiki dengan membawa susu ibu hamil untuk Kiki.


Kiki menerima susu itu dan diminumnya secara perlahan. Setelah memastikan istrinya meminum susunya, Aydin berjalan ke lantai atas untuk menuju kamarnya mencari ponselnya.


Namun ponsel itu tak kunjung ditemukan. Dia mencoba mencari ke sela-sela sofa dan bawah ranjang sekalipun, tapi tetap saja tidak ditemukannya ponselnya itu.


"Sayang, liat HP Abang gak?" tanya Aydin pada Kiki ketika berjalan menuju ke arah Kiki.


"Gak ngerti, kan Kiki tadi gak nungguin Abang di kamar," jawab Kiki.


Aydin menghela nafas kecewa dan duduk di kursi dekat Kiki, kepalanya diletakkan di pangkuan Kiki.


"Kenapa?" tanya Kiki sambil mengelus rambut suaminya.


"Gak ketemu, udah aku cari sampai ke kolong gak ada," ucap Aydin sembari memejamkan matanya menikmati sentuhan istrinya.


"Udah dicoba cari-cari lagi?" tanya Kiki kembali.


"Udah berkali-kali dan tetap aja gak ada," jawab Aydin lemah.


" Ketinggalan di ruang laundry kali," ucap Kiki.


"Iya juga ya, eh tapi tadi aku gak dengar ada dering telepon kalau memang ada di sana," jawab Aydin.


"Udah dicari di semua tempat?" tanya Kiki memastikan.


" Udah sayang....," jawab Aydin malas.


"Yuk kita cari sama-sama," ajak Kiki berusaha membangunkan suaminya.


"Lagi PW nih" protes Aydin.


"Gak jadi nyari HP nih?" tanya Kiki.


"Nanti aja ya," Aydin malah menghadap ke perut Kiki mencari posisi yang enak.


"Kalau nanti ada telepon penting gimana?" tanya Kiki.


"Iya ya, ya udah ayo bantuin Abang," ucap Aydin sambil menggandeng Kiki membantunya untuk berdiri dari duduknya.


Mereka mencari di dapur, namun tidak ada meskipun mereka sudah mencarinya di bawah-bawah kitchen set.


Kemudian mereka berpindah ke ruang loundry, dan mereka mendengar suara.

__ADS_1


Gluduk... gluduk... gluduk...


__ADS_2