Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
203


__ADS_3

Tristan mengantar pulang Raline ke rumah Aydin dan Kiki. Karena setahu Tristan, di sanalah ruman Raline yang sebenarnya.


Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil Tristan dan Raline sama-sama merasa canggung.


Kok jadi canggung gini sih? Padahal belum dijawab aja udah kayak gini, apalagi kalau ditolak? Ampun dah... Mendingan aku aja yang ngajak ngobrol kayak biasanya, Tristan berkata dalam hatinya.


"Ra, jangan diem aja dong. Aku kan jadi merasa bersalah udah menyatakan perasaanku ke kamu," Tristan berkata sambil mengemudikan mobilnya dan sesekali melihat ke arah Raline.


"Aku bingung Tris harus ngomong apa. Aku takut dimarahi Ayah, Mami sama Papi kalau sampai pulang sekolah telat banget dan gak ijin ke mereka," kini Raline mengatakan apa yang dia khawatirkan.


"Tapi kan aku udah minta ijin ke Papi mu Ra. Kamu tenang aja ya," Tristan mencoba menenangkan Raline.


"Tetap aja Tris, aku gak pernah seperti ini sebelumnya. Dan aku takut jika mereka akan memarahiku," Raline mengatakannya dengan gelisah.


"Tenang aja Ra, aku yang ajak kamu, jadi aku yang akan bertanggung jawab," Tristan berusaha menenangkan Raline.


Sebenarnya, sedari tadi Tristan merasa sangat senang sekali. Hari ini sangat dinantikan olehnya. Bisa selama ini berdua dengan kekasih hatinya merupakan hal yang sangat langkah baginya.


"Ih Tristan kayak bikin anak orang hamil aja pakai tanggung jawab," ucap Raline sambil terkekeh.


"Ya gitu dong, cantik kan kalau ketawa gitu," Tristan memuji Raline.


Seketika pipi Raline merona. Baru saja dia mendapatkan pernyataan cinta dari Tristan, dan kini dia mendapatkan pujian darinya.


Tristan mengerti bahwa Raline sedang malu padanya ketika dia mencuri pandang ke arah Raline.


Kini suasana kembali hening karena mereka sama-sama tidak tahu harus berbicara apa. Sehingga Tristan berinisiatif untuk menyalakan musik agar suasana tidak sunyi dan membuat mereka berdua bertambah canggung.


Lantunan musik klasik membuat suasana mobil lebih hidup dan tidak sunyi lagi. Dan Raline pun hanyut dalan musik tersebut, sehingga rasa gelisah yang dirasanya tadi perlahan menghilang.

__ADS_1


Sungguh pilihan musik yang tepat dari Tristan. Musik tersebut benar-benar membuat Raline menjadi lebih rileks, dan tidak terasa kini mobil Tristan sudah memasuki kawasan perumahan elit milik Aydin dan Kiki.


Raline menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan selama berkali-kali. Tristan menahan senyumnya melihat Raline yang sangat terlihat ketakutan menurutnya.


Setelah sedikit tenang, Raline keluar dari mobil Tristan dan meminta pada satpam yang berjaga agar membukakan pagar rumah tersebut


"Papi, Mami, Ayah," ucap Raline kaget ketika melihat Raditya, Aydin dan Kiki berada dibalik pagar yang dibuka satpam tersebut.


"Selamat sore Om, Tante," tiba-tiba Tristan berada di belakang Raline.


Sesuai janjinya pada Raline, Tristan akan bertanggung jawab apabila dihukum orang tua Raline mengenai keterlambatan mereka dari pulang sekolah tadi.


"Malam," jawab Raditya dengan sewot.


Kiki menahan tawanya melihat Raditya yang sedari tadi uring-uringan ketika anak gadisnya tak kunjung pulang. Dan ketika dia mengetahui bahwa anak gadisnya sedang bersama seorang lelaki, dia makin marah dan gelisah.


Nyali Tristan langsung menciut melihat Raditya yang sepertinya sangat marah padanya. Sedangkan Aydin tampak berwajah dingin seperti biasanya. Dan Raline nampak sekali takut pada mereka bertiga, orang yang sangat disayanginya.


"Kita sudah tau kok," ucap Aydin dengan tegas.


Seketika wajah bingung terlihat pada wajah Tristan. Dia bingung, bagaimana bisa mereka tahu jika dirinya dan Raline terjebak macet dan bagaimana bisa mereka memasang wajah angker padanya jika mereka tahu kebenarannya.


Kiki mengerti kebingungan Tristan, sehingga Kiki menarik tangan Raline dan mengajaknya pergi. Biarlah urusan itu menjadi urusan kaum lelaki, pikirnya.


"Yuk cantik masuk dulu," ucap Kiki sambil menarik tangan Raline berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Tristan melihat punggung Raline seolah ingin menjerit meminta tolong padanya.


Apa ini? Kenapa seorang Tristan bisa disidang di depan pagar begini? Papa.... Mama... tolong anakmu ini.... Tristan menjerit dalam hatinya.

__ADS_1


"Mmm... Om saya mau permisi pulang dulu," ucap Tristan berpamitan pada Raditya dan Aydin yang sedang berhadapan dengannya.


Raditya diam saja, sedangkan Aydin mengangguk.


"Maaf kamu tidak kami persilahkan masuk karena kamu sudah membawa Raline terlalu malam pulang ke rumah," kini Aydin mengatakan sesuatu yang bisa melegakan hati Tristan, namun tetap saja aura dan cara bicara Aydin masih saja dingin dan tegas.


"Saya sekali lagi minta maaf Om. Lain kali saya akan lebih memperhatikan itu," Tristan menjawab dengan sangat sopan hingga Aydin merasa kasihan telah menjahilinya untuk berpura-pura marah padanya.


Aydin hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Tristan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya.


Sudah sangat kemalaman? Hahahaha... yang benar saja, ini baru jam enam. Dan mereka membuatku seolah-olah memulangkan anak gadis mereka jam satu pagi. Gila bener keluarga Raline. Tapi aku suka, dengan begitu menunjukkan bahwa Raline benar-benar gadis yang baik, gadis yang betul-betul dijaga oleh orang tuanya, Tristan mengomel dalam hatinya.


"Om yang tadi itu siapa sih? Dia selalu ada di mana-mana, setiap ada Raline pasti ada dia. Dia dipanggil Ayah oleh Raline, dan dia seolah-olah benar-benar menjadi ayah Raline. Lalu siapa sebenarnya dia?" Tristan bermonolog pada dirinya sendiri.


Di dalam kamar milik Raline yang berada di rumah Aydin dan Kiki, kini Raline sedang di cecar dengan beberapa pertanyaan oleh Maminya.


Kiki yang tukang kepo itu benar-benar rindu akan masa SMA nya jika melihat Raline yang sekarang ini.


"Ayo dong cantik.... cerita sama Mami," Kiki merayu Raline agar mau bercerita padanya.


"Gak ada apa-apa Mami.....," Raline menolak untuk bercerita.


Bukannya dia tidak mau bercerita pada Kiki, hanya saja dia sangat malu jika harus mengatakan pada Maminya itu bahwa Tristan menyatakan perasaannya di dalam mobil di tengah kemacetan yang berjam-jam lamanya.


"Ah gak seru, Raline gak mau cerita. Mami ngambek ah. Mami gak mau berteman sama Raline. Mami mau keluar aja," Kiki merajuk pada Raline agar Raline mau bercerita padanya.


"Iiih Mami lucu deh," ucap Raline sambil terkekeh.


Bukannya menjawab, Raline malah menertawakan Kiki, sehingga Kiki lebih kesal lagi dan lebih penasaran tentang apa yang terjadi dengan Raline dan Tristan tadi.

__ADS_1


"Beneran nih gak mau cerita? Mami beneran ngambek nih," Kiki kembali merengek dan mengancam Raline.


Dan hal itu membuat Raline semakin tertawa melihat ekspresi dan tingkah Maminya yang seperti Kenshin dan Miyuki.


__ADS_2