
"Ran!" Raline berseru memanggil nama Rania.
Rania yang sedang menangis di kamarnya tiba-tiba saja berlari memeluk Raline ketika tahu suara yang memanggilnya adalah suara sahabatnya, Raline.
"Kenapa Ran? Ada apa?" tanya Raline pada Rania yang masih saja memeluknya.
"Ali Ra," jawab Rania dengan suara yang bergetar.
"Ali kenapa Ran?" tanya Raline penasaran.
Kenshin yang berada di belakang Raline dengan seenaknya masuk ke dalam kamar Rania dan duduk manis di kursi yang ada di dalam kamar tersebut.
"Ali... Ali... Ali dituduh menghamili Resti," ucap Rania di sela isakan tangisnya.
Seketika mata Raline terbelalak karena kaget mendengar ucapan Rania. Sedangkan Kenshin hanya duduk dengan tenang karena dia tidak mengenal sosok Ali yang mereka maksudkan.
"Sabar ya Ran....," ucap Raline sambil memeluk kembali tubuh Rania.
"Kamu bisa bercerita denganku jika kamu mau," Raline menyambung kembali ucapannya.
Rania mengurai pelukannya pada Raline dan mengusap air matanya. Raline membawanya duduk di atas ranjang milik Rania. Kemudian Rania menceritakan apa yang dia dengar dari Resti ketika menghubunginya tadi.
Terlihat jelas raut wajah sedih Raline pada saat Rania bercerita padanya. Raline tahu jika Rania berkenalan dengan Ali karena berusaha menolongnya untuk membebaskan Raline dari fitnah yang disebarkan oleh Resti padanya.
"Apa kamu yakin jika anak itu bukan anak Ali?" Raline bertanya pada Rania dengan ragu.
"Aku yakin Ra. Karena aku melihatnya sendiri jika akhir-akhir ini Resti bersama laki-laki lain dan aku sudah melihat video mereka pada saat melakukannya. Ali juga yakin jika dialah yang menghamili Resti," Rania menjawab dengan sisa isakan tangisnya.
"Ken, bagaimana?" Raline bertanya pada Kenshin.
Sedari tadi Kenshin memang hanya diam mendengarkan cerita dari Rania. Dan Raline bertanya padanya karena dia tahu jika Kenshin pasti mempunyai jalan keluar untuk membebaskan Ali dari tuduhan Resti.
Dan dari cerita Rania itulah Kenshin tahu tentang masalah yang dihadapi oleh Raline di sekolah. Tentu saja Kenshin tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia akan menolong orang yang telah menolong Raline.
"Jika ingin membuktikan harus dengan ahlinya. Kita tanya saja pada Mami, pasti Mami bisa menghitung kalender kesuburannya agar bisa memastikan itu anaknya siapa. Karena bayi yang belum lahir masih sulit dibuktikan anaknya siapa kecuali dengan hitungan seperti itu. Tapi itu hanya perhitungan saja, bukan pembuktian yang sebenarnya," jawab Kenshin dengan santainya.
"Gimana Ran? Apa kamu mau ikut aku menemui Mami? Menurutku apa yang dikatakan oleh Kenshin benar juga," Raline bertanya pada Rania.
__ADS_1
"Baiklah Ra. Apa salahnya kita coba. Aku menolong Ali bukan karena masih ingin bersamanya Ra, aku hanya merasa tidak adil jika dia bertanggung jawab untuk hal yang tidak dilakukannya. Apalagi dia sudah menolong kita untuk membersihkan namamu Ra," jawab Rania sambil membersihkan ingusnya dengan tisu yang diambilnya di nakas.
"Ya udah, ayo kita berangkat. Mami ada di rumah sekarang," ucap Raline sambil berdiri dari duduknya.
Mereka bertiga pergi ke rumah Kenshin menggunakan mobil yang sama. Sesampainya di rumah, Raline segera mengajak Rania untuk menemui Kiki.
"Mi... Mami.... Mi... Rania ada perlu sama Mami. Buruan sini Mi," Raline berteriak memanggil Kiki.
"Apa sih Cantik?" tanya Kiki yang kaget mendengar teriakan Raline dari arah pintu.
"Sini Mi," ucap Raline sambil menarik tangan Kiki agar segera mendekat ke Rania.
"Ada apa sih, buru-buru banget?" tanya Kiki yang berjalan karena tangannya ditarik oleh Raline.
"Loh... loh... hei itu Mami mau dibawa ke mana?" ucap Aydin yang mengikuti di belakang Kiki.
"Papi stop di situ, ok?!" ucap Raline sambil memberi tanda stop dengan tangannya di depan Aydin.
"Kenapa Papi gak boleh ikut?" tanya Aydin tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Raline.
"Ini urusan perempuan Papi.... Kalau Papi mau ikut berarti Papi perempuan," jawab Raline sambil mengulum senyumnya.
"Iya... iya... Papi Bucin," ledek Raline pada Aydin dan disambut tawa oleh Kenshin dan Kiki.
Kenshin duduk di dekat Aydin sehingga memudahkan Aydin untuk bertanya padanya.
"Ken, ada apa?" tanya Aydin pada Kenshin dengan suara berbisik.
Kenshin pun menceritakan apa yang dia dengar tadi dan itu membuat Aydin merasa kesal pada Resti, karena di setiap kesempatan Resti selalu bisa membuat orang menjadi menderita karena ulahnya.
Di sisi lain Raline dan Rania menceritakannya pada Kiki.
"Ok, kita lakukan saja seperti yang dikatakan oleh Ken. Siapa tahu hanya dengan pembuktian sederhana seperti itu bisa juga menolong pacar Rania dari jeratan fitnahnya Resti. Kita bantu dia sebagai balasan untuk bantuannya," ucap Kiki dengan tersenyum.
"Ali namanya Tan," sahut Rania dengan wajah yang merona.
"Iya kan benar pacar kamu Ran," ucap Kiki sambil terkekeh.
__ADS_1
"Malu ih Tam kalau dipanggil begitu," Rania berkata sambil menyembunyikan rona malunya dengan menghadap ke bawah.
Setelah memberitahu keputusan Kiki pada Aydin, dengan antusias Aydin ikut mengantarkan mereka ke rumah Ali.
"Sudah kamu hubungi pacarmu Ran?" tanya Kiki pada Rania ketika berada di dalam mobil.
"Tante ih... Ali namanya," Rania kembali mengingatkan Kiki.
"Iya Ali, apa sudah kamu hubungi dia?" tanya Kiki sambil terkekeh.
"Gak diangkat Tan. Rania jadi khawatir, takut terjadi apa-apa," ucap Rania yang terlihat sangat khawatir.
"Gimana dong Ran? Kamu gak tau rumahnya?" tanya Raline pada Rania.
Rania pun menggeleng, dia memang belum pernah diajak ke rumah Ali karena Rania tidak mau jika jadi bahan gosip yang disebarkan Resti di kampung Ali nantinya.
"Eh kenapa kita gak ke rumah Resti saja. Maksudku kita ke daerah rumahnya dan tanya pada warga rumahnya Ali. Kan katanya mereka satu kampung. Gimana Ran?" Raline menyampaikan pemikirannya.
"Boleh juga Ra. Kita coba saja ke daerah rumah Resti," Rania menyetujui ide dari Raline.
Aydin pun segera melajukan mobilnya sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Rania padanya.
Di daerah tersebut Rania dan Raline bertanya rumah Ali pada setiap orang yang mereka jumpai. Untung saja Ali adalah orang yang terkenal di kampungnya karena anak dari juragan tanah yang paling kaya di daerah tersebut.
"Ali!" Rania berseru manggil nama Ali ketika baru keluar dari mobil.
Ali kaget melihat Rania yang sudah berada di halaman rumahnya dengan beberapa orang di dalam mobil tersebut.
"Ra-Rania?!" Ali pun berseru memanggil nama Rania.
Dengan segera Ali menyingkirkan Resti yang menghalangi jalannya dan dia berlari mendekati Rania.
"Sayang!" ucap Ali sambil memeluk tubuh Rania.
Beberapa detik kemudian Ali mengurai pelukannya dan memandang wajah Rania yang terlihat sembab karena habis menangis.
"Kamu menangis? Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Ali pada Rania.
__ADS_1
"Ali, berani-beraninya kamu memeluk perempuan lain di saat calon istrimu ada di sini!" ayah Resti berteriak marah pada Ali.
Rania menjauhkan tubuh Ali darinya dan dia menggelengkan kepalanya serta menatap tidak percaya pada Ali.