Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
197


__ADS_3

"Silahkan Mbak Raline," ucap si pelayan wanita ketika menyambut Raline masuk ke dalam cafe.


"Di tempat biasanya ya Mbak?" tanya pelayan wanita tersebut pada Raline.


"Mmm... jangan Mbak, kita kan hanya berdua, jadi kita makan di ruangan terbuka aja," jawab Raline sambil matanya memperhatikan sekeliling ruangan cafe tersebut.


"Eh, kita di taman sana aja gimana Tris?" Raline bertanya pada Tristan.


"Boleh, daripada di dalam ruangan terus, bosen," jawab Tristan sambil terkekeh.


"Mari Mbak, saya antar. Silahkan," ucap pelayan wanita tadi sambil mempersilahkan dengan tangannya yang mengarah ke jalan menuju taman.


Kemudian pelayan tersebut memberikan buku menu kepada Raline dan Tristan. Setelah Raline dan Tristan memesan makanan yang mereka pilih, pelayan tersebut pun undur diri meninggalkan mereka berdua di tempat itu.


Beberapa meja di taman cafe itu masih sepi. Berbeda dengan suasana di dalam ruangan yang memang sudah penuh dengan pengunjung.


Mungkin mereka lebih memilih ruangan ber AC di cuaca sepanas ini daripada suasana outdoor yang hanya mengandalkan semilir angin yang lewat.


"Ra, kamu udah punya pacar belum?" Tristan bertanya secara to the point pada Raline.


Raline yang diberi pertanyaan itu oleh Tristan merasa kaget, pasalnya dia tidak pernah berpikir sama sekali tentang pacaran.


"Kok diem sih Ra? Kamu udah punya pacar belum?" Tristan bertanya kembali pada Raline.


"Rania!" seru Raline yang tidak sengaja melihat Rania sedang bersama laki-laki yang baru saja datang dan duduk di bangku taman cafe tersebut.


"Rania?" ucap Tristan menirukan Raline.


Rania yang merasa mendengar namanya dipanggil menoleh mencari si pemanggil. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat Raline dan Tristan yang sedang duduk di meja tidak jauh darinya.


"Ra-Raline," ucap Rania dengan wajah terkejutnya.


"Bukannya itu laki-laki yang bersama dengan Resti saat di puncak itu ya?" Tristan keceplosan memberitahu Raline tentang Ali.


"Apa? Resti?" Raline mengulangi nama Resti untuk meyakinkan pendengarannya.


Seketika bibir Tristan mengatup. Dia sudah janji pada Rania agar Raline tidak mengetahui tentang Ali, karena Rania takut jika Raline tahu sudah bisa dipastikan Raline akan menentangnya.


Raline beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati meja Rania dengan memberikan senyuman jahil pada Rania.

__ADS_1


"Habis dari mana Ran?" tanya Raline pada Rania dengan senyum jahilnya.


"Eh anu... itu....-"


"Siapa nih, gak dikenalin sama sahabatmu ini?" Raline menekankan kata 'sahabat' agar Rania merasa bersalah padanya.


"Hehehe.... maaf, kelupaan," jawab Rania dengan senyum lebarnya.


"Kenalin Ra, ini Ali," Rania memperkenalkan Ali pada Raline.


"Al, ini Raline, sahabatku," Rania pun memperkenalkan Raline pada Ali.


Raline dan Ali pun berjabat tangan dan seperti biasanya Raline memberikan senyum manisnya.


Busyet dah... manis banget senyumnya, cantik lagi. Tapi aku cintanya sama Rania sih, Ali berkata dalam hatinya.


"Ehemmm... gak usah lama-lama kali salamannya," tiba-tiba suara Tristan yang mendekati mereka membuat jabatan tangan antara Ali dan Raline pun terlepas.


"Oh... jadi ini ya yang namanya Raline," ucap Ali yang tanpa sadar malah membuat Rania dan Tristan menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Padahal Ali hanya keceplosan mengatakan apa yang akan dikatakannya tadi, namun ditahannya karena melihat senyuman manis dari Raline.


"Memangnya kamu kenal sama Raline?" tanya Tristan pada Ali yang sudah tidak bisa lagi menahan penasarannya.


"Kan Rania sering cerita tentang Raline," jawab Ali dengan cerdiknya.


Untung aja aku bisa jawab, kalau enggak pasti mereka bakal nanya macam-macam kan? Padahal aku hanya tau namanya aja, itupun karena dia jadi korban fitnahnya si Resti. Tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya, pasti malah tambah panjang ceritanya kan? Ali berkata dalam hatinya.


"Iya kah? Nyeritain aku apa aja? Gak yang jelek-jelek kan?" tanya Raline pada Ali sambil terkekeh melihat Rania yang kini bibirnya menyut cemberut karena mendengar pertanyaan dari Raline.


"Biasa aja bibirnya Yang," Ali menutup bibir Rania yang sedang manyun dengan telapak tangannya sambil terkekeh.


Ali tanpa sadar memangil Rania dengan panggilan sayang sehingga membuat Raline dan Tristan saling menatap dan mengulangi panggilan Ali pada Rania.


"Sayang?" reflek Raline dan Tristan menanyakan panggilan sayang Ali pada Rania.


Hal itu membuat Rania kaget dan sadar jika tadi Ali memanggilnya dengan panggilan sayang. Sedangkan Ali biasa saja, karena dia juga tidak ingin menutup-nutupi hubungannya dengan Rania dari siapapun.


Namun hanya satu saja yang membuat Ali menjadi cemas. Ali takut jika Resti mengacaukan hubungannya dengan Rania.

__ADS_1


Karena dia tau sendiri jika Resti sangat gigih dan keras kepala. Ali takut jika Rania akan menjadi sasaran kemarahan Resti padanya.


"Kami udah resmi pacaran. Iya kan Sayang?" ucap Ali mencari dukungan dari Rania.


Mata Raline dan Tristan terbelalak mendengar pernyataan dari Ali. Kemudian mereka berdua memandang Rania dengan penuh tanya.


"I-iya," jawab Rania dengan gugup dan tersenyum canggung pada Raline dan Tristan.


"Hah? Kok bisa?" tanya Raline heran.


"Ya bisa dong, kita kan saling cinta. Iya kan Sayang?" Ali dengan percaya dirinya menjawab pertanyaan dari Raline.


"Eh sini kamu, aku mau bicara sebentar," Tristan menarik tangan Aki dan mengajaknya menjauh dari Raline dan Rania.


"Mbak Raline, ini makanannya taruh di mana?" pelayan wanita tadi bertanya pada Raline dengan membawa tray yang berisi makanan dan minuman pesanan dari Raline dan Tristan.


"Taruh sini aja Mbak. Gabungin aja sama makanannya Mbak ini ya," jawab Raline dengan ceria seperti biasanya.


"Baik Mbak. Ada tambahan lain mungkin?" tanya pelayan wanita tersebut pada Raline.


"Emmm... Ran, kamu udan pesan makanan belum?" tanya Raline pada Rania.


"Udah tadi pas baru datang di depan," jawab Rania.


"Udah ini aja deh Mbak. Oh iya makanan Mbak ini bawa aja ke sini ya," ucap Raline pada pelayan wanita tersebut.


"Baik Mbak. Mohon ditunggu sebentar," ucap pelayan wanita tersebut sebelum meninggalkan meja Raline dan Rania.


"Ran, bener kamu pacaran sama dia?" tanya Raline pada Rania.


Rania tidak menjawab, dia menunduk malu sambil menganggukkan kepalanya.


"Selamat ya Ran. Aku hanya berharap kamu tidak salah pilih dan bahagia bersamanya. Asal kamu selalu ingat, jaga diri kamu dan jangan merusak diri kamu sendiri. Ingat ini Ran, nasehat dari sahabat kamu," Raline memperingatkan Rania.


"Iya Ra, aku juga gak mau jika dengan pacaran aku bisa merusak diri sendiri," Rania menanggapi nasehat Raline.


"Kamu benar-benar menyukainya Ran?" Raline bertanya pada Rania.


Rania hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Kemudian Raline bertanya kembali pada Rania,

__ADS_1


"Apa kamu mencintainya?"


__ADS_2