
Satu minggu sudah Raline berada di Pondok Pesantren milik Eyangnya. Dalam waktu satu minggu itu juga Raline menunggu kedatangan Bundanya, namun Linda tak kunjung datang menemuinya di sana. Bahkan Nenek dan Kakek Raline yang digadang-gadang akan datang menemuinya karena rumah mereka dekat dengan Pondok Pesantren itupun tak ada datang ke sana sama sekali.
Bunda bohong! Bunda pembohong! Raline benci Bunda! Raline rindu Ayah, Mami, Papi, Kenshin, Miyuki, Max, Aunty, Uncle. Raline kangen kalian semua, Raline memaki Bundanya dalam hati dan dia juga mengatakan kerinduannya pada keluarganya hanya dalam hatinya serta air matanya yang mengiringi kesedihannya.
Beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga Raline memberikan laporannya pada Aydin. Dan seperti dugaan mereka Linda tidak pernah datang menemui Raline sekalipun.
Aydin juga menugaskan orang untuk membuntuti Linda, dan hasilnya pun sama seperti dugaan mereka. Linda sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk bekerja dan hari-harinya bersama Riko juga Pak Gunawan.
"Kasihan Raline, apa sekarang yang akan kita lakukan?" Kiki bertanya pada Aydin ketika mereka sedang berdua di balkon kamarnya menikmati indahnya malam.
"Apa kita jemput aja ya? Lihat dia sedang termenung dengan air matanya yang menetes. Aku gak tega Sayang lihat Raline seperti itu. Jika dia tidak karena terpaksa, pasti kita akan senang melihatnya tumbuh di wilayah Pondok Pesantren, tapi ini kasusnya berbeda, dan bisa saja Linda datang dan membawanya pergi dengan menebarkan kebencian pada Raline terhadap kita," Kiki berucap kembali sambil melihat foto-foto Raline selama satu minggu ini di Pondok Pesantren.
"Kita bicarakan dulu ya Sayang dengan Ayahnya. Kewenangan terbesarnya kan ada pada Ayahnya, sedangkan kita ini hanya orang tua keduanya saja," Aydin menenangkan istrinya dengan kata-katanya dan dia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, memberikannya kehangatan, kenyamanan dan ketenangan.
Tok... tok... tok...
"Mami.... Papi...," suara Miyuki sungguh memekakkan telinga sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Mami Papinya.
Berulang-ulang Miyuki mengetuk-ngetuk pintu dan berteriak memanggil Mami dan Papinya. Teriakan itu berhenti ketika Aydin membukakan pintu untuknya.
"Ada apa Princess?" Aydin bertanya pada Miyuki dengan berjongkok di depan Miyuki untuk mensejajarkan tinggi badan mereka.
"Kak Ken Pi... Kak Ken... buruan Pi ayo...," Miyuki menarik tangan Aydin terburu-buru dengan sangat gelisah.
"Kak Ken kenapa Sayang?" Kiki tiba-tiba menyahut dari dalam kamar.
__ADS_1
"Kak Ken manggil-manggil nama Kakak cantik terus, ayo lihat ke sana Mi... Pi...," Miyuki menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar dengan Mami Papinya yang menurutnya banyak bertanya.
Aydin dan Kiki menoleh saling memandang, namun sedetik kemudian mereka berlari ke kamar Ken dan Miyuki.
Ken dan Miyuki memang masih tidur dalam kamar yang sama, namun dengan ranjang yang berbeda, dan ukuran kamar mereka pun dua kali lipat dari ukuran kamar aslinya. Rencananya mereka akan berpisah kamar tahun depan karena renovasi kamar Miyuki belum dijalankan. Miyuki banyak sekali maunya, sehingga dia sendiri kebingungan untuk membuat kamarnya seperti apa, hingga renovasi kamarnya belum juga dimulai, menunggu hasil dari Miyuki mendesign kamarnya sendiri.
"Kakak cantik.... Kakak cantik jangan pergi... Ken sakit...," Ken terus mengigau memanggil Raline.
Kiki mengambil perlengkapan medisnya dan memeriksa tubuh Ken.
"Suhu tubuh Ken tinggi, aku akan mengambil kompres dan obat dulu," Kiki segera melesat mengambil apa yang dia perlukan.
Sedangkan Aydin hanya bisa mengabulkan permintaan Ken. Aydin mengambil rekaman video Ken yang sedang mengigau kesakitan dan mengirimnya pada Raditya.
Seketika Raditya menghubungi Aydin dan menanyakan keadaan Kenshin pada Aydin. Raditya setuju dengan usul Aydin yang membawa pulang Raline, karena memang benar yang dibutuhkan oleh Ken saat ini hanya Raline. Raditya hendak menjemput Raline namun Aydin melarangnya. Menurut Aydin akan lebih efisien jika Raline dibawa ke rumah Aydin oleh orang-orang suruhan Aydin yang menjaga Raline di Pondok Pesantren.
Aydin mengirimkan video rekaman Ken yang sedang mengigau kesakitan tadi kepada orang-orang suruhannya yang bertugas menjaga Raline di Pondok Pesantren tersebut dan memerintahkan mereka untuk segera membawa Raline pulang ke rumah Aydin.
Aydin juga menghubungi pihak Pondok Pesantren agar memperbolehkan Raline pulang dengan orang-orang suruhan Aydin yang sudah mereka kenal baik selama berada di sana untuk menjaga Raline dan Raditya pun juga menghubungi Uwa nya agar memperbolehkan Raline pulang dengan orang-orang tersebut.
Setiap perjalanan terasa lama bagi Raline. Dia menangis dan mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
"Ken tunggu Kakak, Ken harus sembuh, ken harus kuat," Raline terisak melihat video Ken yang mengigaukan namanya dari ponsel salah satu orang-orang yang membawanya pulang untuk bertemu dengan Ken.
Sesampainya di rumah Aydin dan Kiki, Raline segera berlari menuju kamar Ken. Di sana sudah berkumpul Aydin, Kiki, Raditya dan Miyuki yang sedang tidur di ranjangnya sendiri.
__ADS_1
Raline segera memeluk Ken yang tubuhnya sudah berkeringat dengan suhu tubuh yang sudah sedikit turun karena obat yang diberikan oleh Kiki.
"Ken, bangun... ini Kakak. Bangun Ken, lihat Kakak," Raline mengusap keringat yang membasahi wajah dan leher Ken.
Perlahan-lahan mata Ken terbuka, dan senyumnya mengembang ketika melihat wajah seorang gadis yang sangat dirindukannya.
Raline segera memeluk tubuh Ken yang masih lemah dan basah oleh keringat. Dengan telaten, Raline mengambil kaos Ken yang ada di lemarinya dan mengelap keringat di tubuh Ken sebelum memakaikan kaos itu di tubuh Ken.
"Apa Ken lapar?" Raline bertanya pada Kenshin.
Ken menggeleng dan dia memegangi tangan Raline karena takut jika Raline meninggalkannya kembali.
"Jangan tinggalkan Ken, di sini aja sama Ken," Ken merajuk pada Raline.
Aydin, Kiki dan Raditya menunggu mereka di ruangan depan kamar mereka yang terdapat televisi dan tempat santai untuk anak-anak mereka.
"Kakak akan tetap di sini jaga Ken. Tapi Ken harus janji cepat sembuh ya, Ken kan Tuan Muda yang kuat," Raline mencoba menghibur Ken agar Ken tidak kembali sedih dan takut ditinggalkannya.
"Ya udah kalau gitu Kakak cantik harus tidur di kamar ini biar Ken bisa lihat Kakak ketika tidur," Ken memerintahkan Raline untuk tetap berada di dalam kamarnya.
"Apa Kakak gak boleh tidur di kamar Kakak?" Raline mencoba menggoda Ken seperti biasanya dengan tidak menuruti kemauannya.
"Pokoknya gak boleh! Ken maunya Kakak cantik ada di depan mata Ken saat Ken bangun seperti tadi," suara Ken sudah kembali seperti biasanya dan itu membuat Raline bernafas lega dan tersenyum senang.
Akhirnya Raline tidur di ranjang Ken dengan berhadap-hadapan hingga Ken tertidur pulas. Setelah Ken tertidur, Raline berpindah tidur ke ranjang Miyuki yang tidak kalah besar dengan ranjang milik Ken, hanya saja tingkah Miyuki yang bar-bar ketika tidur membuat Raline terjatuh dari ranjang beberapa kali.
__ADS_1
Di luar kamar anak-anak mereka, para orang tua itu membicarakan tentang kelanjutan tindakan mereka agar Linda tidak lagi mendatangi Raline dan membuat Raline kembali bersedih.
"Sialan! Dia kembali berulah!" Aydin berseru mengumpat ketika dia melihat ponselnya.