Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
201


__ADS_3

Tettt.... tettt.... tettt...


Bel pelajaran terakhir sudah berbunyi, dan itu berarti menandakan jam pulang tiba.


Dengan riangnya Tristan menghampiri Raline yang masih berada di bangkunya. Bangku terdepan yang berhadapan langsung dengan papan tulis.


"Ra, gimana?" tanya Tristan dengan semangatnya dan senyumnya yang mengembang.


"Apanya?" Raline bertanya balik pada Tristan.


"Kamu lupa Ra? Bukannya kita mau pulang bersama?" tanya Tristan kembali pada Raline.


"Oh iya, aku lupa," jawab Raline sambil terkekeh.


Ketawa gitu aja cantik, apalagi senyumnya yang biasanya sering terbayang di mataku? Raline... Raline... kenapa kamu bisa mengambil hatiku? Tristan berkata dalam hatinya sambil menatap wajah Raline yang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.


"Kedip woiii...!" Naufal berseru pada Tristan sambil menutup mata Tristan menggunakan telapak tangannya.


"Apaan sih," ucap Tristan sambil menyingkirkan tangan Naufal dengan kesal.


Tristan memandang kesal Naufal sambil membesarkan bola matanya, serta dalam hatinya dia berkata,


Dasar Naufal kurang ajar, gak tau orang sedang menikmati karunia Tuhan apa? Sukanya malah ganggu aja.


Terdengar tawa dari Raline dan Rania membuat Tristan sadar jika dirinya akan malu jika Raline mengetahui dirinya sedang melihatnya tanpa berkedip.


Tristan pun tersenyum malu pada Raline, kemudian Naufal merangkul pundak Tristan agar Tristan tidak marah lagi padanya.


"Yuk pulang Bro!" ucap Naufal pada Tristan.


"Pulang sendiri gih. Huss... husss...," ucap Tristan sambil melepaskan tangan Naufal yang merangkulnya serta mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Naufal agar pergi dari sisinya.


"Mmm... sombong, udah punya pacar aja sombong. Dulu aja sebelum punya pacar, tiap malam minta ditemenin," ucap Naufal sambil memaju-majukan bibirnya untuk menyindir Tristan.


"Ih najis, siapa yang minta ditemenin? Ngarang aja kayak guru bahasa indonesia," Tristan berucap kesal sambil menoyor kepala Naufal.


Resti melihat mereka dengan tatapan kesal dan marah karena dia merasa harusnya dia bertukar tempat dengan Raline.

__ADS_1


Enak aja dia ketawa-ketawa kayak gitu. Sedangkan aku di sini malah tersisihkan. Harusnya aku yang berada di sana, bukannya dia! Resti marah dan mengutuk Raline dalam hatinya.


"Yuk Ra pulang," ucap Tristan pada Raline.


"Tapi aku belum minta ijin Tris," Raline menjawab ajakan Tristan dengan sungkan.


"Udah gampang, aku aja yang minta ijin," ucap Tristan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Raline.


Tangan Tristan mengambil ponselnya dari saku celananya, mengutak atiknya sebentar kemudia menempelkan ponsel itu pada telinganya.


Sedangkan Raline sedikit kaget mendapat kedipan mata dari Tristan, dan itu membuat Rania menahan tawanya. Dia senang jika Raline yang telah menjadi sahabatnya selama bersekolah di sana itu bisa dekat dengan lawan jenisnya. Karena Raline selama ini memang sepertinya menghindari untuk dekat dengan lawan jenisnya.


"Halo, sore Om... Saya Tristan Om, mau mengajak Raline pulang bareng boleh gak Om?" Tristan berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Baik Om, terima kasih. Saya akan menjaga Raline dan mengantarkannya ke rumah dengan selamat tidak kurang suatu apapun," ucap Tristan kembali setelah mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengannya melalui telepon.


Raline, Naufal dan Rania memandang heran pada saat mereka mendengarkan Tristan berbicara di telepon dengan seseorang yang dipanggil dengan sebutan om oleh Tristan.


Tristan tersenyum pada Raline setelah dia selesai menutup teleponnya.


"Tapi Tris-"


"Udah, yuk ikut," ucap Tristan seakan tak terbantahkan.


Tristan menoleh ke arah Rania, dan Rania pun mengangguk pada Tristan. Entah apa yang mereka rencanakan. Sepertinya mereka telah merencanakan sesuatu ketika di cafe waktu itu.


Tristan benar-benar menjalankan misinya kali ini. Dan beruntungnya dia karena Kenshin dan Miyuki tidak mengganggu mereka.


Hari ini Kenshin dan Miyuki sedang melakukan bimbingan untuk olimpiade tingkat SD dan SMP mewakili sekolah mereka.


Untuk pihak SMA, biasanya Raline yang mewakili, namun kali ini Raline tidak mengikutinya karena guru mereka ingin Raline fokus untuk menyiapkan diri menghadapi ujian akhir dan untuk persiapan memasuki kuliah.


"Silahkan masuk cantik," ucap Tristan sambil membukakan pintu mobil untuk Raline.


Raline menjadi salah tingkah, pipinya memerah dan senyum malunya itu tidak bisa dia sembunyikan dari Tristan.


Tristan sangat menyukai Raline yang sedang malu-malu padanya.

__ADS_1


Yess, berhasil!!! Tristan berteriak dalam hati ya.


"Eh kok kamu tau nomernya Papi sih?" tanya Raline untuk mengalihkan rasa malunya pada Tristan.


"Ya iya dong, kan udah dibilang tadi pagi. Aku ini calon menantunya, jadi harus punya nomernya Papi mertua dong," jawab Tristan sambil mengemudikan mobilnya dan sesekali melihat ke arah Raline.


Raline kembali tercengang mendengar jawaban dari Tristan. Dia menghadap ke arah Tristan dan melihat Tristan yang dengan senangnya mengemudikan mobilnya setelah menjawab seperti itu pada Raline.


Dia sangat konsisten sekali. Bagaimana bisa jawabannya tetap sama di lain kesempatan. Dan apa artinya ini? Dia tersenyum setelah mengobrak-abrik hatiku, Raline berkata dalam hatinya.


"Loh... loh... Tris, kita mau ke mana? Ini kan bukan jalan ke-"


"Udah tenang aja cantik, nanti kamu pasti tau kita mau ke mana. Gak akan aku culik kok," jawab Tristan sambil terkekeh.


"Bukannya gitu Tris, tapi nanti orang tuaku akan marah kalau aku ke mana-mana tanpa ijin dari mereka. Dan ini bukannya pulang malah mampir ke mana-mana," Raline berucap dengan gelisah dan panik.


"Sebentar aja Ra, aku janji kita hanya sebentar. Cuma beberapa menit saja malahan," Tristan memohon pada Raline.


"Kenapa harus ke sana Tris? Di sekolah kan bisa. Atau di sini aja kan juga bisa," Raline kembali berkata dengan gelisah, dia takut jika ayahnya, papinya dan maminya marah padanya.


"Kalau di sekolah banyak anak Ra, pasti mereka akan ganggu. Dan sekarang aku udah menyiapkan tempat khusus untuk kamu di sana," jawab Tristan yang sedang mengemudi sambil menoleh sesekali ke arah Raline.


"Di mana?" tanya Raline kembali.


"Ada deh Ra, bentar lagi pasti udah sampai kok," jawab Tristan.


Dan ternyata, mereka kini sedang terjebak macet. Di jalan raya yang mereka lewati sedang ada kecelakaan yang melibatkan beberapa pengendara dengan truk yang bermuatan penuh, sehingga membuat jalanan tersebut menjadi macet parah, dan itu sudah berjam-jam lamanya.


Kini pihak yang berwajib sedang mengevakuasi korban serta mengamankan kendaraan dan barang bukti serta mengamankan lokasi kecelakaan tersebut.


"Tris, kayaknya lama deh ini. Kita putar balik bisa gak?" ucap Raline yang sangat gelisah.


"Gak bisa Ra, kita sedang berada di tengah-tengah sekarang," jawab Tristan yang tak kalah frustasi dengan Raline.


"Huffft.... kita ngapain sih Tris ke sini? Jadi kejebak macet gini kan malahan," kini Raline sudah kesal dengan situasi macet yang mungkin nantinya akan membuatnya dimarahi oleh semua orang.


"Maaf Ra, sebenarnya aku cuma mau bilang.... Aku suka sama kamu Ra, aku cinta sama kamu. Apa kamu mau jadi pacarku?"

__ADS_1


__ADS_2