
"Malam Om... Tante...," suara laki-laki mendekat ke meja Aydin dan Kiki.
"Tristan?!" ucap Kiki kaget melihat Tristan yang mendekati meja mereka.
"Kamu yang memesan ini semua?" tanya Aydin pada Tristan.
"Iya Om, ini Tristan pesan khusus untuk Om dan Tante. Semoga Om dan Tante suka dengan hidangan kami dan suasana cafe kami," ucap Tristan ramah dengan senyumnya.
"Kami?" celetuk Kiki.
"Ini cafe Tristan Om, Tante," suara laki-laki dari belakang Tristan mendekati meja Aydin dan Kiki.
"Benar Tristan?" tanya Aydin pada Tristan.
"Usaha kecil-kecilan Om," ucap Tristan dengan senyum malu-malu.
"Kenalkan Om, Tante, saya Naufal teman sekolah Tristan dan Raline," ucap Naufal sambil mengulurkan tangannya pada Aydin dan Kiki bergantian.
"Oh teman Raline juga?" tanya Kiki basa-basi.
"Iya Tan, kami bertiga satu kelas sejak dulu," Tristan menyahuti percakapan mereka.
"Lalu, kalian tau dari mana kami ada di sini?" Aydin bertanya mencoba mencari tahu.
"Kebetulan tadi saya ke sini hanya untuk mengecek saja Om. Saya tidak setiap hari kemari, hanya beberapa hari sekali atau satu minggu sekali saja. Mangkanya waktu itu saya ingin mengajak Raline untuk datang kemari, tapi sayangnya kalian sudah ada rencana," Tristan menjelaskan pada Aydin dan Kiki.
"Sepertinya Tristan ini suka sama putri cantik kita Pi," ucap Kiki pada Aydin.
"Benar itu Tristan?" Aydin bertanya pada Tristan mencoba menggodanya.
Tristan malu, dia tidak bisa menjawab. Tristan hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Apa Om dan Tante menyetujui jika Tristan berhubungan dengan Raline?" tanya Naufal pada Aydin dan Kiki.
"Gimana bisa menyetujui kalau Tristan nya aja gak berani ngomong sama kita ya Pi?" kini giliran Kiki yang menggoda Tristan.
__ADS_1
"Boleh Tante?" kini Tristan memberanikan dirinya bertanya pada Kiki.
"Mmm... gimana ya Pi?" Kiki menjahili Tristan dengan pura-pura bertanya pada Aydin.
Aydin mengerti kejahilan istrinya. Aydin pun mengikuti rencana istrinya itu. Aydin berpura-pura berpikir, dan itu sukses membuat Tristan tegang, cemas dan berkeringat dingin di cuaca yang sangat dingin.
Melihat raut wajah Tristan yang tegang itu, Aydin dan Kiki seketika tertawa bersama hingga membuat Tristan dan Naufal bingung.
"Masalah itu kami tidak bisa memutuskan Tristan. Kami hanya bisa mendukung kemauan si cantik saja. Kalau cantik mau, ya kita sih oke-oke saja. Iya gak Pi?" Kiki mencari dukungan dari Aydin.
"Iya, tapi ingat, Kami tidak pernah melepas anak-anak kami begitu saja. Kami selalu mengawasi mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Jadi jangan coba-coba mempermainkan ataupun macam-macam dengan anak-anak kami," Aydin memperingatkan Tristan.
"Baik Om, Tante. Yang penting Om dan Tante merestui Tristan untuk mendekati Raline," ucap Tristan dengan senang.
"Eits, siapa yang merestui? Belum ya, kami belum tau pendapat si cantik," Aydin meralat ucapan Tristan.
Seketika Tristan menjadi malu dan dengan senyum malunya dia meminta maaf.
"Iya Om, Tante maaf," ucap Tristan malu-malu.
"Eh iya Tante, Om maaf. Silahkan dinikmati makanannya. Kalau ada apa-apa langsung minta saja, atau hubungi saya saja," ucap Tristan sebelum meninggalkan meja Aydin dan Kiki.
"Ok, nanti pasti Tante masukin list jadi calon mantu," ucap Kiki yang membuat Tristan tersenyum senang.
"Buat siapa Mi? Si cantik, Tuan Muda ganteng atau Princess manis?" Aydin mengeluarkan candaannya.
"Buat si Ayah," jawab Kiki yang disambut tawa oleh Aydin.
Sedangkan Tristan dan Naufal hanya saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Aydin dan Kiki.
Aydin dan Kiki benar-benar menikmati waktu berdua mereka tanpa ada gangguan dari Dave ataupun Miyuki.
Di rumah kakek dan neneknya, Kenshin dan Miyuki menanyakan tentang keberadaan Mami dan Papinya. Seperti biasa, mereka berbuat ulah ketika kemauan mereka tidak dituruti. Ayah dan Bunda Aydin pusing melihat Kenshin dan Miyuki yang selalu berulah dengan kejahilannya itu. Hingga Bunda Aydin tidak kuat lagi menyembunyikan keberadaan Aydin dan Kiki pada Kenshin dan Miyuki.
"Ayah, kita kasih tau aja ya pada mereka dimana Mami Papinya berada," ucap Bunda pada Ayah Aydin dengan berbisik.
__ADS_1
"Tapi kita udah janji sama Kiki Bun. Kita biarkan dulu supaya Kiki bisa mewujudkan keinginannya untuk membahagiakan Aydin sebagai perwujudan terima kasihnya telah berjuang ketika tidak sadarkan diri waktu itu," jawab Ayah Aydin juga dengan berbisik pada Bunda Aydin.
Mereka sedang menemani Kenshin dan Miyuki yang sedang berinisiatif membuat kue untuk acara peringatan ulang tahun pernikahan Mami Papinya besok.
"Terus gimana dong? Itu bisa-bisa rumah kita jadi kapal pecah loh Ayah," ucap Bunda Aydin.
"Yang beresin kan bukan Bunda, biarkan aja asal mereka senang," ucap Ayah Aydin yang senang sekali melihat cucu-cucu mereka berada di rumah mereka seharian.
"Tapi Bunda takut mereka kena alat-alat itu Yah... bukan takut berantakannya," ralat Bunda kemudian.
"Emm... panggilkan pawangnya saja Bun," ucap Ayah sambil terkekeh.
"Pawangnya?" Bunda mengernyitkan dahinya untuk berpikir.
"Iya, pawangnya," jawab Ayah Aydin kembali terkekeh melihat reaksi istrinya.
"Si cantik Raline?" tanya Bunda tidak yakin.
Dan ternyata tebakan Bunda benar, memang Raline lah yang di maksud oleh Ayah.
"Bener juga Yah, coba deh Bunda hubungi dulu Raline, Bunda suruh dia menginap saja di sini," akhirnya Bunda bisa tersenyum mendengar usul Ayah yang menurut Bunda memang benar.
Akhirnya, detik itu juga Bunda menghubungi Raline dan hanya dalam sekitar tiga puluh menitan saja Raline sudah datang ke rumah Ayah dan Bunda Aydin dengan diantar oleh Raditya.
"Halo Tuan muda gantengnya Ayah.. Halo juga Princess manisnya Ayah," suara Raditya berhasil mengalihkan perhatian Kenshin dan Miyuki dari acara membuat kue mereka.
"Ayah....," seru Kenshin dan Miyuki bersamaan.
Dengan kompaknya mereka berdua berlari ke arah Raditya dengan tangan yang berlumuran tepung dan berebut memeluk Raditya seperti biasanya.
Raline tertawa melihat ayahnya yang sudah berlumur tepung akibat kejahilan dari Tuan muda ganteng dan Princess manisnya. Raditya hanya melongo mendapati pakaian dan pipinya yang berlumur tepung dari pakaian, tangan dan wajah Kenshin dan Miyuki.
"Kakak cantik.....," kini mereka berdua berseru memanggil Raline ketika mendengar tawa Raline menggema bersama dengan tawa Ayah dan Bunda Aydin.
Raline gelagapan ketika namanya disebut oleh Kenshin dan Miyuki. Karena bingungnya dia hingga dia tidak bisa menghindar dari sergapan Kenshin dan Miyuki yang secepat kilat menyerbunya. Dan akhirnya Raline hanya bisa diam pasrah pipinya diciumi oleh Kenshin dan Miyuki yang berlumur tepung dan tentu saja sama dengan Raditya yang pakaian dan pipinya berlumur tepung.
__ADS_1
"Hahaha.... Raline tambah cantik deh kalau begitu. Tinggal tambah telur, jadi deh adonan roti," ucap Raditya dengan tawa yang mengejek Raline.