
Tristan dan Naufal menoleh bersamaan setelah mereka menghentikan tawanya. Alis Tristan mengkerut melihat seorang perempuan yang memanggilnya. Naufal menoleh pada Tristan dan berbisik di telinganya.
"Bau-baunya ada yang mau dapat fans lagi nih."
Tristan mencebik kesal sambil memukul lengan Naufal yang terkekeh melihat wajah kesal Tristan, kemudian di menoleh pada perempuan yang memanggilnya tadi.
"Ada perlu apa?" Tristan bertanya dengan nada datar.
"Maaf, apa kita bisa berbicara berdua saja?" perempuan tersebut meminta pada Tristan.
"Baiklah Bro aku tunggu di kantin aja," ucap Naufal sambil menepuk pundak Tristan.
"Resti, titip sahabat aku ya. Awas hati-hati, biasanya dia suka gigit," ucap Naufal pada perempuan tersebut sambil terkekeh sebelum dia meninggalkan Tristan bersama perempuan yang bernama Resti itu.
"Tristan, mmm... apa kamu bisa mengantarkan aku pulang?" Resti bertanya dengan gugup.
Tristan kaget dengan permintaan Resti yang terkenal menjadi murid pendiam di kelasnya. Dan baru kali ini dia berbicara dengan Resti. Biasanya dia hanya berbicara dengan Resti ketika Tristan menanyakan keberadaan Raline saja padanya, sebab Resti adalah teman dekat Raline yang duduk di belakang Raline.
"Maaf, aku Tristan ketua klub basket sekolah ini dan aku bukan ojek. Permisi," ucap Tristan kesal kemudian dia meninggalkan Resti yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Resti melihat nanar punggung Tristan yang menjauh dari tempatnya berdiri sekarang ini. Dia tersenyum getir karena dugaannya benar, dia pasti akan ditolak oleh Tristan.
Selama ini Resti menyukai Tristan mulai dari awal mereka masuk di sekolah ini. Resti tahu jika Tristan memang menjadi idola di sekolah ini, selain dia ketua klub basket, dia juga termasuk cowok yang berprestasi dalam pelajarannya serta di dukung penampilannya yang tampan, keren dan atletis.
Resti juga mengetahui bahwa Tristan menyukai Raline. Pandangan mata Tristan ketika melihat Raline berbeda dengan Tristan melihat lainnya, seperti ada rasa mendamba dan ingin memilikinya. Dan Tristan juga kerap menanyakan Raline padanya ketika Raline keluar dari kelas bersama dengan Rania, teman sebangkunya.
Sebenarnya Resti tidak berani meminta Tristan untuk mengantarkannya pulang, hanya saja dia tidak ada orang lain yang dimintai tolong olehnya.
__ADS_1
Huffttt.... aku harus bagaimana ini? Minta tolong pada siapa? Aku takut jika pulang sendiri, Resti berkata dalam hatinya.
Langkah kakinya terasa berat. Resti menyeret kakinya untuk bisa pulang ke rumahnya dengan selamat.
Di ujung jalan rumahnya, Resti sangat cemas. Dia menoleh ke segala arah untuk memastikan agar dia tidak bertemu dengan orang yang membuatnya cemas.
"Hai manis... baru pulang sekolah ya?" suara laki-laki yang sangat dia kenal dan kehadirannya sangat dia hindari.
Resti menunduk tidak berani menatapnya, namun dia harus menghadapinya. Resti mengangkat dagunya tinggi-tinggi seolah dia tidak takut dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Laki-laki itupun tertawa melihat Resti yang sok berani di hadapannya. Kemudian laki-laki itu mendekati Resti dan memegang dagu Resti membawanya mendekati wajahnya.
"Mana cowok yang kamu bilang pacarmu itu? Kamu pasti berhalusinasi Resti. Gak ada cowok manapun yang mau sama kamu kecuali aku. Apalagi kamu di sana hanya siswa yang bersekolah di sana dengan mengandalkan beasiswa. Mana ada yang mau sama kamu?" ucap laki-laki tersebut.
Laki-laki itu adalah Ali anak dari juragan tanah sekaligus kepala desa di daerah tempat tinggal Resti. Dia memang menyukai Resti sejak dulu ketika Resti menjadi adik kelasnya di Sekolah Dasar di daerah itu. Dan sebenarnya mereka sudah pernah berpacaran, namun Resti menolak ketika Ali mengajaknya kembali berpacaran dengannya.
Resti hanya diam saja tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ali, karena memang benar dia berbohong dan tidak bisa membawa laki-laki yang disebutnya sebagai pacarnya. Setiap Ali mengajaknya untuk jalan, selalu saja Resti menolaknya dan mengatakan bahwa dia mempunyai pacar yang lebih keren daripada Ali. Dan sekarang dia hanya bisa mengakui kebohongannya.
......................
Karena besok adalah akhir pekan, Aydin dan Kiki menebus kesalahan mereka dengan mengajak Raline, Kenshin dan Miyuki mengunjungi villa mereka yang berada di puncak. Tentu saja mereka bertiga menyambut dengan gembira usul dari Mami dan Papinya itu.
Mereka berangkat sore itu juga. Dan Raditya serta yang lainnya menyusul dnegan kendaraan sendiri-sendiri ke sana. Di sepanjang perjalanan mereka bertiga tak henti-hentinya berceloteh, membuat tebakan, saling menjahili dan tertawa karena candaan mereka.
Aydin dan Kiki sangat gembira melihatnya. Dan mendengar tawa mereka itu membuat hidup mereka terasa sempurna.
"Papi... Mami... Princess lapaaaaar....," Miyuki merengek kelaparan.
__ADS_1
Aydin dan Kiki tertawa mendengar rengekan anak gadisnya itu. Seketika Aydin membelokkan mobilnya pada restoran yang kebetulan ada di depan jalan yang akan mereka lalui.
Seperti biasanya Kenshin, Miyuki dan Raline berjalan terlebih dahulu untuk mencari tempat duduk dan memesan makanan yang mereka inginkan.
"Ini... bukannya ini jalan yang akan ke tempat kita malam itu Pi?" tanya Kiki sambil melihat-lihat sekitarnya.
"Iya bear Mi. Papi coba ambil jalan ini karena takut macet kalau ambil jalan yang biasanya," jawab Aydin dengan berjalan bersama Kiki menuju dalam restauran sambil bergandengan tangan.
Mereka makan hanya beberapa menit saja karena Miyuki sudah tidak sabar untuk sampai di villa. Memang Miyuki sangat suka jika diajak ke villa itu, berbeda dengan Kenshin yang lebih suka jika Raline ikut dengan mereka.
Dalam perjalanan mereka menuju villa, ternyata ada yang mengenali Aydin dan Kiki ketika mereka membuka kaca jendela mobil mereka untuk menikmati udara segar di sana pada saat berhenti karena adanya lampu merah.
"Bro... Bro... bukannya itu Mami Papinya Raline?" Naufal memberitahu Tristan ketika dia melihat ke luar jendela dan melihat Aydin serta Kiki berada di dalam mobil di samping mereka.
Tristan melihat mobil yang berada di samping mereka , dan dia tersenyum karena mendengar Kiki berseru menyebut kata cantik dari dalam mobilnya.
"Pasti Raline ada di dalam mobil mereka. Kita ikuti aja yuk. Bukannya waktu itu mereka bilang akhir pekan akan ke villa mereka?" Tristan tersenyum senang setelah siang tadi dia sangat kesal karena Resti yang memintanya untuk mengantarkannya pulang.
"Loh bukannya kamu ada perlu di cafe?" tanya Naufal heran.
"Gampang... setelah tau villa mereka, kita ke cafe," Tristan menjawab dengan hati yang sangat riang.
"Terserah kamu deh, tugasku kan cuma nemenin kamu aja," ucap Naufal sambil terkekeh.
"Nah itu baru asisten yang benar," Tristan menimpali perkataan Naufal dengan tawa mereka yang jauh dari kata kesedihan.
Setelah beberapa saat, mereka mulai memasuki kawasan puncak yang banyak terdapat bangunan villa di sana.
__ADS_1
"Loh... loh... bukannya ini jalan menuju villa keluargamu Bro?" Naufal bertanya pada Tristan.
"Yess... berarti villa kita berdekatan," ucap Tristan dan bersorak kegirangan.