Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
68


__ADS_3

"Bilang aja gak serius," Renita pura-pura ngambek dan melihat ke arah lain.


"Serius... sumpah serius sayang...," Kenan mencoba merayu Renita.


Rayuan perdana untuk Renita selama dia dekat dengannya.


Pipi Renita bersemu merah mendengar kata sayang diucapkan Kenan untuknya. Namun dia tak mau terlena karena takut nantinya kecewa jika dia terlalu berharap pada yang tidak pasti.


Kenan beralih ke depan Renita, dia mengangkat dagunya dan menatapnya dalam agar Renita percaya padanya.


"Lepasin, bukan mahram, dimarahi Abah baru tahu rasa," Kevin melepaskan tangan Kenan dari dagu Renita.


"Ck dasar perusak suasana," Kenan menatap sinis Kevin yang sekarang tertawa puas di sebelahnya.


Renita benar-benar malu. Ingin rasanya berlari dan bersembunyi, namun dia tidak bisa bergerak, hatinya masih ingin tetap disini, jadi kakinya tidak dapat digerakkan mengikuti perintahnya.


"Lagian kamu tuh minta ijin dulu sono ke Abah, kali aja Abah gak kasih ijin. Hahaha....," Kevin membuat emosi Kenan bertambah.


"Aish... lu bisa diem gak? Sono pergi jauh-jauh husss....," Kenan mengusir Kevin dan mendorongnya jauh dari tempatnya.


"Hahahaha...," Kevin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Kenan yang benar-benar terganggu olehnya.


Kemudian Kevin yang tadi pada saat berada di warung bubur ayam mengirim pesan pada Aydin untuk datang ke sana bersama Kiki, kini mereka berdua telah sampai di sana.


"Kak, katanya di warung bubur ayam, kok malah disini ketawa-ketawa?" Kiki memukul bahu Kevin agar tersadar dan berhenti dari tawanya.


"Noh lihat," Kevin menunjuk ke arah Kenan yang masih merayu Renita.


"Renita? Bang Ke? Ngapain mereka pagi-pagi sudah ada disini?" Kiki menoleh pada Kevin dan bertanya pada Kevin.


"Tanya aja sama mereka," Kevin menggerakkan dagunya ke arah Kenan dan Renita namun masih diselingi tawanya.


"Bro coba kamu tanya Kenan ngapain dia ada disini," Kevin mulai beraksi dengan kejahilannya.


"Males ah, emang kamu gak tau?" Aydin merasa malas melakukan hal lain selain bersama dengan istrinya.


"Dasar Bucin, kalau udah baikan aja gak mau lepas-lepas tuh tangan," sindir Kevin pada Aydin yang enggan melepaskan tangannya dari pinggang Kiki.


"Udah ah ribut mulu, masih pagi nih belum sarapan juga. Ayo sayang kita tanya mereka dulu, habis itu kita sarapan," Kiki tersenyum manis menatap suaminya dan menggeret paksa badan suaminya agar mau bergerak mengikutinya.


"Kalian ngapain disini?" tanya Kiki pada Kenan dan Renita yang sudah ada di dekat mereka.


Kenan dan Renita menoleh kaget pada sumber suara.


"Mbak Kiki?" Renita sangat kaget menyebut nama Kiki.


"Hufft.... datang lagi pengganggu yang lain," Kenan menggerutu namun masih bisa di dengar oleh Aydin.


" Dasar lu playboy karatan, anak orang lu rayu-rayu," Aydin memukul pundak Kenan lumayan keras.


"Aww... sakit ege... lagian kalian ngapain sih pada kesini semua? Reunian? Gak ada tempat lain apa?" Kenan meluapkan kekesalannya yang terus-terusan diganggu oleh sahabat-sahabatnya.


"Terserah kita dong, kita yang punya badan. Lagian Bang Ke lupa apa kalau Bang Ay punya Villa disini?" Kiki membela suaminya membuat Kevin tersenyum puas dan melingkarkan kembali tangannya pada pinggang Kiki.


" Anjir, lupa kalau dia punya Villa disini. Tau gitu ngajaknya ke tempat lain aja," Kenan kembali menggerutu, namun gerutuannya tetap saja bisa didengar oleh semua orang yang ada di dekatnya.


"Mangkanya mikir dulu kalau mau bohongin anak orang," Kevin bersuara ketika mendengar gerutuan Kenan.

__ADS_1


"Bohong gimana?" Kiki melihat Kenan kemudian beralih melihat kakaknya.


"Tanya aja tuh Renita," sahut Kevin memanggil nama Renita yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan dan perdebatan mereka.


"Bang Ke bohongin kamu Re?" tanya Kiki mengintrogasi.


Tanpa menunggu jawaban dari Renita, Kiki mulai mengomeli Kenan.


"Bang Ke, Renita itu masih kecil jangan digombali apalagi dibohongi. Awas aja kalau macam-macam sama Rere," Kiki mengancam Kenan dengan matanya yang melotot.


"Anak kecil apaan udah segini kok masih kecil. Lagian dulu katamu kan anak kecil yang bisa bikin anak kecil udah boleh nikah, iya kan?" Kenan mencoba melawan Kiki.


"Ish, pinter bener jawabnya. Pokoknya awas kalau macam-macam sama Rere," ancam kembali Kiki pada Kenan.


"Lah emang siapanya kamu, orang tuanya sama kakaknya aja gapapa kok, wleee....," ejek Kenan pada Kiki yang membuat Kiki jadi marah.


" Rere itu udah kayak adek aku, jadi aku harus jaga dia terutama dari makhluk seperti Bang Ke ini," Kiki menunjuk muka Kenan.


"Makhluk... makhluk ganteng maksudnya? Eh cieee adek... adek apa nih? Mantan calon adek apa gimana?" tanya Kenan yang berujung menggoda Kiki.


Aydin tidak terima dengan ucapan Kenan yang menyebut Renita sebagai mantan calon adek. Aydin membalikkan badan Kiki dan merangkulnya erat dari samping dan mengajaknya dengan paksa menuju warung bubur ayam untuk sarapan.


"Kalian tunggu ya, awas kalau pergi," Kiki mengancam mereka dengan posisi berjalan ke arah warung tanpa menoleh ke belakang, karena Aydin mendekapnya sangat erat hingga kepalanya terapit oleh lengannya tidak bisa menoleh ke belakang.


Kevin, Kenan dan Renita benar-benar melaksanakan perintah Kiki. Sebenarnya ini mereka takut dengan ancaman Kiki atau takut dengan Aydin? Atau mungkin takut dengan pasangan suami istri itu? Benar-benar pasangan yang disegani.


Kenan menatap tajam Kevin yang tersenyum menggoda padanya.


"Ngapain senyum-senyum? Gak waras?" Kenan bertanya pada Kevin dengan nada tidak bersahabat.


"Hahahaha.... sans Bro, gitu aja marah. Ini kita ngapain jadi nungguin mereka yang lagi sarapan sih?" Kevin menertawakan Kenan yang menurutnya benar-benar lucu, karena Kenan yang dia kenal tidak pernah ngambek seperti ini hanya karena masalah cewek.


"Bang... Bang... udah iih... malu tau gak udah gede malah berantem," Renita mencoba memisahkan tubuh Kevin yang dipiting lehernya oleh Kenan.


"Kok kamu belain dia sih sayang? Kok kamu pegang-pegang dia sih?" Kenan meraih tangan Renita dan membawanya ke sampingnya.


Renita yang kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar menurut saja ketika Kenan menggandengnya dan menggeretnya ke sampingnya.


"Sayang, sayang, belum hafal Juz Amma gak boleh panggil sayang-sayangan," Kevin menoyor kepala Kenan ketika dia sudah terlepas dari Kenan.


"Gak mungkin Abah ngasih syarat gitu, ya kan sayang?" Kenan menoleh ke samping dimana Renita berada.


"Mungkin aja sih, kenapa, gak sanggup?" tanya Renita mengintimidasi Kenan.


"Bukannya gitu, kalau harus hafalin semuanya takut kelamaan sayang, nanti kamu keburu sama yang lain," Kenan mengiba pada Renita dengan tatapan sendunya.


"Yee... itu namanya gak ada perjuangan. Kalau memang bener-bener cinta pasti diperjuangkan," ucap Kevin dengan nada puitis.


"Dasar perusak suasana lu!" Kenan menenggelamkan kepala Kevin dengan topi yang dipakainya.


"Bang Kenan serius?" Renita bertanya dengan tatapan serius.


"Serius sayang, aku benar-benar serius. Aku sudah tidak seperti dulu lagi yang suka menggoda wanita, aku ingin memiliki hubungan yang serius yang bisa aku ajak ke pelaminan. Apa kamu mau? Aku benar-benar jatuh cinta pada mu sejak kita bertemu di Villa waktu itu," Kenan mulai melancarkan rayuannya.


"Katanya tidak suka menggoda wanita, kok sekarang godain aku? Pakai ngerayu lagi," Renita menjawab dengan polosnya.


"Hahaha.... bener-bener adek-adekannya Kiki kamu Re. Mungkin kalau Kiki yang digitukan, pertanyaannya sama kayak kamu," Kevin tidak bisa berhenti tertawa melihat reaksi dan muka sebal Kenan.

__ADS_1


"Bukan begitu, ya cuma sama kamu aja aku begini, kan merayunya untuk meyakinkan kamu kalau aku bener-bener serius," Kenan menetralkan wajahnya dan memasang wajah mengiba kembali pada Renita.


"Ada apaan ini?" tiba-tiba Kiki sudah berdiri di dekat Kenan dan Renita.


"Yaelah... datang deh pengganggu lagi," gerutu Kenan yang masih bisa di dengar orang didekatnya.


"Ngomong apa lu?" Aydin memegang kerah Kenan.


"Ya kan, ampun deh... udah ini aku lagi ada perlu sama Renita, malah kalian gangguin aja dari tadi, tuh si biang kerok gangguin mulu kerjaannya gak selesai-selesai kan jadinya," Kenan mengangkat tangannya tanda menyerah kemudian dia melepaskan tangan Aydin dari kerahnya.


"Urusan apaan sih Re?" Kiki menggeret tangan Renita agar lebih dekat dengannya.


"Kenan nembak Renita, lah ngajak kesini tadi pagi pakai alasan katanya ngajak observasi buat bahan skripsinya padahal kan kita udah sidang," Kevin menyambar untuk menjawab pertanyaan Kiki pada Renita disertai tawa mengejek pada Kenan.


"Dasar Bang Ke, katanya udah tobat, udah insyaf, masih aja godain anak gadis. Kiki aduin ke Abah nih," Kiki memukul-mukul badan Kenan dengan sekuat tenaga.


"Dasar tukang ngadu," Kenan berlari menghindari pukulan Kiki.


"Udah tak bilangin tadi, pasti dia disuruh hafalin Juz Amma sama Abah baru direstui," sahut Kevin.


"Nah bener tuh, otw bilangin Abah aaaah...," Kiki dengan jahilnya kini menggoda Kenan.


"Kalian itu gak bisa lihat sahabat kalian seneng ya? Aku tuh beneran udah insyaf, gak jadi playboy lagi, aku kan pengen kayak Aydin gitu punya istri bisa digandeng kemana-mana kan udah halal," Kenan mendekat kembali pada mereka.


"Ya udah sok atuh bilang ke Abah kalau berani," Renita tanpa sadar memberikan lampu hijau pada Kenan.


Kenan tersenyum, dia tidak menyangka usahanya sedari tadi yang penuh hambatan bisa mendapatkan lampu hijau dari gadis tersebut.


"Beneran? Tapi pakai hafalan Juz Amma gak?" tanya Kenan ragu.


"Dih mlempem, masa' gitu aja udah takut. Payah," Kiki menyindir Kenan uang sedang serius berbicara pada Renita.


"Diem deh Ki, ini kan lagi usaha. Jauh-jauh sana husss....," Kenan mengusir Kiki, namun dia kembali lagi ke tempatnya semula setelah melihat tatapan Aydin yang menyeramkan karena dia mengusir istrinya.


"Kenapa, gak sanggup ya kalau hafalan? Kalau emang udah niat pasti bisa kok. Tapi kalau gak ada niatan sungguh-sungguh ya percuma, meskipun hafalannya setahun ya gak bakalan hafal," Renita memberikan jawaban yang menohok baginya.


"Sanggup, kata siapa gak sanggup. Ayo kalau gitu kita temui Abah," Kenan dengan sok nya menerima tantangan Renita.


Kevin menahan tawanya bersama Aydin, mereka merasa lucu melihat Kenan bersikap seperti itu, namun mereka juga mendukung niatan Kenan karena memang sepertinya dia tulus dengan ucapannya.


"Kalian mau balik sekarang? Sayang ih udah jauh-jauh kesini langsung balik. Kita jalan-jalan dulu aja," ajak Kiki pada Renita dan Kenan.


"Sayang, kita jalan berdua aja ya," Aydin tidak setuju dengan ide Kiki.


"Dih sok banget yang udah punya pasangan. Terus yang single ini gimana? Mau jalan sama siapa kalau kalian berpasang-pasangan?" Kevin mencebik kesal mendengar ucapan adik iparnya.


"Ya udan kita barengan aja ya, kan bisa berduaan meskipun barengan," bujuk Kiki pada suaminya.


"Ya udah deh," Aydin hanya bisa menurut perintah sang nyonya besar karena bisa fatal akibatnya jika tidak menurut padanya.


Akhirnya mereka berjalan bersama berlima menikmati pemandangan alam disekitar tempat itu. Aydin berjalan begitu mesra dengan Kiki. Dia tidak pernah melepaskan gandengan tangannya atau rangkulan tangannya di pinggang Kiki. Sedangkan Kenan, Kevin dan Renita berjalan bertiga karena mereka masih belum halal.


Mereka berjalan ke kebun teh, di sana mereka ikut berkeliling kebun teh Aydin karena sekalian Aydin berkunjung ke sana meskipun belum waktunya jadwal kunjungan. Mereka juga ikut berkunjung ke pabrik teh yang mengelola hasil teh milik Aydin. Setelah itu Aydin meminjam mobil dari pabrik teh miliknya untuk berkunjung ke peternakannya dan kemudian mereka melanjutkan pergi ke air terjun.


Mobil diparkirkan jauh di bawah air terjun karena mereka harus berjalan kaki kurang lebih sejauh 3,5 KM. Meskipun begitu tak menyurutkan keinginan mereka untuk mengunjungi tempat itu. Karena jarang-jarang mereka bisa ke sana seperti hari ini.


Sampai di air terjun, mereka dengan gembiranya bermain air tanpa memperdulikan baju mereka yang basah dan tidak membawa ganti. Renita dan Kiki bermain ciprat-cipratan air padahal mereka sudah dihentikan oleh Aydin agar tidak membasahi baju mereka, tapi malah Aydin yang kini diciprati air oleh Kiki. Pada saat Kenan dan Kevin ikut mencipratinya dengan air, Aydin memberikan tatapan membunuh pada mereka, dan akhirnya mereka berdua di rendam di dalam air oleh Aydin. Kemudian Aydin juga ditarik masuk ke dalam air oleh Kevin dan Kenan. Alhasil baju mereka semua berlima basah kuyup.

__ADS_1


Udara dingin yang merasuk hingga ke dalam tulang mereka membuat mereka menepi duduk di bebatuan. Aydin mendekap erat tubuh Kiki untuk memberikan kehangatan meskipun bajunya juga basah. Paling tidak Aydin bisa mengurangi rasa dingin yang menyelimuti tubuh Kiki. Karena angin yang berhembus dengan santai, mereka terlena akan suasana ditempat itu. Hembusan angin yang membuat mereka terlena disertai kicauan burung yang bersenandung ria bersahut-sahutan dan gemericik air terjun membuat rasa dingin di badan mereka tak lagi dirasa. Hingga tak terasa baju mereka kering terkena angin. Meskipun tidak terlalu kering, namun masih bisa dipakai hingga nanti mereka ganti pakaian. Setelah itu mereka turun kembali ke parkiran mobil mereka. Ternyata di sana banyak sekali orang yang berjualan makanan khas di sana. Mereka membeli jagung bakar, sekoteng, dan banyak makanan lainnya hingga membuat mereka lupa akan jam kepulangan mereka.


Tiba-tiba ada tangan yang menjewer telinga Renita.


__ADS_2