Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
86


__ADS_3

Dengan senyum manjanya wanita itu menyapa Aydin yang ada di hadapannya. Wajah Kiki sudah berubah ekspresi menjadi marah ketika melihat wanita itu.


Sungguh malam ini Kiki ingin sekali menikmati indahnya malam bersama suaminya. Namun tetap saja ada pengganggu yang ingin merusak kebahagiaan mereka.


"Hai Bang, apa kabar?" tanya Naila dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Aydin mengacuhkannya dan kembali menyantap nasi gorengnya. Kiki pun melakukan hal yang sama ketika mengetahui suaminya tidak menganggap wanita yang ada di depannya.


"Abang... kok Naila dicuekin sih? Gak rindu apa sama Naila?" rengek Naila manja.


Kiki melemparkan sendok yang dia pegang ke piringnya. Aydin yang berada di sebelahnya sangat kaget, kemudian dia meraih tangan Kiki dan menggenggamnya untuk menenangkannya.


"Cih, wanita kampungan, gak ada sopan santun," sindir Naila sambil tersenyum meledek.


"Jaga mulutmu!" seru Kiki sambil menunjukkan jari telunjuknya ke depan muka Naila.


"Judes banget jadi cewek. Kasian suaminya dijudesin mulu," sindir Naila kembali dengan mulut pedasnya.


Kiki berdiri dari duduknya dan tangannya meraih rambut Naila yang panjang digerai. Kiki menariknya dengan sangat keras ke arahnya, sehingga Naila mengikuti rambutnya, dia berdiri dan tertarik ke arah depan mendekat ke tubuh Kiki.


Aydin yang melihat itu sangat kaget namun tertawa melihat Naila yang dijambak oleh Kiki dan merintih kesakitan.


Orang-orang disekitar hanya melihat mereka saja tidak berani melerai karena Aydin melarang mereka mendekat, karena Aydin takut Kiki marah jika ada yang menghentikannya.


Setelah merasa puas, Kiki melepaskan rambut Naila dan banyak rambut rontok milik Naila yang tertinggal di tangan Kiki.


Naila memegang kepalanya dan memaki Kiki dengan kata-kata hinaan yang membuat Kiki marah kembali. Namun sebelum itu terjadi, Aydin merangkul Kiki dan membawanya pergi setelah memberikan selembar uang seratus ribu kepada penjual nasi goreng.


"Mangkanya jangan godain suami orang. Rasain tuh botak rambut Lu!" teriak Kiki pada Naila yang membuat orang-orang disekitar menyebutnya sebagai pelakor.


"Yeee... ternyata pelakor, pantesan dihajar," cibir salah satu orang di sana.


"Cih gak malu godain laki orang, gak laku kali ya," cibir orang yang lain.


Dan banyak lagi cibiran yang diterima oleh Naila yang membuatnya bertambah kesal pada Kiki.


"Eh Mas... Mas.. ini kembaliannya," seru penjual nasi goreng mengejar Aydin dan Kiki yang berjalan menuju motor mereka.


"Ambil aja kembaliannya Pak, maaf udah bikin keributan. Istri saya selalu digangguin dia soalnya Pak," ucap Aydin.


"Makasih ya Pak semoga rejekinya tambah banyak. Dan kalau boleh saya kasih saran mendingan istri Bapak daripada wanita tadi Pak," penjual nasi goreng tersebut terkekeh di akhir kalimatnya.


"Iya Pak saya sangat cinta sama istri cantik saya ini," ucap Aydin sambil memeluk erat Kiki dan mendaratkan ciuman di pipi Kiki tanpa malu-malu.

__ADS_1


Penjual nasi goreng tersebut kembali ke tempat jualannya sambil tertawa senang karena mendapat rejeki dan mendapat tontonan menarik yaitu tragedi pelakor yang dijambak dan keuwuan dari sepasang suami istri.


Naila kembali ke tempat kosnya dengan amarah yang memuncak. Dia tidak terima dipermalukan di depan orang banyak dan orang yang dicintainya menjadi milik orang lain.


"Harusnya aku yang menjadi istrinya. Harusnya aku yang berada di sana bersamamu. Aaaaarghhhh.....," teriak Naila di dalam kosnya dengan membanting barang-barang yang ada di dalamnya.


Kiki memeluk erat pinggang suaminya dalam perjalanan pulang dan menggerutu di setiap jalan. Mulai dari sekarang dia harus bersiap untuk menghadapi Naila dan Caroline jika mereka kembali mengusik rumah tangga mereka.


Keesokan harinya sepulang mereka kerja, seperti biasa Aydin menjemput Kiki di rumah sakit dan membawanya ke suatu tempat.


Tidak heran lagi bagi Kiki jika setiap Aydin menjemputnya selalu membawanya ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh Kiki kemana tujuan mereka pergi.


"Ini rumah siapa sayang?" tanya Kiki heran melihat rumah besar minimalis seperti yang diinginkan olehnya tempo hari pada saat Aydin bertanya tentang rumah impiannya.


"Yuk masuk," ajak Aydin dengan menggandeng tangan Kiki yang matanya masih menelisik ke semua arah.


Mata Kiki sibuk melihat ke segala arah yang ada di halaman rumah tersebut. Persis seperti rumah yang dia inginkan.


Halaman yang begitu luas dengan taman yang indah dan ada lapangan basket di seberang taman dan juga ada air mancur yang terdapat pada kolam ikan yang sangat indah.


Masuk ke dalam rumah menjadikan Kiki bertambah takjub karena interior rumah itu sangat cocok sekali dengannya dan begitu luasnya rumah itu hingga Kiki larut dalam khayalannya bermain bersama anak-anak mereka di semua area di rumah tersebut.


Kiki jadi senyum-senyum sendiri melihat khayalannya sangat nyata ada di depannya. Mereka berempat dengan dua anak yaitu laki-laki dan perempuan serta mereka berdua Aydin dan Kiki sebagai orang tua berkejar-kejaran di dalam rumah dan di luar rumah.


Kiki tersenyum bahagia hanya dengan membayangkannya saja.


"Kenapa sih sayang senyum-senyum gitu dari tadi?" tanya Aydin yang kini memeluk pinggang Kiki dan mengajaknya berjalan ke lantai atas rumah tersebut.


"Hehehe... seru kayaknya tinggal di rumah kayak gini sama anak-anak kita," jawab Kiki dengan senyum bahagianya.


"Ya udah bakal Abang kabulkan permintaan istrinya Abang ini. Kita bikin lagi yuk anaknya, biar jadi rame seperti yang kamu katakan," ucap Aydin yang sudah mengeratkan dekapannya dan mendekatkan mulutnya ke tengkuk Kiki.


"Iiiish mesum aja pikirannya," ucap Kiki sambil menjauhkan kepala Aydin dari tengkuknya.


"Pas banget sayang, itu kamarnya udah siap. Gimana, bagus kan?" tanya Aydin ketika sudah berada di dalam sebuah kamar yang sangat luas dan tertata sangat bagus layaknya hotel bintang lima.


"Sebenarnya ini rumah siapa sih Bang? Kok Abang sampai bawa Kiki lihat kamarnya segala," tanya Kiki yang matanya merasa takjub akan kamar tersebut.


"Rumah kita sayang. Yuk cobain ranjangnya," Aydin membawa Kiki mendekat ke arah ranjang.


"Hah, serius ini rumah kita?" tanya Kiki antusias.


"Iya sayang... kita akan tinggal disini dengan anak-anak kita, gimana?" ucap Aydin sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Aaaah... sukaaaaaa....," seru Kiki berhambur memeluk suaminya.


"Yuk sayang dicobain ranjangnya," ajak Aydin.


"Ogah, yang ada malah kebablasan," jawab Kiki sambil berjalan menuju kamar mandi.


Kiki melihat-lihat seisi kamarnya dan di kuar balkon kamarnya. Kemudian Aydin mengajaknya melihat belakang rumahnya yang terdapat dua kolam renang yang sangat luas dan indah dengan beberapa taman yang mengelilingi kolam yang satunya dan kursi yang sepertinya kolam tersebut dibuat khusus untuk makan dan bermain.


"Kapan kita akan pindah kesini?" tanya Kiki.


"Terserah kamu aja, tapi kita belum cari pembantu," ucap Aydin.


"Gimana kalau malam ini kita tidur disini. Udah lengkap semua kan perabotannya, lagian kan besok kita libur," ucap Kiki.


"Ya gapapa sih nyoba tidur disini semalam ya. Emm.. untuk masalah pembantu enaknya gimana sayang?" tanya Aydin.


"Kita bahas sama Mama dan Bunda aja, mereka yang lebih tau," jawab Kiki.


"Ya udah kalau gitu, kita belanja buat isi kulkas yuk," ajak Kiki yang sudah menggeret tangan Aydin ke luar rumah.


"Sayang, kabari Bunda ya kalau kita nanti mau tidur sini," perintah Aydin pada Kiki sambil menyetir dan matanya fokus melihat ke arah depan.


"Udah, kata Bunda nanti diomongin juga ke Mama masalah pembantu sama satpamnya," ucap Kiki sambil menaruh kembali ponselnya dalam shoulder bag nya.


Sesampainya mereka di pusat pembelanjaan yang dekat dengan daerah rumah barunya, mereka membawa troli belanjaan dan memutari setiap rak untuk mencari kebutuhan mereka.


Dengan tetap bergandengan tangan layaknya pengantin baru yang tak terpisahkan, mereka terlihat kompak dan bahagia memilih barang-barang dan memasukkannya ke dalam troli belanjaan mereka.


Kiki melepaskan gandengan tangannya karena dia akan mengambil aneka frozen food. Sedangkan Aydin mengikuti Kiki dibelakangnya.


Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di lengan Aydin. Sontak saja Aydin melepaskan tangan tersebut dan menjauhkan badannya dari wanita itu.


Kiki yang akan menaruh frozen food yang sudah dia pilih untuk dimasukkan ke troli belanjaannya, raut muka Kiki berubah menjadi menegang, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi kesal dan marah.


"Udah pergi sana daripada rambut Lu botak," ucap Aydin seraya mengusir dengan mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wanita tersebut.


Wanita tersebut hanya tertawa dan memegang rambutnya.


"Kau gila ya, rambut sebagus ini dikata botak," ucap wanita tersebut.


"Ya udah yang penting aku udah mengingatkanmu," ucap Aydin cuek.


"Waaah ternyata kamu masih perhatian denganku," ucap wanita tersebut.

__ADS_1


"Dasar wanita ediyaaaaaaan.....," seru Kiki sambil menarik rambut wanita tersebut hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


__ADS_2