Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
144


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan pun terlalui, kini Kiki sedang berjuang untuk melahirkan anak keduanya. Karena pengalamannya melahirkan Kenshin yang sangat unik dan penuh dengan perjuangan, kini Kiki lebih kalem dan hati-hati dalam bertindak.


Dia tidak lagi menjambak ataupun mencakar suaminya. Kiki hanya meminta Aydin agar dia menemaninya untuk memberikan semangat dan doa untuknya.


Aydin menurut saja karena jujur saja sejak Kiki mengandung anak keduanya ini, dia lebih melow, kalem dan tidak tegaan. Berbeda dengan Kiki pada saat mengandung Kenshin. Jiwa bar-bar dan tanpa kenal menyerah di rasanya. Hingga dengan sigapnya dia selalu bisa melindungi Aydin dari para wanita yang menginginkannya.


"Selamat Pak, Dok, putri kalian lahir dengan selamat dan tidak kurang satu apapun," ucap dokter Anggi dengan memperlihatkan bayi yang berada dalam gendongannya.


"Putri? Jadi beneran dia cewek dok?" tanya Kiki yang masih lemas karena baru saja selesai berjuang untuk melahirkan.


"Iya dok, lihat dia dok, cantik sekali seperti ibunya," ucap dokter Anggi sambil tersenyum pada Kiki.


Kiki tersenyum, namun matanya berkaca-kaca melihat bayi mungil yang sangat lucu itu adalah hasil perjuangannya selama ini, menjaganya di dalam kandungannya dan melahirkannya secara sehat dan selamat ke dunia ini.


"Pi...," Kiki memanggil Aydin yang juga ikut terharu melihat bayi mungil itu adalah anaknya.


Aydin tersenyum dan mengangguk, kemudian memeluknya untuk menyalurkan kebahagiaan mereka.


"Sebentar Pak ,dok, bayinya saya bawa dulu untuk dimandikan.


Aydin dan Kiki mengangguk untuk memberi ijin pada dokter Anggi.


"Terima kasih Sayang... terima kasih karena kamu sudah kembali memberiku kebahagiaan yang tak bisa terganti oleh apapun," ucap Aydin sambil memeluk kembali tubuh Kiki.


"Mami....!!!" teriak Ken dari halaman depan dengan suara yang mampu membuat seisi rumah yang besar itu mendengar suaranya.


"Apa... apa... ada apa?" ucap Kiki sambil berlari kecil dari dalam rumah menuju halaman depan rumahnya.


"Miyuki Mami.... liat itu....," ucap Ken sambil menunjuk ke arah seorang gadis kecil sedang masuk ke dalam kolam ikan yang berada di taman halaman depan.


"Miyuki.... Mimi... Yuyu... Kiki... Miyuki....," Kiki memanggil nama anak keduanya bersama Aydin yang mereka klaim buatan Jepang.


"Apaan sih Mami.... Kenapa Kak Ken sama Mami ribut mulu sih? Yuki jadi pusing nih," ucap Miyuki sambil mencoba menangkap ikan.


"Siapa yang nyuruh kamu masuk situ princess?" Kiki bertanya pada Miyuki yang masih saja enjoy dengan kegiatannya.


"Pricess manis Mami.... jangan cuma princess aja, nanti samaan sama Mami. Oma sama Opa kan manggil Mami princess," dengan santainya Miyuki tetap menjawab pertanyaan Kiki tanpa menoleh padanya.

__ADS_1


"Sepertinya dia memang benar-benar anak kamu Cel," tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang Kiki.


"Uncle....," Miyuki berteriak dari dalam kolam ikan dan mengarahkan dua tangannya ke depan sebagai tanda dia meminta digendong oleh Kevin.


Kevin pun segera mengangkat tubuh gadis kecil kesayangannya itu dari dalam kolam ikan dan menciumi seluruh wajahnya dengan gemas.


"Persis sekali denganmu Cel, pinter ngomong, gak cadel, cerewet juga. Mungkin bedanya, Miyuki lebih cantik daripada kamu," ucap Kenan sambil terkekeh.


"Aish, gak dulu gak sekarang masih aja suka godain adeknya," Kiki menggerutu dan itu didengar oleh anak-anaknya, sehingga mereka tertawa mendengar Mami nya terpojok oleh kakaknya sendiri.


"Mana Max sam Kak Vina?" Kiki bertanya sambil matanya mencari kehadiran Max dan Vina.


"Masih di kamar mandi, tadi mulut Max belepotan makan es krim di mobil," jawab Kevin yang masih menggendong Miyuki dan menciuminya.


"Uncle, turunin... Yuki mau ke Max dulu ya," ucap Miyuki setelah mencium Kevin.


Kevin terkekeh mendengar Miyuki yang menggemaskan dengan semua tingkahnya hampir sama dengan Kiki yang selalu menggemaskan dan ngangenin, kata Kevin.


Badan Miyuki digerak-gerakkan melorot-melorot ke bawah karena kevin masih menggendongnya, tidak mau melepaskannya seperti keinginan yang diucapkannya tadi.


Kenshin dan Kiki tertawa terbahak-bahak melihat Kevin yang kesakitan hanya karena seorang gadis kecil yang berusia lima tahun ini.


"Kok digigit sih princess?" Kevin merajuk pada Miyuki.


" Habisnya Uncle sih gak mau lepasin Yuki, padahal udah Yuki cium loh dua-dua pipinya," ucap Miyuki dengan tidak bersalah.


"Princess Miyuki..." seru Max dari jauh sambil berlari menuju Miyuki yang kini sudah diturunkan oleh Kevin.


"Hai Max apa kabar?" Miyuki menyalami Max dan mencium pipinya dan hal itu juga dilakukan oleh Max secara bergantian.


Kemudian Max dan Miyuki bermain bersama, sedangkan Kevin bergabung bersama Kenshin untuk berlatih basket di halaman tersebut.


Dan Kiki kembali masuk ke dalan rumah untuk menemui Vina karena dia merasa anak-anaknya sudah ada teman ketika bermain tanpa ada dirinya yang menemani mereka.


Vina membawakan Kiki makanan yang dimasak oleh Mama Kiki dan Kevin. Setelah dirasa semua sudah selesai ditata, Vina berniat akan memanggil mereka semua untuk makan bersama dengan makanan yang dia bawa tadi dari Mama mertuanya. Namun Kiki sudah ada di sana, tepat di belakang Vina ketika dia akan membalikkan badannya.


"Mau kemana Kak?" tanya Kiki pada Vina.

__ADS_1


"Manggil kalian," jawab Vina dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Udah biarin aja mereka, habis ini juga bakalan ke sini kalau Papinya datang. Bentar lagi Papinya datang kok," ucap Kiki sambil menyomot bakwan jagung buatan Mamanya.


"Cuci tangan dulu Ki," Vina memelototi Kiki yang kadang terlupa jika dia sudah memiliki anak sehingga masih saja dengan kebiasaan lamanya.


Kiki hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Dan Vina semakin saja ingat Miyuki jika melihat Kiki yang seperti ini.


"Mamiiiiiii.....," suara Miyuki melengking keras di segala penjuru ruangan di rumah besar itu.


"Princess jangan teriak seperti itu, telinga kita gak budek tau....," omel Ken pada adiknya.


"Biarin, gak keras juga kok. Iya kan Papi?" Miyuki meminta dukungan Papinya yang kini sedang menggendongnya.


"Gak keras Princess manis... tapi udah kayak pakai toak aja di telinga Papi," jawab Aydin dengan terkekeh.


"Papi iiih... kenapa jadi belain Kak Ken sih? Udah ah Yuki sama Papi gak mau berteman lagi, kita end!" ucap Yuki dengan menegaskan kata end.


"Hush, gak boleh ngomong kayak gitu sama Papinya. Sini Yuki sama Mami makan masakan Oma," Kiki menyahut agar tidak ada lagi perdebatan dari Miyuki, karena bisa dipastikan bahwa nantinya pasti Miyuki tidak mau kalah dan akan menjadi perdebatan yang sangat panjang seperti biasanya dengan Ken.


Miyuki diturunkan Aydin dari gendongannya. Lalu berlari menuju tempat duduk kesayangannya berwarna pink yang khusus untuk Miyuki. Dia tidak akan mau duduk di kursi makan jika kursinya tidak berwarna pink, dan itu membuat Kiki pusing, hingga kursi makan di ruang makan itu hanya ada satu warna yang berbeda, satu kursi berwarna pink milik Miyuki.


"Yassalaam... segala kursi warnanya pink?" ucap Kevin terheran melihat kursi yang diduduki Kevin mencolok diantara kursi yang lain.


"Yah belum tau nih, mangkanya sering-sering main ke sini biar gak kita terus yang main ke sana," jawab Kiki yang malah menyindir Kevin.


"Bro, memang sih si Princess manis ini mirip banget sama Princess boncel kesayangan kita, tapi sepertinya turunannya lebih parah deh. Yang emaknya noh, suka banget sama warna lilac tapi gak sampai segitunya deh, yang ini... emejing...," ucap Kevin sambil terkekeh.


"Dua kali lipat Bro semuanya, cerewetnya, manjanya, pinternya, jahilnya, bahkan pinternya juga," Aydin menimpalinya sambil terkekeh juga.


"Ehem... kalau mau ngomongin orang jangan di depannya," ucap Kiki dengan memandang tajam bergantian Aydin dan Kevin, dan itu membuat mereka berdua serentak mengatupkan mulutnya agar tidak bersuara.


"Mi... Pi... ," tiba-tiba Ken bersuara disela dentingan sendoknya yang hanya dibuat untuk mengaduk-aduk makanannya saja sedari tadi.


"Ada apa tuan muda?" Aydin bertanya pada Kenshin menggunakan nama panggilannya yang membuat Ken bersemangat jika mendengarnya.


"Kangen Kakak cantik....," ucap Ken tidak lemah yang sepertinya dia benar-benar sedang merasakan rindu pada Raline.

__ADS_1


__ADS_2