Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
59


__ADS_3

"Sumpah demi Allah sayang.... tidak terjadi apa - apa. Tadi aku hanya syok dan kaget aja sewaktu dia tiba - tiba udah ada di pangkuanku. Maafkan aku sayang.... harusnya aku segera sadar dan gak diam aja. Maaf... maaf...", Aydin menatap mata Kiki, terpancar ketulusan dan kejujuran di sana. Tanpa sadar air mata Aydin jatuh ketika meyakinkan Kiki dan meminta maaf tadi. Air mata Aydin seolah menular pada Kiki. Air mata Kiki pun jatuh menetes ke pipinya melihat kesungguhan dari suaminya.


"Maafin aku ya... dan aku mohon jangan menangis lagi, supaya bayi kita tumbuh sehat", Aydin mengusap air mata Kiki. Dan Kiki pun mengangguk, dia juga mengusap air mata Aydin. Mereka berpelukan dengan erat untuk menyalurkan perasaan yang mereka miliki. Ayah dan Bunda tersenyum lega melihat keadaan Kiki yang perlahan membaik, dia sudah mau merespon dan berbicara. Bunda sudah tidak tahan untuk mendekati Kiki, maka dari itu dia tidak mempedulikan larangan dari suaminya.


Bunda mendekati Kiki dan Ayah mengikutinya bak seorang bodyguard yang selalu mengikuti untuk menjaganya. Bunda memeluk dan mencium kedua pipi menantu kesayangannya itu.


"Makasih ya sayang udah jadi Kiki kesayangan kita lagi. Makasih juga udah mau mengandung cucu buat Ayah dan Bunda. Kami pasti akan menjaga kalian."


Lagi - lagi Kiki hanya mengangguk. Dia tidak bisa berkata - kata lagi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tidak ada kata - kata yang terpikirkan oleh Kiki. Dia merasa kaget dan juga bahagia mengetahui bahwa ada bayi di dalam perutnya.


Aydin tidak sedetikpun meninggalkan dan berpaling dari wajah Kiki. Dia tidak pernah merasa bosan menatap wajah Ibu dari anaknya. Kini Aydin mampu membuat Kiki tertawa dan melupakan sakit hatinya. Mereka bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah , mereka berdua mengelus - elus perut Kiki yang masih rata dan bercanda begitu bahagianya.


"Sayang... aku kok bisa hamil ya, padahal kan Abang selalu pakai pengaman saat berhubungan, masa' iya pengamannya bocor?", Kiki bertanya dengan heran.


"Emm... Sepertinya Abang lupa yang kemarin - kemarin sejak dari villa itu sepertinya selalu gak pernah pakai. Maaf ya sayang... Abisnya udah gak nahan, lupa juga, eh gak taunya jadi. Maaf ya...", Aydin menatap sendu pada Kiki, dia merasa bersalah karena mereka berdua sudah berkomitmen agar mempunyai anak setelah Kiki lulus kuliah nanti.


Kiki tersenyum manis menenangkan hati Aydin. "Gapapa sayang, ini rezeki dari Allah. Udah jadi takdir kita untuk jadi orang tua sekarang"


Aydin tersenyum lega mendengar jawaban dari Kiki dan langsung saja Aydin menyambar bibir pink Kiki yang sudah menjadi candunya. Tadinya Aydin takut jika Kiki tidak akan menerima dan marah akan kehamilannya, namun diluar perkiraan Aydin, ternyata Kiki menerimanya dengan senang hati dan binar kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Ciuman itu begitu dalam, menyalurkan kerinduan mereka. Mumpung tidak ada Ayah dan Bunda, mereka bisa kangen - kangenan meluapkan rasa sayang yang mereka punya. Ayah dan Bunda pamit pulang untuk menyelesaikan masalah Naila, mereka menyidang Naila, mereka ingin Naila segera angkat kaki dari rumah mereka dan tidak mengganggu Aydin dan Kiki lagi karena Kiki sekarang sedang mengandung anak Aydin. Naila yang tadinya hanya menunduk, kini mendongak kaget mendengar berita bahwa Kiki sedang mengandung anak dari lelaki yang dicintainya. Dia semakin benci pada Kiki dan dia janji pada dirinya agar Kiki tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Naila menolak untuk pergi dari rumah itu karena dia tidak memiliki tempat tinggal di kota ini dan yang dikenalnya di kota ini hanya merekalah saja saudaranya. Ayah Aydin memaksa Naila keluar dari rumahnya dan menawarkan tempat tinggal lain. Namun Naila tetap menolak. Ayah dan Bunda Aydin tidak peduli dan mereka tetap mengusir Naila. Akhirnya Naila sudah tidak bisa berkelit lagi, untuk sementara ini dia meyakinkan pada Om dan Tantenya itu bahwa dia akan pindah dari rumah mereka jika Mama dan Papanya sudah datang menjemputnya. Dia bilang bahwa dia akan menghubungi Mama dan Papanya untuk segera datang kemari dan mencarikan tempat tinggal untuknya. Dia mengiba dengan alasan dia seorang gadis yang disini tidak mengenal siapa - siapa kecuali mereka, jadi takut terjadi apa- apa jika dia seorang diri diluar sana. Ayah dan Bunda Aydin pun sedikit luluh. Mereka memberi waktu pada Naila untuk segera menyuruh Mama dan Papanya kemari untuk menjemputnya. Kalau bisa sebelum Kiki pulang dari rumah sakit. Naila berterima kasih pada mereka, namun dalam hatinya dia tersenyum licik. Bagaimanapun dia akan tetap berada di rumah ini dan melakukan rencananya. Dia akan mengulur waktu dengan berbagai alasan. Sedangkan Bunda tidak mempercayai begitu saja Naila. Bunda menyuruh Ayah untuk diam - diam memasang CCTV yang bisa merekam gambar dan suara di seluruh ruangan, termasuk kamar Aydin dan juga kamar Naila. Bunda meminta agar CCTV itu dipasang ketika Naila sedang tidak ada di rumah agar CCTV itu tidak diketahui oleh Naila. Ayah pun menyetujui permintaan Bunda karena Ayah juga takut terjadi apa - apa dengan menantu dan cucu yang ada di kandungannya. Kemudian Ayah mengambil ponselnya dan menginstruksikan pada orang yang berada di seberang sana untuk memasang CCTV di setiap sudut ruangan dan kamar di rumahnya pada saat pagi hari ketika Naila sedang kuliah.


Siang menjelang sore hari, Kevin datang ke rumah sakit bersama Mama dan Papanya. Kevin tadi diberi tahu Ayah Aydin ketika Kevin menelepon ponsel Aydin dan yang mengangkatnya adalah Ayah Aydin. Mereka bertiga sangat khawatir ketika mendengar princess kesayangan mereka kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, namun kekhawatiran itu berkurang ketika mereka mendengar kabar bahagia yang diberitahukan oleh Aydin dan Kiki. Rasa khawatir itu berubah dengan rasa bahagia ketika mendengar Kiki, princess kesayangan mereka sedang mengandung buah hatinya bersama Aydin. Namun Kevin mencium bau ketidakberesan di sana, karena setahunya Kiki selalu berangkat dan di jemput oleh Aydin, jadi Kevin merasa heran kenapa bisa Kiki kecelakaan tidak bersama Aydin. Akhirnya Kevin mengajak Aydin keluar untuk meminta penjelasan tentang kecelakaan Kiki. Aydin dan Kevin berbicara di luar kamar Kiki, mereka sengaja mengambil tempat agak jauh dari kamar Kiki agar tidak terdengar dari dalam kamar Kiki. Kemudian Aydin menjelaskan kronologi kejadian dimana Naila yang merupakan sepupunya selalu mencoba mendekatinya dan dia juga menceritakan kejadian di dalam mobil waktu itu sehingga ketika Kiki melihatnya dia lari dari rumah dan terjadilah kecelakaan itu, Kiki terserempet motor di jalan dan akhirnya dia pingsan. Memang sengaja Aydin menceritakan dengan jujur pada Kevin, karena dia tidak ingin Kevin mendengarnya dari Kiki ataupun orang lain. Belum selesai Aydin bercerita tentang kehamilan Kiki, dia baru menceritakan tentang kejadian yang menyebabkan Kiki kecelakaan, Raditya datang dari arah belakangnya dan memberikan pukulan pada wajah Aydin. Dia merasa marah karena suami dari wanita yang dicintainya malah mengkhianatinya.


"B***g**k, gua udah ikhlasin Kiki buat lu tapi lu malah khianati dia", Raditya kembali menghantamkan pukulannya pada wajah Aydin, namun Kevin menghentikan pukulan itu.


Bukannya Aydin tidak bisa membalas pukulan Raditya, dia mampu membalasnya karena ilmu bela dirinya jauh lebih hebat dari Raditya. Bagaimana tidak, Aydin memiliki Dojo yang dikelola oleh temannya yang kebetulan sebagai pelatih di sana. Tentu saja Aydin juga berlatih bela diri dari temannya itu. Tapi Aydin memang tidak membalas pukulan Raditya karena tadi Raditya memukulnya secara mendadak jadi dia tidak bisa menghindar dan karena dia memang merasa bersalah pada Kiki seolah membetulkan perkataan Raditya tadi. Jadi dia diam saja ketika Raditya akan memukulnya kembali. Beruntung Kevin menghentikan pukulan Raditya, sehingga Aydin tidak lagi menerima pukulan dari Raditya. Aldo dan Riri yang juga berada di sana kaget akan tindakan Raditya yang begitu tidak terima jika Kiki diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


Mereka semua diajak oleh Kevin untuk duduk di tempat yang tidak jauh dari tempat tersebut. Dan tentu saja tempatnya sepi, karena di sana masih wilayah VVIP, jadi tidak sembarang orang yang ada di sana. Kemudian Aydin melanjutkan ceritanya ketika Kevin menyuruhnya kembali untuk meneruskan ceritanya. Aydin menceritakan kejadian Kiki terserempet motor sehingga dia pingsan karena syok dan kaget, juga dia menceritakan keadaan Kiki yang mengeluarkan darah yang mengalir dari kakinya, dokter mengatakan bahwa beruntung Kiki segera dibawa ke rumah sakit, jika tidak bayinya mungkin tidak akan tertolong lagi. Tangan Raditya mengepal mendengar cerita Aydin, dia beranjak dari duduknya dan dengan cepatnya dia kembali mendaratkan pukulannya pada wajah Aydin. Gerakan Raditya begitu cepat, hingga Aydin tidak mampu menghindar. Jangan sepelekan Raditya, karena selama dia menjadi santri di pesantren kakeknya, dia juga belajar ilmu bela diri di sana dan sampai sekarang pun dia masih latihan meskipun sudah tidak berada di sana.

__ADS_1


"B***g**k. Kiki lagi hamil lu malah enak - enakan sama cewek lain", Raditya mengumpat Aydin ketika tubuhnya diraih oleh Aldo dan Kevin untuk menghentikan pukulannya pada Aydin.


"Semuanya salah paham", Aydin memegangi sudut bibirnya yang untuk kedua kalinya menjadi sasaran tinju Raditya.


"Udah, Kiki pasti marah jika tau kamu mukul suaminya", Kevin menenangkan Raditya dengan menggunakan nama Kiki agar Raditya kembali tenang.


Diakui Kevin, nama Kiki membawa pengaruh besar pada diri Raditya, buktinya Raditya kembali duduk ketika Kevin menyebut nama Kiki.


Flashback


Tadi, Raditya menelepon Kevin karena desakan dari Riri untuk menanyakan Kiki karena tidak masuk kuliah. Dan Kevin pun memberitahukan bahwa Kiki sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan, dan dia memberitahukan kamar perawatan Kiki. Setelah itu Raditya, Aldo, dan Riri bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Kiki. Dan naasnya, pada saat mereka datang, Aydin sedang bercerita pada Kevin tentang kronologi sebelum Kiki kecelakaan, dan terjadilah kejadian tadi, dimana Raditya memukul wajah Aydin. Dan untuk kedua kalinya dia memukul wajah Aydin ketika mengetahui Kiki kecelakaan dalam keadaan hamil.


Flashback end


Obrolan mereka berhenti ketika Mama dan Papa Kiki berpamitan untuk pulang sebentar dan menyuruh mereka semua masuk ke dalam untuk menemui Kiki.


"Kiki....", Riri berlari dan berhambur memeluk Kiki.


Kiki tersenyum mendapati sahabat - sahabatnya berada di sana. Riri mengurai pelukannya ketika Kiki mengadu kesakitan karena selang infusnya terkena badan Riri.


"Aww...", rintih Kiki.


"Maaf... eh kamu gapapa kan Ki?" Riri membolak-balikkan tubuh Kiki, menelisik tubuh Kiki di semua bagian yang bisa terlihat.


"Gapapa hehehehe.....", Kiki terkekeh melihat tingkah khawatir Riri yang berlebihan.


Raditya mendekat pada Kiki, dia membelai lembut rambut Kiki.

__ADS_1


"Kamu baik - baik aja kan?" tanya Raditya dengan menatap lembut mata Kiki dan tangannya masih membelai lembut rambut Kiki yang terurai.


Kiki tersenyum dan mengangguk.


"Gak ada yang sakit?" tanyanya kembali.


Kiki pun menggeleng dan senyuman itu masih menghiasi bibir Kiki. Sepertinya Kiki sangat senang kedatangan para sahabatnya itu.


"Ehemm...", Aydin berdehem dari arah pintu. Sebenarnya sudah sedari tadi dia melihat interaksi Kiki dan sahabat - sahabatnya itu, dan rasa bucinnya memacu kecemburuannya.


Raditya, Kiki, Aldo dan Riri menoleh ke arah deheman itu berasal. Sontak saja tangan Kiki menurunkan tangan Raditya dari kepalanya. Raditya tanpa rasa bersalah tetap berada di dekat Kiki dan mulai mengajak Kiki mengobrol kembali. Ruang perawatan Kiki kini tidak lagi sunyi sepi, ruangan itu sekarang ramai dengan candaan dan obrolan mereka seperti biasanya. Hingga Kiki tidak sadar jika di ruangan tersebut masih ada Aydin dan Kevin. Mereka seperti orang asing di dalam ruangan tersebut.


Melihat jelas raut tidak suka dan cemburu dari wajah Aydin, Kevin menyuruh Aydin agar tidak cemburu dengan Raditya karena melihat Kiki yang tertawa bahagia jika bersama sahabat - sahabatnya.


Sekitar dua jam mereka berbincang dan bercanda, hingga Aydin jengah melihat mereka menguasai istrinya. Aydin merasa cemburu karena dia masih ingin lebih lama bersama Kiki, hanya berdua saja, rasanya dia tidak ingin terpisah dengan Kiki setelah ulah dari Naila dua hari ini yang menyebabkan Kiki menjauh darinya. Akhirnya tanpa berpikir lagi dia mengatakan bahwa Kiki harus istirahat sekarang, yang artinya dia menyuruh sahabat - sahabat Kiki untuk pulang sekarang. Raditya mendengus kesal, karena sebenarnya dia masih ingin berlama - lama dengan Kiki. Apalagi sekarang Kiki sedang sakit, rasanya dia ingin sekali selalu berada disisinya. Namun apa daya, takdir berkata lain, mereka kini sudah memiliki pasangan masing - masing. Lalu mereka bertiga berpamitan pada Kiki, dan mereka berjanji akan datang kembali besok untuk menjenguk Kiki.


Raditya mengelus - elus puncak rambut Kiki serta memberikan senyumnya dengan menatap lembut wajah Kiki. "Cepat sembuh ya" Perlakuan Raditya begitu manis, masih sama seperti masa - masa lalu ketika mereka masih duduk di bangku SMA, saksi bisu kedekatan mereka dan saksi atas perasaan terpendam mereka yang tidak pernah tersampaikan waktu itu.


Kiki tersenyum manis dan mengangguk. Baginya perlakuan Raditya sudah biasa dia berikan padanya, sehingga dia tidak mempermasalahkan hal itu. Namun tidak dengan Aydin, rasanya dia ingin berteriak melarang mereka untuk bertindak sedekat itu. Tapi apa daya, lagi - lagi perasaan bersalah itu muncul, dia sadar posisinya sekarang ini tidak memungkinkan karena sekarang ini dia seperti sedang dihukum dan tidak pantas untuk mengeluh apalagi melarang.


Setelah mereka semua pulang,Aydin mendekat dan mencium singkat bibir Kiki. Kiki kaget, melotot namun sedetik kemudian senyum terbit di bibirnya. Kemudian Aydin duduk di samping Kiki. Aydin lupa jika sudut bibirnya memar akibat pukulan dari Raditya di tempat yang sama untuk kedua kalinya. Jika dia ingat, pasti dia tidak akan membiarkannya begitu saja terlihat oleh Kiki. Namun semua itu sudah terlambat, kini Kiki menatap wajah Aydin tanpa berkedip, kemudian dia menyentuh sudut bibir Aydin yang memar itu.


"Sayang ini kenapa?" Pasti sakit sekali", Kiki menatap sendu dan meringis ketika menyentuh memar Aydin.


Aydin tergagap, dia lupa akan memarnya itu dan dia belum menyiapkan alasan yang bisa diterima yang tidak membuat istrinya itu khawatir.


"Emm... gapapa kok sayang", Aydin tersenyum berniat untuk menenangkan Kiki.

__ADS_1


"Gapapa gimana? Ini memar sayang, pasti sakit deh. Siapa yang berani mukul kamu? Bilang aja, pasti nanti bakalan aku hajar dia. Enak aja suami aku dibikin memar gini, bisa berkurang kan kegantengan suaminya aku", Kiki mengomel tanpa sadar seperti biasanya.


__ADS_2