Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
207


__ADS_3

Kesendirian, kini yang Resti rasakan ketika berada di sekolah. Dulunya memang dia tidak mempunyai teman, namun dia masih bergabung dan berbicara pada mereka di dalam kelas ataupun di kantin. Berbeda dengan sekarang yang bahkan tidak ada satupun mau berbicara ataupun dekat dengannya.


Sedih? Sudah pasti Resti bersedih, hingga rasanya dia ingin keluar dari sekolah itu. Sayangnya hanya tinggal selangkah lagi kelulusan mereka. Sehingga dia tidak akan merelakan apa yang selama ini dia perjuangkan.


Selama jam istirahat Resti tidak keluar dari kelasnya, dia hanya duduk di bangkunya karena teman-temannya juga banyak yang memakan bekal mereka di dalam kelas, sehingga Resti tidak bisa leluasa untuk melancarkan aksinya untuk mengerjai Raline dan Rania.


Dua nama itu menjadi target kebencian Resti saat ini. Karena merekalah Resti saat ini menjadi terpojok dan menjadi bahan cemoohan semua orang di sekolahnya.


Mulai hari itu Resti selalu membawa bekal untuk dimakan pada saat jam istirahat. Karena dia tidak akan bisa ke mana-mana jika pada saat istirahat berlangsung. Karena semua orang menghujatnya, sehingga tempat yang paling aman untuknya adalah di kelasnya sendiri.


"Ra, Tris, PJ... PJ... iya gak Ran?" Naufal berseru pada Raline dan Tristan dengan meminta dukungan dari Rania.


"Yoi. PJ dong mumpung kita belum makan," jawab Rania membenarkan ucapan Naufal sambil tersenyum lebar.


"Pesan aja udah terserah kalian berdua, nanti aku yang bayar," ucap Tristan dengan sombongnya.


"Tapi Tristan, kita kan gak jadian," ucapan Raline ini membuat Naufal dan Rania bingung, sedangkan Tristan berubah ekspresi dari tersenyum lebar menjadi datar.


Raline yang memang dasarnya selalu tidak tegaan, dia mengerti jika Tristan sedang kecewa padanya, sehingga dia berinisiatif untuk mengembalikan suasana seperti tadi.


"Ya udah yuk cepetan pesan makanannya, aku udah lapar nih. Mau dibayarin Tristan gak nih? Apa aku aja yang bayar Tris?" Raline bertanya pada Tristan.


"Eh jangan... jangan.... biar aku aja yang bayar," Tristan menjawab dengan cepat.


"Ya gitu dong, kan PJ harus cowok dong yang bayar," tanpa sengaja Raline mengatakannya.


Sontak saja raut wajah Tristan kembali ceria dan senyumnya kembali merekah dengan lebarnya.


"Ran, Fal kalian yang pesan ya buat kita. Terserah pesan apa aja, yang banyak sekalian," Tristan memerintah Naufal dan Rania.


"Siap pak bos!" seru Naufal.


"Ok bos!" seru Rania.


Aduh kacau.... kenapa aku harus mengatakan seperti itu tadi? Pasti Tristan lebih berharap lagi padaku. Itu sih mending, kalau ternyata dia nanti mengira aku udah menerimanya gimana gara-gara ucapanku tadi. Aargghhh.... bodoh... bodoh... bodoh... kamu Raline! dalan hati Raline memberontak kebodohannya.


"Ra, akhir pekan nonton yuk....," Tristan tersenyum ketika mengatakannya pada Raline.


"Emmm... aku belum bisa janji Tris. Seperti yang kamu tau, biasanya akhir pekan itu hari keluarga. Kami selalu berkumpul bersama pada saat akhir pekan," jawab Raline dengan sungkan.

__ADS_1


"Yaaaa... susah banget sih Ra, mau ajak kamu jalan berdua," ucap Tristan dengan ekspresi wajah sedihnya.


"Maaf deh Tris, mungkin aja lain kali bisa," Raline mencoba tidak mengecewakan Tristan.


"Kapan Ra?" tanya Tristan antusias.


"Masih belum tau. Hehehe....," jawab Raline sambil tersenyum lebar.


"Guys, ini makanan kita," suara Rania membuat obrolan Raline dan Tristan berhenti.


Rania meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja mereka. Hanya dua piring yang bisa dia bawa, piring tersebut berisikan french fries dan sosis bakar.


"Kok cuma ini aja Ran?" tanya Tristan pada Rania sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja.


"Wait, ini masih camilannya, tunggu aja bentar lagi," jawab Rania sambil tersenyum lebar.


"Ini minumannya," kini giliran Naufal yang membawa empat gelas beraneka jus yang diletakkannya di atas meja.


"Lah terus mana makanannya?" Tristan bertanya kembali pada Naufal dan Rania.


Naufal dan Rania hanya tersenyum lebar menjawab pertanyaan dari Tristan.


"Tunggu bentar lagi," jawab Naufal yang masih tersenyum lebar.


Dan alangkah kagetnya Tristan melihat makanan yang datang dengan beberapa petugas kantin yang mengantarnya ke meja tersebut.


"Kalian beli apa aja Ran, Fal?" Raline bertanya sambil terkekeh pada Rania dan Naufal.


"Kami berdua pesan semua menu yang ada," jawab Naufal dan diangguki oleh Rania.


"Hah?! Kalian kelaparan? Memangnya semua ini bisa kalian makan?" Tristan bertanya dengan heran pada Naufal dan Rania.


"Tenang aja, kita berdua udah mengosongkan perut kok untuk acara kalian ini," jawab Naufal sambil menaik turunkan alisnya.


"Lagian itung-itung kita cobain lah semua menunya rasanya gimana, biar gak makan itu-itu aja," jawab Rania sambil terkekeh.


Seketika Tristan melongo mendengar jawaban dari Naufal, sedangkan Raline tertawa mendengar jawaban dari Naufal dan melihat ekspresi dari Tristan.


Makan sebanyak itu benar-benar bisa dihabiskan oleh mereka. Ternyata candaan mereka di saat makan membuat mereka tidak terasa bahwa makanan yang segitu banyaknya bisa habis mereka makan.

__ADS_1


"Kenyang banget dah. Thanks bos makanannya," ucap Naufal sambil memegang perutnya sambil terkekeh.


"Kayaknya nanti malam aku gak bakalan makan malam deh," sahut Rania kemudian.


"Halah Ran, palingan juga kamu nanti khilaf pas makanan udah ada di depan mata," ucap Raline menanggapi perkataan Rania dan ih membuat semua orang di meja tersebut tertawa.


Memang benar jika Rania sangat doyan sekali makan, mamun herannya badannya tetap imut seolah tidak banyak makanan yang biasa dia makan.


"Udah yuk kita masuk kelas, bentar lagi bel masuk bunyi nih," ucap Raline sambil beranjak dari kursinya.


"Bentar aku bayar dulu," Tristan segera beranjak menuju kasir dan membayar makanan pesanan mereka.


Sampainya di kelas mereka, Raline dan Rania masuk terlebih dahulu ke dalam kelas dan di belakang mereka menyusul Tristan dan Naufal.


"Awww!" Raline mengadu kesakitan ketika Resti sengaja menyenggolnya hingga jatuh ke lantai ketika berpapasan dengannya.


"Ra kamu gapapa?" Rania bertanya pada Raline dan segera berjongkok di dekat Raline untuk melihat keadaan Raline.


"Ups sorry, gak lihat. Habisnya aku buru-buru sih mau buang sampah. Eh malah nabrak sampah. Ups!" ucap Resti sambil menutup mulutnya sesudah mengucapkan itu.


"Woi ngajak gelut lu? Cari masalah lu ya?" masih dengan posisi yang sama, Rania berseru pada Resti karena emosi mendengar ucapan dari Resti.


"Halah cemen, manja banget sih cuma gitu aja histerisnya kayak jatuh dari lantai dua," imbuh Resti kembali mencemooh Raline.


"Ra kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa lututmu bisa terluka?" tiba-tiba saja Tristan masuk ke dalam kelas dan berlari mendekati Raline yang masih dalam keadaan jatuh terduduk meniup lukanya.


"Biasa tuh, Mak lampir beraksi," jawab Rania sambil menunjuk ke arah Resti yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.


"Eh aku gak sengaja ya. Lagian dia yang nabrak aku duluan, dasarnya dia kalah kuat dari aku jadi dia yang mental sendiri," Resti beralasan agar dia tidak buruk di mata Tristan.


"Alasan, padahal kamu bilang tadi mau buang sampah malah nabrak sampah kan? Tanya semuanya yang ada di sini kalau gak percaya," kini Rania bertambah emosi menghadapi Resti.


"Enak aja, kamu tuh yang fitnah aku karena kamu gak suka sama aku kan? Pacar kamu itu mantan aku dan dia masih suka ngajak aku ketemuan, dia selalu minta balikan sama aku," Resti mulai gencar memprovokasi kemarahan Rania.


"Sialan kamu! Dasar cewek berengsek! Kamu tau sebenarnya kamu udah gak dikeluarkan dari sekolah ini, dan yang menolong kamu untuk bisa masih sekolah di sini adalah Raline. Dia yang memohon pada dewan sekolah agar kamu masih diijinkan bersekolah di sini karena sebentar lagi ujian kelulusan. Dan semuanya setuju karena Papi Raline adalah pemilik sekolah ini," karena emosinya, Tristan memberitahukan fakta yang seharusnya tidak boleh diketahui orang lain karena Raline yang tidak memperbolehkan siapapun dari pihak sekolah mengatakan pada orang lain.


"Tristan!" seru Raline untuk memperingatkan Tristan.


"Biarkan aja Ra, biar dia sadar siapa dirinya sebenarnya, yang gak lebih dari benalu di sekolah ini," Tristan bertambah emosi mengatakannya.

__ADS_1


Resti tercengang, dia kaget mendengar fakta yang diberitahukan oleh Tristan padanya. Seketika Resti berlari keluar kelas karena malu.


"Resti!" Raline berteriak memanggil Resti untuk menghentikannya.


__ADS_2