
Hingga sore hari keluarga Putra pun tidak menampakkan dirinya datang ke rumah Resti. Tentu saja mereka bertambah panik dan ayah Resti sangat emosi, kemarahannya sudah memuncak tak bisa dibendung lagi.
"Resti, ayo kita datangi rumah laki-laki sialan itu!" ucap ayah Resti sambil menyambar kunci motor dari rak lemari yang ada di ruang tamu.
Resti yang gemetar ketakutan terpaksa berjalan mengikuti ayahnya. Perasaan yang tidak enak sedari tadi kini terjawab sudah. Putra tidak datang memenuhi janjinya. Dia sudah mengingkari janji dan pertanggung jawabannya. Kini satu-satunya harapan Resti hanya bisa menemukan Putra saat ini.
Sepanjang perjalanan di atas boncengan motor ayahnya, Resti memejamkan matanya seraya berdoa agar Putra memenuhi janjinya untuk menikahinya.
"Benar di sini tempatnya?" tanya ayah Resti dengan tegas.
"I-iya," jawab Resti lirih ketakutan.
"Tempat apa ini?" ucap ayah Resti ketika mendekati basecamp Putra dan kawan-kawannya biasanya berkumpul.
"Ini tempat biasa mereka berkumpul. Mereka selalu berkumpul di sini Yah," jawab Resti yang ketakutan.
"Kamu gila? Ayah bilang rumahnya. Kenapa malah kamu ajak Ayah datang ke tempat seperti ini? Lagi pula tempat seperti ini tidak akan menjadi tempat untuk dijadikan jaminan," ayah Resti meninggikan suaranya memarahi Resti sebagai pelampiasan amarahnya.
"I-ini tempat biasanya mereka-"
"Sudah, tempat mana lagi yang harus kita datangi?" ayah Resti membentak Resti.
Resti terkejut dan memegangi dadanya karena bentakan ayahnya. Dia tidak mengira jika nantinya ada kejadian dia akan hamil. Padahal selama ini dia selalu aman dengan memakai alat kontrasepsi dan mengkonsumsi pil KB.
Resti segera naik ke atas boncengan motor ayahnya agar ayahnya tidak kembali marah padanya.
Motor ayah Resti melaju menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh Resti. Lagi-lagi ayah Resti dibuat kaget oleh tempat yang ditunjukkan oleh Resti.
Kali ini Resti mengajak ayahnya ke sebuah kos-kosan yang sering dia kunjungi untuk bersenang-senang dengan Putra. Dan tepat di sebelah kamar Putra itulah kamar sahabat Ali berada.
__ADS_1
Ayah Resti menggedor-gedor pintu kamar Putra yang tertutup rapat seperti tidak berpenghuni. Dan benar saja, setelah beberapa menit ayah Resti tidak henti-hentinya menggedor-gedor pintu tersebut, namun tidak ada satupun orang yang membukakan pintu kamar itu.
Ayah Resti berteriak memanggil nama Putra, namun tak ada juga yang membukakan pintunya.
Badan Resti lemas dan air matanya menetes di pipinya tanpa suara tangisnya yang keluar dari dalam mulutnya.
Ayah Resti menarik tangan Resti untuk segera pergi dari tempat itu.
"Apa kamu tidak tau tempat lain setelah ini?" tanya ayah Resti setelah naik ke atas motornya.
"Ti-tidak," jawab Resti dengan suara lirih, gugup dan takut.
Tangan ayah Resti mengepal dan nafasnya naik turun sebagai tanda kemarahannya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sebagai pelampiasan kemarahannya. Hingga Resti yang sedang diboncengnya merasa ketakutan dan berpegangan pada belakang jok karena saking takutnya.
Brak!!!
Ayah Resti melempar helm yang digunakannya setelah dia sampai di rumah. Ibu Resti yang sedari tadi menunggu dengan berharap-harap cemas kini mengetahui jawabannya hanya dengan melihat kemarahan suaminya saja.
"Tanya pada anakmu itu!" ayah Resti berseru sambil menunjuk Resti yang gemetaran berada di hadapannya.
"Ada apa ini? Di mana Putra? Apa dia tidak mau datang kemari?" ibu Resti memberikan pertanyaan beruntun pada Resti.
Resti menggelengkan kepalanya dan berhambur memeluk ibunya.
"Dia.... dia tidak ada di sana Bu," jawab Resti di sela tangisnya.
"Lalu, di mana dia? Apa orang tuanya juga tidak ada di rumah?" tanya ibunya kembali pada Resti.
"Bahkan kami tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Resti tidak membawaku ke rumahnya, dia hanya membawaku ke tempat-tempat mereka berkumpul saat itu," ucap ayah dengan tegas dan penuh amarah.
__ADS_1
"Ma-maksudnya bagaimana?" tanya ibu Resti kemudian.
"Dia, anakmu itu tidak membawaku ke rumah laki-laki sialan itu. Dia hanya membawaku ke tempat mereka bisanya berkumpul dengan teman-temannya," suara ayah Resti semakin meninggi.
Tangisan Resti kini semakin kencang hingga membuat tetangga sekitar mendengar keributan dari ruang tamu rumah Resti.
Mereka bersama-sama menguping untuk mencari tahu apa yang terjadi sekarang ini di rumah Resti.
Omelan ayah Resti sangat jelas, semua kekecewaan pada Resti dan calon mantunya itu terdengar jelas di telinga para tetangga. Sehingga mereka kini tau apa yang sedang terjadi di sana.
Hanya dalam beberapa menit saja berita itu sudah menyebar luas ke seluruh warga, hingga mereka membuat asumsi sendiri tentang kejadian tersebut.
Keluarga Resti yang sedang kecewa pada Putra masih mencari jalan keluar lainnya. Resti mencoba menghubungi semua teman-teman Putra yang juga dikenalnya. Namun semuanya nihil. Mereka semua tidak mengetahui di mana Putra sekarang berada. Bahkan Putra tidak datang ke basecamp dan kos-kosannya seperti biasanya.
"Bagaimana ini Yah? Apa yang akan kita lakukan nanti? Semua orang tau jika Resti hamil anaknya Putra. Sudah pasti tidak ada yang mau menikah dengannya Yah," ucap ibu Resti dengan gelisah.
"Ayah bingung Bu. Ayah juga tidak mengira jika Resti bisa sebodoh itu. Sudah berapa kali kemarin Ayah tanyakan tentang rumah Putra ketika Putra masih ada di sini. Dam Resti menjawab tau dan yakin. Lalu jika sudah begini siapa yang salah Bu?" ayah Resti berkata lirih dengan menopang kepalanya yang sepertinya sedang sakit.
Ini salahku, aku yang membuat ini semua terjadi. Dan Putra, si brengsek itu sudah menghancurkan hidupku dan keluargaku. Aku harus menemukannya. Apapun yang terjadi aku harus menemukannya, Resti berkata dalam hati mencuri dengar pembicaraan ayah dan ibunya.
"Coba Ayah selalu pantau tempat-tempat yang Ayah dan Resti kunjungi untuk mencari Putra. Siapa tau Putra berkunjung ke sana ketika dia merasa sudah lolos dari permasalahan ini," ibu Resti memberikan masukan pada ayah Resti.
"Ya sudah Bu, Ayah akan coba memantau ke tempat-tempat itu. Doakan Bu agar Ayah bisa menemukan laki-laki brengsek itu," ucap Ayah Resti kemudian
"Ibu selalu mendoakan Yah. Semoga masalah ini cepat selesai dan kita bisa hidup dengan tenang," ibu Resti berkata dengan senyum yang tulus pada ayah Resti.
"Ayah berangkat dulu Bu. Doakan Ayah ya Bu," ucap ayah Resti sambil memberikan tangannya untuk dicium oleh ibu Resti untuk berpamitan sebelum dia pergi.
Kini ayah Resti kembali mengelilingi tempat-tempat yang telah ditunjukkan Resti padanya..Basecamp tempat Putra dan kawan-kawannya berkumpul dan kos-kosan tempat Putra dan kawan-kawannya beristirahat jika tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
Angin dingin tidak lagi dirasa oleh ayah Resti demi nasib Resti dan bayinya. Dia sebagai ayah Resti bertekad untuk menemukan Putra.
Resti.. Resti.... harusnya kamu memilih Ali dan tidak merasakan hal seperti ini, ayah Resti berkeluh kesah dalam hatinya sambil berkendara.