Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
206


__ADS_3

Semua mata yang melihat dua sejoli ini merasa iri dengan mereka. Pasalnya paras mereka yang cantik dan tampan serta menjadi idola kaum adam dan hawa itu kini sedang berjalan dan bercanda bersama seiring langkahnya menuju ke dalan kelas mereka.


"Loh kalian berangkat bareng? Kalian pacaran?" ucapan Naufal ini berhasil membuat heboh seisi ruang jelas tersebut.


Raline dan Tristan saling memandang dan seolah mereka bertanya melalui tatapan mata mereka. Dan mereka berdua kompak saling menggeleng bersamaan.


"Cieee yang baru jadian...," Naufal memprovokasi seluruh siswa yang ada di dalam kelas untuk bersorak mengikutinya.


"Cieee...."


"Cieee...."


Raline sangat malu mendapat sorakan dari semua teman-temannya. Sontak saja dia langsung duduk di bangkunya dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


Sedangkan Tristan dengan gaya sok cool nya berjalan menuju bangkunya. Memang Tristan sudah biasa menghadapi sorakan karena dia seorang kapten tim basket sekolah mereka yang menjadi idola kaum hawa di sekolah tersebut. Tidak heran jika mental Tristan lebih kuat dibandingkan Raline yang hanya seorang kutu buku.


Dengan menebar senyumnya Tristan duduk di bangkunya. Senyumannya itu tak luntur-luntur sedari tadi menghiasi wajahnya.


"Ehemmm... yang lagi seneng senyum-senyum mulu," Naufal menyindir Tristan.


Tristan hanya tersenyum lebar menanggapi sindiran dari Naufal. Untuk sekarang ini dia tidak mempermasalahkan apapun yang diucapkan oleh siapapun padanya. Baginya perasaan senangnya kini melebihi apapun yang terjadi.


"Raline!" Naufal berseru memanggil Raline.


Raline menoleh ke belakang di mana arah suara memanggilnya berasal.


"Raline, kamu kasih apa Tristan sampai senyum-senyum gak jelas gini?" Naufal kembali berseru pada Raline.


Reflek pandangan Raline mengarah pada Tristan. Bukannya menjawab, Raline malah kembali berbalik dan menidurkan kepalanya di atas bangku serta menutup wajahnya menggunakan bukunya.


Rania yang sedari tadi menahan tawanya kini tidak lagi bisa menahannya. Dia terkekeh melihat sahabatnya yang sedang malu-malu.


"Ra, gimana rasanya pacaran? Enak kan daripada jomblo?" Rania berbisik di telinga Raline.


Sontak saja Raline berdiri tanpa sadar dan berkata,


"Siapa yang pacaran?"


"Cieeee...."

__ADS_1


"Cieeee pacaran, cieee...."


Seisi kelas kembali meneriaki Raline sehingga membuat Raline bertambah malu. Dan Rania kini tertawa puas melihat Raline kembali menutup wajahnya menggunakan buku dan kepalanya ditidurkan di atas meja.


Tristan yang melihat wajah Raline bersemu merah itu menatapnya tanpa kedip dan senyumnya tak pudar sedikitpun melihat pujaan hatinya itu.


"Benar-benar gila nih bocah," ucap Naufal yang berniat membuat Tristan marah, namun hasilnya nihil, Tristan tak sedikitpun marah padanya.


Bahkan sepertinya ucapan Naufal tidak masuk ke dalam indera pendengarnya. Sehingga Tristan tidak merespon apapun yang keluar dari mulut Naufal.


"Tristan, Tris... sadar men, belum nikah, jangan gila dulu," ucap Naufal dengan menengadahkan wajahnya pada wajah Tristan.


Entah mengapa ucapan Naufal kali ini ditangkap oleh indera pendengaran Tristan, sehingga Tristan mendengar apa yang dikatakan oleh Naufal.


Sontak saja Tristan memukul mulut Naufal yang berada persis di depan wajahnya.


"Mulutnya, gak bisa ya ngomong yang bagus-bagus?" Tristan merespon ucapan Naufal tadi.


"Sakit ege!" ucap Naufal sambil membalas memukul Tristan namun berhasil dihalau oleh tangan Tristan yang lebih cekatan daripada tangan Naufal.


"Sukur! Lagian ngatain orang seenaknya," Tristan mengatakannya dengan sewot.


"Ah elu sih mana ngerti. Hati gua bro... hati gua lagi berbunga-bunga," ucap Tristan sambil tersenyum lebar.


"Mana? Mana kok gak kelihatan?" Naufal bertanya layaknya orang bego yang tidak mengerti apa-apa.


"Di sini ege!" jawab Tristan sambil menunjuk dadanya.


"Mana? Kagak ada, tukang kibul nih!" ucap Naufal sambil mengintip dalam kemeja seragam Tristan.


"Wah oon nya kumat nih anak," ucap Tristan sambil menoyor kepala Naufal.


"Selamat pagi anak-anak!" terdengar guru memberi salam ketika masuk ke dalam kelas mereka.


Suara guru tersebut mengalihkan perhatian seluruh murid dan membuat Tristan dan Naufal berhenti saling membalas.


"Selamat pagi Pak!" jawab seluruh murid di kelas tersebut.


Resti yang sedari tadi memperhatikan Tristan dan Raline menjadi sangat kesal mendengar mereka sudah resmi menjadi pacar. Resti hanya menjadi murid tak dianggap sekarang ini, sehingga dia hanya bisa diam tanpa bisa berkata apapun.

__ADS_1


Apalagi ketika dia melihat Rania yang telah merebut Ali darinya. Resti mengira bahwa Rania dan Raline menjadikan Ali sebagai alat untuk balas dendam mereka pada Resti.


Aku harus memberitahu Ali. Dia harus sadar bahwa dia hanya dijadikan alat balas dendamnya mereka saja padaku. Aku harus membuat Ali terlepas dari cewek berengsek itu. Lihat saja nanti. Kita akan buktikan siapa yang lebih hebat diantara kita, Resti berkata dalam hatinya.


Resti segera mengambil ponselnya dalam sakunya dan mengirim pesan pada Ali dengan mencuri-curi kesempatan dari gurunya sambil memperhatikan gurunya agar tidak tertangkap basah sedang menggunakan ponsel ketika pelajaran sedang berlangsung.


Selama pelajaran berlangsung, Raline mencoba berkonsentrasi, namun Rania masih saja mencoba menggodanya, sehingga Raline tidak bisa berkonsentrasi selama jam pelajaran berlangsung.


Bel istirahat pun berbunyi. Tristan segera menghampiri Raline agar Raline tidak pergi terlebih dahulu meninggalkannya.


"Cantik... ke kantin yuk!" Tristan mengajak Raline untuk ke kantin bersamanya.


Raline kaget dengan matanya yang bergerak-gerak lucu ketika mendapati Tristan sudah berada di depannya dan menengadahkan wajahnya di depan wajah Raline sambil tersenyum semanis mungkin pada gadis pujaan hatinya itu.


"Cieee cantik.... jadi ingat Kenshin sama Miyuki. Mereka apa kabarnya Ra?" ucap Rania pada Raline.


"Mmm... mereka baik-baik saja kok. Cuma lagi sibuk aja mereka, mangkanya gak bisa pulang bareng akhir-akhir ini," jawab Raline sambil tersenyum kikuk.


"Pasti mereka kalau besar bakalan jadi idola di sekolah ini. Dari kecil aja mereka udah terlihat good looking, apalagi udah gede, pasti auranya bakalan keluar," Rania memuji Kenshin dan Miyuki sambil membayangkan tampang dan Miyuki jika sudah besar nanti.


"Iya, mereka cantik dan tampan, mirip sama Mami dan Papi nya," ucap Raline sambil tersenyum lebar membayangkan wajah Kenshin dan Miyuki yang sudah dewasa.


Tristan tak henti-hentinya tersenyum memandang wajah Raline yang sedang tersenyum membicarakan tentang Kenshin dan Miyuki.


Namun Tristan segera tersadar ketika dia mendengar nama Kenshin.


"Kok jadi ngomongin mereka sih? Ayo Ra kita ke kantin sekarang," ucap Tristan dengan kesal sambil menarik tangan Raline agar mengikutinya.


"Tunggu Tris, Rania tungguin dulu," Raline menghentikan langkahnya dan menarik tangan Tristan agar ikut berhenti.


"Kamu kenapa sih Tris? Kamu marah? Kenapa? Ya udah deh mending aku ke kantin sama Rania aja," ucap Raline sambil melepaskan tangannya dari tangan Tristan.


Tristan tak melepaskan tangan yang sangat sulit dia raih itu. Tristan tetap memegang erat tangan Raline, dia tidak ingin melepaskan tangan pemilik hatinya itu.


"Eh jangan. Ke kantin sama aku aja," ucap Tristan menghentikan Raline pergi darinya.


"Tapi kamu-"


"Habisnya kalian malah ngomongin yang lain," Tristan malu, dia enggan mengatakan bahwa dia sedang cemburu pada Kenshin.

__ADS_1


"Emang kenyataannya gitu Tris... Kenshin dan Miyuki good looking sejak kecil. Jadi....," Raline tidak meneruskan ucapannya karena dia kini melihat hal yang membuatnya enggan meneruskan ucapannya.


__ADS_2