
Raditya malam itu datang ke rumah sakit karena dia tahu jika tidak ada siapa-siapa yang menemani Kiki di sana karena mereka sedang ada keperluan sehingga tidak bisa menemani Kiki di rumah sakit malam ini.
Bunda Aydin kesehatannya sedang drop karena memikirkan Aydin yang belum juga sadar sehingga kini Bunda dirawat di rumah sakit, tepatnya di ruang VVIP.
Raditya melihat Kiki yang tertidur sambil duduk di ruang ICU. Sudah biasa sekarang dia melihat pemandangan itu. Dulunya Raditya merasa cemburu, sakit hati dan iri melihat Aydin yang bermesra-mesraan dengan Kiki, namun sekarang dia berusaha sekuatnya untuk tidak merasakan hal itu lagi.
Aydin dan Kiki sudah banyak membantunya, dan dia harus membalas budi mereka dengan berusaha sebisa mungkin untuk selalu siap menolong mereka.
Raditya menunggu Kiki seperti biasanya di depan ruang ICU. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari dalam ruang ICU, dan suara itu tidak asing di telinganya.
"Kiki!" ucap Raditya yang kemudian dia berlari masuk ke dalam ruang ICU.
Raditya merasa lega karena Kiki masih tertidur.
"Sepertinya dia bermimpi," ucap Raditya sambil mengusap dadanya karena merasa lega.
"Ki... Ki... bangun. Ada apa kamu teriak-teriak? Kamu mimpi?" Raditya membangunkan Kiki dengan menggoyang-goyangkan pundaknya.
Seketika Kiki terperanjat bangun dari tidurnya. Setelah beberapa detik dia sadar dan ingat akan mimpinya.
"Ada apa Ki? Kamu mimpi apa sampai teriak-teriak gitu?" Raditya mengulangi pertanyaannya pada Kiki.
"Bang Ay... Bang Ay Di... Bang Ay...," Kiki mengatakannya dengan panik.
"Kenapa Bang Aydin Ki?" Raditya ikut panik mendengar ucapan Kiki.
__ADS_1
"Dia....," perkataan Kiki menggantung karena Kiki tidak bisa meneruskannya.
Kiki lebih mendekat pada wajah Aydin. Dibelainya wajah suami yang sangat dicintainya itu. Tetes air matanya mengenai kelopak mata Aydin.
Jari tangan Aydin sedikit bergerak, tidak ada yang tahu. Raditya sibuk memperhatikan Kiki untuk mendengarkan lanjutan dari perkataan Kiki tadi. Sedangkan Kiki sibuk memandang wajah Aydin dan mengusap pipi Aydin.
"Kenapa Ki Bang Aydin?" tanya Raditya kembali panik.
"Enggak... gak boleh... Bang Ay harus tetap hidup Di, Bang Ay harus menemaniku dan anak-anak sampai mereka dewasa," tangis Kiki kembali pecah seiring dengan perkataannya.
"Iya Ki, kita semua mengusahakannya. Kamu juga harus sabar dan jangan lupa berdoa pada Allah. Bang Aydin pasti bisa mendengar dan mengetahui apa yang kita lakukan untuknya. Pasti dia akan berusaha untuk bisa kembali sadar. Itu kan yang kamu ucapkan pada kita semua? Apa kamu lupa itu Ki?" Raditya menyadarkan Kiki agar Kiki bisa kembali tegar dan berusaha semampunya seperti hari-hari sebelumnya.
Kiki tak mampu menjawabnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap air matanya yang sebelumnya tak diketahui oleh Kiki kembali menetes di kelopak mata Aydin.
"Sudahlah Ki, sebaiknya kamu ambil air wudhu aja supaya kamu lebih tenang dan bila perlu kamu shalat dulu Ki, udah jam segini, udah bisa mulai shalat. Aku nanti aja setelah kamu shalat, kita gantian," ucap Raditya yang memberikan Kiki nasehat.
Kini Raditya menunggu Aydin menggantikan Kiki, dia juga bercerita banyak hal tentang anak-anak mereka yang selalu menanyakan Papinya dan selalu mendoakan Papinya setiap selesai shalat. Raditya juga menceritakan bagaimana setianya Kiki yang selalu menemaninya sepanjang waktu hingga tidak bekerja dan lupa akan makan ataupun hanya sekedar minum saja.
"Bang, cepetan sadar ya. Apa Bang Aydin gak kasihan melihat Kiki yang tidak terurus? Dia gak mau makan dan minum Bang kalau gak dipaksa sama Mama ataupun Renita. Bang Aydin harus bangun dan paksa di untuk makan yang banyak Bang, bila perlu Abang yang harus suapi Kiki seperti biasanya. Dan Abang paling gak bisa kan melihat Kiki menangis? Dia selalu menangisi Abang. Jadi Bang Aydin harus cepat bangun dan jangan buat Kiki terlalu lama menangis Bang. Aku mohon. Oh iya Bang, ternyata yang menabrak Abang itu Cindy, dia sekarang berada di penjara, tapi orang tuanya berusaha mengeluarkannya Bang. Abang harus bangun dan lindungi Kiki dari Cindy, karena sepertinya target utama Cindy adalah Kiki," Raditya berbicara banyak pada Aydin bertujuan untuk memancing Aydin agar dia bisa bangun, karena kelemahan Aydin adalah segala sesuatu yang menyangkut Kiki.
Lama Kiki berada di mushalla rumah sakit, dia berkeluh kesah pada sang pencipta dan meminta pada sang kuasa apa yang menjadi harapannya sekarang ini. Dengan deraian air mata yang tak pernah berhenti selama berdoa, Kiki menengadahkan tangannya penuh permohonan.
Setelah itu dia cepat-cepat kembali ingin bertemu dengan suaminya. Kiki tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan Aydin, dia hanya ingin jika suatu saat Aydin bangun, dialah orang pertama yang Aydin lihat.
"Di, aku udah selesai. Sekarang kamu bisa shalat. Tolong do'akan Bang Ay ya Di," Kiki mengagetkan Raditya yang sedang membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk Aydin.
__ADS_1
Raditya menutup Al-Qur'an saku tersebut dan meletakkannya kembali pada tasnya. Kemudian dia beranjak untuk keluar ruang ICU menuju mushalla rumah sakit.
"Di, terima kasih udah mau menjaga Bang Ay. Dan terima kasih telah membacakan beberapa ayat Al-Qur'an untuk Bang Ay," ucap Kiki sebelum langkah kaki Raditya keluar dari ruang ICU.
Raditya yang menoleh ketika dipanggil Kiki mengangguk dan tersenyum.
"Sama-sama Ki. Aku akan melakukan apapun untuk kalian. Karena sepertinya hutangku lebih banyak pada kalian. Rasanya aku tidak bisa membayarnya sampai kapanpun," ucap Raditya yang kemudian melanjutkan jalannya menuju mushalla rumah sakit.
Kiki mengusap pipi Aydin dan menciumi seluruh wajahnya. Kemudian dia mengucapkan kata-kata cintanya seperti biasanya.
"Aku mencintaimu suamiku. Cepatlah bangun dan katakan bahwa kamu juga mencintaiku. Aku sangat butuh kata-kata itu Sayang. Bantu aku, kuatkan aku dengan kata-katamu itu," Kiki berbisik di telinga Aydin dengan suara yang sedikit tersendat karena menahan tangisnya yang kembali hadir.
Setelah itu Kiki duduk dan meraih tangan Aydin. Diusapnya tangan yang tidak bertenaga itu, kemudian dia cium lama tangan tersebut untuk menyalurkan semua perasaan dan kerinduan dari dirinya pada suaminya itu.
Tiba-tiba saja jari tangan Aydin bergerak-gerak. Kiki merasakannya karena dia sedang memegangnya dan menciumnya. Kiki terhenyak kaget dan ada rasa sedikit lega dan bahagia dalam hatinya.
Dengan segera dia menekan tombol untuk memanggil dokter. Dia tidak mau meninggalkan Aydin sendirian untuk memanggil keluar dokter. Dia ingin melihat perkembangan Aydin selanjutnya, karena tidak ada yang tahu mungkin saja Aydin akan sadar pada saat itu juga.
Dokter tergesa-gesa berlari menuju ruang ICU karena mereka takut jika kondisi Aydin kembali memburuk. Dengan segera dokter tersebut memeriksa Aydin.
"Tadi jari tangannya gerak-gerak dok," Kiki mengatakannya dengan antusias.
"Kondisinya masih sama dok. Mungkin halusinasi dokter saja. Dan jika itu memang benar, itu menjadi pertanda baik dok. Semoga kondisi Pak Aydin semakin membaik. Dan jangan sampai kondisinya kembali drop, jika sampai drop kembali, kita harus bersiap hal yang terburuk dok," dokter tersebut menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Aydin.
Kiki terdiam, matanya masih memandang jari tangan Aydin. Dia tidak percaya bahwa itu hanya ilusinya saja.
__ADS_1
Apa aku memang bermimpi atau hanya sekedar ilusi karena sangat menginginkannya untuk cepat sadar kembali? Oh Ya Allah... bantulah suami hamba agar bisa kembali sadar. Amin....