
Resti berasal dari keluarga yang tergolong biasa saja, namun ambisinya untuk menjadi gadis yang hidup dengan kemewahan membuatnya melakukan jalan pintas.
Awalnya dia hanya mengikuti teman-temannya untuk berkumpul bersama suatu geng motor yang di kenal oleh teman Resti.
Dia berpikir jika pamornya akan naik menjadi siswa yang disegani teman-temannya jika dia bergaul dengan geng motor yang terkenal di daerah tersebut.
Hanya dengan sedikit rayuan saja kegadisan Resti terenggut oleh mereka. Bahkan Resti pada hari pertamanya bergabung dnegan mereka, dia digilir oleh mereka untuk melakukannya.
Karena kegadisannya sudah hilang, dia menerima tawaran untuk berkencan dengan laki-laki manapun yang mau membayarnya.
Sampai suatu ketika, di sekolah beredarlah kabar dan foto-foto Resti bersama dengan lelaki-lelaki yang telah membayarnya itu sehingga dia menjadi bahan bully an teman-temannya di sekolah.
Sejak itulah Ali yang selalu menolong Resti dari bully an teman-temannya di sekolah, hingga Resti selalu menempel pada Ali karena Ali merupakan siswa yang disegani di sekolahnya, dan Resti memanfaatkan itu agar dia siswa yang lain tidak berani mem bully nya lagi.
Karena Ali merasa kasihan dengannya, akhirnya Ali selalu melindunginya dan khawatir padanya. Dari situlah Ali salah mengartikan jika rasa kasihan itu adalah cinta.
Dan karena alasan itulah Resti berusaha dan belajar dengan giat agar dia bisa mendapatkan beasiswa di sekolah elit agar tidak bertemu kembali dengan teman-temannya yang lama, karena mereka semua sudah bisa dipastikan akan bersekolah di SMA Negeri.
Kini Resti yang sedang merasa frustasi karena rasa malunya pada Raline dan Tristan juga rasa marahnya pada Rania dan Ali, dia berada di suatu tempat yang sudah lama tidak dia datangi.
"Hai, sudah lama kamu gak ke sini?" sapa salah satu anggota geng motor yang baru saja datang ke basecamp mereka.
"Lagi suntuk, males di rumah," jawab Resti sambil memainkan ponselnya.
"Main-main yuk daripada suntuk," ucap Putra yang merupakan pentolan dari geng motor tersebut.
"Ke mana?" tanya Resti sambil mendongakkan kepalanya melihat Putra yang masih duduk di atas motornya.
"Udahlah ayo ikut, pasti kamu bakalan suka," jawab Putra sambil menyalakan kembali mesin motornya.
Resti pun beranjak dari duduknya dan naik ke boncengan motor Putra.
"Pegangan yang kuat. Kamu tau kan gimana aku kalau naik motor?" ucap Putra sambil menoleh sedikit untuk berbicara pada Resti.
Resti pun mengeratkan pegangannya pada pinggang Putra sehingga tidak ada jarak lagi antara punggung Putra dengan tubuh bagian depan Resti. Tubuh mereka melekat sempurna hingga Putra bisa merasakan dua buah milik Resti yang berada di bagian depan dadanya.
Njir, jadi pengen rasanya, Putra berkata dalam hatinya sambil tersenyum melihat dari kaca spionnya Resti yang mengeratkan pelukan di pinggangnya.
Putra menghentikan motornya di depan sebuah bangunan yang bertuliskan 'kos pria'.
"Putra, kita mau ngapain ke sini?" tanya Resti ketika sudah turun dari boncengan motor Putra.
"Nemuin teman bentar. Yuk ikut," jawab Putra sambil menarik tangan Resti.
"Ssst... Resti tuh," ucap salah satu dari teman-teman Ali yang ternyata teman-teman Ali sedang berkumpul di kos-kosan salah satu dari mereka yang tinggal di kos tersebut.
Dan lebih mengejutkannya lagi, mereka melihat Resti dibawa masuk ke dalam kamar yang tepat bersebelahan dengan kamar yang mereka tempati sekarang.
__ADS_1
Resti memang tidak mengetahui mereka, karena tubuh Putra yang lebih tinggi darinya menutupi mereka yang berada di dalam kamar tersebut.
"Coba kita lihat apa yang mereka lakukan di dalam," ucap salah satu dari teman Ali dengan suara lirih.
"Kurang afdol. Kita rekam saja mereka buat laporan ke Ali," sahut teman yang satunya lagi dengan suara lirih menirukan temannya tadi ketika berbicara.
"Oke, setuju. Kita bagi tugas," salah satu dari mereka pun menyetujui ide itu.
Akhirnya mereka membagi tugas. Di antara mereka ada yang merekam video, dan ada yang berjaga-jaga di depan lorong dan adapula yang berjaga di depan kamar tersebut.
Kos-kosan tersebut memang sepi karena kebanyakan dari mereka yang kos di sana adalah pekerja yang selalu pulang malam dan pagi.
Ternyata di dalam kamar tersebut Putra menyalurkan keinginannya pada Resti. Teman yang dimaksudkan oleh Putra adalah dirinya. Kamar itu milik Putra.
Dia sengaja menyewa kamar kos tersebut untuk digunakan jika tidur bersama teman-temannya karena basecamp mereka hanya berukuran kecil tidak bisa untuk tempat mereka tidur jika tidak ingin pulang ke rumah
"Luarrrrr biasa.....," ucap salah satu teman Ali ketika mereka melihat hasil rekaman video mereka menggunakan headset di dalam kamar kos yang bersebelahan dengan kamar kos Putra.
"Gilaaaa... Resti memang gak pantas buat Ali. Ali bisa mendapatkan cewek yang lebih baik dari dia," ucap teman Ali yang lainnya.
Teman-teman Ali ini memang sudah lihai sebagai mata-mata. Mereka sudah terbiasa mengintai Resti sedari dulu dan mengumpulkan semua buktinya untuk ditunjukkan pada Ali.
Dan hasil bukti yang mereka dapatkan selalu jelas, sehingga tidak bisa diragukan lagi kebenarannya. Sayangnya Ali selalu termakan hasutan Resti sehingga Ali selalu memaafkan perbuatan Resti yang mengkhianati dirinya.
"Oke, sekarang kita tunjukkan pada Ali," ucap salah satu dari mereka.
"Eh bukannya Ali sudah gak sama cewek ini lagi ya? Waktu itu kan mereka bertengkar di depan kita," sahut teman yang satunya lagi.
"Udahlah, kita tunjukkan dulu aja pada Ali. Kita lihat bagaimana reaksi dia sekarang," salah satu dari teman mereka mengakhiri percakapan mereka.
Dengan hati-hati mereka keluar dari kamar kos tersebut dan dengan cepatnya mereka meninggalkan bangunan tersebut menuju rumah Ali.
Sialnya, Ali sedang berada di sebuah cafe bersama dengan Rania setelah menjemput Rania pulang dari les nya sehingga mereka tidak bertemu dengan Ali ketika mereka mencari Ali di rumahnya.
"Sayang, teman-teman aku mau ketemu. Apa kamu mau ikut denganku? Aku ingin memperkenalkan mereka denganmu," Ali bertanya pada Rania dengan tatapan penuh harap.
"Emmm... tapi aku gak bisa lama. Meskipun kedua orang tuaku gak di rumah, masih ada Bik Mirna dan Pak Tono yang selalu menjagaku. Dan aku gak mau membuat mereka khawatir karena aku belum pulang di saat jam pulang ku," jawab Rania yang merasa tidak enak jika menolak permintaan Ali yang sepertinya telah berharap padanya.
"Baiklah, kalau gitu aku kabari mereka untuk datang ke sini saja agar tidak buang-buang waktu dan menyita waktu kebersamaan kita," ucap Ali dengan senyumnya yang mengembang.
Rania pun tersenyum dan mengangguk menyetujui ide Ali yang diutarakan padanya.
Tidak lama kemudian datanglah teman-teman Ali yang dengan setia selalu mendukung Ali.
"Sayang, kenalin mereka semua sahabat-sahabatku," Ali memperkenalkan empat temannya itu sebagai sahabatnya.
Mereka berempat kaget mendengar Ali memanggil cewek di depan mereka dengan panggilan sayang. Dan mereka pun satu persatu berkenalan dengan Rania.
__ADS_1
"Ini....," ucapan salah satu dari mereka menggantung, dia ragu untuk bertanya.
"Ini Rania, pacarku. Manis dan imut bukan?" jawab Ali dengan bangganya, dan jawaban Ali itu membuat Rania malu mendengarnya.
Mereka berempat saling menatap dan akhirnya mereka semua tersenyum lega karena Ali sudah tidak lagi berhubungan dengan Resti.
"Hal penting apa yang akan kalian tunjukkan padaku?" tanya Ali menyelidik pada mereka berempat.
Mereka berempat saling menatap kembali, dan salah satu dari mereka mengangguk, memberi tanda untuk menjalankan tujuan mereka semula untuk memberitahukan pada Ali tentang Resti.
"Ini, kamu lihat saja," salah satu dari mereka berempat memberikan pada Ali ponsel miliknya.
"Apa ini?" tanya Ali heran pada mereka, namun tak ayal dia memutar video tersebut yang sudah disambungkan pada headset yang dipasangkan oleh sahabatnya itu pada telinga Ali.
"Gak mungkin kan kalau dia terpaksa? Coba perhatikan, dia sangat menikmatinya," ucap salah satu sahabat Ali.
Ali pun memperhatikannya dan mengangguk membenarkannya.
Sebenarnya Ali marah dalam hatinya karena kebodohannya selama ini, kebodohannya untuk menuruti semua perintah Resti layaknya seorang budak baginya, dan kebodohan dirinya karena salah mengartikan rasa ibanya pada Resti adalah sebuah cinta.
Namun bibir Ali tersenyum tanpa sadar karena hatinya lega telah lepas dari wanita macam Resti.
Rania hanya diam melihat apa yang sedang dilakukan oleh pacarnya itu. Namun ketika Rania melihat ekspresi Aki berubah ketika melihat layar ponsel sahabatnya itu, Rania mendekat dan bertanya pada Ali,
"Ada apa?"
"Sayang, sini deh," Ali menarik kursi Rania agar lebih mendekat padanya.
"Re-Resti?!" Rania merasa kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Ali pun memberikan ponsel tersebut pada temannya dan memberikan Rania minum agar lebih tenang.
"Yuk pulang yuk, biar gak terlalu malam," ucap Ali sambil tersenyum dan mengusap rambut Rania dengan sayang.
Rania pun mengangguk dan masih terlihat sangat syok karena melihat tayangan di ponsel sahabat Ali tadi.
"Tunggu Li, Rania ini kenal sama Rest" salah satu sahabat Ali mewakili rasa penasaran teman-temannya bertanya pada Ali.
"Rania ini teman satu kelas Resti," jawab Ali sambil menggandeng tangan Rania.
"Cabut dulu ya, mau ngantar pacar pulang dulu," Ali berpamitan pada sahabat-sahabatnya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Aku setuju Ali sama Rania," ucap salah satu dari mereka berempat ketika Ali dan Rania sudah pergi meninggalkan mereka.
"Aku juga."
"Setuju."
__ADS_1
"Setuju banget."
"Pantas aja Ali selalu jemput ke sekolah itu, ternyata dia jemput Rania, buka Resti," ucap salah satu sari mereka sambil terkekeh dan yang lain pun ikut tertawa mendengarnya.