Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
181


__ADS_3

Raditya dan Aydin sedang memilih-milih menu dengan melihat-lihat buku menu yang diberikan pelayan tadi pada mereka. Mata mereka sibuk mencari makanan kesukaan mereka jika berada di tempat yang dingin seperti di tempat itu.


Tiba-tiba saja, Raditya dan Aydin dikagetkan dengan suara wanita yang menghampiri meja mereka.


"Permisi Om, apa Raline juga ada disini?" tiba-tiba suara seorang perempuan membuat Aydin dan Raditya mengalihkan perhatiannya dari buku menu.


"Kamu siapa?" tanya Aydin dengan gaya andalannya, dingin dan tegas.


"Saya Resti Om temannya Raline," jawab Resti dengan gugup karena pandangan Aydin dan Raditya padanya tidak ramah.


Raditya dan Aydin memang setipe jika didekati oleh perempuan. Mereka akan mendadak menjadi dingin, cuek dan berkata dengan nada datar.


"Temannya Raline?" tanya Aydin kembali dengan menatap tidak percaya pada Resti.


Kemudian dia menoleh pada Raditya yang hanya mengernyitkan dahinya dan mengangkat pundaknya tanda dia tidak tahu.


"Kenapa ya? Ada perlu sama Raline?" tanya Aydin kembali dengan datar dan dingin, sehingga membuat Resti ketakutan.


Jujur saja pandangan Raditya dan Aydin pada Resti membuat Resti menyalahkan dirinya karena dengan beraninya menghampiri meja mereka. Awalnya Resti hanya ingin menyapa dan memperkenalkan dirinya saja pada mereka, namun apa yang kini dirasakannya membuat nyalinya menciut.


"Eh tidak Om, hanya saja saya pernah lihat Om menjemput Raline di sekolah. Saya hanya menyapa saja, siapa tau Raline ada di sini juga," Resti menjawab dengan jantung yang berdegup kencang.


"Oh... ada kok. Nanti pasti kamu bertemu dengannya," jawab Aydin dengan datar tanpa melihat Resti, Aydin dan Raditya malah sibuk melihat-lihat menu.


"Jadi pesan yang mana Bang?" tanya Raditya pada Aydin yang membuat Resti kesal karena mereka menganggapnya tidak ada.


"Ya sudah Om, mari," ucap Resti sebelum pergi dari meja Aydin dan Raditya.


Aydin dan Raditya hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Resti. Dan itu kembali membuat Resti bertambah kesal karena tak dianggap.

__ADS_1


Sialan, awas aja anak kesayangan kalian pasti akan aku hancurkan, Resti berkata dalam hatinya dengan penuh dendam dan emosi.


"Dari mana?" tanya Ali pada Resti ketika Resti sudah duduk kembali di kursinya.


"Dari toilet, terus ketemu sama orang tuanya temanku di sekolah, cuma nyapa aja," jawab Resti.


Ali memandang Resti yang sepertinya tidak seperti sebelumnya. Wajah dan sikapnya tidak senang seperti tadi.


"Kamu kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Ali dengan memandang wajah Resti.


Resti hanya menggeleng tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ali. dan itu membuat Ali semakin penasaran dengan perempuan yang dicintainya.


"Apa kurang uang yang aku berikan semalam? Atau kamu masih butuh untuk keperluan yang lain?" tanya Ali menyelidik pada Resti.


"Apa jika aku mengatakan iya kamu akan memberikanku uang lagi?" tanya Resti pada Ali seolah menantangnya.


"Tentu saja Sayang, kamu kan akan menjadi istriku. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan?" ucap Ali dengan senyumnya dan tangannya menggenggam tangan Resti.


Namun di malam harinya, sesuai dengan perjanjian mereka, Ali berhak memiliki tubuh Resti. Dan beruntungnya Resti karena Ali sangat mencintainya sehingga dia memang berniat untuk membuat Resti hamil dan mau menikah dengannya.


"Loh Res kamu disini?" tanya Naufal yang tiba-tiba sudah berada di dekat meja Resti dan Ali.


"Eh, i-iya," jawab Resti gugup.


Ali melihat ada yang aneh dengan Resti, karena harusnya dia tidak gugup seperti itu jika saja dia tidak memliki hubungan atau perasaan apapun dengan laki-laki yang ada di hadapan mereka.


"Ya udah silahkan dinikmati. Saya permisi dulu," Naufal berpamitan pada Resti dan Ali, dia memang hanya berniat menyapa saja sebagai karyawan di cafe tersebut.


Kemudian Naufal mendekati Aydin dan Raditya. Mereka mengobrol hingga suara tawanya terdengar sampai meja Resti dan Ali. Memang meja Aydin dan Raditya tidak bisa terlihat dari meja Resti karena terhalang oleh tembok yang melengkung membentuk tikungan. Hanya suara tawa Aydin, Raditya dan Naufal saja yang terdengar oleh Resti.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian terdengar suara Naufal menyebut nama Tristan dan Raline. Hal itu membuat Resti semakin penasaran ingin melihat apa yang dibicarakan oleh mereka.


"Li, aku ke toilet lagi sebentar ya," Resti berpamitan pada Ali.


"Kenapa Sayang, apa perut kamu sakit?" Ali terlihat khawatir pada Resti.


"Enggak kok, aku cuma kebelet aja sekalian mau telepon orang rumah, kan kemarin aku belum sempat hubungi mereka, pasti mereka sangat cemas," jawab Resti mencari alasan agar dia bisa berlama-lama menguping pembicaraan di meja Aydin dan Raditya yang tadi dia kunjungi.


"Kan udah aku bilang, aku udah minta ijin sama Bapakmu dan dia mengijinkan kita menginap kok," Ali memang mengatakan yang sebenarnya.


Siapa sih yang tidak mau mempunyai besan kaya raya di wilayah mereka? Begitupula Bapak Resti yang merestui hubungan Ali dengan Resti. Dengan keadaan ekonomi keluarga Resti yang biasa-biasa saja, merupakan suatu kebanggaan jika mereka mempunyai menantu kaya raya di kampung mereka, anak dari juragan terkaya di wilayahnya. Bahkan Bapaknya Resti sendiri yang mengatakan agar mereka seharusnya cepat menikah. Oleh sebab itu Bapaknya Resti mengijinkan ketika Ali meminta ijin untuk menginap di puncak.


"Ya udah kalau gitu aku ke toilet aja ya. Kamu tunggu aja di sini," ucap Resti sambil beranjak dari kursinya.


Resti berhasil mencari tempat yang bagus untuk bersembunyi dan menguping pembicaraan Aydin, Raditya, Raline, Tristan dan Naufal. Bahkan mereka saking melempar pertanyaan dan candaan mereka.


"Yuk balik, semua udah pada nungguin, terutama si Tuan muda kesayangan kamu itu," ucap Aydin sambil terkekeh.


"Mereka sedang ke peternakan, mungkin sebentar lagi bakalan ke perkebunan," Raditya menyahut dengan membaca pesan dari Renita.


"Yuk cantik balik, bukannya kamu paling suka di perkebunan teh?" Aydin mengingatkan Raline dan Raline pun mengangguk antusias.


"Saya juga mau balik ke villa kok Om. Biar Raline ikut mobil saya aja," Tristan mencoba keberuntungannya untuk meminta ijin pada Aydin dan Raditya.


"Enggak, gak usah. Raline bareng kita aja," ucap Raditya dengan tegas.


"Masih kurang aja udah dikasih waktu berduaan di ruangan tadi?" Aydin bertanya berniat menggoda Tristan.


Tristan pun malu karena maksudnya dapat terbaca dengan jelas oleh Aydin.

__ADS_1


"Berduaan di dalam ruangan? Apa mereka?" ucap Resti lirih seperti berbisik dengan dirinya sendiri.


__ADS_2