Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
56


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kiki begitu sibuk karena dia ingin cepat lulus. Dia ingin sekali bisa lulus berbarengan dengan suaminya. Sedangkan Aydin hanya tinggal menunggu sidang skripsi saja, sama dengan Kevin.


Malam ini, ketika mereka makan malam, mereka dikagetkan dengan kedatangan sepupu Aydin yang bernama Naila. Dia berniat kuliah di kampus yang sama dengan Aydin dan tinggal di rumah orang tua Aydin. Sejak dulu Naila memang sudah suka dengan Aydin dan ingin mendekatinya dengan bersekolah di kota yang sama dengan Aydin, namun Naila tidak diijinkan Papanya sekolah di luar kota, maka dari itu sekarang dia mulai mendekati Aydin karena dia mendengar pertunangan Aydin sudah batal. Sayangnya dia mendengarnya dari orang tuanya sudah terlambat, karena waktu acara pertunangan itu yang datang hanya orang tuanya saja, Naila tidak bisa datang kaena dia sedang kuliah di luar kota. Dan setelah mendengar Aydin batal bertunangan, dia berniat untuk mendapatkan Aydin dengan berpindah kuliah di tempat yang sama dengan Aydin. Dia sudah memiliki beberapa rencana untuk mendekati Aydin dan dia sudah membulatkan tekadnya untuk menjadikan Aydin sebagai suaminya. Memang sedari kecil dulu Naila sangat manja jika bersama Aydin, dan Aydin memang memanjakannya karena dia tidak memiliki seorang adik, jadi Aydin menganggap Naila sebagai adiknya, toh dia juga saudara sepupunya, jadi tidak ada salahnya jika dia memanjakannya sebagai seorang adik. Begitulah pemikiran Aydin pada saat Naila masih kecil dulu.


Ketika Naila datang, dia langsung memeluk Aydin dari belakang yang saat itu Aydin sedang duduk di meja makan bersama Kiki di sampingnya dan Ayah Bunda berada di depannya.


Tadi, Naila dibukakan pintu oleh Bik Sum yang sudah lama bekerja di rumah untuk membantu Bunda. Setelah dibukakan pintu oleh Bik Sum, dia langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat menuju ruang makan ketika mendengar suara candaan dari ruang makan. Dia mengenali sosok Aydin dari belakang, dan langsung saja dia memeluk Aydin dari belakang dengan erat dan mengecup pipi kanan Aydin. Kiki dan Aydin sangat kaget ketika ada tangan yang memeluk dan mengecup pipi Aydin. Aydin amat sangat kaget karena dia tahu bukan Kiki pelakunya, karena saat ini Kiki berada di sampingnya dan sedang bercanda dengannya. Saking kagetnya, Aydin sempat terdiam beberapa detik dan tersadar setelah itu ketika Ayah dan Bunda menyebut nama Naila. Ketika tersadar, reflek dia menghempaskan dengan kasar tangan Naila sehingga dia terjatuh duduk di lantai. Sedangkan Kiki saking kagetnya, dia hanya melongo tidak bisa berucap dan hanya mematung, tanpa sadar matanya sudah berkaca - kaca. Apalagi ketika Ayah dan Bunda menyebut nama Naila, yang ada dipikiran Kiki sekarang ini Naila adalah calon tunangan Aydin yang kabur pada saat diadakannya pesta pertunangan mereka.


"Abang... sakit.... tolongin...."Naila mengulurkan tangan kanannya ke arah Aydin meminta pertolongannya dengan memasang wajah sedih yang begitu manja.


"Naila, maaf, kamu sih ngagetin pakai meluk - meluk Abang dari belakang terus pakai nyium pipi lagi. Ingat lain kali gak boleh ngagetin orang seperi itu", Aydin menolong Naila dengan menggapai tangan kanan Naila dan membantunya berdiri.


Setelah berhasil ditolong Aydin untuk berdiri, Naila langsung memeluk erat Aydin dengan menelusup kan tangannya ke pinggang Aydin, begitu erat hingga Aydin bisa merasakan squishy milik Naila yang sepertinya lebih kecil dari milik Kiki. Aydin mengurai paksa pelukan Naila, namun Naila memeluknya tambah erat sehingga Aydin tidak bisa menjauhkan dirinya dari Naila. Kiki hanya bisa melihat dan matanya yang tadinya berkaca - kaca, kini air matanya sudah terkumpul di pelupuk matanya, hingga jika sekali saja Kiki berkedip, air mata itu akan jatuh membasahi pipinya.


"Awww... sakit Bang....", Naila merengek manja.


Bunda yang tadinya juga terpaku melihat kelakuan Naila, kini dia sadar dan reflek melihat ke arah Kiki.


"Kiki.....", Bunda memanggil Kiki hendak menjelaskan kelakuan keponakannya, namun melihat raut kesedihan dan mata Kiki yang berkaca - kaca menyimpan air mata, Bunda seakan tercekat tenggorokannya, dia tidak bisa mengeluarkan kata - kata.


Ayah yang juga baru tersadar, seolah mengerti reaksi istrinya, dia pun mengeluarkan suaranya.


"Naila, lepaskan Aydin sekarang",suara Ayah begitu tegas karena Ayah merasa tidak enak dengan menantunya.


"Apaan sih om, aku tuh kangen banget tau gak sama Abang ku ini", ucap Naila dengan sangat manja.


Aydin tersenyum, karena menurutnya Naila sudah terbiasa manja dengannya. Dia lupa jika sekarang ada hati yang harus dia jaga, dia juga lupa jika ada istrinya berada di dekatnya, melihat mereka yang kini sedang berpelukan.


Bunda yang geram dengan Aydin yang tidak peka dengan istrinya, kini ikut bersuara untuk menyadarkan Aydin jika disitu ada Kiki yang mungkin sudah salah sangka pada mereka.


"Naila, kenalkan ini Kiki istrinya Aydin"


Aydin pun tersadar dan ingat jika Kiki belum kenal dengan Naila dan mungkin saja Kiki akan berpikiran yang tidak - tidak. Aydin melepaskan pelukan Naila yang sudah mengendur karena Naila kaget akan ucapan Bunda Aydin yang mengatakan bahwa wanita yang ada di meja makan itu adalah istri Aydin.

__ADS_1


Aydin segera mendekati istrinya yang melihat ke arahnya dengan diam mematung dan memasang raut wajah sedih dan matanya berkaca - kaca yang menyimpan banyak air mata. Aydin berlutut di depan Kiki yang masih duduk di kursi makan, dia memegang tangan Kiki dan menciumnya.


"Sayang...."


Kiki tersadar mendengar suara Aydin yang memanggilnya dan merasakan kecupan di punggung telapak tangannya. Kiki tersadar dari lamunannya dan reflek berkedip matanya yang mengakibatkan air matanya yang tersimpan di pelupuk matanya tadi tumpah, air mata itu jatuh membasahi pipinya. Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi. Kiki segera menarik tangannya dari genggaman tangan Aydin dan segera dia berdiri, beranjak dari kursinya sambil berkata, "Maaf, saya sudah kenyang", kemudian dia melangkahkan kakinya, berjalan dengan cepat menuju kamar dengan membawa sakit hati yang mampu membuat Kiki merasa tersiksa.


"Sayang .... tunggu ...", Aydin hendak mengejar Kiki namun dihalangi oleh Naila. Dia merengek meminta untuk ditemani oleh Aydin dengan alasan dia sangat lapar dan sangat kangen dengan Aydin.


Bunda menggeleng tidak suka, dia tahu jika Kiki sedang marah karena Kiki tadi berpamitan dengan bahasa formal, biasanya dia tidak pernah berbicara seperti itu. Bunda sungguh jengkel dan jengah melihat tingkah ponakannya itu, dan dia begitu saja meninggalkan meja makan ketika melihat Aydin duduk kembali menuruti permintaan Naila yang sangat manja minta diladeni makan oleh Aydin. Bunda sangat menyayangi Kiki yang seperti anaknya sendiri, dia mengerti perasaan Kiki saat ini, dan dia merutuki kebodohan Aydin yang sangat tidak peka dengan perasaan istrinya.


Ayah mengerti jika istrinya marah dan kecewa dengan sikap ponakannya dan Aydin yang tidak mengejar Kiki. Ayah sengaja tidak meninggalkan mereka berdua dan mengawasi mereka. Ayah sangat gemas dengan Naila yang minta dilayani Aydin dengan manja dan merengek. Ayah sadar jika mereka sudah terbiasa seperti itu sejak dulu, namun sekarang situasinya berbeda. Naila sekarang sudah besar dan Aydin sudah beristri, maka mereka tidak boleh bertindak seperti dulu lagi, karena mereka hanya saudara sepupu yang artinya mereka bukan mahram dan bisa disalah artikan oleh orang lain yang melihatnya. Ayah mengatakan pada Naila jika Kiki adalah istri sah Aydin, dan dia melarang Naila untuk bermanja-manja dan bersikap terlalu dekat dengan Aydin seperti dulu. Saking marahnya Ayah dan Bunda sampai lupa menanyakan tujuan Naila datang ke rumah mereka malam - malam begini.


Aydin terdiam, dia merenung meresapi tiap kata yang diucapkan oleh Ayahnya. Hatinya merasa tertohok. Dia menoleh, melihat ke arah lantai atas, melihat ke arah pintu kamarnya. Dia berdiri hendak beranjak dari kursi, namun tangannya dipegang oleh Naila, menahan agar Aydin tetap duduk di kursi yang di duduki nya tadi.Aydin menoleh pada Naila seolah bertanya ada apa.


"Duduk Bang, aku mau cerita", Naila menghentikan Aydin untuk pergi dari situ.


Ayah hanya diam dan memasang wajah datar ketika Aydin menatapnya, ingin meminta pendapat Ayahnya, namun Ayahnya diam saja, dia ingin melihat sikap Aydin selanjutnya.


"Naila ingin kuliah di kampus yang sama dengan Abang", Naila memberikan senyuman manisnya pada Aydin, dia tidak peduli dengan perkataan Ayah Aydin yang mengatakan bahwa Aydin sudah menikah.


Ayah mengarahkan pandangannya pada Naila, menyimak apa yang dia ingin ceritakan.


"Iya, dan aku sudah pindah di kampus yang sama dengan Bang Aydin. Besok aku tinggal masuk aja", Naila mendekatkan kursinya pada kursi Aydin, kemudian dia melingkarkan tangannya pada lengan Aydin. Sedangkan Aydin mencoba melepaskan tangan Naila karena dia sudah mendapatkan tatapan Ayah yang tidak bersahabat seolah memberikan warning padanya. Naila tidak begitu saja menyerah. Aydin melepaskan tangan Naila, tapi Naila kembali melakukannya lagi, dan Aydin pun melepaskannya kembali.


"Naila, jangan seperti ini, Abang udah punya istri, kamu tidak bisa bermanja-manja lagi seperti dulu", Aydin pun menjauhkan kursinya, menggesernya menjauh dari kursi Naila.


"Kalian semua bohong, kalau memang Abang udah menikah, kenapa saudara - saudara semua tidak ada yang tahu, mereka bilang pertunangan Abang tidak jadi waktu itu", Naila tetap dengan pemikirannya.


"Karena kami belum mengadakan pesta pernikahannya", jawab Aydin yang kini berdiri hendak pergi ke kamarnya.


"Aku tidak percaya. Mana ada pernikahan yang dirahasiakan", Naila kini berdiri dari duduknya dan mengambil koper yang tadi dia letakkan begitu saja di belakang kursi Aydin.


"Terserah kamu percaya atau tidak. Yang terpenting kami sudah sah secara agama dan negara", kemudian Aydin pergi dari ruang makan dan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Naila?" Ayah Aydin berteriak memanggil Naila karena dia kini mengikuti Aydin menaiki tangga.


"Pergi ke kamar. Aku kan tinggal disini selama kuliah", Naila menjawab sambil susah payah mengangkat kopernya menaiki tangga.


Aydin menoleh ke belakang. " Kamar mu di bawah, di kamar tamu seperti biasa", Aydin menunjuk kamar yang berada di bawah, tidak jauh dari tangga dimana mereka berdiri saat ini.


"Gak mau. Aku mau tinggal di kamar atas yang di sebelah kamar Bang Aydin", Naila melanjutkan langkahnya, namun Ayah sudah merampas koper Naila dari tangannya dan membawanya masuk pada kamar tamu yang ada di bawah yang ditunjukkan Aydin tadi.


"Naila kamu tidur di kamar ini. Kamu jangan menggangu Aydin jika kamu masih ingin tinggal di rumah ini",Ayah berbalik, berjalan meninggalkan Naila.


"Kenapa harus disini sih Om? Naila kan pengen tidur di kamar atas dekat kamarnya Bang Aydin", Naila merengek, mengeluarkan jurus andalannya yang biasanya tidak pernah bisa ditolak oleh Aydin dan Ayahnya.


Ayah menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Naila, "Kamar yang itu sudah digunakan Aydin untuk ruang kerjanya. Sudah kamu jangan banyak tingkah dan jangan banyak mengeluh jika tidak ingin diusir dari rumah ini", kini Ayah sudah benar - benar jengah pada ponakannya ini karena semakin besar dia semakin sulit diatur dan seenaknya sendiri. Ayah meninggalkan Naila sendiri yang kini mematung di dalam kamar, dia tidak menyangka jika Ayah Aydin yang berarti om nya itu mengeluarkan ancaman untuk mengusirnya. Ini pertama kali dia diperlakukan seperti itu, dan dia menduga ini semua karena wanita tadi yang mengaku sebagai istrinya Aydin.


Ayah Aydin merupakan adik tiri dari Ibu Naila. Maka dari itu Ibu Naila tidak berhak atas warisan dan rumah sakit peninggalan dari Kakek Aydin, karena Ibu Naila merupakan anak tiri dari Kakek Aydin. Dan karena hal itu juga Naila dan Ibunya ingin masuk ke dalam keluarga Aydin, dengan menjadikan Aydin sebagai suami Naila.


Aydin sudah sampai di depan kamarnya dan mendapati Bunda sedang mengetuk - ngetuk pintu kamarnya. Bunda menoleh ketika Aydin sudah berada di sampingnya.


"Kamu itu gak peka banget sama istrimu. Naila juga, Bunda jadi gak suka kalau dia ada di sini. Lihat aja, Kiki mengunci dirinya dalam kamar gara - gara Naila, dan kamu juga malah asik sama dia bukannya ngejar istrimu. Kasihan menantu kesayangan Bunda punya suami gak peka kayak kamu", Bunda melirik tajam Aydin sambil mengomelinya.


"Maaf Bunda. Naila gak percaya kalau Aydin udah nikah, katanya gak mungkin mereka semua gak tau kalau Aydin udah nikah", Aydin menatap sendu Bundanya dan mulai menggerak-gerakkan handle pintu, namun tak kunjung terbuka.


"Ini semua karena pernikahan kalian dirahasiakan, coba kalau secepatnya kalian melaksanakan pesta pernikahan, pasti gak akan seperti ini sekarang", Bunda menepuk - nepuk pundak Aydin untuk menenangkannya.


"Bukan dirahasiakan Bunda, waktu itu kan mendadak nikahnya, takut pikiran orang - orang buruk pada kami. Lagian bentar lagi Kiki lulus, dan kita bisa melaksanakan pestanya karena kesibukannya sudah berkurang", sanggah Aydin.


"Dan segera kasih Bunda cucu", sahut Bunda kemudian.


"Kalau Kiki udah lulus ya Bunda. Bentar lagi kan dia bakal lulus. Kiki udah berusaha agar dia bisa lulus lebih cepat", rayu Aydin dengan senyumnya.


"Terserah kalian asal jangan KB", Bunda memperingatinya dengan ikut mengetuk - ngetuk kembali pintu kamar Aydin yang dikunci Kiki dari dalam.


"Gak bisa dibiarkan ini, Bunda ambil kunci cadangan aja ya di bawah", Bunda turun ke bawah sesudah mendapat anggukan dari Aydin.

__ADS_1


"Sayang.... sayang buka pintunya.... sayang...", Aydin mengetuk - ngetuk pintu dan memanggil - manggil Kiki namun tak juga pintu itu terbuka. Sepertinya Kiki menulikan pendengarannya.


__ADS_2