
Di dalam kamar Naila begitu panik. Namun hatinya bersorak gembira. Kini rencananya pasti berhasil. Karena dia yakin 100% bahwa obat yang diberikannya tadi sangat ampuh.
Naila mendapatkan obat itu dari kakak temannya kuliah. Dia harus membayar mahal obat tersebut. Demi tercapainya keinginannya itu, dia rela menguras dompetnya untuk membuat hancur kebahagiaan Kiki, wanita yang telah mengambil kebahagiaannya. Kini Naila membayangkan dirinya berada di pelukan Aydin menggantikan Kiki. Dia tersenyum licik membayangkan jika rencananya yang selanjutnya akan berjalan mulus kembali.
Ada banyak rencana untuk membuat Aydin dan Kiki berpisah dan ada banyak pula rencana yang dimiliki oleh Naila untuk mendapatkan Aydin. Dia sudah merekam dalam - dalam di otaknya segudang rencananya itu.
Aydin menidurkan Kiki yang tertidur dalam pelukannya tadi. Mungkin dia kelelahan menangis dan terlalu banyak yang dia pikirkan sehingga dia tertidur dalam pelukan suaminya.
Aydin menyelimutinya setelah membaringkannya, kemudian dia mengecup kening istri tercintanya itu yang sedang dirundung kesedihan yang mendalam.
Kemudian Aydin mendekat pada Ayah dan Bunda yang sedang berunding dengan suara yang pelan karena takut menantunya akan terbangun karena terganggu oleh suara mereka. Mereka membicarakan kemungkinan-kemungkinan dan siapa pelaku dari insiden ini. Pikiran Aydin buntu, dia tidak bisa berpikir karena pikirannya penuh akan rasa bersalah, apalagi melihat istrinya yang begitu terpukul dengan kegugurannya.
Drrt....
Tiba - tiba ponsel Ayah bergetar, menjadikan obrolan mereka terhenti. Ayah mengambil ponselnya dari sakunya, dibacanya pesan tersebut. Setelah beberapa detik Ayah membaca pesan tersebut, tiba - tiba Ayah terkaget, kepalanya yang tadinya tertunduk membaca pesan di ponselnya, kini kepalanya terangkat, mendongak melihat Aydin kemudian melihat Bunda. Aydin dan Bunda merasa bingung dengan ekspresi Ayah.
"Ada apa Yah? Apa ada hal yang penting?" tanya Bunda gusar.
"Ayah baru ingat, Bunda,kenapa kita tidak mengecek CCTV aja?" Ayah menatap Bunda dan Bunda tersenyum lega karena itu yang mereka butuhkan saat ini.
"Barusan yang masang CCTV menanyakan apa ada kendala dengan CCTV nya, jika ada kendala kita boleh memanggilnya kapan aja katanya. Ayah baru ingat jika kita melupakan CCTV itu",Ayah tersenyum sedikit lega, namun berharap banyak dari CCTV itu.
"CCTV? CCTV apaan sih?" Aydin bertanya bingung.
"Kita lupa mau ngasih tau kamu. Disaat kalian masih di rumah sakit waktu itu, kami memasang CCTV di setiap sudut ruangan, karena kami takut jika Naila melakukan hal yang buruk pada Kiki, karena kami tidak berhasil mengusir Naila dari rumah, dia selalu saja punya alasan agar kita memberinya sedikit waktu", Bunda menjawab kebingungan Aydin.
"Naila.... ah kenapa kita bisa melupakan dia? Apa mungkin dia yang melakukannya? Tapi selama ini kita tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan dia masih berada di rumah atau tidak, kita tidak tahu", kali ini Ayah yang mencurigai ponakannya.
"Gimana kita bisa ketemu sama dia, orang dia aja menghindar terus dari kita, mungkin takut diusir kali dari rumah", sahut Bunda.
"Pada saat itu apa Naila berada di rumah?" tiba - tiba Aydin mencurigainya.
"Bunda kurang tau juga, cuma saat itu menurut Bik Sum dia sempat menyuruh Bik Sum ke belakang nyariin bajunya. Apa mungkin dia yang melakukan?" Bunda mengingat - ingat kejadian waktu itu.
"Huffft.....", Ayah menghembuskan nafas berat, dia takut jika memang benar pelakunya adalah keponakannya sendiri yang selama ini mereka anggap seperti anak sendiri.
"Ya udah kita liat aja rekaman CCTV nya sekarang", Aydin mengajak Ayah memeriksa rekaman CCTV itu sekarang.
Obrolan mereka terhenti ketika mereka mendengar suara Kiki berbicara dalam tidurnya. "Jangan.... jangan tinggalkan aku... aku mohon... jangan... jangan pergi...", Kiki berteriak dalam tidurnya dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Sayang ada apa? Sayang... bangun, kamu kenapa? Sayang.... sayang....", Aydin mencoba membangunkan Kiki dari tidurnya.
Kiki membuka matanya. Ketika melihat Aydin di dekatnya, dia langsung memeluknya. Dia menangis tersedu - sedu. Mimpinya itu seperti begitu nyata, sehingga Kiki terbawa mimpi itu meskipun sudah tersadar.
"Sayang kenapa? Ada yang sakit?" Aydin membelai lembut wajah Kiki yang basah oleh air mata.
"Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon", Kiki semakin terisak dalam tangisnya.
"Tidak akan sayang... aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah... Aku akan bersamamu sampai kapan pun, kita tidak akan terpisah", Aydin mencoba meyakinkan Kiki.
"Sekarang diam ya, jangan menangis lagi. Kamu kan tau aku sangat sedih jika melihat kamu menangis", Aydin menyeka semua air mata yang memenuhi wajah Kiki.
__ADS_1
Kiki mengangguk dan menghentikan tangisnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, seolah tidak mau terpisahkan.
Bunda mendekat dan mengelus kepala Kiki.
"Sayang udah baikan kan? sini peluk Bunda", Bunda membuka lebar kedua tangannya berharap Kiki mau memeluknya.
"Bunda kangen sekali sama kamu sayang", Bunda mengelus rambut belakang Kiki, kini Kiki berada di pelukan Bunda.
"Sayang bisa disini dulu sama Bunda? Aku ada perlu sebentar dengan Ayah", Aydin meraih tangan Kiki dan menatap matanya, meminta ijin pada kekasih hatinya.
"Kemana? Lama?" pertanyaan Kiki seolah tidak mengijinkan Aydin jauh darinya.
"Sebentar sayang, ada perlu di rumah. Aku sama Ayah, jadi kamu disini di temani Bunda ya. Cuma sebentar, setelah selesai aku pasti langsung balik kesini. Tunggu aku ya sayang. Tolong jangan sedih lagi dan jangan menangis lagi ya...", Aydin membelai lembut pipi Kiki dan dia tersenyum membuat Kiki ikut tersenyum dan mengangguk.
Ayah dan Aydin bergegas menuju rumah dan mulai memeriksa rekaman CCTV di ruang kerja Aydin. Karena hanya di dalam ruangan itulah mereka akan bebas tidak ada gangguan dari siapa pun. Mereka melihat rekaman di dapur, karena yang dicampurkan obat itu adalah susu Kiki yang dibuatkan oleh Bunda di dapur.
Jackpot....
Mereka menemukan rekaman dimana Naila mencampurkan obat itu ke dalam susu yang akan diberikan untuk Kiki. Aydin mengcopy rekaman CCTV itu ke dalam flashdisk. Dia bersiap untuk meminta penjelasan dari Naila.
Ayah dan Aydin bergegas ke kamar Naila karena mereka melihat di rekaman CCTV bahwa setelah dia mencampurkan obat itu pada susu Kiki, Naila berlari ke dalam kamar dengan membawa sendok dan botol obat tersebut. Mereka harap bisa menemukan sendok dan botol obat tersebut agar bisa dijadikan bukti.
Ayah dan Aydin hendak meraih gagang pintu kamar Naila namun pintu itu begitu saja terbuka tanpa mereka sentuh, ternyata pintu tersebut di buka oleh Naila dari dalam yang akan keluar dari dalam kamar tersebut.
Naila kaget karena mendapati Om nya dan Aydin di depan pintu kamarnya.
"O... om, Bang Aydin ada apa di depan kamar Naila?" Naila terbata - bata karena kaget.
Ayah Aydin masuk kamar Naila dan melihat isi dalam sampah yang berada di dalam kamar Naila. Ayah mencari barang yang dicarinya di sampah, karena tadi Ayah dan Aydin juga melihat CCTV di kamar Naila, dan mereka melihat Naila membuang sendok dan botol obat itu di dalam sampah yang berada di dalam kamarnya. Aydin menjaga Naila agar tidak kabur. Ayah sudah menemukan sendok dan botol obat tersebut, setelah itu Ayah membawanya dan menaruhnya di tas kerjanya yang berada dalam kamarnya.
Ketika Ayah meninggalkan kamar Naila, Aydin mulai bertanya pada Naila,
"Kenapa kamu lakukan itu Naila? Padahal aku udah menganggap mu seperti adikku sendiri. Kenapa kamu tega melakukan semua ini? Apa kamu bahagia jika anakku tidak jadi lahir di dunia ini?" Aydin menahan emosinya bertanya pada Naila.
"Ya, aku bahagia. Karena aku mencintaimu Bang, aku ingin aku yang memberikan anak untuk mu, bukan wanita itu, dia tidak pantas menjadi ibu dari anakmu", Naila menatap Aydin dan mendekatinya.
Reflek Aydin mundur ketika Naila mendekatinya dengan tatapan yang menantang.
Bukannya Aydin takut, tapi Naila sulit diprediksi, tingkahnya selalu saja diluar dugaan.
Tiba - tiba saja Naila menerkam Aydin. Tubuh Aydin jatuh ke ranjang dengan Naila berada di atasnya.
"Kamu gila. Awas minggir", Aydin mengenyahkan tubuh Naila dari atas tubuhnya.
"Ayo Bang aku udah siap, aku akan memberikan anak untukmu", Naila semakin merapatkan tubuhnya di atas tubuh Aydin.
"Kamu gila", Aydin mencoba mendorong dan menghempaskan tubuh Naila dari atas tubuhnya. Namun sayangnya Naila berpegang erat pada lengan Aydin, hingga pada saat Aydin mendorongnya ke belakang malah badannya ikut ditarik oleh Naila. Jadilah kini Aydin yang berada di atas tubuh Naila. Aydin menindih tubuh Naila. Mereka sekarang berada di lantai.
Sedangkan Naila sangat menikmatinya. Dia menggesek - gesekkan tubuhnya ke badan Aydin untuk memancing jiwa kelaki - lakian Aydin. Namun Aydin sadar, dia dengan sekuat tenaga melepaskan pegangan tangan Naila yang begitu erat berpegangan pada lengannya. Tidak hanya itu, dia juga merapatkan bagian bawah tubuhnya dengan mengunci kedua kakinya di belakang tubuh Aydin.
Hingga Aydin tidak dapat bergerak.
__ADS_1
Naasnya pada saat itu pintu kamar tiba - tiba terbuka, tampak di depan pintu ada Ayah, Bunda dan Kiki. Mereka bertiga kaget ketika membuka pintu mendapati Aydin dan Naila pada posisi seperti itu. Kiki mematung melihat pemandangan di depannya, dia membisu, dia kembali syok, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya kondisi mental Kiki dipermainkan oleh keadaan, baru saja dia kembali normal dan memaksa pulang karena perasaannya yang tidak enak dan dia ingin sekali berada di pelukan suaminya, oleh karena itu Dokter membolehkan Kiki pulang, biarlah Dokter yang memeriksanya di rumahnya tiap hari, sekarang dia kembali dibuat syok, dan kembali lagi dia membisu melihat suaminya dalam posisi seperti itu dengan wanita yang pernah dalam kondisi duduk dipangkuan suaminya.
"Aydin!!!" Bunda memekik kaget melihat anaknya dalam posisi seperti itu. Lagi - lagi dengan Naila dan disaksikan oleh Kiki, istri dari Aydin.
Aydin dan Naila menoleh. "Bunda, Ayah, sayang... ini, ini salah paham", Aydin mencoba melepaskan diri dari Naila namun Naila masih saja menguncikan kedua kakinya di belakang tubuh Aydin, sehingga Aydin tidak dapat lepas darinya.
"Apa - apaan ini?" Ayah mendekat dan melepas paksa kaki Naila yang mengunci badan Aydin.
"Ayah, ini tidak seperti yang kalian lihat", Aydin mencoba menjelaskan namun karena bingung dia tidak menemukan kata yang pas untuk diucapkannya.
"Kamu... kamu kurang ajar sekali", Ayah membangunkan Naila dengan paksa.
"Kenapa, kenapa Om? Aku mencintai Bang Aydin. Aku juga bisa memberikannya anak. Tidak seperti wanita itu yang tidak bisa menjaga anak yang dikandungnya, dia tidak pantas menjadi seorang Ibu, dia pembunuh.
Dan juga belum tentu dia bisa hamil kembali karena dia habis keguguran, sepertinya akan sulit baginya untuk hamil lagi. Allah tidak akan mempercayakan anak pada seorang wanita yang tidak bisa menjaga anaknya"
Plak...
Belum selesai Naila berbicara, Ayah Aydin telah menamparnya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah dan omongan yang keluar dari mulut keponakannya yang ternyata sangat jahat dan licik.
"Om, om nampar aku?" mata Naila kini berkaca - kaca mengiba seolah - olah dia yang dizalimi.
"Diam kamu! Kamu sudah Om peringatkan tapi malah ngelunjak. Ingat, perbuatan kamu sudah kami ketahui, kamu harus bersiap - siap karena kami sudah mengantongi semua bukti yang membuktikan bahwa kamu seorang pembunuh, kamu tega membunuh anak dalam kandungan Kiki", wajah Ayah memerah, dia murka menghadapi keponakannya yang luar biasa liciknya ini.
Aydin menatap Kiki yang pandangannya kembali kosong dengan dipeluk Bunda, namun dia hanya diam mematung tanpa merespon apapun. Aydin mendekati Kiki, namun Kiki hanya diam saja dengan menatap lurus ke arah dia dan Naila tadi berada.
"Sayang....", Aydin mencoba meraih tangan Kiki, namun Kiki tersadar dan dia lari menuju kamarnya dengan Aydin.
"Bunda...", Aydin menatap Bunda dengan penuh kesedihan meminta tolong pada Bundanya.
"Cepat susul dia, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi", Bunda mendorong tubuh Aydin untuk cepat menyusul Kiki yang berlari menuju kamarnya.
Aydin terlambat. Lagi - lagi pintu kamar terkunci dari dalam. Pikiran Aydin tambah gundah, dia takut Kiki melakukan hal - hal yang berbahaya, apalagi dia sekarang dalam keadaan syok setelah melihatnya dengan Naila dan mendengar omongan Naila yang membuat Kiki kembali menyalahkan dirinya atas kegugurannya.
Aydin lari ke lantai bawah, dia bergegas mencari kunci cadangan kamarnya. Bunda membantu Aydin mencari kunci cadangan itu, sedangkan Ayah masih menyidang Naila.
Bunda dan Aydin kembali ke kamar Aydin yang berada di lantai atas dan membuka pintunya setelah berhasil menemukan kunci cadangannya.
Di kamar tersebut sangat sepi, bahkan tidak ada tanda - tanda Kiki berada di kamar tersebut. Aydin berlari ke balkon, dilihatnya sekeliling balkon tersebut, tapi tidak ada sosok istrinya di sana. Kemudian dia melihat ke luar di bawah balkon, namun dia tidak mendapatkan pertanda apapun.
Bunda mencoba berkeliling kamar dan walk in closet namun Bunda juga tidak menemukan menantunya itu. Hanya ada satu ruangan yang belum mereka periksa. Akhirnya Aydin membuka pintu kamar mandi, namun pintunya terkunci dari dalam, Aydin mengambil kembali kunci yang menempel pada pintu depan kamarnya tadi, kunci itu jadi satu dengan kunci - kunci pintu lain yang ada di kamar Aydin. Pintu kamar mandi sudah berhasil dia buka.
"Astaghfirullahal 'adziim.... Kiki...." , Bunda menjerit melihat tubuh Kiki yang terendam air di dalam bathub dengan kepala yang juga masuk dalam air.
Aydin berlari dan segera mengangkat tubuh Kiki dari bathub. "Sayang.... sayang bangun... aku mohon bangun sayang....", Aydin menangis memeluk tubuh Kiki yang lemas tak sadarkan diri.
Segera dia memberikan nafas buatan karena saking paniknya dia tidak memeriksa dulu, tapi dia langsung memberikan nafas buatan. Kiki mengeluarkan sedikit air dari dalam mulutnya. Kemudian Aydin menempelkan telinganya ke dada Kiki, dia mendengar detak jantungnya, kemudian dia memeriksa nafasnya dan dia merasakan hembusan nafas Kiki.
Tadinya Bunda lemas dan terduduk di lantai ketika melihat badan Kiki yang terendam air dalam bathub, namun Bunda segera sadar, dia mengambil handuk dan mengambil baju ganti untuk Kiki agar tidak kedinginan.
Aydin memeluk tubuh Kiki dengan erat, namun tidak juga ada reaksi dari Kiki. Bunda cemas akan keadaan menantunya itu, hingga Bunda memerintahkan Aydin untuk membawa Kiki kembali ke rumah sakit. Aydin membopong Kiki menuruni tangga dan masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Sedangkan Bunda berpamitan pada Ayah untuk kembali ke rumah sakit. Bunda membisikkan keadaan Kiki, bisikan Bunda itu sukses membuat Ayah melotot kaget dan dia kembali marah pada keponakannya yang lucknut itu. Ayah mengancamnya akan melaporkannya ke polisi. Namun Naila tak gentar, dia tidak takut sama sekali karena dia tidak tahu jika Om nya itu sudah mempunyai bukti yang memberatkan dia. Naila masih tetap saja mengelak.