Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
83


__ADS_3

Kiki melihat lelaki yang memanggilnya dengan nama Kiara yang ada di sampingnya. Kiki mengingat-ingat sosok yang kini berada di dekatnya.


Karena Kiki menatapnya lama, Aydin jadi merasa cemburu. Dia mendengus kesal karena rencananya untuk bermesra-mesraan dengan Kiki terganggu.


"Kamu siapa?" tanya Kiki sambil berpikir.


Lelaki itu tersenyum dan mengambil bangku kosong yang ada di meja lain untuk didudukinya didekat Kiki.


Aydin melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia menatap tajam pada lelaki tersebut.


"Kamu gak ingat sama aku?" tanya lelaki itu dengan tangannya menopang dagunya menghadap ke wajah Kiki.


"Enggak. Kamu kenal sama aku?" tanya Kiki balik.


Aydin semakin geram karena mereka malah mengobrol berdua dan menganggapnya seolah tidak ada disitu.


"Siapa sih yang gak kenal dengan Kiara si gadis cantik yang penuh bakat dan prestasi?" ucap lelaki tersebut dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


Aydin masih menyimak obrolan mereka berdua yang tentunya dengan menahan sekuat tenaga rasa cemburunya.


"Tapi aku gak kenal sama kamu tuh," jawab Kiki enteng sambil meminum orange juice nya.


"Ya maklum aja sih udah lama kita gak ketemu. Aku Rasya ketua OSIS di SMA Persada," Rasya menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Kiki.


"Ooo... maaf ya aku gak ingat. Hehehe... udah lama sih. Terus kamu disini ngapain?" Kiki bertanya dengan cueknya sambil memakan makanannya.


"Aku sekarang kerja di kota ini. Ikut Papaku ngurusin bisnisnya disini," jawab Rasya yang masih memandangi wajah Kiki meskipun diacuhkan oleh Kiki karena sedang menyantap makanannya.


"Ooo gitu," jawab singkat Kiki sambil mengunyah makanannya.


"Kamu gak pernah ikut reuni kita di Malang?" tanya Rasya kembali.


Kiki hanya menggeleng dan masih menyantap makanannya. Sedangkan Aydin mulai geram dengan Rasya yang selalu bertanya dan tidak mengerti situasi. Aydin mengusap mulut Kiki yang belepotan dengan tisu.


"Ini kakak kamu yang waktu itu pernah jemput di sekolah ya?" tanya Rasya yang melihat Aydin sebagai kakak yang sangat perhatian pada adiknya.


Kiki menoleh pada Aydin dan menahan senyumnya melihat Aydin yang bermuka masam karena dikira kakaknya Kiki oleh Rasya. Aydin tidak terima, dia akan menjelaskan bahwa dia suami Kiki agar Rasya tidak lagi mengganggunya.


Baru saja Aydin membuka mulutnya, namun ada suara yang menghentikannya.


Rasya...


Suara beberapa lelaki lain yang sepertinya teman Rasya memanggilnya.


"Sorry Ki, aku pergi dulu ya. Oh iya beberapa minggu lagi ada reuni di Malang, kamu datang ya. Nanti bakalan aku kabarin lagi. Emm.... nomer kamu Ki," Rasya menyodorkan ponselnya pada Kiki.


"Rasya ayo buruan!" seru teman Rasya.


"Ya udah deh Ki, aku DM kamu aja ya nanti. Bye Kiara....," Rasya berlalu pergi setelah tersenyum manis pada Kiki.


Kiki hanya melongo melihat Rasya yang begitu cepat dan tergesa-gesa sehingga tidak memberi kesempatan untuk dia berbicara.


"Ehemm... senengnya ketemu teman lama, cowok pula," sindir Aydin pada Kiki.


"Teman? kalau teman pasti aku kenal dong. Nah ini aku gak ingat dia, berarti dia salah satu fans ku di sekolah," ucap Kiki sambil nyengir mengingat masa SMA nya yang selalu mendapat kado dari cowok-cowok dan selalu di dekati cowok-cowok.


"Seneng ya ketemu sama fans nya?" sindir Aydin yang masih bermuka masam.


"Dih cemburu bilang aja, gak usah ditahan-tahan gitu," Kiki menggoda suaminya yang cemburuan.


"Au ah, niatnya mau mesra-mesraan, malah datang pengganggu. Udah pulang aja," Aydin berdiri daei duduknya, namu Kiki tetap tak beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Kiki masih menikmati makanan penutup yang masih utuh belum mereka makan.


Aydin duduk kembali karena melihat istrinya yang malah asyik menikmati makanannya.


"Sayang, ayo pulang," ajak Aydin.


"Males, lagi enak-enaknya disini malah diajakin pulang," ucap Kiki dengan mulut penuh makanan.


"Habisnya tadi kamu malah keenakan ngobrol sama pengganggu itu tadi, jadi hilang kan mood aku," ucap Aydin kesal.


"Biasa aja dong, kesal mana sama liat suami gandengan sama wanita lain?" sindiran Kiki yang berhasil membuat Aydin kembali merasa bersalah.


Glek!


Aydin menelan ludahnya, rasa bersalah itu hadir kembali, dan rasa takut ditinggalkan oleh istrinya pun menghantuinya.


"Sayang, udah dong, maafin aku ya," ucap Aydin mengiba sambil memegang erat kedua tangan Kiki.


"Dimaafkan asal janji gak bikin kesel lagi," jawab Kiki kemudian berdiri untuk memandangi pemandangan malam dari dataran tinggi ini.


Aydin melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kiki dan mencium pipi kanan Kiki dan merambah ke tengkuknya.


Kiki memukul tangan Aydin yang tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Aydin terkekeh karena Kiki sudah terpancing dan sedikit mengeluarkan suara khas seperti ketika mereka sedang melakukan kegiatan pergulatan mereka.


"Sayang, kangen...," rengek Aydin memberi kode pada Kiki.


"Tahan dulu, bagus ini pemandangan malamnya, aku suka," ucap Kiki yang kini membalikkan badannya dan memberi kecupan singkat pada bibir Aydin.


"Lah kan malah mancing-mancing. Ayo dong... udah gak nahan nih," rengek Aydin berbisik di telinga Kiki.


"Percuma sayang, kan jarak dari sini ke rumah jauh... jadi ya harus di tahan," senyum Kiki dengan senyuman menggoda dan kerlingan matanya yang membuat Aydin semakin terpancing.


"Gapapa, dari pada pulangnya nanti kan jadi semakin lama," Aydin menarik tangan Kiki dengan perlahan dan menggandengnya hingga masuk ke dalam mobil.


Di tempat tersebut sangat ramai dengan muda-mudi yang sedang berkumpul bersama teman-teman mereka. Ada pula yang bersama pasangan mereka.


Kiki mengajak Aydin keluar untuk membeli beraneka macam makanan dan minuman untuk menemani mereka menikmati malam dengan pemandangan yang jarang mereka temui.


Aydin sangat kesal karena keinginannya belum tersalurkan. Dia harus mati-matian menahannya agar selamat dari ancaman sang istri yang membahayakan kelangsungan hidupnya.


Mata Aydin menangkap segerombolan anak muda yang memandang takjub dan penuh minat pada Kiki. Sungguh Aydin bertambah kesal karena di kehamilannya yang masih belum terlihat perutnya ini, Kiki makin terlihat lebih menggairahkan. Sampai dia saja yang tiap hari bersama, selalu merasa ingin dekat dengan istrinya ini.


Aydin memakaikan jaketnya pada tubuh Kiki dan memeluk tubuh Kiki dengan posesif. Dia tidak ingin tubuh istrinya ini dilihat oleh lelaki lain.


Kiki tidak curiga apa-apa pada suaminya. Malah Kiki tindakan Aydin ini romantis, seperti melindungi wanitanya dari dinginnya udara malam.


Tidak tahu saja Kiki jika itu karena mata para pemuda yang masih saja melihat Kiki meskipun kini Kiki sedang dipeluk oleh Aydin.


Di lain tempat, tepatnya di rumah Raditya. Raline, anak Raditya dengan Linda kini sedang merengek meminta agar Kenan tidak pulang. Raline memang sangat dekat dengan Kenan semenjak Kenan sering ke rumah Renita setelah mendapat restu dari Abah dan Ambu.


Raline meminta Kenan dan Renita untuk mengajaknya jalan-jalan ke pasar malam. Kenan tidak bisa menolaknya karena tentu saja sudah bisa dipastikan Raline akan menangis jika tidak dituruti.


Kini Raline dan Renita sedang berada di pasar malam tidak jauh dari daerah tempat tinggal Renita. Kenan menggendong Raline layaknya seorang Ayah muda yang sangat mencintai keluarganya. Tangan kirinya menggendong Raline dan tangan kanannya menggandeng Renita.


Ada seorang lelaki memanggil nama Renita. Dan tentu saja ketika lelaki itu mendekati mereka, Kenan dengan sigapnya menarik tangan Renita agar menjauh dari tempat itu.


"Iiih Abang, itu kan temanku... gak sopan ih disamperin malah ditinggal," ucap Renita dengan kesal.


"Teman itu cewek sayang, kalau cowok itu calon-calon pengganggu. Aku gak mau ya kamu dideketin sama cowok lain," ucap Kenan posesif.


"Temen juga ada yang cowok Abang... Au ah, dikit-dikit cemburu, jadi gak punya temen kan aku," ucap Renita yang masih kesal.

__ADS_1


"Gapapa gak punya temen cowok, kan temen cewek masih banyak," jawab Kenan yang masih menggandeng tangan Renita dengan berjalan tanpa tujuan.


"Dih sok tau, meskipun digituin juga tetep bisa ketemu kok, tiap hari malah," Renita yang sedang kesal melepaskan tangan Kenan dan berjalan mendahuluinya.


"Sayang... maksud kamu apa? Kalian tiap hari ketemu?" tanya Kenan khawatir.


"Ya iyalah, orang dia anak Pak Sardi tetanggaku yang rumahnya pas di pengkolan," jawab Renita sambil menahan senyum melihat ekspresi kaget dan kecewa pada wajah Kenan.


"Ante aik itu," ucap Raline menunjuk bianglala yang berhiaskan lampu warna-warni berputar-putar di hadapannya.


"Yuk naik," ajak Renita dengan menggandeng tangan Kenan.


Setelah Renita membeli tiket, mereka naik bertiga dalam satu keranjang. Raline sangat senang hingga dia tertawa dan bertepuk tangan ketika bianglala mulai bergerak naik dan turun.


"Raline sayang... bisa gak tutup matanya sebentar aja?" dengan berbisik Kenan bertanya pada Raline yang berada di pangkuannya.


Raline menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Renita menatap heran Kenan dan Raline bergantian karena dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


Kemudian Kenan melambaikan tangannya pada Renita yang berada di depannya agar dia bisa lebih mendekat pada Kenan. Renita pun mendekat sesuai perintah Kenan, dan...


Cup...


Bibir Kenan mendarat di pipi kanan Renita. Dan sialnya pada saat pipi Renita dicium oleh Kenan, mata Raline sudah tidak tertutup lagi oleh tangannya. Dengan polosnya Raline bertepuk tangan dan tertawa sambil berkata, "Horeeee....."


Renita melotot dan mencubit lengan Kenan berkali-kali sampai Kenan mengadu kesakitan.


Sesampainya di rumah, Raline disambut oleh Abah, Ambu, Raditya dan Linda di teras rumah. Raline digendong oleh Abah dan dicium pipinya dengan gemas oleh Abah.


"Abah dong dicium juga," pinta Abah pada Raline.


"ciyum?" ulang Raline sambil mencium pipi Abah.


"Ante adi juga diciyum cama om," adu Raline pada Abah.


Sontak saja Kenan mengkerut mendengar perkataan jujur dari Raline yang matanya tadi sudah ternodai oleh perbuatannya.


"Kenan....," mata Abah melotot pada Kenan yang semakin mengkerut karena ketakutan jika restunya dicabut.


"Maaf Abah... khilaf," ucap Kenan dengan takutnya.


"Udah, lebih baik kalian nikah saja," ucap Abah.


"Abah...," Renita memprotes untuk dinikahkan karena menurutnya dia masih sangat muda.


"Yess!" seru Kenan kegirangan.


Kesenangan Kenan berbeda dengan Aydin yang sudah memiliki ikatan halal dengan Kiki. Kini sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba Kiki meminta untuk berhenti di sebuah pinggiran jalan yang sepi dan jarang dilewati orang karena bukan jalan utama.


"Sayang... disini yuk," Kiki mengerlingkan matanya menggoda Aydin.


"Hah? Yakin sayang disini?" tanya Aydin yang tidak percaya dengan ucapan istrinya.


"Ayo... pengen nih...," ucap Kiki manja.


"Jangan disini sayang, bahaya. Kita cari penginapan dulu ya," bujuk Aydin.


"Gak mau, ini dedek bayi minta ditengokin sekarang," rengek Kiki sambil melancarkan aksi jari-jarinya yang bergerilya di dada Aydin.


Aydin yang sedari tadi menahan hasratnya pun akhirnya terpancing dan terjadilah adegan mobil bergoyang di sana.


Dengan santainya mereka melakukannya hingga tercapailah puncak kenikmatan mereka dalam mobil yang bergoyang itu.

__ADS_1


"Kalian sedang apa di dalam?" teriak seorang pria dari luar mobil mereka


__ADS_2