Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
231


__ADS_3

Pemakaman kembali diadakan di pemakaman tempat tinggal Resti. Rumah yang kemarin berduka secara beruntun, kini berduka kembali.


Rumah itu kini tak berpenghuni. Baru semalam ayah Resti merasakan malam sunyi dengan hawa dingin menyelimuti rumah tersebut, kini rumah itu benar-benar tidak ada kehangatan sama sekali.


Semua penghuninya meninggal dengan tragis. Sempat para tetangga yang sering membicarakan Resti itu kini menjadi ketakutan jika melewati rumah tersebut.


Keluarga Resti meninggal hanya karena Resti. Semua masalah berasal dari Putra yang tidak mau bertanggung jawab pada kehamilan Resti.


Hingga pada saat pemakaman pun Putra tidak datang. Dia sangat ketakutan dengan rasa takutnya sendiri. Apalagi dia mendengar dari teman-temannya yang mencari tahu di sana bahwa semua keluarga Resti meninggal setelah Resti dimakamkan.


Mereka pun memberi tahu sebab meninggalnya ibu Resti pada Putra. Sungguh Putra merasa sangat bersalah. Namun semua sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Dia hanya bisa menanggung perasaan bersalahnya yang selalu menghantuinya di setiap kesempatan.


Ali tidak memberi tahu kabar meninggalnya Resti dan keluarganya pada Rania. Dia tidak ingin Rania merasa bersalah atas kematian Resti yang merupakan teman satu kelasnya.


Resti memang mempunyai hati yang busuk, namun Rania merasa prihatin padanya. Setiap hari pasti Rania mempertanyakan pada Ali kabar Resti.


Dia juga mempertanyakan pernikahan Resti pada Ali. Namun sebisa mungkin Ali menutupi berita duka itu dari Rania.


Bukannya Ali tidak iba pada keluarga Resti, tapi Ali hanya tidak ingin hubungannya dengan Rania berakhir karena rasa bersalah Rania pada Resti.


Suasana berduka masih terasa di kampung Resti. Daerah rumah Resti selalu sepi setiap sesudah isya. Entahlah, mereka sebenarnya berduka atau takut melewati rumah Resti. Sehingga tampak horor di sekitar rumah yang dulu ditinggali oleh Resti.


...----------------...


"Yes, aku berhasil masuk universitas sesuai keinginanku!" Raline berteriak sambil melonjak-lonjak kegirangan melihat hasil yang dia tunggu-tunggu semenjak pagi.


"Selamat Cantik, semua orang pasti senang mendengar berita ini," ucap Kiki sambil memeluk Raline.


Kini mereka berada di cafe milik Aydin untuk menunggu Aydin, Raditya, Kenshin dan Miyuki.


"Kalau Tristan masuk universitas mana sayang?" tanya Kiki ketika sudah melepaskan pelukannya dari tubuh Raline.


"Sepertinya sama deh Mi. Raline kurang tau juga sih, gak nanya soalnya," jawab Raline sambil menunjukkan senyum lebarnya.


Kiki hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Raline.


"Kenapa sih Mi, kok kayaknya Mami pengen tau banget?" Raline bertanya dengan menampilkan senyumnya yang seolah menggoda maminya itu.


"Gapapa, Mami cuma pengen tau aja," jawab Kiki sambil terkekeh.


Ya Mami pengen tau aja calon mantu Mami kuliah di mana, pinter apa gak, Kiki berkata dalam hatinya setelah menjawab pertanyaan Raline.


"Mami......!"


Suara cempreng dan keras itu berasal dari depan pintu cafe yang membuat seluruh pengunjung cafe menoleh padanya.

__ADS_1


"Miyuki?!" celetuk Raline ketika melihat Miyuki berjalan ke arah mereka.


"Princess, gak boleh teriak-teriak gitu ih. Gadis kok teriak-teriak kayak di hutan," ucap Kiki sambil memberikan tangannya untuk dicium Miyuki ketika sudah sampai di meja mereka.


"Kata Uncle Kevin, Miyuki mirip Mami," jawab Miyuki dengan wajah lucunya sambil menggerak-gerakkan matanya.


Sontak saja Raline tertawa mendengar ucapan Miyuki yang sama saja mengatakan Maminya berkelakuan sama seperti dirinya.


Kiki membesarkan bola matanya melihat Miyuki yang tersenyum dengan imut dengan matanya yang bergerak-gerak lucu.


Tidak berapa lama satu persatu orang yang mereka tunggu sudah datang. Mereka makan bersama untuk merayakan berhasilnya Raline masuk ke universitas yang diinginkannya.


Universitas itu mengingatkan Kiki akan masa kuliahnya bersama dengan Raditya, Aldo dan Riri.


Kini mereka sudah mempunyai kehidupan mereka masing-masing. Bahkan Aldo dan Riri yang sudah menikah pun jarang berkumpul dengan Raditya dan Kiki jika tidak pada saat ada acara.


Di tempat lain, seorang pemuda bergembira karena berhasil masuk universitas yang sama dengan pujaan hatinya, bahkan dia sudah memberikan label calon istri untuk gadis tersebut.


"Yes!!! Akhirnya... akhirnya aku akan bebas bersama dengan Raline tanpa gangguan dari si Ken Ken itu."


Tristan berjingkrak senang merayakan keberhasilannya. Kini dia bisa setiap hari bertemu dengan Raline tanpa diganggu oleh Kenshin lagi.


"Dia dulu selalu mengganggu kami karena kami masih satu sekolah. Dan sekarang dia masih berada di sekolah itu, sedangkan kami sudah berada di universitas," ucap Tristan sambil terkekeh senang.


Tristan berhasil masuk universitas yang sama dengan Raline dan dengan jurusan yang sama pula. Memang Tristan mengikuti Raline dengan niat untuk bisa selalu bersama dengan Raline dan menjaganya dari laki-laki yang ingin mendekatinya.


Kenshin memang merasa kesepian tidak bisa melihat Raline di sekolah tersebut. Namun dia senang karena kini dia bisa mengantar jemput Raline menggunakan mobilnya sendiri.


Pagi itu hari awal Raline sebagai mahasiswa baru. Dia sudah menerima perjanjian antar jemput dari Kenshin. Raline sendiri tahu jika tidak ada yang bisa menghentikan niat Kenshin kalau dia sudah memutuskan keinginannya.


Selama itu baik dan tidak menyimpang, Kiki dan Aydin tidak pernah menghentikannya, namun mereka tetap mengawasinya.


Begitupula dengan Miyuki dan Raline. Raditya juga mendukung ketiga anak tersebut bersama Kiki dan Aydin.


Tin!


Tin!


Tin!


Kenshin membunyikan klakson mobilnya di depan rumah Raline, kemudian dia turun dari mobilnya untuk masuk ke dalam rumah berpamitan pada Raditya.


Raditya sudah pindah ke rumahnya sendiri bersama dengan Raline sejak dua tahun yang lalu.


"Pagi Ayah," sapa Kenshin pada Raditya yang baru keluar dari dalam rumahnya karena mendengar klakson mobil yang dibunyikan Kenshin tadi.

__ADS_1


"Pagi Tuan Muda Ken," Raditya menjawab sapaan Kenan seperti biasanya.


"Belum siap dia Yah?" tanya Kenshin pada Raditya sambil menengok-nengok ke arah dalam rumah.


"Sepertinya belum. Tadi dia masih di kamarnya. Sarapannya saja belum dimakan," jawab Raditya.


"Ken susul ke dalam boleh Yah?" tanya Kenshin kembali pada Raditya.


"Kayaknya percuma deh meskipun Ayah bilang gak boleh," jawab Raditya sambil terkekeh.


Kenshin pun tertawa sambil berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamar Raline.


"Cantik...."


Tok... tok... tok...


"Cantik, udah belum? Lama banget sih?"


Kenshin mengetuk-ngetuk pintu kamar Raline dengan memanggil namanya.


"Masuk!"


Raline berseru dari dalam kamarnya.


Ceklek!


Kenshin pun membuka pintu kamar Raline dan melihat Raline yang sedang memakai jaketnya di depan cermin besar yang ada di alam kamarnya.


"Eh Ken, udah datang? Aku udah siap nih. Yuk berangkat," ucap Raline sambil tersenyum memakai sling bag nya.


Kenshin memandang Raline dengan senyum yang mengembang, dan dia masih mengagumi gadis yang ada di hadapannya.


"Yuk, mau sarapan dulu gak?" tanya Raline ketika akan menutup pintu kamarnya.


"Boleh. Tau aja kalau aku belum sarapan," jawab Kenshin sambil terkekeh.


Sedangkan di depan rumah Aydin dan Kiki, kini mobil Tristan sudah terparkir di sana.


"Maaf Mas, mau nyari siapa ya?" tanya satpam yang berjaga di pos keamanan rumah Aydin.


"Raline sudah berangkat Pak?" tanya Tristan pada satpam tersebut.


"Non Raline?" satpam tersebut mengingat-ingat kehadiran Raline di rumah tersebut.


Ah mungkin kemarin malam datangnya Non Raline, dan tadi pagi-pagi sekali mobil Tuan Muda Ken keluar, pasti mengantar Non Raline, satpam tersebut berkata dalam hatinya.

__ADS_1


"Tadi pagi-pagi sekali berangkatnya Mas," jawab satpam tersebut memberitahukan pada Tristan.


Hah, jam segini udah berangkat? Padahal aku udah berangkat pagi sekali tadi. Ya.... gagal deh.


__ADS_2