
Hari ini hari dimana dilakukannya aqiqah untuk anak Raditya dan Linda.
Aldo,Kiki dan Riri datang ke rumahnya untuk membantu.Mereka membantu dari awal sampai acara berakhir.
Hari sudah sangat sore,dan acara pun berakhir.
Bayi perempuan yang diberi nama Raline Pratama ini mendapatkan banyak doa dari orang-orang yang datang.Keluarga Raditya sangat senang dengan kehadiran sahabat-sahabat SMA nya,dan mereka mengucapkan banyak-banyak terima kasih.
Banyak foto yang Raditya ambil ketika Kiki menggendong baby Raline dengan senyum manisnya.Berbagai macam pose dia abadikan.
Entah apa yang dipikirkannya,hanya saja dia ingin mengabadikan objek yang ada di depannya itu.
Raditya ingin mengantar Kiki pulang,namun Kiki melarang karena tuan rumahnya harus ada di rumah pada saat hajatan seperti ini.
Kemudian Raditya menyuruh Aldo untuk mengantar Kiki pulang,namun lagi-lagi Kiki menolak dengan alasan Aldo harus mengantar Riri pulang,biar Kiki meminta untuk dijemput Kak Kevin saja katanya.
Ternyata sore ini Kevin masih bergelut dengan tugasnya di perpustakaan kampusnya.Dia bersama Aydin kali ini,sahabat-sahabatnya yang lain baru saja keluar ke kantin untuk mengisi amunisi mereka.
Drrrt.....
Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar,dan dilihatnya nama Kiki tertera disana.Kevin mematikan panggilan dari Kiki dan mengirim pesan bahwa dia tidak bisa mengangkat telepon saat ini.
Kiki membalas pesan Kevin dengan mengatakan bahwa dia ingin minta jemput di rumah Raditya.Namun Kevin menyuruh untuk pulang diantar Raditya saja seperti biasanya.
Memang Kevin belum tahu kalau Raditya sudah menikah,bahkan sekarang sudah mempunyai anak.
Kiki menjawab pesan Kevin dengan mengatakan bahwa Raditya sedang sibuk,tidak bisa mengantar.
Aydin melihat Kevin yang sedang resah dan menanyakan apa yang membuat dia gelisah.
Akhirnya Kevin meminta tolong pada Aydin untuk menjemput Kiki di rumah temannya.
Kemudian Kevin memberitahu Kiki bahwa yang menjemputnya adalah Aydin dan Kevin pun memberikan Kiki nomer ponsel Aydin untuk mengirim lokasi dia berada saat ini.
Riri sudah diantar pulang oleh Aldo.Dan Kiki masih menunggu orang yang menjemputnya di teras rumah di temani oleh Renita,Ambu,Raditya dan baby Raline yang sekarang ini sedang anteng dalam gendongan Kiki.
Linda sedang beristirahat di kamarnya,karena sesuai anjuran dokter,Linda masih harus banyak beristirahat.
"Mbak Kiki udah pantes tuh jadi ibu",goda Renita pada Kiki.
"Iya nih,Ambu perhatikan Kiki seneng banget gendong bayi,mana bayinya anteng kalau kamu gendong.Udah pantes itu berarti",Ambu pun ikut menggoda Kiki.
Raditya memperhatikan Kiki sedari tadi.Mambayangkan Kiki yang menjadi istrinya dan menggendong anak mereka.
"Gak tau nih Ambu,anteng banget kalau Kiki gendong.Mungkin jiwa ke emak-emak an Kiki yang membuat bayi bisa anteng",cengir Kiki kemudian.
"Ehem....",dehem Renita melirik Raditya.
Raditya pun tersadar dari lamunannya,kemudian dia kembali menyimak obrolan mereka tanpa berkomentar.
"Tenang aja,kalau udah nikah pasti nanti bikin",canda Kiki sambil tertawa.
Baby Raline yang berada pada gendongannya sampai berjingkat kaget karena tawa Kiki.
Namun Kiki bisa menenangkannya kembali dengan menepuk-nepuk pelan bokong baby Raline dan diayun-ayun pelan badannya.
Ambu yang melihat itu tersenyum dan berkata,
"Tuh,udah pinter banget ngurus bayinya,kapan nikahnya?"
"Emang udah ada calonnya mbak?" tanya Renita penasaran sambil melirik Raditya.
"Masih otw",jawab enteng Kiki.
Raditya dibuat bingung dengan jawaban Kiki,karena selama akhir-akhir ini mereka dekat lagi,dia tidak pernah tahu Kiki dekat dengan cowok mana pun.
Tiba-tiba ada suara motor yang berhenti di depan pagar rumah Raditya.Mereka semua menoleh ke arah luar pagar.Pagar rumah memang dibuka lebar karena sedang ada hajatan di rumah itu.
Kiki yang mengenali motor sport Aydin karena Aydin sering ke rumah menemui Kevin menggunakan motor itu.
Kiki beranjak dari duduknya dan memberikan baby Raline ke gendongan Ambu.
"Itu mbak yang katanya otw tadi?"Renita dengan keponya bertanya.
Raditya menatap ke arah cowok yang masih berada di atas motor itu.Sepertinya dia mengenali motor itu,namun segera ditepisnya pikirannya itu karena tidak mungkin orang yang dimaksudnya itu kenal dengan Kiki.
"Otw?",tanya Kiki heran.
"Tadi pas ditanya kapan nikah,katanya calonnya lagi otw",jawab polos Renita.
__ADS_1
"Hehehe....maksudnya otw masih belum bertemu Re....Kalau itu mah temennya Kak Kevin disuruh Kak Kevin jemput aku,Kak Kevin sibuk katanya",jelas Kiki.
Hati Raditya seperti tercubit ketika cowok yang katanya menjemput Kiki itu sedang berjalan masuk untuk menghampiri mereka.Aydin,sesuai dengan cowok yang ada dipikiran Raditya tadi,dan Raditya mengenal cowok ini.Dan apa hubungan mereka sebenarnya? Apa kado yamg kemarin untuk Kiki? Tapi Kiki selama ini tidak pernah memakai barang itu.Aah,mungkin untuk cewek lain.
Pikiran Raditya melayang kemana-mana dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
"Bang,bentar ya,Kiki pamit dulu",sambil tersenyum Kiki mengatakannya.
Dan Aydin yang sudah berada di depan mereka membalas senyum Kiki dan menganggukkan kepalanya.
Setelah Kiki pamit,dia berjalan ke arah motor Aydin yang berada di depan pagar rumah Raditya.
Aydin berpamitan pada mereka,dan ketika Aydin berpamitan pada Raditya,dia pun berpesan pada Aydin,
"Hati-hati ya Bang.Nitip Kiki"
Aydin pun tersenyum dan mengangguk.
Kemudian dia berjalan ke luar pagar menuju tempat Kiki dan motornya berada setelah mengucapkan salam pada mereka.
Raditya masih menatap sendu Aydin dan Kiki yang sedang berboncengan.Harusnya hanya dia yang boleh membonceng Kiki seperti itu.
Namun dia sadar,kini hubungan mereka hanya sekedar sahabat.
Motor Aydin menyusuri jalan dengan kecepatan sedang.Seperti halnya Raditya yang biasanya membonceng Kiki dengan kecepatan sedang karena ingin menikmati waktu berdua bersama Kiki,begitu pula dengan Aydin.
Aydin menyuruh Kiki untuk berpegangan erat,namun Kiki masih merasa sungkan karena baru kali ini mereka berboncengan,pakai motor sport lagi.Bisa dibayangin kan gimana posisinya pas dibonceng.Hal yang paling dibenci oleh Kiki,dibonceng menggunakan motor sport,bisa berakibat buruk pada punggungnya jika berlama-lama.
Kiki hanya berpegangan pada jaket yang menempel pada pinggang Aydin.Namun Aydin tidak bisa memaksa Kiki untuk berpegangan lebih erat lagi,karena memang pada dasarnya dia cuek dan bahkan terkesan dingin.
Motor Aydin berbelok ke sebuah danau.Kiki terheran melihat danau tersebut,karena selama ini dia tidak pernah ke tempat ini.
Binar bahagia menghiasi wajah Kiki.Aydin tersenyum dan bahagia melihat gadis di depannya ini.
Sepertinya tempat ini akan menjadi tempat favorit Kiki dikala penat melanda.
Aydin membuka tasnya dan mengambil paper bag,kemudian memberikannya kepada Kiki.
Diambilnya paper bag itu dari tangan Aydin dan Kiki melihat di dalam paper bag itu ada sebuah kotak besar.
"Apa ini Bang?" Kiki bertanya sambil mengintip dalam paper bag.
Kiki terpanah oleh senyuman Aydin,karena jujur saja baru kali ini dia melihat senyuman Aydin.Ganteng,satu kata yang terlontar di benak Kiki saat ini.
Drrrt....
Getar ponsel dari dalam saku Aydin berhasil menyudahi senyuman Aydin dan menyadarkan Kiki dari lamunannya.Ponsel Aydin masih dalam mode getar karena tadi sehabis dari perpustakaan dia belum sempat mengaktifkan kembali nada deringnya.
Diangkatnya ponsel itu,yang menunjukkan nama Bundanya.Aydin terkaget ketika Bundanya mengabarkan bahwa Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit.
Aydin mengajak Kiki ke rumah sakit karena jika mengantar Kiki terlebih dahulu pasti akan sangat lama,karena jarak ke rumah sakit lebih dekat dengan tempatnya saat ini dari pada ke rumah Kiki.
Kiki menyetujuinya meskipun terpaksa.Tidak apalah,nanti dia akan minta dijemput Kak Kevin di rumah sakit,pikirnya.
Kemudian mereka segera meluncur ke rumah sakit dimana Ayah Aydin sedang dirawat.
Di depan ruang VVIP kini mereka berada.Kiki mengikuti Aydin dibelakangnya.Aydin menoleh,ditariknya tangan Kiki untuk berjalan disampingnya.
Deg.....
Perasaan ini....
Kiki tertegun,seolah dia patung yang sedang berjalan dengan digandeng.
Perasaan aneh macam apa ini,seperti apa yang dia rasakan dulu ketika bersama Raditya.
Namun,lebih hangat dan lebih deg-degan yang ini.Apa karena ini pertama kalinya dia menggandeng tanganku?
Jenis perasaan apa ini?
Apa dia menyukaiku?
Kiki bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Hingga langkah kaki Aydin berhenti dan menyadarkan Kiki dari lamunannya.
Di bed pasien terdapat Ayah Aydin yang didampingi Bunda Aydin yang sedang duduk di kursi sebelah bed pasien.Terlihat selang infus pada tangan sang Ayah.
Aydin menghampiri Ayahnya dengan tangannya yang masih menggandeng tangan Kiki.Ayah dan Bunda tersenyum ke arah mereka.
__ADS_1
Sebenarnya Ayah Aydin hanya kelelahan saja,dan infus yang menancap di tangannya itu berisi vitamin untuk mempercepat pemulihannya.
Ayah dan Bunda memang sengaja merencanakan hal ini untuk menekan Aydin.
Flashback
Bunda memasuki kamar Aydin untuk memanggil anak tunggalnya itu untuk makan malam bersama,karena Ayah dan Bunda sudah menunggu lama sekali di meja makan,namun anaknya ini masih berada di dalam kamar.
Jadilah Bunda naik ke lantai atas menuju kamar anaknya.
Bunda tidak mendapati Aydin di dalam kamarnya,namun beliau mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Bunda berniat untuk menunggunya di sofa yang ada di dalam kamar Aydin,namun pergerakannya menuju sofa terhenti ketika Bunda melihat beberapa paper bag di atas meja belajar Aydin.Dengan rasa penasaran yang tinggi,Bunda membuka paper bag yang di dalamnya terdapat kotak besar.Dan betapa kagetnya Bunda ketika mendapati kotak tersebut berisi kaos dan jaket yang berwarna lilac.Paper bag selanjutnya pun dibuka,dan Bunda kembali terkejut dengan melihat ada sepatu berwarna lilac di dalam kotak itu.Dan paper bag terakhir pun dibuka,dan Bunda tersenyum melihat isi kotak dalam paper bag itu adalah tas wanita berwarna lilac.
Bunda terkejut sekaligus senang mengetahui anaknya sudah mempunyai pacar.Karena Bunda takut dengan sikap Aydin yang cuek dan dingin itu,dia susah mendapatkan pacar.Namun Bunda kecewa karena Aydin tidak pernah mengenalkannya pada Ayah dan Bunda.
Mendengar suara gemericik air yang berhenti,Bunda langsung keluar dari kamar Aydin.Takut Aydin marah jika mengetahui Bundanya melihat barang-barang tersebut.
Namun,Bunda masih berada di luar depan pintu kamar Aydin.Setelah mendengar dari luar pintu kamar mandi tertutup,Bunda mengetuk pintu kamar Aydin dan berteriak dari luar untuk segera bergabung di meja makan.
Setelah acara makan malam selesai.Mereka kembali pada aktifitas masing-masing.Aydin kembali ke kamarnya.Bunda segera mengajak Ayah ke kamar untuk bercerita tentang apa yang Bunda temukan tadi di kamar Aydin.
Ayah dan Bunda ingin sekali segera memiliki cucu,karena mengingat Aydin adalah anak mereka satu-satunya,jadi sudah terasa begitu lama rumah mereka sepi akan kehadiran anak kecil.
Keesokan harinya,ketika merasa tidak enak badan,Ayah mendadak pulang cepat dari kantor dan berniat beristirahat di rumah.Namun,Bunda memaksa Ayah untuk diperiksa oleh dokter.
Tentu saja Ayah menolak dan bersikeras untuk beristirahat saja di kamar karena dia hanya merasa kelelahan saja.Namun yang namanya emak-emak tidak akan pernah terkalahkan.
Dan akhirnya Ayah hanya bisa pasrah dan menurut saja.Bunda memanggil dokter pribadi yang biasanya memeriksa keluarga mereka.
Dokter datang dan memeriksa keadaan Ayah.Dokter mengatakan jika Ayah hanya kelelahan karena terlalu memforsir tenaganya untuk bekerja dan butuh istirahat total agar badannya cepat fit kembali.
Dokter memberi saran agar Ayah mendapatkan infus yang berisikan vitamin untuk mempercepat pemulihan.
Namun dengan cerdiknya,Bunda merencanakan sesuatu dan ingin Ayah dirawat di rumah sakit saja meskipun hanya diberi infus yang berisikan vitamin.
Ayah menolak,namun Bunda segera memberi tahukan rencananya itu.
Dokter Andy merupakan dokter kepercayaan keluarga Aydin,dan kebetulan merupakan dokter terbaik di rumah sakit milik keluarga Aydin.Rumah sakit itu memang merupakan milik kakek Aydin yang di wariskan pada Ayah Aydin.
Kemudian Ayah menyetujui rencana Bunda untuk dirawat di rumah sakit.Dan dokter Andy pun yang menyiapkan semuanya untuk keperluan Ayah Aydin di rumah sakit.
Bunda segera menelepon Aydin setelah Ayah sudah berada di kamar perawatan di rumah sakit dan sudah beres semuanya.
Flashback end
Aydin mendekat ke arah Ayahnya.Tangannya akan menyentuh tangan Ayahnya.Namun dia baru sadar,tangan Kiki masih berada dalam genggamannya.Segera dilepaskannya tangan Kiki itu secara perlahan,dan berkata,"Maaf" sambil menoleh dan tersenyum ke arah Kiki.
Kiki yang masih syok dengan perlakuan Aydin sejak awal tadi hanya bisa terdiam dan sadar ketika Aydin kembali tersenyum dan mengatakan maaf padanya.Seperti tersetrum rasanya Kiki melihat senyum Aydin.
Bunda menoleh kepada Ayah dan mereka tersenyum bersamaan.
Mereka semakin yakin dengan rencana yang mereka buat.
"Ehem....",deheman Ayah menyadarkan mereka yang masih saling terpaku memandang.
"Eh....",Kiki malu dan menunduk,pipinya memerah.
Aydin kembali menoleh ke arah Ayahnya.
"Ayah,sebenarnya kenapa sampai bisa begini?"
tanyanya.
"Tenang nak,Ayah masih bisa sembuh",jawab Bunda dengan senyum yang dipaksakan,seolah-olah keadaan Ayah sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah sakit apa sih Bun?" Aydin sangat khawatir sekali,terlihat jelas di raut wajahnya.
"Sudah,gak usah dipikirkan.Ayah gapapa",senyum terukir di wajah Ayah yang masih sedikit lemas.
Kiki masih berdiri di samping Aydin.Bunda menatap Kiki dengan senyumnya.Kiki hanya tertunduk malu karena tidak tahu harus bagaimana,karena Aydin belum memperkenalkannya pada kedua orang tuanya yang ada dihadapannya itu,jadi Kiki malu jika mengawali untuk mengobrol.
Aydin lupa jika ada Kiki disampingnya.
Aydin merapikan selimut ayahnya,dinaikkannya selimut itu sebatas dada.Pergerakan tangan Aydin terhenti ketika Ayah mencekal tangannya.
Aydin menatap Ayahnya seolah bertanya kenapa Ayah menghentikannya.
"Nak,apa bisa kamu berjanji pada Ayah?" tanya Ayah dengan penuh harap.
__ADS_1