
Aydin dan Kiki sudah menempati rumah mereka dengan Bik Darmi yang menjadi pembantu dan Pak Sardi yang merupakan suami Bik Darmi menjadi satpam di rumah mereka. Bik Darmi merupakan adik dari Bik Narsih yang berada di desa. Bunda mempercayakan anak dan menantunya pada Bik Darmi yang tentu saja sudah mengetahui banyak tentang Aydin dan Kiki dari Bik Narsih.
Perut Kiki sudah mulai membesar. Dia sudah mulai lumayan kelelahan jika banyak aktifitas. Oleh sebab itu Aydin cukup ekstra keras menjaga Kiki agar tidak kelelahan.
Dari yang selalu minta dipijitin kakinya, sampai meminta Aydin untuk menjadi korban keisengannya. Namun sejauh ini ngidam Kiki tidak termasuk sulit bagi Aydin, karena semuanya masih bisa dijangkau oleh Aydin.
Tapi sekarang ini Aydin dengan muka bantalnya melawan rasa kantuk dan sebal bercampur dengan emosi mengantarkan Kiki ke rumah Raditya.
"Sayang, bisa gak sih minta masakinnya sama Mama aja? Kan Mama juga jago masak," ucap Aydin yang agak sewot.
"Tapi aku pengennya dimasakin Ambu," rengek Kiki.
"Ck, kenapa sih sayang selalu di rumah Raditya? sama Bunda aja ya," pinta Aydin yang sedikit merayu Kiki.
"Kan maunya dedek bayi sayang. Boleh ya, jangan cemberut gitu dong, cuma bentar aja kok. Ya... ya....," rayu Kiki sambil melingkarkan tangannya di lengan Aydin yang tangannya memegang setir.
"Nanti bakalan dikasih full servis deh kalau nurutin maunya dedek bayi," rayu Kiki dengan menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.
Seketika mata Aydin yang agak lengket kembali terbuka dengan lebarnya. Ada kilatan bintang yang bersinar dari mata Aydin mendengar kata full servis dari mulut istrinya.
Bagaimana tidak senang hatinya, dalam seminggu ini Aydin tidak mendapatkan jatah dari Kiki karena dia kelelahan dan selalu tertidur di mobil saat Aydin menjemputnya. Sampai-sampai Aydin takut jika pusakanya berkarat karena tidak dipakai.
"Ya udah cepetan ya, abis itu kita langsung pulang. Jangan tidur dulu, aku bakal tagih janjimu. Ok sayang?" ucap Aydin dengan riang.
"Hah? Hehehe... kalau ketiduran gimana sayang?" tanya Kiki ragu.
"Bakal dobel jatahnya," ucap Aydin dengan menoleh ke arah Kiki dan tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Isssh... suami apa yang menghukum istrinya saat hamil," gerutu Kiki.
"Bukan dihukum sayang, tapi dibungakan. Ibarat hutang yang harus dibayar, ketika telat dikenakan bunga alias biaya. Nah gak mungkin dong Abang meminta istri tercinta Abang ini untuk membayar, mangkanya didobelin aja jatahnya. Bener gak?" tutur Aydin terkekeh.
"Enak di Abang gak enak di akunya dong," Kiki mencebik kesal.
"Sama-sama enak sayang, kan kamu selalu nagih," ucap Aydin yang masih terkekeh.
"Iiiish... itu kan pas lagi khilaf," ucap Kiki yang tidak mau kalah memberi alasan.
Jawaban Kiki sukses membuat Aydin jadi terlepas dari rasa kantuk. Dia tertawa mendengar jawaban dari istrinya itu. Aydin meraih kepala Kiki yang sudah tidak bersandar padanya.
Di usap-usapnya lembut rambut istrinya itu, namun hal yang tak terduga yang dia dapat.
"Awww... awww... sayang... sayang... lepasin...," Aydin mengadu kesakitan.
Ternyata tangan Aydin yang mengusap rambut Kiki tadi ditarik oleh Kiki dan digigit dengan gemas oleh Kiki.
__ADS_1
"Mangkanya jangan jahil sama istri. Gak boleh ngetawain istrinya," ucap Kiki sambil mengusap-usap bekas gigitannya di tangan Aydin.
"Dipikir ayam goreng apa Yang digigit kayak gitu," ucap Aydin memelas.
"Tunggu... tunggu deh Bang, kayaknya aku pengen fried chicken deh, hehehe... Kita ke sana aja yuk yang ada logo M gede itu, kan 24 jam," ucap Kiki disertai cengiran tanpa dosanya.
Tiba-tiba Aydin meminggirkan mobilnya dan berhenti di tepi jalan tersebut.
"Beneran sayang? Kalau gitu kita gak jadi ke rumah Raditya kan?" tanya Aydin bersemangat.
Kiki mengangguk cepat dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Yess!" seru Aydin dengan mengayuhkan lengannya dari atas ke bawah.
"Tapi gak jadi full servis ya," ucap Kiki dengan kekehannya.
"Loh kok gak jadi sih?" tanya Aydin lesu.
"Kan gak jadi ke rumah Raditya," jawab Kiki sambil tertawa.
" Iiih curang, gak bisa dong janji harus ditepati," sanggah Aydin.
"Emmm... lihat situasi dan kondisi dulu deh ya," jawab Kiki menggoda.
"Pokoknya gak mau jalan, biar disini aja," ucap Aydin ngambek.
"Biarin, biar dikawinin sekalian," jawab Aydin tanpa beban.
"Hahaha... kamu lucu deh sayang, sejak aku hamil jadi kamu yang manja," ucap Kiki sambil mencubit hidung suaminya.
"Iya, kamu jadi lebih sadis, lebih garang, aku suka, apalagi kalau di ranjang, beuh...," ucap Aydin sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Isssh... bikin malu.... ayo buruan jalan, atau gak jadi dikasih jatah nih," seru Kiki yang merasa malu dengan ucapan suaminya.
Aydin tertawa melihat ekspresi istrinya dan dia dengan segera mengemudikan mobilnya ke tempat yang Kiki mau.
Kini senyum Aydin tidak pernah luntur semenjak Kiki membatalkan niatnya ke rumah Raditya, hingga kini mereka sedang makan di restauran cepat saji yang berlogo huruf M.
Aydin menuruti kemauan istrinya untuk membeli semua menu, hingga Kiki kekenyangan dan tidak sanggup lagi menghabiskannya.
Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka. Dalam perjalanan pulang, Aydin tidak mendengar suara apapun dari istrinya.
Dan ternyata Kiki tertidur pulas dengan mulut yang terbuka. Mungkin karena kekenyangan jadi dia tertidur sangat pulas.
Aydin melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Pantas saja istrinya tertidur, jam dipergelangan tangan Aydin menunjukkan pukul 02.30 am.
__ADS_1
"Yaaa puasa lagi deh, apes... apes... Sabar, orang sabar rejekinya lancar," monolog Aydin pada dirinya sendiri ketika mengangkat tubuh Kiki ke dalam kamar.
Triiiiing.....!!!!
Alarm di ponsel Kiki berbunyi. Ternyata waktu subuh sudah tiba.
Kiki meraba nakas untuk mengambil ponselnya. Namun tangan kekar suaminya menghalaunya untuk bangun.
"Sayang... minggir dulu ih, udah subuh," Kiki membangunkan Aydin yang masih tidur dalam posisi memeluk tubuh mungil yang berperut besar itu.
"Eemmm... masih ngantuk," jawab Aydin.
"Shalat dulu yuk, nanti lanjut tidur lagi setelah shalat," bujuk Kiki pada suaminya.
Seketika mata Aydin terbuka lebar, dia ingat janji istrinya yang tertunda semalam.
"Abis sholat kita olahraga ya Yang," ucap Aydin sambil bermanja-manja pada Kiki dengan kepalanya bersandar pada pundak Kiki dan tangannya melingkar di pinggang Kiki.
"Olahraga? Ok mumpung aku juga lagi pengen olahraga," jawab Kiki antusias.
Maka mereka pun melaksanakan shalat subuh berjamaah di dalam kamar mereka.
"Sayang... aku pakai baju yang mana?" tanya Kiki sambil melihat-lihat koleksi bajunya yang sudah tidak muat lagi karena perutnya yang sudah agak membuncit.
"Gak usah pakai baju sayang, udah gitu aja daripada ribet," ucap Aydin yang melihat Kiki sudah tidak memakai bajunya, hanya pakaian dalamnya saja yang menempel ditubuhnya.
"Ngawur, kalau dilihat orang gimana, rela?" tanya Kiki kesal.
"Gak bakalan ada yang liat sayang, cuma Abang aja yang lihat," ucap Aydin sembari melepaskan pakaiannya.
Kiki menoleh ke belakang hendak memprotes jawaban dari suaminya, namun...
"Aaaaaaaah....," teriak Kiki melihat suaminya sudah tidak berbalut kain sama sekali.
Untung saja kamar mereka sangat bagus peredam suaranya, sehingga teriakan Kiki tidak terdengar oleh siapapun.
Mata Kiki berfokus pada belalai yang merunduk milik suaminya.
"A-a-a... ehem... ke-kenapa Abang gak pakai baju?" tanya Kiki gagap namun matanya masih menuju ke titik yang sama.
"Olahraga indoor aja sayang, lebih asyik, kan udah janji semalam eh malah ditinggal tidur. Gak kasian apa sama pusaka Abang, kalau karatan gimana?" ucap Aydin sambil berjalan menghampiri istrinya.
"Ja-jadi olahraganya... olahraga ini?" tanya kiki gagap karena kini pakaian dalamnya pun sudah terlempar entah kemana.
Memang suaminya ini gerakannya super cepat untuk urusan yang seperti ini.
__ADS_1
"Emmmph....," bibir Kiki sudah ditutup oleh bibir Aydin ketika Kiki akan mengatakan sesuatu.