
Hari-hari keluarga Aydin masih saja sama dengan sebelumnya. Kenshin masih dengan rutinitasnya bersekolah dan mengantar jemput Raline, serta belajar tentang bisnis pada Aydin.
Sedangkan Miyuki sangat bersemangat sekali untuk bisa segera lulus sekolah agar bisa bertemu dengan pangerannya.
Tristan, dia masih saja mencoba mentolerir sikap Kenshin yang seolah memonopoli Raline. Bahkan semua mahasiswa laki-laki tidak ada yang berani mendekatinya karena mengira jika Kenshin lah yang menjadi pacar Raline.
Waktu berganti hingga kini Kenshin sudah berada di kelas dua belas. Kebetulan sekali saat itu Raline diminta tolong oleh Aydin untuk menggantikan seorang guru yang sedang cuti melahirkan.
Entah apa yang direncanakan oleh Aydin sehingga dia meminta secara langsung pada Raline menggantikan guru tersebut.
"Apa Raline mampu Pi?" tanya Raline pada Aydin yang kini mereka berdua sedang berada di ruang kerja Aydin.
"Pasti. Kamu pintar, kamu hebat dan Papi memberikan tantangan ini untukmu," ucap Aydin sambil tersenyum.
"Gak usah ragu. Kamu harus memanfaatkan kesempatan yang ada. Sekarang kamu ditantang oleh Papi, dan kamu harus bisa buktikan bahwa kamu bisa dan sanggup melakukannya."
Kiki yang baru datang membawa nampan berisi gelas minuman ikut menyahut percakapan mereka.
"Tuh dengar ucapan Mami kamu. Tapi Papi gak maksa sih. Kalaupun memang Raline gak mau ya gapapa."
Aydin tersenyum setelah mengucapkannya agar Raline tidak terbebani.
Raline diam, dia berpikir sejenak, kemudian dia berkata,
"Lalu kuliah Raline gimana Pi?"
Aydin menoleh pada Kiki yang duduk di sebelahnya, mereka saling tersenyum kemudian kembali memandang Raline yang ada di depannya.
"Itu masalah gampang. Nanti pasti kamu bisa mengaturnya. Jika kamu butuh bantuan, tanya saja pada Mami dan Papi. Atau mungkin kamu juga bisa menanyakan pada Ayahmu," jawab Aydin sambil tersenyum puas.
"Gimana? Mau gak nerima tawaran Papi? Jika Raline mau, Papi akan segera memberitahu pada pihak sekolah agar mereka tidak mencari guru pengganti," ucap Aydin kembali.
Raline kembali menimang-nimang permintaan dari Aydin. Memang benar ini juga merupakan suatu kesempatan untuknya agar dia memperoleh pengalaman yang lebih nantinya.
"Baiklah, Raline setuju," jawab Raline dengan tegas.
Hal itu membuat Aydin dan Kiki menjadi senang. Senyum mereka mengembang, terlihat jelas ada kelegaan dalam hati mereka.
__ADS_1
Setelah itu Raline keluar dari ruang kerja Aydin dan disambut oleh Kenshin di depan pintu ruangan tersebut.
"Udah selesai?" tanya Kenshin dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Raline yang kaget mendapati Kenshin di depan pintu pada saat membukanya membuat dirinya terlonjak kaget dan mengusap dadanya.
"Kamu Ken, bikin kaget aja," ucap Raline yang masih mengusap-usap dadanya sambil menghela nafasnya.
Kenshin tersenyum menatap Raline sambil menyandarkan tubuhnya di tembok, kemudian dia berkata,
"Ngomongin apaan sama Mami Papi di dalam?"
"Ada deh... mau tau... aja," ucap Raline pada Kenshin, setelah itu dia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Kenshin dan meninggalkannya menuju ruang makan.
Pada saat makan malam pun Aydin dan Kiki tidak membahas soal pembicaraannya dengan Raline. Dan itu membuat Kenshin menjadi penasaran serta ingin tahu lebih lanjut apa yang mereka bahas tadi di ruang kerja Aydin.
Setelah acara makan malam berakhir, Kenshin mengantar pulang Raline menggunakan mobilnya sendiri.
Mobil itu berhenti di sebuah taman yang tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai.
"Ini di mana sih Ken? Aku baru tau taman ini. Belum pernah ke sini malahan," ucap Raline sambil memperhatikan sekelilingnya dari dalam mobil.
"Gak mau ah Ken. Aku pengen cepat pulang. Ada yang harus aku kerjakan."
Raline menolak permintaan Kenshin yang ingin mengajaknya ke taman tersebut. Bukan maksud Raline sebenarnya untuk menolak, tapi dia harus menyiapkan hal-hal yang diperlukannya untuk memenuhi permintaan Aydin yang akan segera dimulainya.
Raline sangat cemas dan gugup karena baru pertama kali dia akan memberikan pengajaran tentang pengetahuan yang dia peroleh selama ini di sekolah tersebut.
Dia takut jika nantinya siswa tidak akan menurut padanya karena dia masih sangat muda dan kuliahnya baru akan selesai beberapa bulan lagi.
Raline memang mempercepat kuliahnya sesuai dengan kemampuannya dan tentunya atas dukungan dari Raditya, Aydin dan Kiki.
Awalnya Aydin yang menyarankan agar Raline mempercepat kelulusannya, dan hal itu disetujui oleh Raditya dan Kiki karena mereka mengetahui dan percaya akan kemampuan Raline.
"Ada apa sih sebenarnya? Apa Mami dan Papi membicarakan hal yang membuatmu bersedih?"
Kenshin menghadap ke arah Raline dan memegang kedua pundaknya serta menatap intens kedua mata Raline.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, pasti Raline akan ketahuan apabila dia sedang berbohong.
"Aku benar-benar ada tugas yang harus aku selesaikan Ken. Dan kamu pasti tidak mau kan jika aku gagal?"
Raline membalas menatap mata Kenshin dengan intens dan berbicara sesuai dengan apa yang ada dipikirannya sehingga Kenshin tidak menangkap kebohongan dari mata Raline.
"Oke jika memang seperti itu. Tapi aku gak mau jika kamu menutupi apapun dariku. Dan satu lagi, kamu belum memberitahu apa yang Mami sama Papi bicarakan tadi bersamamu di ruang kerja Papi," ucap Kenshin sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Masalah itu nanti aja Ken. Pasti nanti kamu akan tau sendiri jika udah saatnya. Yang penting kamu harus doakan aku agar aku bisa menjalankan semuanya dengan baik," ucap Raline kemudian.
"Aku pasti selalu mendoakanmu cantik," tutur Kenshin sambil tersenyum dengan tangan kirinya mengusap rambut Raline dan tangan kanannya memegang kemudi.
Entah kenapa jantung Raline berdebar dengan kencangnya, membuat Raline merasa tidak nyaman saat ini.
Kenapa jantungku berdebar kencang seperti ini ya? Padahal aku gak minum kopi tadi di rumah sana, Raline berkata dalam hatinya sambil melirik ke arah Kenshin yang mengemudikan mobilnya dengan senyum yang terpancar indah pada wajah tampannya.
Tin... tin...
Klakson mobil Kenshin dibunyikan setelah berada di depan pagar rumah Raline. Dan keluarlah Raditya yang membukakan pagar rumahnya.
Kenshin turun dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Raline di depan Raditya. Hal itu membuat Raditya tersenyum melihat anak gadisnya diperlakukan sangat manis oleh laki-laki.
"Ken pulang dulu Yah. Assalamu'alaikum," ucap Kenshin setelah bersalaman dan mencium punggung tangan Raditya.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Raditya sambil melambaikan tangannya ke arah Kenshin yang sudah berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Pagi hari menyambut dan hari baru pun dimulai.
"Ayah... Raline berangkat dulu ya," ucap Raline sambil terburu-buru memakai sepatu hak tingginya.
"Sudah mulai hari ini?" tanya Raditya yang memandang anak gadisnya tergesa-gesa memakai sepatunya.
"Iya Yah, tadi tiba-tiba Papi menghubungi Raline disuruh berangkat ke sana pagi ini. Doakan Raline ya Yah," jawab Raline sambil mencium punggung tangan Raditya dan berjalan cepat menuju pintu.
"Ee.. ee..eh lupa."
Raline memutar badannya dan setengah berlari menuju Raditya.
__ADS_1
Ummmuach...
"Raline sayang Ayah," ucap Raline setelah mencium pipi Raditya.