Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
138


__ADS_3

Raditya sengaja menjemput Raline karena dia tahu pasti Raline sangat senang sekali jika diajak ke rumah Kiki, dan pastinya dia juga akan senang ketika mendengar bahwa Ken akan mempunyai adik.


"Raline, ikut Ayah yuk, kita ke rumah Ken. Mami sama Papi punya kabar baik, pasti Raline juga seneng deh," ucap Raditya ketika sampai rumah sepulang kerja dan berniat menjemput Raline.


"Ada berita baik apa Yah?" tanya Raline penasaran.


"Mami sedang hamil, jadi Ken akan punya adik. Dan Raline juga punya adik lagi. Raline seneng kan?" ucap Raditya dengan raut wajah gembira agar menular pada Raline.


Namun Raditya salah. Kini wajah Raline berubah menjadi sedih, padahal tadi sebelumnya Raline sangat gembira karena akan diajak ke rumah Ken yang artinya ke rumah Kiki dan Aydin.


"Ada apa Sayang? Kamu sakit?" tanya Raditya yang penuh dengan kekhawatiran.


Mata Raline berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seperti akan menangis. Raditya tahu jika anaknya sedang bersedih. Diraihnya tubuh anaknya itu dan dipeluknya erat-erat.


"Sayang, anak cantiknya Ayah kenapa?" Raditya bertanya dengan sangat lembut dan hati-hati.


"Kalau Ken punya adik, apa mereka semua akan lupa dengan Raline Ayah?" suara Raline bergetar dan itu membuat Raditya bersedih.


Hati Raditya seperti dicubit dan ditusuk-tusuk oleh belati. Anaknya yang sekecil itu harus merasakan kesedihan karena ditinggalkan oleh ibu kandungnya.


Dan kini, anaknya itu kembali bersedih karena ketakutan akan dilupakan oleh keluarga keduanya, keluarga yang sangat menyayanginya selama ini, sehingga dia tidak pernah sama sekali merasakan kekurangan kasih sayang dari keluarga.


Kehangatan dan kebahagiaan dari mereka semua membuat Raline melupakan sosok ibu kandungnya yang sangat dibenci oleh Raditya.


"Sayang, cantiknya Papa, Mami, Papi, Ken, tante Vina, Om Kevin, Nenek, Kakek, Oma dan Opa gak akan pernah lupa sama Raline. Mereka semua sayang sama Raline. Jadi, Raline gak boleh nangis lagi ya, nanti Mami pasti sedih kalau lihat Raline nangis," Raditya memberi pengertian pada Raline.


Raline menghapus air matanya dengan bantuan tangan Raditya juga. Raditya terharu karena anaknya sangat menurut ketika Raditya membawa nama Kiki. Dia tidak bisa berhenti bersyukur jika Kiki sangat berpengaruh pada kehidupannya dan kebahagiaannya.


"Nah gitu dong. Senyum ya, anak Ayah cantik deh. Sekarang kita berangkat ya," ucap Raditya sambil tersenyum dan itupun menular pada Raline yang ikut tersenyum padanya.


Di sepanjang perjalanan Raline bersama Renita di kursi belakang dan di kursi depan diduduki oleh Raditya dan Kenan. Renita terus bercerita pada Raline tentang dongeng-dongeng yang ada di buku agar Raline tidak kembali bersedih.


Sesampainya di rumah Aydin dan Kiki, Raline segera turun dan berlari ketika melihat Kiki, Aydin dan Ken sedang berpelukan.


"Mami.....," suara seorang anak wanita yang mereka kenal membuat mereka menoleh ke belakang.


Raline berlari ke arah Kiki dan memeluknya dengan erat. Matanya penuh dengan kesedihan.


"Ada apa cantik? Kenapa kamu sedih?" tanya Kiki ketika melihat wajah sedih Raline.


"Mami... Mami gak akan lupa sama Raline kan?" suara Raline bergetar menanyakan pertanyaan itu pada Kiki.

__ADS_1


Kiki sangat trenyuh mendengar pertanyaan seperti itu dari anak sekecil Raline. Hatinya sangat sedih mendengar pertanyaan seperti itu. Kiki meraih tubuh Raline dan memeluknya dengan erat, sungguh Kiki sangat menyayangi Raline seperti anaknya sendiri. Dia tidak pernah membeda-bedakan Raline dengan Ken, anaknya sendiri.


Tanpa sadar air mata Kiki menetes dan membasahi baju bagian belakang Raline pada saat memeluknya. Aydin yang melihat itu ikut merasa terharu, sehingga dia membawa tubuh Ken untuk ikut memeluk Raline agar Raline tidak merasa kehilangan mereka sebagai keluarganya.


Raditya meneteskan air matanya karena sangat terharu dengan apa yang dilihatnya. Orang-orang baik yang ada di hadapannya ini memang benar-benar orang baik baginya dan keluarganya. Dan dia berjanji akan membalas kebaikan mereka dengan cara apapun, permintaan mereka apapun pasti akan dia lakukan. Itulah janjinya pada dirinya sendiri.


"Raline cantik, Mami dan Papi tidak akan melupakan kamu meskipun adek bayinya sudah lahir. Kami tetap akan menyayangi dan mencintai Raline sama seperti sekarang ini," kini Aydin yang berbicara karena Kiki tidak sanggup mengeluarkan kata-kata, Kiki hanya mengangguk membenarkan perkataan Aydin.


"Ken juga. Ken tetap sayang sama Kakak cantik," ucap Ken dengan mengusap air mata di pipi Raline.


"Tuan muda yang ganteng ini pintar sekali menjaga kakak cantik ya," Aydin memberikan sedikit candaan seperti biasanya agar Raline tidak lagi bersedih.


"Raline sayang kalian semua," ucap Raline dengan suara yang serak.


Semua orang terharu melihat pemandangan di depan mereka. Air mata mereka menetes melihat anak sekecil Raline yang trauma kehilangan kasih sayang dari ibunya sehingga kini dia merasa takut akan kehilangan kasih sayang dari keluarga yang selama ini memberinya kasih sayang penuh sebagai keluarga yang utuh.


Air mata Kiki diusap oleh Raline dan pipi Kiki dicium berkali-kali oleh Raline sebagai tanda kasihnya. Benar-benar suatu pemandangan yang sangat indah seperti anak dan ibu kandungnya.


"Udah, yuk kita masuk. Anak Papi yang cantik ini mau apa? Mau makan atau hadiah? Apa mau kita jalan-jalan saat weekend besok?" ucap Aydin sambil menggendong tubuh Raline.


"Ken mau... Ken mau...," seru Ken sambil melonjak-lonjak minta gendong Aydin.


Aydin tertawa dan menggendong Ken di sisi kiri dan Raline disisi kanan membuat Raline dan Ken tertawa bahagia.


"Tenang aja Di pasti kamu akan aku repotkan. Dulu aja pas hamilnya Ken kamu kebagian repot karena ngidamku kan. Kali ini pasti kamu juga akan kebagian," ucap Kiki sambil menepuk-nepuk lengan Raditya dan terkekeh melihat wajah Raditya yang kaget mendengar ucapan dari Kiki.


"Ya gak ngidam juga kali Ki. Kan ada Bang Ay, nanti dikirain anakku kalau minta sama aku ngidamnya," Raditya membalas ucapan Kiki dengan candaan.


"Enak aja, buatan Jepang nih," Kiki membalas candaan Raditya.


"Aku heran Ki, kenapa bisa di Jepang mulu sih jadinya? Kenapa gak di Indonesia aja?" tanya Raditya yang benar-benar heran.


"Gak tau Di, kalau aku tau mending buatnya di Korea aja, terus ngidamnya bisa ketemu sama idol-idol, keren kan, pasti jadinya cakep-cakep," ucap Kiki dengan menjabarkan khayalannya.


"Udah jadi ibu-ibu, udah jadi dokter, masih aja suka sama yang joget-joget," ucap Raditya yang berniat menyindir Kiki.


"Bukannya jo-"


"Ssttt... masuk!" Aydin menyuruh Raditya dan Kiki masuk ke dalam rumah sehingga ucapan Kiki tidak jadi diteruskan.


"Kamu sih Di...," protes Kiki sambil tangannya menoyor kepala Raditya.

__ADS_1


"Kamu," balas Raditya yang tangannya akan meraih kepala Kiki namun sebelum tangannya menyentuh kepala Kiki, Aydin menoleh kebelakang dan kembali memarahi mereka.


"Mau ditiru Raline sama Ken?" ucap Aydin menggertak Kiki dan Raditya.


Seketika Raditya dan Kiki diam, mereka melangkah masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun, bibir mereka mengatup rapat, tapi mata mereka saling beradu menatap melempar peringatan permusuhan. Namun beberapa detik kemudian mereka tertawa karena hal seperti ini mengingatkan mereka akan tingkah laku mereka ketika masih SMA waktu itu.


Sekarang Aydin sudah terbiasa dengan sikap Kiki dan Raditya. Kini sudah tidak ada rasa cemburu lagi dalam hati Aydin pada Raditya. Aydin menganggap jika Raditya seperti Kevin yang selalu beradu mulut dengan Kiki.


Kini saatnya mereka semua berpesta merayakan kehamilan Kiki. Semua sahabat-sahabat Aydin dan Kiki datang untuk merayakannya bersama keluarga besar Aydin dan Kiki.


Pesta diadakan di halaman belakang rumah yang terdapat taman yang luas, gazebo dan juga kolam renang. Seperti biasa, mereka semua membuat acara barbeque serta hidangan yang sudah dibawa oleh Mama Kiki.


Acara barbeque dilakukan oleh kaum muda, sedangkan Mama, Papa, Ayah dan Bunda hanya melihat dan mengobrol bersama yang lainnya.


"Mami, Ken mau yang ini," ucap Ken sambil menunjuk makanan yang sedang dibakar.


"Sosis?" tanya Kiki untuk memastikan.


"Iya Mami.... Ken mau dua," ucap Ken sambil menunjukkan dua jarinya di depan wajahnya.


"Ok, Ken duduk di sana ya, biar Mami ambilkan dulu," ucap Kiki sambil menunjuk tempat duduknya tadi.


"Ok Mami Sayang. Ken ke Kakak cantik dulu ya," ucap Ken yang mendapat anggukan dari Kiki.


Kiki mengambilkan dua piring yang masing-masing piringnya terdapat dua sosis dan bakso bakar.


"Ini untuk Tuan muda Ken yang ganteng, dan ini untuk Kakak cantik," Kiki memberikan piring tersebut pada Ken dan Raline.


"Mami, ini tusuknya gimana?" Ken meminta pertolongan Kiki ketika memakan bakso bakar.


Kiki pun menolong melepaskan tusuk bakso bakar tersebut dan menyuapkannya pada Ken. Raline hanya melihat saja Ken yang sedang makan disuapi oleh Kiki. Sepertinya dia sedang memperhatikan dengan seksama dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


"Ayah, apa Bunda gak sayang sama Ralin?" tiba-tiba Raline menanyakan hal yang paling ditakuti oleh Raditya.


Raditya kaget ketika baru saja duduk di samping Raline dan tiba-tiba saja Raline memberikan pertanyaan tersebut, pertanyaan yang membuat luka lama Raditya terbuka kembali, pertanyaan yang paling dihindari oleh Raditya, namun sekarang pertanyaan itu hadir ketika Raline benar-benar membutuhkan sosok ibu kandungnya dan merindukannya.


Raditya masih terdiam, dia berpikir untuk menata tiap katanya agar tidak menyakiti anaknya. Namun ketika mulutnya hendak terbuka, Kiki datang dan menyuapi Raline dengan bakso bakar yang terdapat pada piring Ken.


"Yeee... Kakak cantik juga makan," Ken bersorak gembira dipandu oleh Kiki.


Raline pun tertawa melihat aksi Ken yang menggemaskan dan dengan reflek Raline memeluk Kiki yang ada di hadapannya dan berkata,

__ADS_1


"Makasih Mami sudah mau jadi Mami Raline."


__ADS_2