Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
245


__ADS_3

Raditya mengajak Raline pulang setelah pembicaraannya di ruang kerja Aydin selesai.


Diamnya Raditya semenjak keluar dari ruangan kerja Aydin sampai sekarang mereka sampai rumah membuat Raline merasa sangat bersalah.


"Ayah, apa Ayah marah pada Raline?"


Raline memberanikan dirinya untuk bertanya pada Ayahnya.


"Memangnya Ayah harus marah? Marah pada siapa? Pada kamu? Atau pada Kenshin?" jawab Raditya dengan datar.


Raline takut, kepalanya menunduk, dia takut melihat Ayahnya yang tidak pernah bersikap seperti itu padanya.


Raditya melihat ketakutan dari Raline saat ini. Dia tidak tega melihat anak semata wayang nya sedih dan ketakutan apalagi itu karena dirinya.


"Apa Ayah boleh bertanya?" tanya Raditya kemudian.


Kepala Raline mendongak dan dia memberanikan dirinya untuk menatap Ayahnya.


Kemudian dia mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Ayahnya.


"Apa saja yang kalian lakukan tadi di kamar Ken?" akhirnya pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Raditya.


Raline menghela nafasnya, dia sudah bisa menduga jika Ayahnya tidak percaya dengan jawaban Kenshin di ruangan Aydin tadi.


"Sama seperti apa yang dikatakan Ken tadi Yah. Kami tidak melakukan apa-apa. Aku hanya tidak sengaja tertidur ketika menunggu Ken tertidur dengan nyenyak.


"Kamu tidak sengaja tidur seperti itu dengan Ken kan?" tanya Raditya kembali.


Maafkan Ayah, Ayah hanya tidak mau jika kamu seperti Bundamu, Raditya berkata dalam hatinya.


"Raline bukan perempuan murahan Ayah. Raline tidak akan berbuat seperti itu. Maafkan Raline jika Raline sudah membuat Ayah kecewa."


Raline berkata lirih dan kepalanya kembali menunduk, dia tidak bisa menahan kesedihannya saat ini.


Keluarga yang sangat dia sayangi kini tidak tahu lagi bagaimana sikap mereka padanya. Raline sangat sedih jika harus kehilangan keluarga Kenshin, karena keluarga keduanya itu sangat dia banggakan.


Keharmonisan keluarga mereka dan kasih sayang mereka padanya membuat Raline tidak ingin kehilangan mereka.


Raditya berkata lembut sambil berjongkok di depan Raline dan memegang tangannya. Kemudian dia berkata,

__ADS_1


"Maafkan Ayah, hanya saja Ayah tidak mau kamu salah dalam memilih jalan. Masa depanmu masih panjang Raline. Ayah harap kamu bisa menjaga diri kamu sendiri."


"Maaf Ayah," ucap Raline dengan suara bergetar dan air matanya yang sejak tadi dia tahan kini menetes ke tangan Raditya yang sedang memegang tangannya.


Raditya pun mengusap air mata Raline dan memeluknya dengan erat. Sudah lama sekali dia tidak memperlakukan Raline seperti itu.


Memang kesibukannya selama ini membuatnya jarang berada di rumah. Dan untungnya ada keluarga Kiki yang membuat Raline masih bisa merasakan kehangatan keluarga.


Namun kini Raditya tidak tahu harus bagaimana. Dia pun tidak tahu bagaimana lanjutan hubungan keluarga mereka setelah ini. Raditya hanya berharap hubungan mereka tetap seperti sebelumnya.


Di rumah barunya, Kenshin kini sedang berpikir dan menenangkan dirinya. Hawa panas yang menyelimuti emosinya membuatnya ingin masuk ke dalam kolam renang dan berdiam diri di sana sambil berpikir seperti kebiasaannya jika sedang memiliki masalah.


Lama dia memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah perdebatannya bersama dengan Papinya.


Hingga suara Bik Ratmi yang bertugas menjaga rumah tersebut membuat Kenshin mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


"Tuan Muda Ken, ini minuman hangatnya saya letakkan di sini," ucap Bik Ratmi sambil meletakkan cangkir yang berisi minuman hangat di atas meja yang ada di dekat kolam renang tersebut.


"Taruh aja di situ Bik!" seru Kenshin dari dalam kolam renang dan dia menenggelamkan kembali kepalanya di dalam air.


Melihat tuan mudanya seperti itu, bik Ratmi sangat khawatir. Apalagi dia memperhatikan Kenshin yang sedari tadi tidak mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


Bik Ratmi berbicara sambil memperhatikan Kenshin yang kepala dan badannya masih saja berada di dalam air. Setelah itu dia segera berlari untuk mencari suaminya.


"Pak... Pak e, Pak... cepat tolong Tuan Muda Ken," Bik Marni berteriak memanggil suaminya.


"Ada apa toh Bu e?" ucap Pak Joni dengan santai.


"Itu Tuan Muda Ken, badan sama kepalanya masuk ke dalam air tidak keluar-keluar dari tadi. Coba Pak e lihat,"


Bik Ratmi menjawab pertanyaan suaminya sambil menarik tangan suaminya agar segera menolong Kenshin.


"Tuan Muda... Tuan Muda Ken... Tuan Muda...."


Bik Ratmi berteriak memanggil nama Kenshin dan mendorong badan suaminya agar masuk ke dalam kolam renang.


"Jangan dorong-dorong dong Bu," ucap Pak Joni yang berusaha mengerem badannya yang di dorong oleh istrinya.


"Ada apa Bik?" tanya Kenshin yang tiba-tiba sudah menampakkan kepalanya dari dalam air.

__ADS_1


"Tuan Muda baik-baik saja?" tanya Bik Ratmi yang kaget melihat Kenshin baik-baik saja meskipun sudah terlalu lama menenggelamkan dirinya di dalam air.


"Sudah Bik Ratmi ke sana saja, daya tidak mau diganggu," ucap Kenshin sebelum kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air.


"Tuh kan Bu, Tuan Muda gapapa. Ibu aja yang suka membesar-besarkan masalah," ucap Pak Joni sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Bik Ratmi memandang kepergian suaminya dengan kesal. Dia menganggap Kenshin adalah tanggung jawabnya karena tadi Kiki telah menghubunginya dan memerintahkannya untuk selalu mengawasi dan menjaga Kenshin. Dan sudah pasti dia harus melaporkan setiap apa yang dilakukan oleh Kenshin.


"Aku harus lapor ke Nyonya," ucap Bik Ratmi seraya mengambil ponselnya.


Bik Ratmi menghubungi Kiki dan memberitahukan apa yang sedang dilakukan oleh Kenshin.


Saat itu juga Kiki berganti pakaian dan membawa tas serta mengambil kunci mobilnya.


Aydin yang benar-benar diusir dari kamar dan kini dia berada di sofa ruang televisi di depan kamarnya tidak bisa tidur karena terpisah dari istrinya.


Aydin melonjak kaget ketika pintu kamarnya dibuka secara kasar oleh Kiki. Melihat Kiki yang terburu-buru, Aydin pun bertanya seraya mengikuti Kiki yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Loh... loh Mi mau ke mana? Ini sudah malam."


Kiki berhenti dan menoleh pada suaminya. Kemudian dia menjawab pertanyaan suaminya dengan tegas dan mengancamnya,


"Udah gak usah nanya. Ini semua gara-gara Papi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Ken, Mami gak akan memaafkan Papi."


"Loh Ken kenapa Mi?" tanya Aydin penasaran sambil memegang tangan Kiki agar tidak pergi.


"Bukan urusan Papi. Ken begini karena Papi," jawab Kiki sambil menghempaskan tangan Aydin namun tidak bisa karena Aydin memegangnya dengan sangat erat.


"Papi sayang Ken Mi. Hanya saja Papi sudah mempunyai rencana untuk Ken dan Raline. Papi mohon agar Mami mau mendukung Papi."


Aydin memohon pada Kiki dan memegang kedua tangannya dengan menatap intens kedua matanya.


Hal seperti inilah yang selalu membuat Kiki menjadi luluh. Dan untuk sekarang inipun Kiki kembali luluh.


Memang sebenarnya Kiki tidak pernah marah pada Aydin. Hanya saja dia ingin memberikan pelajaran saja padanya agar tidak seenaknya mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengannya.


"Baiklah. Tapi sekarang Mami harus menemui Ken karena dia sedang tidak baik-baik saja dan butuh seseorang untuk menjaganya," ucap Kiki sambil menghempaskan tangan suaminya yang memegang tangannya.


"Mi, biar Papi antar, ini sudah sangat malam," ucap Aydin memohon.

__ADS_1


"Gak usah!"


__ADS_2