
Raditya terbangun sejak jam tiga pagi, seperti kebiasaannya di rumah, dia juga melaksanakan shalat malam meskipun berada di rumah Kiki dan Aydin saat ini.
Sejak itu dia tidak bisa tidur, karena jujur saja dalam hatinya masih ada ketakutan untuk menapaki hari esok bersama Raline meskipun banyak orang yang mendukungnya dan menolongnya.
Raditya takut jika dia tidak bisa memberikan peran Ayah dan Bunda sekaligus pada Raline. Kini mata Raditya terpejam menikmati udara pagi yang menerpa wajahnya di taman depan rumah Kiki.
"Di, ngapain?" Kiki mengagetkan Raditya dari renungannya.
Raditya membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara, ternyata sudah ada Kiki di sampingnya. Kiki merentangkan kedua tangannya ke samping untuk menghirup udara pagi.
Raditya menatap Kiki dan tersenyum, dalam hatinya sungguh bersyukur sekali memiliki Kiki di hidupnya.
Tanpa mereka sadari, Aydin berada tidak jauh di belakang mereka dan memperhatikan mereka berdua.
Kevin merangkul pundak Aydin dan menepuk-nepuknya sambil berkata,
"Gak usah cemburu Bro, mereka gak bakalan berani mengkhianati kamu. Kiki kan cinta mati sama kamu, kalau Raditya dia udah ngerti rasanya kehilangan orang yang ada dalam hidupnya, jadi dia gak bakal berani nikung bini orang. Kalau kamu... aku gak tau deh cinta apa gak sama boncel kesayangan aku itu."
"Siapa yang cemburu? Kalau ngomong gak usah merembet kemana-mana, inget nafas," sewot Aydin.
"Oh jadi gak cinta nih sama princess Kiki?" suara Kevin dibesar-besarkan agar Kiki dan Raditya mendengar.
Dan benarlah, Kiki dan Raditya menoleh ke belakang. Mereka berdua berjalan menghampiri Aydin dan Kevin.
"Kok diam di sini, ngapain?" tanya Kiki pada Aydin dan Kevin.
"Ini katanya suamimu gak cin-"
"Yuk sayang ke belakang buatin kopi," Aydin menggandeng tangan Kiki dan mengajaknya kebelakang.
Kevin terkekeh melihat Aydin yang kelabakan akibat keisengannya.
"Kenapa Bang?" tanya Raditya heran.
"Gapapa, cuma ngerjain dia aja. Abisnya dari tadi dia ngeliatin kalian dari sini. Masih cemburu kali sama kamu," ucap Kevin sambil melihat reaksi Raditya.
Raditya tersenyum getir dan berkata,
__ADS_1
"Seandainya nih Bang, suami Kiki bukan Bang Aydin yang baik banget, seandainya suami Kiki itu bajingan, pasti aku akan merebut dia kembali."
Kevin mendadak berekspresi diam dan kaget, kemudian dia berkata,
"Good Bro, kamu memang pria sejati. Dasar Mak Lampir aja tuh yang matanya belekan gak bisa bedain berlian sama imitasi."
"Hahaha... Abang bisa aja," Raditya tertawa terhibur oleh Kevin.
Setelah itu mereka semua berkumpul di taman belakang bersama Raline dan Baby Ken untuk bermain dan menikmati suasana pagi yang masih bebas polusi.
Bik Darmi memberitahukan bahwa makanan sudah siap di meja makan. Mereka semua menuju meja makan untuk sarapan pagi.
"Laline mau disuapi Tante Kiki," ucap Raline sambil menghadap ke Kiki dan mengerjap-ngerjapkan matanya lucu.
"Sama Ayah aja ya sayang, atau sama Tante Renita aja ya," bujuk Raditya pada Raline.
"Gak mau, aku maunya sama Tante Kiki," Raline cemberut dan melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil memajukan bibirnya.
"Enggak boleh gitu sayang, kasihan Dedek Ken, Tante Kiki harus bantuin Dedek Ken makan juga," bujuk Raditya kembali.
Raline semakin mengerucutkan bibirnya, hampir sama seperti Kiki jika sedang ngambek.
"Raline sini sayang sama Tante," Kiki menunjuk kursi yang berada di dekatnya agar Raline pindah ke kursi tersebut.
"Maaf Bang Aydin, Kiki, maaf ngerepotin kalian terus," Raditya merasa tidak enak, oleh sebab itu dari kemarin-kemarin dia tidak mau mengangkat telepon dari Kiki, namun mereka semua tetap saja mengajaknya untuk bergabung bersama mereka.
Raditya tahu jika mereka bermaksud untuk menghiburnya dan menemaninya untuk mengasuh Raline. Mereka semua orang baik yang ada di hidup Raditya. Oleh sebab itu dia berjanji akan selalu menjaga hubungan baik dnegan mereka dan melaksanakan permintaan mereka meskipun dia harus jauh dari Kiki.
Namun tidak seperti yang dibayangkan oleh Raditya, Aydin tidak memintanya untuk menjauhi Kiki. Aydin menyuruhnya agar menjaga hubungan pertemanan mereka agar tetap baik. Dan Raditya pun menyanggupinya.
Disebuah kamar kosan, Riko dan Linda menyusun rencana untuk menjebak dan Kiki agar berpisah dan menjadi milik mereka. Dan bukan hanya itu tujuan mereka. Tentunya mereka juga berharap agar harta Aydin dan Kiki jatuh ke tangan mereka. Sungguh licik sekali bukan mereka itu?
"Kamu yakin sayang kita akan berhasil?" tanya Linda pada Riko.
"Yakin Yang, siapa sih yang bisa menolak pesona Riko? Dan kamu sayang, kamu harus pakai pakaian yang lebih terbuka dan pepet dia terus," ucap Riko mantap, dia yakin sekali kalau rencananya akan berhasil.
"Kak Aydin itu gak sembarangan loh Sayang. Dia gak pernah tertarik pada cewek manapun di kampus meskipun cewek-cewek itu udah pada pakai pakaian minim dan cantik-cantik," Linda mengingat kembali masa kuliahnya.
__ADS_1
"Berarti dia gak normal," jawab Riko enteng.
"Tapi dia udah buktikan, dia punya anak kok sama Kiki," ucap Linda.
"Bener itu anak dia? Apa kamu gak curiga sama suami kamu, eh mantan suami kamu maksudku," Riko memanas-manasi Linda.
Linda terdiam, dia mengingat kembali waktu dia pernah bertanya seperti itu pada Raditya, dan jelas sekali kemarahan itu tergambar pada wajah Raditya. Itu menandakan dia tidak melakukannya. Linda tahu itu.
"Gimana? Kita mulai besok bisa?" tanya Riko yang sepertinya sudah tidak sabar.
Linda hanya bisa pasrah dan mengangguk. Sebenarnya dalam hati dia bertanya apakah Riko benar mencintainya, jika benar iya dia mencintainya, mengapa kini dia disodorkan pada pria lain untuk merayunya dan bila perlu hamil anaknya demi menyita hartanya.
Namun pemikiran Linda itu seketika dilenyapkan oleh Riko dengan sentuhan-sentuahan tangannya dan bibirnya yang menjelajahi seluruh aset berharga Linda yang entah masih berharga atau tidak dihadapan orang lain.
Rengkuhan dan suara-suara khas yang keluar dari mulut Linda menjadi suara pengganti heningnya malam di kamar kos Riko. Setelah puas melakukannya, Riko menyeringai kemenangan bisa memiliki Linda yang tidak banyak meminta padanya dan sekarang dia malah bersedia melakukan apapun yang diinginkan oleh Riko.
Pagi menyapa mengganti malam untuk mengawali hari. Hari ini Kiki sudah mulai masuk untuk bekerja di rumah sakit, namun jam nya disesuaikan oleh Bunda Aydin. Dan untuk Baby Ken diasuh oleh Bunda Aydin disaat Kiki berada di rumah sakit.
Seperti biasa Aydin mengantarkan Kiki ke rumah sakit dan nanti siang dia akan menjemput Kiki untuk makan siang.
Kenan yang sebagai asisten Aydin sengaja menunggunya di depan kantor untuk menanyakan sesuatu.
" Bro, gimana caranya melamar?" tanya Kenan ketika berjalan bersama Aydin menuju lift.
"Ya pakai CV lah," jawab Aydin.
"CV? buat apa? Oh... buat ngurus ke KUA kali ya?" gumam Kenan.
Aydin mendengar sedikit-sedikit yang digumamkan oleh Kenan, namun dia tidak mengambil pusing.
"Kamu mau pindah kerja? Melamar dimana?" tanya Aydin yang sebenarnya kepo juga.
"Pindah kerja? Ngapain, di sini aja udah enak kerja sama sobat sendiri," jawab Kenan sambil nyengir kayak kuda.
"Lah terus itu tadi nanya buat apa? CV nya mau buat melamar kerja dimana?" tanya kembali Aydin.
"Melamar keja apaan sih? Orang aku mau melamar Renita kok," jawab Kenan enteng.
__ADS_1
Aydin menepuk dahinya dan tertawa tebahak-bahak di dalam lift khusus petinggi mendengar sahabatnya yang playboy tapi lugu ini. Masa' iya mau melamar saja dia bingung dan bertanya bagaimana, mau pakai CV pula.
Keluar dari pintu lift, Aydin masih tertawa dan Kenan masih menggerutu tidak jelas, namun tawa dan gerutuan mereka berhenti ketika melihat sosok wanita yang membuat mereka aaah.... sungguh tidak bisa diungkapkan.