Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
225


__ADS_3

Naas sekali Putra ketika dia sudah bisa lepas dari cengkraman tangan ayah Resti malah sekarang dia tertangkap oleh warga sekitar dengan tubuh yang babak belur.


Pukulan warga tersebut membekas di tubuh Putra dan kemungkinan besar juga akan membekas di dalam ingatan Putra.


"Ini mau diapakan Pak?" tanya salah satu warga pada ayah Resti.


"Biarkan saya saja Pak yang akan menanganinya. Terima kasih untuk seluruh warga yang sudah membantu saya untuk menangkapnya," jawab ayah Resti kemudian.


"Ayo bubar... bubar....!" ucap seorang warga untuk membubarkan semua orang yang ada di tempat itu.


Setelah semua orang pergi dari tempat tersebut, Putra dibawa oleh ayah Resti ke rumah mereka. Sedangkan Resti mengikuti ayahnya dan Putra dengan kepala tertunduk ketika melewati warga yang sedang bergosip dengan menatapnya.


"Duduk!"


Ayah Resti mendorong tubuh Putra agar duduk di kursi yang ada di depannya.


Tubuh Putra pun terlempar duduk di kursi tersebut.


"Sekarang bagaimana caramu mempertanggung jawabkan kehamilan Resti?" ayah Resti bertanya dengan geram pada Putra.


"Terserah kalian saya harus bagaimana," jawab Putra sambil memegang memar di pelipisnya.


Ayah Resti mengambil nafas dalam-dalan dan menghelanya perlahan untuk meredakan emosinya.


"Nikahilah Resti dan bertanggung jawablah pada bayi yang dikandungnya. Akui bayi itu sebagai anakmu karena dia memang anakmu," ayah Resti berkata dengan menahan emosinya melihat Putra yang sama sekali tidak merasa bersalah.


"Baiklah. Tapi ijinkan saya pulang. Saya harus menemui kedua orang tua saya," ucap Putra dengan menghadap ayah Resti untuk meyakinkannya.


"Apa kamu tidak berbohong?" tanya ayah Resti dengan menatap intens mata Putra.


"Buat apa saya berbohong Pak. Resti sudah tau di mana dia bisa mencari saya," jawab Putra dengan senyum yang membuat ayah Resti menjadi kesal melihatnya.


"Resti, apa benar itu?" tanya ayah Resti dengan tegas pada Resti.


Resti pun mengangguk dengan posisi kepalanya yang masih menunduk tidak berani menatap ayahnya.

__ADS_1


Keangkuhannya dan keyakinannya untuk menjadikan Ali sebagai suaminya kini hilang sudah berganti dengan rasa malu yang teramat sangat.


Resti masih ingat dengan jelas ekspresi orang-orang yang tadi melihatnya dengan tatapan menjijikkan. Dan ucapan-ucapan mereka yang mencibir, mencemooh dan menghujatnya masih saja terngiang di indera pendengarannya.


"Apa kamu yakin?" tanya ayah Resti kembali pada Resti yang masih saja menundukkan kepalanya tidak mau melihat siapapun.


Resti diam tidak menjawab. Dan itu membuat ayahnya bertanya kembali padanya.


"Resti! Apa kamu yakin membiarkannya pulang?" tanya ayahnya kembali padanya.


"Resti sudah tau Pak semua tempat yang saya kunjungi setiap hari ," sahut Putra untuk meyakinkan kembali ayah Resti.


"Resti!" ayah Resti kembali berseru pada Resti dengan tatapan matanya yang tegas membuat Resti merasa ketakutan di tengah pikirannya yang kalut.


Resti pun mengangguk dengan cepat masih dengan posisi kepalanya yang menunduk dan matanya yang terpejam.


"Ya sudah, pulanglah! Dan besok pagi kamu harus membawa kedua orang tuamu datang kemari. Saya tidak akan tinggal diam jika kamu ingkar pada janjimu," ucap ayah Resti yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.


"Saya permisi pulang dulu," Putra berpamitan pada Resti dan ibunya.


Setelah kepergian Putra dari hadapannya, ibu Resti menatap Resti dengan tatapan iba. Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga putrinya sehingga Resti berada dalam masalah seperti saat ini.


Ibu Resti mengusap lembut rambut Resti, dan tidak terasa air matanya menetes melihat putrinya dalam keadaan yang tidak pernah sedikitpun dia bayangkan.


"Maafkan Resti Bu," ucap Resti diiringi isakan tangisnya yang menyesakkan dadanya.


Perkataan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan merendahkan seolah dirinya menjijikkan, selalu terbayang oleh Resti.


"Ini bukan hanya salah kamu Resti, ibu juga salah karena tidak bisa mendidik dan menjaga kamu. Ibu sudah gagal menjadi seorang ibu," ucap ibu Resti yang kini ikut terisak bersama dengan Resti.


Resti menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih beruraian membasahi pipinya.


"Ibu gak pernah salah. Resti yang memang tidak bisa menjaga kepercayaan dari Ibu dan Ayah," ucap Resti disela isakan tangisnya.


Ibu Resti memeluk tubuh Resti dengan erat dan keduanya menangis saling berpelukan dengan eratnya.

__ADS_1


Ayah Resti yang mendengar suara tangisan wanita segera keluar dari kamarnya, dan langkahnya terhenti ketika melihat istri dan anaknya saling berpelukan dan menangis bersama. Sudah lama dia tidak melihat anak dan istrinya seperti itu. Dan hatinya sangat sakit melihat kedua perempuan dalam hidupnya itu menangis di hadapannya.


Kini semuanya sudah terjadi. Tidak akan bisa dicegah lagi apa yang sudah terjadi. Demikian apa yang sudah dihadapi oleh Resti. Sikap dan perbuatannya sendiri membuatnya merasakan apa yang kini dia rasakan.


Ayah Resti hanya berharap agar keputusan mereka tentang pernikahan ini membawa perubahan pada hidup Resti.


Esok harinya ibu Resti sudah melakukan persiapan untuk menyambut keluarga Putra. Rencananya mereka akan membicarakan tentang pernikahan anak mereka yang harus segera dilaksanakan.


Sudah beberapa jam mereka menunggu kedatangan keluarga Putra namun tak kunjung datang.


"Sudah jam segini. Mereka akan datang jam berapa?" tanya ayah Resti pada Resti yang sudah berpakaian rapi.


"Mungkin sebentar lagi Yah. Biar Resti hubungi Putra," jawab Resti ragu-ragu dan ketakutan.


Semoga saja Putra tidak mengingkari janjinya, Resti berkata dalam hatinya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


Sudah berkali-kali dia menghubungi nomer ponsel Putra, namun tidak ada satu panggilan pun yang diangkat oleh Putra.


Hati Resti bertambah resah. Jantungnya berdegup sangat kencang karena ketakutan yang luar biasa saat ini sedang dia hadapi. Baru kali ini dia merasakan ketakutan yang membuatnya sangat ingin menghilang dari bumi ini.


"Gimana Resti?" tanya ayahnya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


Resti menggeleng lemah. Dan hal itu membuat ayah Resti semakin meradang.


Brakk!!


Ayah Resti menggebrak meja yang ada di hadapannya hingga beberapa toples kue terjatuh dari meja.


"Bagaimana sekarang ini? Apa kita akan menunggunya? Atau kita cari ke rumahnya dan kita seret dia kemari!" teriak ayah Resti yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


Tubuh Resti mengkerut ketakutan, nyalinya menciut mendengar teriakan kemarahan dari ayahnya. Sedangkan ibu Resti pun sangat kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan suaminya.


Mereka sudah menantikan sedari tadi pagi hingga siang hari dan keluarga Putra pun tidak nampak datang. Jadi tidak salah jika ayah Resti mengamuk, pikir ibu Resti.


"Kita tunggu sebentar lagi Pak, siapa tau mereka menyiapkan sesuatu untuk datang kemari, mungkin sebagai permintaan maaf untuk perbuatan anaknya," ucap ibu Resti menenangkan suaminya.

__ADS_1


Bagaimana ini? Bagaimana jika Putra benar-benar tidak datang, batin Resti memberontak ketakutan.


__ADS_2