Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
159


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Aydin masih belum sadarkan diri. Kiki masih setia menjaga Aydin dan semua sahabat serta orang tua mereka bergantian berjaga di rumah sakit, karena mereka takut Kiki tidak makan ataupun minum jika tidak ada mereka.


Memang benar, Kiki tidak akan makan ataupun minum jika tidak dipaksa oleh Renita, Vina, Bunda ataupun Mamanya. Mereka bergantian untuk memaksa Kiki makan ataupun minum.


Keadaan Kiki sangat menyedihkan, Kiki tidak memperhatikan penampilannya ataupun kesehatannya sama sekali. Dia hanya berada di samping Aydin dan tidak mau melewatkan jika Aydin membuka matanya. Dia ingin jadi orang pertama yang dilihat Aydin ketika matanya terbuka.


Sedangkan Kenshin dan Miyuki, mereka bergantian tinggal Ayah Bunda Aydin atau Mama Papa Kiki. Terkadang mereka tinggal bersama Raline di rumah Raditya.


Cindy sudah berhasil ditangkap pihak kepolisian di bandara ketika dia akan meninggalkan negara ini. Orang tuanya datang dari Jepang mencoba meminta maaf dan berdamai dengan keluarga Aydin. Mereka tidak ingin melihat anak mereka berada di balik jeruji besi.


Keluarga Aydin menolak mentah-mentah permintaan keluarga Cindy, meskipun mereka klien bisnis Aydin, Ayah Aydin tidak peduli. Apalagi Kiki yang menatap Cindy dan keluarganya dengan penuh kebencian dan mata sembab yang berhari-hari menangisi suaminya.


"Pokoknya saya gak ridho, gak ikhlas kalau sampai Cindy bebas tanpa membayar perbuatannya. Lihat sekarang suamiku, dia masih berjuang untuk hidupnya. Dia masih berusaha untuk bisa kembali sadar. Dan apa anda bilang? Anda ingin saya memaafkan anak anda yang dengan sengaja menabrak suami saya hingga dia seperti ini sekarang? Anda bisa berpikir tidak? Jika anak anda tidak dengan sengaja menabrak suami saya, mungkin kami sekarang sedang bersama anak-anak kami di rumah, bukan di rumah sakit seperti ini!" Kiki berteriak histeris dengan tangisnya yang semakin menjadi.


"Tapi anak kami sedang sa-"


"Anak sakit mentalnya kenapa harus dibiarkan keliaran sendiri. Harusnya kalian sebagai orang tua harus bisa mendampinginya sampai dia benar-benar sembuh," Kiki sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya.


Kemudian dia meninggalkan mereka begitu saja untuk kembali menemani Aydin di ruang ICU. Sedangkan kedua orang tua Cindy merasa terhina dengan perkataan Kiki yang menyudutkan mereka dan mengatakan anak mereka sakit mental meskipun memang Cindy masih dalam tahap penyembuhan dengan dokter psikiater nya di Jepang.

__ADS_1


"Menantu anda sangat kurang ajar," ucap Papa Cindy pada Ayah Aydin dengan kesal.


"Saya rasa anda lebih kurang ajar daripada menantu saya. Anda pasti tahu benar jika apa yang diucapkan oleh menantu saya semua benar. Jadi apa perlu diulangi lagi semua perkataannya?" Ayah Aydin berucap dengan tegas menatap wajah Papa Cindy yang seolah menantangnya.


"Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai. Permisi saya tinggal dulu," Ayah Aydin menggandeng tangan istrinya meninggalkan Papa dan Mama Cindy yang masih duduk di salah satu ruangan tamu di rumah sakit tersebut.


Papa dan Mama Cindy kesal karena usaha mereka tidak berhasil untuk mengeluarkan Cindy dari jeruji besi itu. Mereka bingung mencari cara apa lagi, karena bukti yang sangat kuat mengarah pada Cindy.


Akhirnya mereka keluar dari rumah sakit itu tanpa membawa kabar baik bagi Cindy. Sedangkan Cindy di dalam jeruji besi bukannya menyesali perbuatannya, dia malah uring-uringan karena terkurung di sana dan dia berkali-kali meminta agar bertemu dengan Aydin.


Tentu saja polisi bertambah ketat mengawasi Cindy karena mereka takut jika Cindy kembali berulah jika bertemu dengan Aydin yang bahkan belum sadar sekarang ini.


"Papi... bangun Pi... Ken gak mau jadi Tuan muda yang ganteng lagi kalau gak ada Papi. Bangun Pi... Ken kangen Papi... Ken pengen main bareng Papi lagi. Bangun Pi... bangun...," Kenshin memohon dengan tangisannya pada Aydin agar segera bangun.


"Yuki mau Papi bangun sekarang! Pokoknya Princess manis ini mau Papi bangun sekarang! Bangun Pi... Papi jangan tinggalin kita. Pokoknya Papi harus bangun....," tangisan Miyuki mampu membuat Aydin meneteskan air matanya.


Kiki pun ikut menangis, dia tidak tahan mendengar jeritan hati anak-anaknya yang mengharapkan Aydin bangun, sama seperti dirinya.


"Papi bangun ya, Raline gak akan mau dipanggil cantik lagi jika Papi gak bangun. Raline gak mau nurutin kemauan Papi kalau Papi gak mau bangun. Raline kangen Papi, Raline gak mau kehilangan Papi. Bangun Pi... kita semua menunggu Papi," Raline yang sudah menginjak remaja pun menangis tersedu-sedu melihat Aydin yang belum juga sadar sudah beberapa hari lamanya.

__ADS_1


Air mata Aydin kembali menetes mendengar suara tangisan anak-anaknya. Dia ingin sekali bangun tapi tidak bisa. Sekuat tenaga dia berusaha namun hasilnya sia-sia.


Kiki tidak menyadari air mata Aydin yang menetes itu karena dia sendiri menangis dan tidak kuat menahannya, sehingga dia berpindah tempat untuk menuntaskan tangisnya, dia tidak mau terlihat lemah di hadapan suami dan anak-anaknya, meskipun semua orang tahu jika Kiki selama berhari-hari tidak pernah absen mengeluarkan air matanya.


Setelah mengunjungi Aydin, Raditya membawa Raline, Kenshin dan Miyuki kembali ke rumahnya karena Ayah dan Bunda Aydin sibuk mengurus tentang hukuman Cindy dengan pihak pengacara dan pihak kepolisian. Sedangkan Mama Kiki masih menunggu bersama Kiki di rumah sakit.


Mungkin nanti mereka akan menginap di rumah Kevin dan dijemput di rumah Raditya. Peristiwa ini membuat semua orang menjadi sibuk. Kesedihan mereka tidak sebanding dengan penderitaan Cindy di dalam jeruji besi itu.Mereka bersumpah tidak akan membiarkan Cindy menghirup udara bebas apapun yang terjadi. Mereka akan mengusahakan agar Cindy mendapatkan hukuman yang setimpal.


Aydin berjalan menghampiri Kiki yang sedang bermain bersama Kenshin dan Miyuki di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga aneka warna dan air terjun yang suaranya menenangkan pikiran.


Mereka semua memakai baju berwarna putih dan Aydin memandang anak-anak serta istrinya itu dengan bahagia. Dia ingin sekali mendekati mereka yang sepertinya jaraknya sangat dekat, namun dia tak kunjung sampai.


Aydin memanggil-manggil Kiki, Kenshin dan Miyuki, tapi mereka bertiga tak ada yang menoleh ataupun menyahut. Aydin pun mulai berusaha untuk berlari dengan cepat agar bisa cepat sampai di tempat anak dan istrinya itu. Namun, ketika dia merasa sudah dekat Aydin dihadapkan dengan jurang yang memisahkan tempat dirinya kini berada dan tempat Kiki, Kenshin dan Miyuki berada.


Aydin mencari tali ataupun barang yang bisa dia gunakan untuk melompati jurang pemisah tersebut, namun tidak ada apapun di sana yang bisa dia gunakan untuk menyeberangi jurang tersebut. Hingga akhirnya dia mengumpulkan tenaganya dan berancang-ancang dari jauh untuk melompati jurang pemisah tersebut. Kemudian dia benar-benar melompat ketika sudah berada di dekat jurang pemisah tersebut.


Tiiit... tiit... tiiit...


"Dokter... dokter.. cepat tolong suami saya!"

__ADS_1


__ADS_2