
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Kenshin pada Raline.
"Masih kurang tau aku Ken. Ini kan hari pertamaku masuk," jawab Raline sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Ok, nanti hubungi aku kalau udah pulang, biar aku bisa langsung menjemputmu di sini," tutur Ken sambil memandang Raline untuk mengetahui jawabannya.
"Siap Tuan Muda," jawab Raline sambil terkekeh.
"Jangan panggil itu lagi sekarang. Kamu bukan seperti yang lainnya," ucap Kenshin sambil tersenyum memandang gadis di hadapannya itu.
Raline merasa bingung dengan apa yang dikatakan Kenshin padanya. Dia hanya mengerjap-ngerjapkan matanya saja karena merasa bingung mendengarnya.
"Jangan panggil aku Tuan Muda. Panggil aku sayang," Kenshin menyambung kembali ucapannya.
Sontak saja Raline membulatkan matanya. Dia merasa aneh dengan panggilan yang disarankan oleh Kenshin padanya.
"Gak usah kaget gitu. Turuti aja perintahku. Biasanya juga gitu kan?" tutur Kenshin sambil terkekeh melihat ekspresi Raline yang kaget seperti itu selalu saja sangat menggemaskan baginya.
"Tapi Ken itu, itu...."
Sungguh Raline saat ini sangat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa serta bereaksi bagaimana pada Kenshin.
"Gak turun?" tanya Kenshin pada Raline yang masih saja mematung di hadapannya.
Sontak saja Raline terhenyak dan tersadar dari lamunannya. Seketika dia keluar dari mobil Kenshin dengan terburu-buru tanpa berpamitan pada Kenshin.
"Cantik, jangan lupa hubungi aku kalau mau pulang!"
Kenshin membuka kaca jendela mobilnya dan berteriak pada Raline yang sudah berjalan cepat menjauh dari mobilnya.
Kenshin terkekeh melihat Raline yang salah tingkah karena ulahnya, bahkan kini saja dia sedikit tersandung karena berjalan cepat untuk menghindari Kenshin.
Mata Kenshin membelalak sempurna ketika melihat mobil Tristan melewati depan mobilnya. Jujur saja Kenshin lupa menanyakan pada Raline tentang Tristan. Dia tidak tahu jika Tristan juga berkuliah di tempat yang sama dengan Raline.
"Sial! Kenapa dia juga ada di sini? Kenapa dia tidak kuliah di tempat lain? Tunggu, apa dia juga satu jurusan dengan Raline?"
__ADS_1
Kenshin marah dan kesal melihat Tristan berkuliah si tempat yang sama dengan Raline. Mood nya yang tadinya sangat bagus, kini mendadak menjadi buruk.
Sampai di kelasnya, Kenshin marah-marah pada setiap hal ataupun setiap orang yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Hampir setiap anak yang bertemu dengannya selalu dibentak olehnya.
"Ken, kamu kenapa sih? Ada yang salah? Atau ada yang membuatmu marah?" Theo bertanya pada Kenshin.
Kenshin hanya diam dan memasang wajah kesalnya. Dilemparkannya buku yang berada di tasnya ke atas meja hingga menimbulkan suara yang membuat semua orang berada di kelas berjingkat kaget dan menoleh padanya.
Tidak ada sama sekali yang protes ataupun marah padanya. Kenshin memang terkenal dingin dan tidak ramah di sekolah. Hal itu sudah menjadi berita yang tidak ading lagi bagi mereka.
Namun dia tetap menjadi murid berprestasi andalan sekolah mereka, sehingga tidak ada yang mengeluh tentang sikapnya.
Jangankan teman-temannya ataupun adik kelas dan kakak kelasnya, bahkan gurunya pun tidak pernah keberatan dengan sikap Kenshin yang seperti itu karena menurut pihak sekolah Kenshin tidak merugikan siapapun.
"Ken!"
Saking kesalnya Theo pada Kenshin, dia berseru di dekat telinga Kenshin. Hal itu membuat Kenshin bertambah kesal dan reflek tangan Kenshin pun menoyor kepala Theo.
Seolah melampiaskan kekesalannya pada Theo, Kenshin melakukannya dengan cepat dan sekuat tenaga hingga Theo yang tidak sempat menghindar itu kini harus merasakan rasa sakit pada kepalanya.
"Aku lagi kesel nih. Si ketiga itu malah ada di kampus yang sama dengan Raline. Dan yang aku takutkan, dia ada di kelas yang sama dengan Raline," ucap Kenshin dengan mengacak-acak rambutnya sangat frustasi.
"Memangnya kenapa kalau mereka satu kampus atau satu kelas? Bukannya mereka memang pasangan ya sedari dulu?" Theo menanggapi ucapan Kenshin yang terasa sekali kekesalannya pada Tristan saat membicarakannya.
"Bukan! Siapa yang bilang mereka pasangan? Mereka itu teman biasa. Si ketiga itu saja yang selalu mendekat-dekati Raline. Dasar cowok gak tau diri," jawab Kenshin dengan sewotnya.
Theo melihat Kenshin yang sangat marah dan kesal ketika membicarakan Tristan. Dalam hati Theo jadi bertanya-tanya,
Apa mungkin Kenshin menyukai Kak Raline? Bukankah Kak Raline itu kakaknya?
Theo menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan tadi dari pikirannya. Dia tidak mau ikut campur masalah Kenshin karena dia tahu jika Kenshin tidak akan membiarkannya mencampuri urusan pribadinya.
Di sisi lain, tepatnya di kampus tempat Raline dan Tristan berkuliah, kini acara mereka sudah selesai dan saatnya mereka pulang.
Raline bersiap untuk menghubungi Kenshin sesuai dengan permintaannya.
__ADS_1
"Ra!" suara Tristan mengagetkan Raline yang akan memencet nomer kontak Kenshin.
"Pulang yuk.... Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Tristan sambil memberikan senyuman manisnya pada Raline.
"Emmm tapi... tapi...." Raline ragu mengucapkannya.
"Tapi kenapa Ra? Kamu pasti belum dijemput kan?" tanya Tristan pada Raline.
"Sebenarnya aku akan dijemput Tris. Dan mungkin saja sebentar lagi jemputanku akan datang," Raline mencoba menolak keinginan Tristan.
"Hubungi aja Ra, bilang pada mereka bahwa Tristan yang akan mengantarkan kamu pulang. Pasti Mami dan Papi kamu setuju dan mereka pasti akan sangat senang jika calon menantunya ini mengantarkan kamu pulang," ucap Tristan dengan bangganya.
Raline menatap Tristan dengan heran. Sejak kapan Tristan bisa bertingkah sangat percaya diri seperti ini dengan menyebutnya sebagai calon menantu Mami dan Papinya.
Selama ini memang Tristan sangat tinggi percaya dirinya, namun itu didepan teman-temannya yang lain. Jika di depan Raline, Tristan tidak pernah bersikap seperti itu karena menurutnya akan percuma saja untuknya, Raline berbeda dengan cewek lainnya yang terpesona pada pesona Tristan.
"Brengsek! Sialan!"
Kenshin memukul setir mobilnya ketika mendengar percakapan Raline dengan Tristan. Ya, benar. Kenshin sekarang ini berada di dalam mobilnya. Dan dia sudah beberapa menit yang lalu telah sampai di depan universitas tempat Raline dan Tristan berkuliah.
Sebenarnya tadi Raline tidak sengaja memencet tombol telepon ketika Tristan mengagetkannya, dan sialnya Raline tidak mengetahui jika teleponnya sudah tersambung pada Kenshin, bahkan Kenshin langsung menerimanya pada saat dering pertama, sehingga semua percakapan antara Raline dengan Tristan bisa terdengar dengan jelas oleh Kenshin.
Dengan cepatnya Kenshin turun dari mobilnya menuju ke dalam bangunan yang bertuliskan universitas itu.
Penampilan Kenshin memang tidak seperti anak SMA pada umumnya, bahkan dia hampir sama seperti mahasiswa baru dengan penampilan yang keren dan wajah yang sangat digemari oleh kaum perempuan.
Memang Kenshin sudah berganti pakaian biasa pada saat menjemput Raline, karena dia tidak ingin Raline malu jika dia menjemputnya dengan menggunakan seragam SMA nya. Karena itulah Kenshin sengaja membawa baju ganti di tas sekolahnya.
Sret!
Tangan Raline tiba-tiba dipegang dengan erat oleh tangan asing yang sepertinya baru datang di dekat mereka.
Raline dan Tristan menoleh pada pemilik tangan tersebut, dan mereka kaget ketika melihat siapa pemilik tangan yang memegang tangan Raline itu.
"Ken!"
__ADS_1