
Sudah berhari-hari keadaan Aydin masih tetap sama. Hingga pada dini hari Kiki yang dirinya terlihat tidak terurus itu merasa kecapekan dan tertidur dalam posisi duduk di dekat ranjang Aydin.
Kepala Kiki berada di sebelah tangan Aydin dengan posisi menghadap wajah suaminya dan tangan Kiki selalu menggenggam tangan Aydin, dia takut jika pada saat jari-jari Aydin kembali bergerak dia tidak tahu. Oleh sebab itu genggaman tangannya tidak pernah lepas dari tangan suaminya.
Tiba-tiba saja kepala Kiki terasa berat dan seperti ada yang mengusap-usap rambutnya. Dengan mata yang masih sangat mengantuk dan berat untuk di buka. Kiki membuka matanya perlahan, betapa kagetnya dia melihat suaminya yang sudah membuka matanya dan tersenyum kepadanya. Serta tangan Aydin yang tidak digenggam oleh Kiki sedang berada di atas kepala Kiki dengan mengusap pelan rambutnya.
"Bang Ay....," reflek mulut Kiki memanggil nama Aydin dengan suara yang lirih.
Kiki mengusap-usap matanya untuk memperjelas apa yang dia lihat. Dia takut jika dia masih berhalusinasi. Perlahan Kiki meraih tangan Aydin yang berada di atas kepalanya dan menciumi tangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Wajah Kiki pun mendekat pada wajah Aydin dan melihat benar-benar mata Aydin yang meneteskan air mata melihatnya.
Kiki segera terperanjat sadar jika dirinya tidak sedang bermimpi. Berminggu-minggu sudah Aydin tidak sadar, dan akhirnya Kiki bisa melihat mata suaminya terbuka menyapanya.
Tombol yang ada di ruangan tersebut segera ditekan oleh Kiki agar dokter bisa secepatnya datang memeriksa keadaan Aydin. Kiki tidak bisa menahan tangisnya, dan matanya tidak lelah hanya memandang wajah Aydin, dia enggan melihat ke arah lain karena dia tidak mau jika dia melihat ke arah lain dan mata Aydin terpejam kembali.
Tangan Aydin mengusap air mata Kiki dan dengan terbata-bata sekuat tenaganya Aydin berkata,
"Ja-ngan me-na-ngis."
Kiki mengangguk, namun air matanya semakin deras dan dia tidak bisa menahannya. Air mata ini air mata bahagia dan dia tidak mempermasalahkannya.
Beberapa dokter dan perawat sudah datang dengan berlari menuju ruangan tersebut. Mereka merasa lega melihat Aydin yang sudah membuka matanya dan menggerakkan sedikit demi sedikit tangannya. Tadinya dokter kira jika Aydin kembali drop seperti waktu itu, ternyata mereka salah dan kini mereka bisa tersenyum.
Dokter segera memeriksa keadaan Aydin dan memastikan keadaan Aydin setelah menjalani operasi.
"Kita akan segera memeriksa lebih lanjut keseluruhannya untuk semuanya agar tahu jika ada luka dalam atau yang lain. Semoga saja semuanya baik-baik saja," ucap dokter tersebut setelah meriksa Aydin.
"Terima kasih dok, lakukan yang terbaik untuk suami saya," Kiki mengucapkannya masih dengan tangisnya yang belum reda.
"Baik dok, kami permisi dulu," dokter tersebut berpamitan pada Kiki.
__ADS_1
"Semoga cepat sembuh Pak. Lihatlah istri Bapak yang tidak pernah meninggalkan anda ini, sampai-sampai lupa akan dirinya sendiri," dokter tersebut berpamitan pada Aydin dan memberitahukan keadaan Kiki dengan tertawa kecil sehingga seperti candaan sebelum para dokter dan perawat meninggalkan ruangan tersebut.
Aydin melirik ke arah Kiki dan air matanya kembali menetes. Entahlah itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan.
Kiki segera mendekat pada Aydin menciumi wajahnya serta menghapus air matanya. Kiki sendiri tidak mampu mengatakan apapun, dia hanya mengatakan kerinduan dan kesenangannya melalui tindakan.
Hingga beberapa saat kemudian Aydin tertidur kembali karena efek dari obat yang diberikan oleh dokter tadi. Kiki masih setia berada di sisi suaminya dengan berbagai macam perasaannya.
"Aydin... apa Aydin benar sudah sadar Ki?" Bunda bertanya pada Kiki dengan mengusap rambut Aydin.
"Iya Bunda, maaf tadi Kiki lupa memberi kabar pada semuanya," jawab Kiki yang kembali mengeluarkan air matanya, dia tidak menduga jika Allah begitu baik padanya, sehingga suaminya benar-benar kembali sadar.
Bunda tersenyum dan beralih memeluk tubuh Kiki. Tangan Bunda mengusap punggung Kiki untuk menenangkannya.
"Bunda tau ini berat buat Kiki. Bunda sangat berterima kasih karena kamu selalu ada untuk menemani Aydin. Tapi Bunda harap kamu jangan sampai lupa untuk mengurus tubuh kamu ya, paling tidak kamu harus makan dan minum teratur. Lihat tubuhmu, Aydin pasti sedih nanti jika lihat kamu seperti ini," Bunda mengucapkannya masih dengan memeluk tubuh Kiki.
Kiki mengangguk dan menangis sesenggukan. Dia sungguh tak mengira jika dirinya mengalami semua ini.
Tidak berapa lama kemudian Aydin terbangun dan dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah itu Aydin dipindahkan ke ruangan VVIP. Dan tidak beberapa lama kemudian datanglah semua sahabatnya serta kedua orang tua Kiki yang baru tiba dari luar kota mengurusi usaha mereka.
"Papi.....!!!!" Kenshin dan Miyuki berteriak memanggil Aydin ketika masuk ke dalam ruangan itu.
Aydin masih merasa kaku untuk berbicara dan bergerak. Dia memerlukan terapi untuk bisa kembali berjalan akibat dari kecelakaan waktu itu.
Tulang kakinya retak sehingga memerlukan perawatan lebih lanjut. Dan untuk anggota tubuh yang lainnya hanya luka-luka biasa. Sedangkan kepalanya hanya mengalami gegar otak ringan dan beruntung waktu itu segera mendapatkan penanganan yang tepat sehingga tidak berbahaya.
Miyuki dan Kenshin memeluk tubuh Papinya disebelah kanan dan kiri. Sedangkan Raline hanya memandang Aydin dari jauh dengan berlinang air mata.
Gadis remaja itu tidak kuasa melihat Aydin yang masih terbujur di ranjang dengan beberapa bantuan alat medis yang masih belum dilepas. Hanya sebagian saja yang sudah dilepas karena kesehatan Aydin masih dalam pantauan.
__ADS_1
"Ra-line si-ni," Aydin bersusah payah memanggil nama Raline.
Raline pun mendekat dan reflek memeluk tubuh Aydin. Tangisan Raline tumpah di pelukan Aydin. Mereka memang seperti anak dan bapak yang baru bertemu kembali.
Aydin pun mengusap air mata Raline dan menggeleng sebagai tanda jika Raline tidak boleh lagi menangis. Raline pun mengangguk dan berganti memeluk Kiki yang ada di samping Aydin.
Raditya mendekati Aydin dan memeluknya. Raditya bahagia bisa melihat Aydin kembali sadar.
"Cepat sembuh Bang supaya kita bisa berkumpul dan bermain lagi seperti biasanya," ucap Raditya sambil memeluk tubuh Aydin.
"Te-ri-ma ka-sih u-dah men-ja-ga Ki-ki dan a-nak-a-nak," ucap Aydin yang masih sedikit terbata-bata.
"Sesuai janjiku Bang," jawab Raditya dengan tersenyum ketika pelukan mereka sudah terlepas.
Kini giliran Kenan yang sedari tadi mengeluarkan air matanya. Kenan segera memeluk tubuh Aydin dengan erat ketika Raditya sudah menyingkir dari dekat Aydin. Kenan menangis tersedu-sedu, dia tidak bisa menahan kebahagiaannya karena bisa melihat Aydin kembali sadar dan bisa kembali berkumpul bersama mereka.
Kenan sangat sedih hingga air matanya tidak bisa dibendung lagi. Dia menyaksikan sendiri kecelakaan itu. Dia menyaksikan tubuh Aydin yang terpental pada saat itu, dan kini dia tidak menyangkan jika dia bisa kembali bersama Aydin bahkan dia sangat menantikan kembali bekerja bersama dengan bos dinginnya itu.
"A-ku ba-ru ta-u ka-mu ce-ngeng," Aydin meledek Kenan.
Sontak saja Kenan memukul lengan Aydin hingga Aydin meringis kesakitan.
Plak!!!
Kiki memukul keras punggung Kenan karena berani memukul lengan Aydin.
"Ampun Ki.... heran, perempuan tapi tenaga kayak laki, padahal katanya di sini jarang makan. Gimana kalau makan? Bisa-bisa langsung patah tulang kali ya," Kenan meminta maaf pada Kiki dan tidak sengaja menggerutu hingga bisa didengar oleh orang banyak.
"Mau lagi?" tanya Kiki sambil bersiap melayangkan tangannya untuk memukul Kenan kembali.
__ADS_1
"Ampun Ki....," Kenan berlutut sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Bodoh amat harga diri, yang penting gak dipecat, Kenan menggerutu dalam hatinya.