
"Raline, apa cowok tadi itu pacar kamu?" tanya Aldo pada Raline ketika sudah duduk di meja kursi yang berada di meja mereka.
Seketika Raditya mengalihkan pandangannya dari buku menu dan kini dia melihat ke arah Raline.
Raline menjadi salah tingkah karena kini ayahnya sedang menatap ke arahnya. Raline mengerti, pasti ayahnya itu sedang menunggu jawaban darinya.
"Bukan Om. Tristan hanya teman Raline aja. Kebetulan kami selalu satu kelas dari dulu," Raline menjawab pertanyaan Aldo.
"Beneran? Kayaknya Om lihat tadi dia gak menganggap kamu seperti hanya seorang teman biasa aja. Apa jangan-jangan kalian berdua mirip seperti ayahmu dan....," belum selesai Aldo berbicara, tapi mulut Aldo sudah dibungkam terlebih dahulu oleh Raditya.
"Ayah dan siapa Om?" tanya Raline pada Aldo yang mulutnya masih dibungkam oleh Raditya dan ditatap dengan tatapan membunuh oleh Raditya.
Aldo hanya menggeleng dengan posisi yang masih sama, dia merasa tertekan hanya dengan diperlakukan seperti itu saja oleh Raditya.
"Iiih Ayah... kenapa mulut Om Aldo pakai dibungkam segala sih? Kan jadi gak bisa ngomong Om Aldonya," Raline merengek kesal pada Raditya.
"Gak usah didengerin. Aldo emang suka gitu, suka bercanda," Raditya mencoba mengalihkan pertanyaan dari Raline.
"Eh kenapa Aldo jadi dibungkam gitu?" Kiki bertanya pada saat datang bersama dengan Aydin.
"Mami, kata Om Aldo tadi ayah dulu itu-"
"Raline sayang... gak usah didengerin ya omongan Om Aldo yang mulutnya pedas kayak netizen ini," Raditya menyela ucapan Raline yang sedang bertanya pada Kiki.
"Ini juga kenapa kok manyun gitu? Lagi marah ya Tuan muda?" Aydin bertanya pada Kenshin.
Sontak saja semua melihat ke arah Kenshin. Dan Raditya pun melepaskan tangannya yang membungkam mulut Aldo.
"Siapa sih yang nyuruh dia ke sini? Liat aja, dia akan Ken masukin di blacklist pelanggan," ucap Kenshin dengan kesal.
Kiki dan Aydin saling menatap seolah mereka saling bertanya dengan tatapan mata mereka yang saling beradu.
"Dia? Siapa?" tanya Aydin kembali pada Kenshin.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan si ketiga itu," jawab Kenshin dengan sewot.
"Si ketiga?" celetuk Aydin menatap satu persatu orang yang berada di meja tersebut.
"Maksud kamu Tristan?" tanya Raline pada Kenshin yang bermaksud menebak nama orang yang dimaksudkan oleh Kenshin tadi.
Sontak saja Kenshin melihat Raline dengan wajah datar dan aura dinginnya keluar, persis seperti Aydin jika sedang kesal.
"Yuki kasih tau ya Kak, Kak Ken ini kalau udah gak suka sama orang itu, pasti dia gak mau dengar namanya. Jadi kakak cantik gak usah nyebut nama dia di depan Kak Ken," Miyuki menerjemahkan pandangan Ken yang bisa dikatakan menyeramkan.
Semua orang di sana saling memandang dan tersenyum melihat Ken yang sedang cemburu persis seperti Aydin ketika sedang cemburu.
"Ken, kamu mirip banget kayak Papi kamu kalau sedang cemburu," ucap Raditya sambil terkekeh.
"Dan kisah Raline sama cowok tadi kayak kisah ayahmu ini sama mamimu," sahut Aldo sambil menjauh dari Raditya.
"Hah?!" Raline kaget mendengarnya.
"Lah kan kita sahabatan dari dulu," Raditya membela dirinya sendiri.
"Lah emang sahabatan kan deket. Terus apa salahnya?" Kiki pun membela dirinya.
"Kalau gitu Kakak cantik gak boleh lebih dari teman meskipun dekat sama dia," tutur Kenshin pada Raline dengan tegas dan tatapan dinginnya.
Raline mengerjap-ngerjapkan matanya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia tidak pernah berbohong. Dia juga tidak tahu nantinya akan bagaimana dengan Tristan.
Tapi Raline sangat menyayangi Kenshin lebih dari dirinya sendiri. Hanya Kenshin yang tahu tentang perasaannya selama ini. Hanya Kenshin yang tahu tentang kesedihannya selama ini. Dan hanya Kenshin yang benar-benar bisa menghiburnya di kala dia sedang merindukan Bundanya.
"Kak!" Kenshin memanggil Raline untuk mendengar jawaban darinya.
Tanpa sadar Raline menganggukkan kepalanya, dan hal itu membuat mood Kenshin kembali membaik.
Raline sungguh beruntung memiliki Kenshin dalam hidupnya. Karena Kenshin selalu menjaganya, dan Raline tahu itu.
__ADS_1
Menurut Raline sikap Kenshin pada Tristan tidak berlebihan, karena Kenshin memang over protective untuk menjaga Raline. Dia tidak keberatan jika dijauhi cowok yang ingin mendekatinya, karena dia yakin jika pastinya nanti akan ada cowok terbaik yang akan mencintainya, seperti.... ayahnya atau papinya mungkin.
Makanan mereka sudah datang, dan itu membuat pembicaraan serta candaan mereka terhenti.
"Aku udah kenyang, udah makan tadi," ucap Raline ketika makanannya yang telah dipesankan oleh Kenshin ada di depannya.
"Harus dimakan. Makannya kan tadi, sekarang harus makan lagi," tutur Kenshin dengan nada memerintah.
Dan lagi-lagi Raline pun menurut. Hal itu membuat semua orang yang berada di meja tersebut berpikir jika Raline dan Kenshin seperti pasangan yang sedang makan bersama.
Hanya Miyuki lah yang tidak berpikir seperti itu, dia hanya sibuk dengan makanan kesukaannya dan es krim yang selalu jadi menu utamanya.
Sudah hampir satu jam Tristan menunggu Raline keluar dari dalam cafe, namun sosok Raline tak kunjung keluar dari dalam cafe.
Terlihat dari kaca Raline dan semua orang di meja itu tertawa senang sambil makan dan mengobrol bersama. Sungguh pemandangan yang indah menurutnya.
Memang tempat keluarga Aydin makan berada di ruangan khusus yang menghadap ke taman dengan berbatas jendela kaca dari atas sampai bawah. Hingga ketika mereka makan bisa dilihat oleh orang yang berada di taman.
Namun taman yang mereka hadap itu juga khusus hanya untuk mereka, jadi tidak ada meja untuk tamu yang makan di taman bagian itu.
"Tristan, pulang yuk!" Rania mengajak Tristan pulang karena Rania tahu jika Tristan masih saja menunggu Raline.
"Raline gak bakalan pulang bareng kamu. Dia kalau udah sama keluarganya, gak bakalan bisa ke mana-mana," Raline menyambung perkataannya.
"Udah yuk kita pulang aja!" Rania kembali mengajak Tristan pulang dengan menarik lengan jaket Tristan.
"Sayang, gak usah narik-narik gitu. Dia bisa jalan sendiri," Ali melarang Rania karena cemburu pada Tristan.
"Apaan sih, gitu aja cemburu. Rania ini teman dekatku sejak dulu, sebelum dia kenal sama kamu," Tristan mengatakannya dengan kesal dan setengah membentak Ali.
"Weiiii.. santai aja dong, gak usah ngegas," ucap Ali sambil terkekeh melihat Tristan yang sedang kesal padanya.
Ali tahu jika Tristan sedang cemburu pada cowok berseragam SMP yang menarik tangan Raline masuk ke dalam cafe tadi. Dan Ali juga tahu jika rasa cemburu itu sangat menyiksa sehingga membuat orang tersebut uring-uringan. Oleh sebab itu Ali tidak marah pada Tristan yang berkata dengan nada tinggi padanya.
__ADS_1
"Tristan, kamu suka ya sama Raline?"