Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
186


__ADS_3

"Maksudnya kamu tau laki-laki yang jadi pasangan Resti itu?" tanya Naufal untuk meyakinkannya.


"Iya. Beberapa hari yang lalu dia selalu datang pada saat jam pulang sekolah. Dia selalu menjemput Resti dan menunggunya di gerbang," Resti menjawab sambil mengingat-ingat.


"Kok kamu tau sih? Kamu pulang bareng dia?" Naufal bertanya karena rasa penasarannya yang tiba-tiba muncul.


"Enggaklah... laki-laki itu pernah tanya aku pada saat Resti masih belum keluar kelas. Dan akhirnya tiap hari dia jemput Resti, selalu aja nyapa aku. Jadi aku tau dia ada disitu tiap hari," Rania mencoba menjelaskannya pada Naufal agar tidak dituduh dekat dengan Resti.


"Wah berarti kalian saling kenal dong?" Naufal kembali bertanya pada Rania.


"Ya iyalah. Waktu itu kan dia tanya namaku. Kenapa memangnya?" Rania bertanya karena bingung dengan arah pembicaraan Naufal.


"Bagus! Sekarang giliran kamu yang harus bantuin Raline mengungkap semuanya. Kamu kan sahabat Raline, gak mungkin kan kamu gak bantuin dia?" Naufal tersenyum seperti menyindir Rania.


"Lah dari tadi kan pengen bantuin, cuma gak tau aja caranya gimana," ucap Rania sewot pada Naufal.


"Sekarang aku tau caranya. Kamu mau bantu kan Ran?" Naufal kembali bertanya pada Rania.


"Boleh. Gimana caranya?" ucap Rania dengan sangat penasaran.


"Gak usah Ran. Aku gak mau ya kalau kalian bertiga dalam bahaya ataupun malah dihukum karena menolongku," kini Raline mulai berbicara, dia tidak ingin sahabatnya ikut terseret dalam masalahnya.


"Udah Ra kamu tenang aja. Aman kok. Kita berdua bisa jamin. Iya gak Bro?" Naufal mencari dukungan dari Tristan.


Tristan menatap Naufal dengan penuh tanda tanya, namun Naufal memberinya tanda dengan menganggukkan kepalanya. Dan Tristan pun menyetujui perkataan dari Naufal.


"Jadi gini Ra, kamu harus deketin laki-laki itu. Kamu tanya apa aja terserah kamu dan ujung-ujungnya kamu tanya akhir pekan kemarin dia ke mana. Jangan lupa kamu rekam pembicaraan kalian. Dan kamu gak usah takut karena aku sama Tristan akan selalu mantau kamu, kita akan ikuti kamu terus. Tenang aja," Naufal mengeluarkan idenya dengan antusias.


Tristan dan Naufal memandang Rania dengan penasaran. Mereka ingin tahu apa keputusan Rania. Apakah dia akan menyetujui usul dari Naufal ataukah malah menolaknya? Dan ternyata....


"Siapa takut?!" jawab Rania dengan tersenyum lebar.


Seketika bibir Tristan dan Naufal melengkung ke atas dan mereka melakukan tos ala mereka dengan bersorak gembira.

__ADS_1


"Kalian, cepat masuk!" terdengar suara teriakan dari arah depan taman yang memerintahkan mereka masuk ke dalam kelas.


Ternyata guru yang meneriaki mereka itu tadi adalah guru BK yang tadi mereka hadapi di ruang BK.


"Kalian kenapa gak masuk kelas?" tanya guru tersebut ketika berpapasan dengan mereka.


"Kami sedang mengumpulkan bukti dan saksi untuk membuktikan bahwa Raline tidak seperti yang mereka ucapkan Pak," jawab Tristan yang memang tidak pernah takut menghadapi guru BK itu.


Guru tersebut mengernyitkan dahinya, kemudian dia menoleh pada Raline. Dia melihat Raline yang tampak sangat bersedih tidak seperti biasanya.


"Baiklah, saya akan tunggu pembuktian kalian. Tapi dengan syarat kalian tidak boleh meremehkan pelajaran kalian. Saya tidak mau murid-murid sekolah ini yang berprestasi menjadi turun prestasinya hanya karena berita gak jelas seperti tadi," ucap guru BK tersebut memperingatkan mereka berempat, namun sebenarnya ditujukan untuk Raline dan Tristan karena merekalah siswa berprestasi yang guru tersebut maksudkan.


"Baik Pak!"


"Siap Pak!"


Guru tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melihat satu persatu wajah mereka, setelah itu guru tersebut berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Kembali ke kelas kalian!" seru guru BK tersebut sambil berjalan dan tanpa menoleh pada mereka.


Ketika jam pulang berbunyi, Rania, Tristan dan Naufal saling memberi kode. Rania yang bertugas untuk mendekati Ali sengaja pulang terlebih dahulu setelah guru mereka keluar dari kelas.


Begitupula dengan Raline, Tristan dan Naufal. Mereka tidak akan membiarkan Rania pergi tanpa pantauan mereka. Kecuali Raline yang harus tetap pulang bersama jemputannya agar tidak membuat berita tentang Raline semakin merebak. Mereka akan semakin mempercayai gosip tersebut jika Raline pulang bersama dengan Tristan.


"Hai, lagi nungguin Resti ya?" tanya Rania pada Ali yang tiba-tiba datang menghampiri Ali di tempat biasanya.


"I-iya. Rania apa kabar?" tanya Ali gugup karena degupan jantungnya semakin berdebar kencang jika berdekatan dengan Rania.


"Baik. Aku numpang nunggu di sini ya," Rania berbasa-basi pada Ali.


"Nunggu? Nunggu siapa? Pacar kamu?" pertanyaan-pertanyaan ini lolos begitu saja dari mulut Ali tanpa dia sadari.


"Pacar? Mana mungkin... Aku tuh gak punya pacar. Gak ada sama cewek jelek kayak aku," ucap Rania sambil terkekeh.

__ADS_1


"Siapa bilang jelek? Cantik kok, banget malahan," Ali mengoreksi ucapan Rania.


"Kalau memang cantik, pasti deh udah ada yang minta aku jadi pacarnya. Buktinya aja gak ada yang minta aku jadi pacarnya," Rania menjawab disertai kekehannya.


"Beneran gak ada? Atau mungkin mereka takut kamu tolak kalau mau nembak kamu jadi pacarnya," kini Ali mulai mendekati Rania, berdiri di samping Rania berada.


"Mereka aja yang gak niat, kalau memang mereka niat, pasti mereka bakalan berusaha dulu. Lagian siapa yang suka sama cewek kayak aku?" Rania kembali memancing Ali.


"Aku. Aku suka sama kamu sejak pertama kali melihatmu," jawab Ali tanpa sadar sambil memandang wajah Rania.


"Benarkah?" tanya Rania pada Ali.


Ali pun mengangguk tanpa sadar seolah terhipnotis dengan wajah manis dari Rania dan senyum manis Rania yang selalu menjadi pesonanya.


"Bukannya kamu pacarnya Resti?" tanya Rania menyelidik pada Ali.


Ali tersenyum kecut ketika mendengar nama Resti. Dia memandang wajah Rania beberapa saat, kemudian dia memandang gerbang sekolahan yang belum menampakkan sosok Resti. Sejenak dia berpikir, namun beberapa detik kemudian dia memutuskan.


"Rania, apa kita bisa berbicara sebentar di tempat lain?" tanya Ali pada Rania.


Rania berlagak berpikir sejenak, namun setelah itu dia mengangguk setuju dengan permintaan Ali.


"Boleh. Kita akan bicara di mana? Eh iya aku belum tau nama kamu tapi kamu udah bilang suka sama aku," ucap Rania sambil terkekeh.


Ali pun merasa nyaman dengan Rania, sehingga dia ikut terkekeh seperti Rania. Ali merasa dirinya dihargai keberadaannya oleh Rania, berbeda dengan dia jika bersama dengan Resti.


Kenyamanan Ali tidak pernah ada jika bersama dengan Resti, hanya seperti pelayan Resti saja yang dirasakannya karena Resti selalu memerintahnya.


Bahkan dia rela mengeluarkan banyak uang untuk Resti agar Resti bisa menerima kehadirannya dalam hidupnya.


"Namaku Ali. Kalau mau kamu bisa panggil aku sayang aja," Ali mengeluarkan candaannya.


"Dasar kamu nih. Kita jadi gak nih ngobrolnya?" ucap Rania sambil terkekeh dan tangannya mencubit lengan Ali.

__ADS_1


"Jadi dong. Yuk naik motor aku," ucap Ali sambil naik di atas motor sport nya.


__ADS_2