Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
129


__ADS_3

Setelah peristiwa malam itu, Linda menjadi pemurung, dia merasa hidupnya hampa meskipun selalu punya waktu untuk bersenang-senang dengan Riko dan Pak Gunawan.


"Sayang, kapan kita jadi nikah?" Linda bertanya pada Riko selesai mereka melakukan aktifitas mereka di ranjang.


"Kamu kok tanya masalah itu lagi sih Sayang? Kan udah bertahun-tahun kita bahas ini. Aku belum siap karena aku masih mengumpulkan uang agar bisa membeli rumah yang besar untuk keluarga kita" Riko mencoba meyakinkan Linda.


"Justru bertahun-tahun ini aku tanya. Kenapa alasannya masih sama? Kemana uangmu selama ini? Bukannya kita selalu memakai uangku untuk hidup kita selama ini?" ucap Linda dengan kesalnya.


Saking kesalnya dia, Linda beranjak dari tidurnya dan duduk di atas ranjang tanpa balutan busana. Dia menatap wajah Riko mencoba untuk mengintimidasinya.


"Ada Sayang, udah aku kumpulkan, aku tabungkan sesuai dengan keinginanmu," ucap Riko yang meyakinkan Linda.


Riko mengikuti Linda, dia duduk di atas ranjang tanpa busana yang menyelimuti tubuh mereka.


"Udah yuk kita tidur lagi, gak usah kamu pikirkan itu. Kita kan udah tinggal bersama dan bahagia. Pelan-pelan pasti nanti keinginan kita akan terwujud," Riko merayu Linda agar tidak mempermasalahkan pernikahan lagi.


"Ini bukan karena wanita lain kan?" Linda mulai menanyakan masalah wanita yang dia lihat bersama dengan Riko di warung waktu itu.


"Wanita lain? Siapa?" Riko mulai tersulut emosi.


"Aku tau jika kamu berhubungan dengan wanita lain di belakangku," Linda tidak kalah emosi dengan Riko.


Riko meraih ponselnya yang dia letakkan di meja sebelah tempat tidurnya dan mengutak-atik ponselnya sebentar kemudian dia berkata,


"Apa wanita ini?" Riko bertanya pada Linda sambil memperlihatkan foto seorang wanita yang bersamanya.


Linda melotot kaget, dirampasnya ponsel Riko dan memperhatikan baik-baik foto Riko yang sangat dekat dengan seorang wanita.


"Siapa dia? Apa hubungan kalian?" Linda berteriak histeris sambil memukul-mukul tubuh Riko sekenanya.


"Tenang Sayang, dia sepupuku yang baru beberapa bulan tinggal di kota ini. Aku memang sering jalan sama dia hanya sebatas membelikannya makanan saja, karena orang tuanya menitipkannya padaku. Itupun aku bertemunya tidak tiap hari. Hanya beberapa kali saj dalam satu bulan," Riko mengelak dan membuat Linda percaya akan semua yang dia lihat.


Sangat licik sekali bukan Riko? Dia mampu menggabung-gabungkan fakta dan kebohongannya dalam satu cerita yang bisa dipercaya oleh orang lain.


Nasya. Wanita itu memang sepupu Riko. Dia lima tahun lebih muda dari Riko. Namun hubungan mereka bukanlah sepupu biasa, karena Nasya yang menaruh hati pada Riko dan Nasya pun mau memberikan apapun pada Riko, tak terkecuali mahkotanya yang berharga.

__ADS_1


"Ya udah, kapan-kapan kalau kalian bertemu ajak aku, biar aku bisa kenal dekat dengannya," dan akhirnya luluh juga Linda pada rayuan Riko seperti biasanya.


......................


Aydin dan Kiki sedang menikmati sinar rembulan di balkon mereka seperti biasanya. Badan mereka yang saling memeluk erat membuat angin malam yang berhembus tidak lagi dingin dirasanya. Semua tentang rasa, tentang cinta dan kasih sayang mereka telah c yg hingga tak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan tentang kesetiaan masing-masing.


"Sayang, aku akan melakukan perjalanan bisnis besok. Ini Kenan baru saja ngabari, katanya klien kita meminta untuk dipercepat pertemuannya. Kamu gapapa kan Sayang di rumah sama Ken? Nanti aku minta tolong Bunda sama Mama supaya menemani kalian di sini selama aku tidak ada di rumah."


"Kemana? Sama siapa?" Kiki mencari tahu karena baru kali ini dia ditinggal mendadak dalam waktu beberapa hari.


"Ke Jepang sama Kenan, dia kan asistenku," Aydin menjawab dengan membawa Kiki dalam dekapannya untuk memberikan ketenangan padanya.


"Berdua aja?" Kiki kembali bertanya.


"Iyalah, mau sama siapa lagi?" Aydin menjawab sambil membawa tubuh Kiki dalam dekapannya.


"Curang, aku kan yang ingin ke Jepang dari dulu" Kiki melengos merasa kesal pada suaminya.


"Ini kan kerja Sayang, bukan liburan. Kalau kamu ikut, malah kita gak bisa liburan karena waktunya habis untuk bekerja. Lain waktu aku janji deh kita liburan ke Jepang lagi ya,"ucap Aydin.


"Sayang, jangan marah dong. Aku gak tenang loh besok kalau berangkat malah ninggalin kamu yang masih marah sama aku. Ayo dong Sayang, jangan marah lagi. Sebenarnya aku benar-benar gak mau jauh dari kamu, tapi gimana lagi, ini kerjaan Sayang. Aku janji akan segera menyelesaikannya agar aku bisa cepat pulang kembali ke sini," Aydin menatap penuh permohonan pada Kiki.


"Sayang, ayolah... apa aku harus membatalkannya dan itu artinya proyek ini akan gagal. Aku tidak masalah asal kamu tidak seperti ini padaku," Aydin kembali memohon pada Kiki agar tidak mendiamkannya.


Hati Kiki luluh. Dia tidak bisa membiarkan suaminya bersedih meskipun dia ingin merajuk padanya. Akhirnya Kiki memeluk suaminya dengan sangat erat dan dia berkata,


"Aku tidak marah karena aku tidak ikut ke sana. Aku hanya tidak mau kita berjauhan dalam waktu yang lama. Belum dilakukan saja aku tidak sanggup rasanya," suara Kiki bergetar, dia tidak ingin jauh dari suaminya.


"Aku juga Sayang. Kamu tau kan jika aku tidak bisa tidur jika tidak memelukmu dan aku juga tau jika kamu juga tidak bisa tidur tanpa berada dalam pelukanku. Aku janji, aku akan segera membereskan proyek itu agar kita bisa bersama kembali. Tadinya aku akan mengajakmu dan Ken, tapi seharian aku akan berada di luar untuk proyek itu, jadi aku rasa lebih baik kalian di sini saja," Aydin menjelaskan pada Kiki.


"Baiklah, aku mengerti. Tapi...," Kiki tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Tapi kenapa Sayang?" Aydin menjauhkan sedikit tubuh Kiki dan memandang wajahnya yang terlihat sangat sedih dan gelisah.


"Tapi kalau aku kangen gimana?" Kiki menunduk sedih.

__ADS_1


Aydin segera membawa kembali tubuh Kiki dalam dekapannya dan menciumi semua bagian wajahnya, hingga akhirnya ciuman itu membawa mereka untuk melakukan hal yang membuat mereka bersatu. Menyatukan cinta mereka, menyatukan kasih sayang mereka dan menyatukan kehidupan mereka untuk mereka arungi bersama.


"Sayang... kangen. Boleh ya buat bekal besok kan beberapa hari gak ketemu," mata Aydin berkabut seperti menahan sesuatu yang sangat ingin dia tuntaskan.


Kiki pun mengangguk, karena sebenarnya dia sendiri juga tidak bisa menahan sesuatu itu dalam beberapa hari mereka tidak bertemu.


Dan mereka pun mengarungi malam terakhir mereka sebelum berpisah dengan sangat indah dan penuh dengan kenangan yang akan mereka simpan dalam memory mereka untuk beberapa hari ke depan.


Di bandara.


"Sayang hati-hati ya, nanti kalau udah sampai jangan lupa kabari," ucap Kiki yang masih memeluk Aydin, dia enggan melepaskan suaminya pergi ke luar negeri dalan beberapa hari tanpa dirinya.


"Baik Nyonya. Jaga juga Tuan muda baik-baik ya," ucap Aydin dengan sedikit mengurai pelukan Kiki dan itupun diangguki oleh Kiki.


"Tuan muda jagain Mami ya, jangan sampai bikin Mami kelelahan. Tuan Muda Ken gak boleh nakal, gak boleh bikin Mami nangis juga. Mengerti?" kini Aydin berpesan pada Ken.


"Siap Papi. Ken akan menjaga Mami yang paling cantik ini," ucap Ken yang sangat menggemaskan.


"Sayang, aku tinggal dulu ya. Kamu hati-hati, jangan nakal main sama laki-laki lain," Kenan berpesan pada Renita.


"Emangnya aku cewek apaan?" Renita kesal pada ucapan Kenan, padahal tadinya dia bersedih jauh dari Kenan.


"Jangan ngambek dong, aku cuma bercanda," Kenan langsung mencium kedua pipi Renita tanpa sungkan pada yang lain.


"Ya udah yuk masuk Bro, itu udah waktunya kita harus pergi," Kenan mengajak Aydin segera masuk ke dalam tempat pemberangkatan setelah mendengar suara pengumuman bahwa pesawat mereka akan segera berangkat.


Kiki dan Renita melepas kepergian suami mereka dengan perasaan yang sangat menyiksa mereka. Perasaan sedih, merasa kehilangan dan takut. Entah mengapa perasaan itu tiba-tiba datang pada saat mengantar ke bandara.


"Re, kenapa perasaanku jadi gak enak gini ya?" Kiki mengatakan dengan nada khawatir pada Renita.


"Kenapa Mbak? Apa perlu kita menyusul ke sana?" Renita memberikan ide pada Kiki.


"Kita lihat nanti aja deh. Sekarang kita pulang dulu aja. Oiya Re, aku kesepian sama Ken, apa kamu dan Raline mau menginap di rumahku?" tanya Kiki pada Renita.


"Boleh Mbak, kita mampir rumah dulu ya, sekalian jemput Raline."

__ADS_1


__ADS_2