
Kiki berada di teras rumah bersama dengan Raditya. Kiki menceritakan tentang ketakutannya jika memang benar-benar suaminya akan lebih memilih perusahaan daripada dia dan anaknya.
Raditya menjadi pendengar setia Kiki seperti biasanya. Dan seperti biasanya juga, Raditya menghapus air mata yang menetes di pipi Kiki, wanita yang pernah singgah di hatinya dan entahlah Raditya juga masih merasa nama Kiara Anggara Putri belum bisa terhapus sepenuhnya di dalam hatinya.
Aydin melihat dari mobil, Raditya mengusap pipi Kiki. Hatinya memanas dikuasai cemburu. Rahangnya mengeras, dan tangannya memukul setir mobil sehingga klakson berbunyi panjang terkena pukulan Aydin.
Satpam yang berjaga di dalam pos kaget dan keluar dari posnya. Gerbang memang tidak di tutup karena Raditya mengatakan akan segera pulang pada Pak Satpam yang menjaga rumah Vina.
Vina dan Kevin yang berada di ruang tamu tergesa-gesa keluar karena mendengar suara klakson tadi.
Aydin turun dari mobil karena dihampiri Pak Satpam. Aydin mengatakan bahwa dia adalah suami Kiki dan Pak Satpam pun mengijinkannya masuk.
Kiki dan Raditya menoleh kearah luar karena kaget mendengar suara klakson tadi. Dan mereka bertambah kaget karena melihat sosok Aydin yang berjalan ke arah mereka dengan penuh kemarahan.
"Sedang apa kalian berdua?" tanya Aydin pada Kiki dan Raditya, namun matanya memandang tajam Raditya seolah menyerukan peperangan.
"Apa yang kami lakukan tidak perlu kamu tau. Sama seperti kamu yang bisa melakukan ala saja tanpa sepengetahuanku," jawab Kiki yang kini beranjak berdiri.
Aydin menoleh ke arah Kiki ketika mendengar jawaban dari istrinya itu.
"Sayang, kamu salah paham. Akan aku jelaskan semuanya," bujuk Aydin dengan memegang tangan Kiki, namun langsung dihempaskan oleh Kiki.
"Mau bilang kalau kamu terpaksa? Buktinya kamu malah menikmatinya, kamu menghiraukan ku yang saat itu ada di depan kalian, melihat kalian bergandengan mesra apa kamu kira aku sekuat itu untuk menahannya?" ucap Kiki penuh penekanan dan deraian air mata.
"Sayang, aku mohon tenangkan dirimu. Akan aku ceritakan semuanya," pinta Aydin memohon.
"Tinggalkan aku dan anakku, kami akan mencoba hidup tanpa kamu," jawab Kiki yang masih dipenuhi amarah berlalu pergi ke dalam rumah Vina.
"Sayang... sayang...," panggil Aydin mengejarnya.
"Bro, sebaiknya jangan ganggu Kiki dulu. Biarkan dia tenang dulu agar dia bisa berpikir jernih lagi," cegah Kevin pada Aydin yang akan mengikuti Kiki masuk ke dalam kamar.
"Tapi...," ucap Aydin ragu.
"Tenang aja Bro, disini kan ada Vina. Percayakan aja sama dia," Kevin memberi saran pada Aydin.
"Vin, ini tidak seperti yang diperkirakan Kiki," Aydin tetap ingin menjelaskan pada Kiki sekarang juga.
"Aku tau, tapi kamu juga harus bisa mengerti posisi Kiki sebagai istrimu. Bukannya tadi kamu cemburu sama Raditya pada saat mereka bersama? Nah Kiki juga lebih sakit daripada kamu. Disaat dia mengandung anakmu, dia melihatmu bergandengan tangan dengan wanita yang tak lain adalah mantan pacar kamu yang sempat akan jadi tunangan mu. Coba jika kamu jadi Kiki, gimana perasaanmu? Apalagi kata Kiki kamu hanya diam saja pada saat Kiki menghampiri kalian. Pasti dia sangat kecewa," Kevin menjelaskan perasaan adiknya pada Aydin dengan panjang lebar.
"Bukan seperti itu kejadiannya. Aku.. aku... aaaargh... sampai kapan ini berakhir? Aku ingin menemui istri dan anakku," ucap Aydin penuh emosi kesedihan.
"Aku tidak melarangmu. Aku hanya ingin kamu memberinya waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya," ucap Kevin pergi untuk menghampiri Raditya.
Aydin tidak mau pergi dari rumah Vina sebelum dia bisa bertemu dengan Kiki dan menjelaskannya pada Kiki, agar istrinya itu bisa kembali pulang bersamanya.
Kevin pun tidak meninggalkan rumah Vina karena ada Aydin disitu. Padahal Kevin akan kembali ke kantor, kini dia terjebak di rumah Vina dengan Aydin.
Vina masuk ke dam kamar Kiki untuk melihat keadaannya. Dan diluar dugaan Vina, Kiki malah tertidur pulas di atas ranjangnya. Dia tidak mengerti jika di luar kamarnya suami dan kakaknya menunggunya.
Pada saat Vina keluar dari kamar Rhea, Kevin menariknya untuk berbicara di teras. Melihat Kevin dan Vina meninggalkannya, langsung saja Aydin masuk ke kamar Kiki.
Aydin melihat Kiki sedang tidur dengan menampakkan wajah polos seperti bayi. Aydin tidak dapat menahan kerinduannya yang menahannya sejak tadi, sejak melihat Kiki meninggalkan restauran bersama dengan Raditya.
Aydin memeluk Kiki dari belakang dengan penuh kerinduan. Tidur Kiki tidak terganggu, dia malah berbalik dan mendekap erat tubuh Aydin seperti biasanya. Mungkin mulutnya berkata tidak, tapi hati dan tubuhnya mengerti jika Kiki sangat menginginkan suaminya.
Kevin dan Vina hanya berpura-pura saja tadi pergi keluar untuk berbicara. Mereka memang memberi kesempatan pada Aydin untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Kiki. Kevin tidak ingin terlihat mendukung Aydin, karena dia tidak ingin nantinya adik kesayangannya disakiti oleh Aydin.
__ADS_1
Kiki mempererat pelukannya pada tubuh Aydin. Dan dia mengigau dalam tidurnya memanggil-manggil nama Aydin dan mengatakan bahwa Kiki dan anaknya membutuhkannya dan Kiki mengatakan perasaan cintanya pada Aydin.
Tentu saja Aydin sangat senang mendengar Kiki yang mengigau dalam tidurnya dengan menyebutkan namanya. Aydin mengeratkan pelukannya di tubuh Kiki hingga Kiki kesulitan bernafas dan bangun dari tidurnya.
"Kamu mau membunuhku?" tanya Kiki pada Aydin ketika membuka matanya.
Aydin kaget dan melepaskan pelukannya pada tubuh Kiki. Aydin tersenyum dan mengecup bibir Kiki sekilas.
"Ah minggir, kamu mau membunuhku kan?" ucap Kiki menjauhkan tubuhnya dari tubuh Aydin.
"Enggak sayang, justru aku sangat kangen sekali sama kalian," ucap Aydin sambil meraba perut Kiki yang masih datar.
"Kangen... kangen, kangen kok digituin sampai aku gak bisa nafas?" tanya Kiki yang masih berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh Aydin.
"Dipeluk sayang, bukan digituin," jawab Aydin yang berusaha menarik kembali tubuh Kiki untuk mendekat padanya.
"Aaah gak mau... ini tangan bekas wanita gatal itu kan? Aku gak mau dipegang dengan tangan ini," Kiki menggigit tangan Aydin yang menurut Kiki bekas dipegang Caroline tadi.
"Aaaw... aww.. sakit sayang... Aydin melepaskan pelukannya dan melihat jejak gigi Kiki di tangannya.
Braaak...
Kevin dan Vina masuk ke dalam kamar Kiki ketika mendengar jeritan suara Aydin yang mengaduh kesakitan karena digigit oleh Kiki.
"Ada apa ini?" tanya Kevin panik setelah membuka pintu kamar Kiki.
Aydin memegang tangannya yang digigit Kiki tadi. Dan menoleh ke arah Kevin dan Vina berada.
"Kamu kenapa Bro?" tanya Kevin pada Aydin.
Tanpa menjawab, Aydin membuka tangannya ketika Kevin mendekatinya.
"Digigit anjing herder Bro?" tanya Kevin di sela tawanya.
Aydin tersenyum kaku, dia melirik Kiki yang ternyata kini sedang menatapnya dengan sangat tajam yang membuat nyali Aydin menciut.
"Gak-gapapa kalau anjingnya cantik kayak gini," jawab Aydin agak tergagap karena takut.
"Kasihan banget lu Bro, punya bini reinkarnasi dari anjing herder," ledek Kevin yang dihadiahi bantal yang mendarat indah di wajahnya.
Aydin mengulum senyumnya, mulutnya diarahkan ke dalam agar tawanya tidak keluar.
"Udah... udah yuk kita keluar, kita makan dulu, makanannya udah siap," ajak Vina menengahi pertengkaran adik kakak di depannya ini.
Memang Vina sudah terbiasa dengan keadaan ini setiap Kiki bertemu dengan Kevin. Pemandangan seperti itu sudah dilihatnya selama bertahun-tahun sejak dia resmi berpacaran dengan Kevin.
Kiki beranjak akan turun dari ranjangnya, namun Aydin membantunya dengan memeganginya.
"Minggir gak? Aku gak mau ya disentuh sama bekas wanita gatel tadi," ucap Kiki dengan ketus dan menghempaskan tangan Aydin.
"Sayang, aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Setelah ini aku akan menjelaskan semuanya," Aydin mencoba memegang Kiki kembali, namun lagi-lagi tangannya dihempas oleh Kiki.
"Pilih aku dan anak kamu atau wanita gatal itu?" tanya Kiki pada Aydin.
"Jelas pilih kalian lah. Kamu istriku tercinta dan anak kita," jawab Aydin berniat untuk meyakinkan istrinya.
"Pilih aku atau perusahaan?" tanya Kiki yang masih menatap dalam seperti mengintimidasi pada Aydin.
__ADS_1
"Sayang kamu tau? Dengar sayang, apapun yang terjadi aku tidak akan rela meninggalkan kamu dan anak kita. Dan masalah ini sudah diurus oleh Ayah. Jadi kamu jangan khawatir ya," Aydin menjelaskan dengan senyumnya yang terlihat begitu manis agar istrinya percaya padanya.
Kiki diam, mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh suaminya. Aydin pun mendekat dan merangkul tubuh Kiki. Namun sebelum itu terjadi, Kiki menjauhkan tubuh Aydin dengan tangannya.
"Sayang, apalagi?" tanya Aydin mengiba.
"Mandi kembang tujuh rupa dulu sana, biar bekas wanita gatal itu hilang," jawab Kiki kemudian berjalan keluar kamar.
Kevin dan Vina yang sedari tadi melihat drama sepasang suami istri di depannya itu tertawa terbahak-bahak ketika Kiki menyuruh Aydin untuk mensucikan badannya dengan mandi kembang tujuh rupa.
Sedangkan Aydin yang sama sekali tidak menyangka atas kemauan sang istri itu hanya bisa pasrah dan menghela nafasnya berat.
"Kak Keviiiin... Kak Vinaaa... ayo makan," teriak Kiki dari meja makan.
Dan mereka pun menuruti perintah tuan putri itu. Mereka duduk di meja makan dan mulai makan.
Aydin yang bertampang bingung dan lesu menarik kursi makan di samping Kiki berniat untuk makan bersama mereka. Namun sialnya Kiki tetap tidak mau dekat dengannya sebelum Aydin mandi kembang tujuh rupa.
Alhasil, Bik Surti yang bekerja sebagai ART di rumah Vina disuruh membelikan kembang tujuh rupa oleh Aydin agar istrinya itu tenang dan memperbolehkannya ada di dekatnya.
Tak disangka Aydin jika Kiki yang sedang hamil sekarang ini sangat keras kepala dan teguh atas pendiriannya, berbeda dengan Kiki yang biasanya. Kiki tetap tidak mau dekat dengan Aydin sebelum Aydin mandi kembang tujuh rupa. Akhirnya Aydin makan berjarak sangat jauh dengan Kiki yang sudah mirip sekali seperti nyonya rumah yang makan dengan ketiga asistennya, karena mereka semua selalu bergerak sesuai dengan perintah Kiki.
Bik Surti memberikan kembang tujuh rupa yang baru saja dia beli pada Aydin.
"Sayang, ini mandinya di rumah aja ya, kan gak bawa baju ganti," ucap Aydin mengiba.
"Ya udah pulang sana," usir Kiki ketus.
"Gak mau pulang sendiri. Aku maunya pulang sama kamu," ucap Aydin memohon.
"Ck, manja. Ya udah ayo cepetan. Aku juga gerah mau mandi," ucap Kiki dengan ketusnya.
Bibir Aydin terangkat, dia tersenyum bahagia karena istrinya mau pulang dengannya. Namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama, setelah masuk dalam mobil, senyum Aydin menghilang karena mendapati istrinya naik di bangku penumpang belakang. Sungguh stres dirinya hari ini. Namun ditahannya agar istrinya tidak marah-marah dan mau dekat dengan dirinya kembali seperti sebelumnya.
Di rumah keluarga Aydin, Ayah dan Bunda menyambut gembira Kiki yang baru pulang. Padahal juga belum saru hari dia menghilang, namun keluarga Aydin sangat senang ketik Kiki berhasil dibawa pulang oleh Aydin.
"Bawa apa kamu kok baunya wangi bunga?" tanya Bunda menghampiri Aydin dan membuka bungkusan plastik yang dibawa Aydin.
"Bunga?" tanya Bunda heran.
"Kiki nyuruh aku mandi kembang tujuh rupa biar bekas wanita sialan itu gak nempel lagi di badanku," jawab Aydin lemas.
"Hahaha... bagus itu, biar sialnya ilang," ucap Bunda.
Lalu Bunda memeluk Kiki dan berbisik di telinga Kiki, "Good job menantu Bunda."
Kiki tersenyum mendengar pujian Bunda dan membalas pelukan Bunda.
Ayah tertawa dan menepuk-nepuk pundak Aydin untuk menguatkannya.
"Sudah, kamu mandi dulu sana, biar cepat hilang itu sialnya dari tubuhmu," perintah Ayah sambil menggerakkan tubuh Aydin agar segera masuk ke dalam kamarnya.
Bunda mengajak Kiki ke taman belakang untuk menikmati kue dan susu hamil buatan Bunda untuk Kiki. Mereka mengobrol akrab layaknya teman.
Ayah menghubungi Pak Hermawan untuk datang me rumahnya bersama Caroline. Tentu saja Ayah sudah menyiapkan semuanya dengan cermat dan teliti. Dan Ayah pun menghubungi sekretarisnya dan pengacara perusahaan mereka untuk datang ke rumahnya.
"Om.. tante...," terdengar suara wanita yang paling dibenci Kiki saat ini.
__ADS_1
Kiki menatapnya tajam mengibarkan bendera perang pada wanita di hadapannya itu.