
"Nak,apa bisa kamu berjanji pada Ayah?" tanya Ayah dengan penuh harap.
"Ada apa ini sebenarnya Ayah?" cemas Aydin menatap Ayahnya.
"Berjanjilah dulu jika kamu akan mengabulkannya",pinta Ayah kemudian.
"Tentu saja jika aku bisa mengabulkannya",jawab Aydin masih dengan kecemasannya.
"Baiklah.Tapi kenapa tidak kau kenalkan dulu gadis yang ada disebelah mu itu pada kami", senyum Ayah mulai mengembang.
Aydin menoleh ke sampingnya.
"Aah...maaf,aku lupa memperkenalkannya pada kalian.Ayah,Bunda,dia Kiki adiknya Kevin,sahabatku yang sering ke rumah.Pasti Ayah dan Bunda masih ingat kan?" Aydin memperkenalkan Kiki.
Kiki maju ke arah Ayah Aydin untuk mencium punggung tangannya,kemudian dia berpindah,berjalan ke arah Bunda Aydin untuk melakukan hal yang sama,yaitu bersalaman dan mencium punggung tangan Kiki.
Namun,pada saat Kiki mencium punggung tangan Bunda,Ayah berkata,
"Bukannya dia pacarmu?"
Perkataan Ayah membuat pergerakan tangan Kiki terhenti ketika sedang mencium punggung tangan Bunda.Kiki terkejut akan pertanyaan yang dilontarkan Ayah Aydin barusan.
Bunda tersenyum dan mengelus kepala Kiki.
"Cantik,cocok kalian berdua",celetuk Bunda yang disertai senyum manisnya.
Kiki tersentak kaget mendengarnya.Kiki menoleh ke arah Aydin untuk melihat ekspresi dan mendengar jawabannya.
Aydin menjawabnya disertai senyuman sambil menatap lekat Kiki.
"Belum.Masih proses"
Sekali lagi Kiki dibuat terkaget di ruangan ini.
Dia sedari tadi mendapatkan syok terapi di ruangan ini.Hatinya seperti berbunga-bunga sekarang ini,tapi Kiki tidak tahu mengapa dia merasa senang dan malu dalam waktu bersamaan.
Ayah dan Bunda terkekeh mendengar jawaban Aydin.Sedangakn Kiki tertunduk malu ketika mendengar Ayah dan Bunda tertawa.
"Baiklah,keinginan Ayah adalah...."Ayah menjeda perkataannya.Aydin menatap Ayahnya dengan was-was.
"Kami ingin kalian segera menikah",Ayah berbicara dengan sangat tegas dan mantap.
Tidak ada keraguan dalam mengucapkannya.
__ADS_1
Kiki amat sangat terkejut mendengarnya,hingga dia menatap ke arah Ayah dan Aydin tidak fokus.Terpaku melihat mereka dan tidak fokus mendengarkan perkataan mereka yang selanjutnya.Suara-suara yang dia dengar sekarang seperti beradu dengan suara yang lain,tumpang tindih suaranya.Ah,benar-benar syok terapi ini buat Kiki.
"Bagaimana Ki,kamu bersedia?" tanya Ayah mengharapkan jawaban iya dari mulut Kiki.
"Ki...kamu tidak marah kan nak?" tanya Bunda sambil memegang pundak Kiki untuk menyadarkannya.
"Kamu mau kan kita nikah?" tanya Aydin ragu.
"Eh,i-iya" jawab Kiki terbata-bata karena kaget akan sentuhan tangan Bunda yang berada dipundaknya.
Aydin kaget dengan jawaban Kiki.Dia benar-benar tidak menyangka jika Kiki mau menerima pernikahan ini.
Namun,yang Kiki dengar pada saat itu adalah pertanyaan dari Bunda yaitu " dia tidak marah kan",dan Kiki menjawabnya" iya",karena tidak mungkin dia bilang kalau dia marah mendengar permintaan Aydin.
Dan fatalnya,Ayah,Bunda dan Aydin mengira bahwa Kiki menjawab "iya" untuk pertanyaan yang dilontarkan Aydin,yang menanyakan kesediaannya untuk menikah dengannya.
"Alhamdulillah.....jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Ayah Aydin dengan sumringah.
"Kalau bisa besok saja kalian akad nikah disini dulu,selanjutnya kalian urus ke KUA dan setelah itu baru kita rencanakan pestanya",usul Bunda dengan senyum hangatnya yang ditujukan pada Kiki yang kali ini kepalanya dielus-elus oleh Bunda.
Bunda benar-benar tidak ingin pernikahan ini batal,oleh sebab itu ia ingin mereka menikah besok,lebih cepat lebih baik pikirnya.
"Hah?!?!?! Ni-nikah?" kaget Kiki dengan suara terbata-bata dan menoleh ke semua orang.
"Nak,kamu antar Kiki pulang sekarang,dan bicarakan dengan orang tuanya.Maaf karena Ayah tidak bisa ke sana menemanimu.Kalau kamu mau,biar Bunda yang menemanimu bertemu orang tua Kiki",terlihat binar kebahagiaan di wajah Ayah Aydin kali ini.
"Biar Aydin sendiri saja Yah.Bunda disini saja menemani Ayah",Ayah mengangguk,Bunda pun ikut mengangguk setuju.
"Kalau begitu Aydin pamit antar Kiki pulang dulu Yah Bun",pamit Aydin mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya...Awas menantu Bunda jangan sampai lecet",tegur Bunda dengan candanya.
Aydin mengangguk dan membantu Kiki berdiri.
Kiki masih bingung dengan keadaan ini,hingga pada saat Aydin membantu Kiki berdiri dan berkata, "Ayo pulang",Kiki baru sadar,kemudian dia berpamitan pada Ayah dan Bunda Aydin dan mencium punggung tangan mereka.
Disepanjang koridor rumah sakit,Kiki masih dengan kebingungannya.Tangan Aydin dengan setia menggandeng tangan Kiki.Hingga Kiki tersadar tangannya masih digandeng dengan erat oleh Aydin.Rasanya hangat dan senang sekali seperti mendapatkan door prize.
Mata Kiki melihat tangannya yang digandeng,kemudian matanya mengarah ke atas menatap wajah Aydin yang masih berjalan beriringan dengannya.Aydin menoleh dan tersenyum manis pada Kiki.Aaah...meleleh hati adek Bang,saking manisnya senyumannya itu.
Kemudian Kiki tersadar dari lamunannya yang masih dalam keadaan berjalan bergandengan tangan dengan Aydin.
Dia melihat di samping mereka ada sebuah taman yang ada juga beberapa pasien duduk di bangku yang tersedia di sana.
__ADS_1
Kiki mengajak Aydin duduk di taman tersebut.
"Bang Ay,apa yang sebenarnya terjadi? Kiki bingung",Kiki mulai bersuara untuk mengawali obrolan ketika mereka sudah duduk bersebelahan di taman.
"Seperti yang kamu dengar tadi Ki.Ayah mengharapkan kita secepatnya menikah.Kalau bisa besok kita menikahnya.Ayahku sedang sakit Ki,dan aku juga tidak ingin melanggar janjiku",Aydin menjawab disertai senyum cerahnya.
"Nikah? Kiki sama Bang Ay? Kok bisa?" tanya Kiki beruntut keheranan.
"Kan kamu tadi udah denger sendiri Ki.Dan kamu juga udah setuju kan tadi.Selain itu Abang juga khawatir sama kesehatannya Ayah,apa lagi ini permintaannya saat sakit.Setau abang,Ayah tuh jarang banget sakit.Ayah selalu menjaga kesehatannya.Bunda juga sangat cerewet sekali kalau menyangkut kesehatan Ayah",jelas Aydin yang masih menatap lekat mata Kiki.
"Kapan Kiki ditanyainya bang? Perasaan tadi cuma Bunda aja yang nanya,Kiki gak marah kan pas Ayah tadi nyuruh kita nikah,jadi Kiki jawab iya,karena Kiki emang gak marah.Itu aja,setau Kiki gak ada pertanyaan lain",jawab Kiki dengan wajah polosnya sambil mengingat-ingat kejadian tadi.
"Kamu ngelamun apa gimana sih Ki? Jelas-jelas tadi kamu bilang iya.Jadi gimana dong ini? Abang gak mau ngecewain mereka", Aydin menjawab dengan lesu dan kecewa.
"Kiki juga gak mau jadi anak durhaka sih Bang.Tapi..... ini nikah loh Bang. Gak main-main.Dan kita kan gak saling cinta",jelas Kiki.
"Siapa yang main-main Ki? Abang serius. Abang udah suka sama kamu dari awal kita bertemu.Bahkan Abang yakin kalau Abang udah cinta sama kamu.Cuma Abang takut kamu tolak",senyum Aydin getir ketika mengatakan takut ditolak.
Lagi-lagi Kiki terkaget dengan pernyataan Aydin.Sepertinya dia belum siap menerima semua kejutan di hari ini.Terbukti jantungnya kini berdegup sangat kencang.
"Abang tau,mungkin kamu belum ada rasa suka bahkan cinta pada Abang.Tapi Abang harap cinta itu akan tumbuh pada saat kita sudah menikah besok.Abang jamin,perasaan cinta Abang sama kamu gak bakalan luntur.Malah berkembang tiap harinya.Biarlah Abang yang mencintaimu lebih dulu. Ijinkan Abang untuk membuatmu jatuh cinta pada Abang.
Pasti nantinya kehidupan kita akan lebih berwarna dan lebih bahagia setiap harinya setelah kita menikah".
Aydin menggenggam dua telapak tangan Kiki yang berada di hadapannya.Kiki terharu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aydin.Begitu menyentuh hatinya,seperti taman bunga yang dipenuhi bunga warna-warni dan dihinggapi banyak kupu-kupu yang indah.
Aaah....seperti ini kah rasanya dicintai? Sangat indah,hangat dan menyentuh.Tidak sakit seperti mencintai orang yang tidak mencintai kita.
Air mata Kiki menetes dengan sendirinya.
Aydin menyeka air mata di pipi Kiki dengan lembutnya.
Kiki tersadar dan menatap dalam mata Aydin mencari tahu kebohongan dalam mata itu,namun nihil,mata di depannya ini penuh dengan kejujuran dan cinta.
Mata mereka saling tatap lama dan mendalam.
Dalam pikiran Kiki mengatakan bahwa sepertinya ini yang terbaik,menerima seseorang yang dari fisik dan hatinya sangat baik menurut Kiki,belum tentu dia akan mendapatkan suami yang seperti ini,dan yang terlebih yaitu lebih baik dicintai dari pada mencintai dan tidak terbalas,seperti kisahnya dengan Raditya.
Tanpa sadar Kiki mengangguk ketika Aydin bertanya apakah Kiki menyetujui pernikahan mereka besok.
Aydin tersenyum sangat manis dan memeluk erat Kiki yang masih antara sadar dan tidak.
Dia memeluknya begitu erat untuk menyalurkan kebahagiaannya saat ini dan tidak ingin melepaskan gadis ini.
__ADS_1