Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
189


__ADS_3

Rania melihat nama Naufal yang tertera pada layar ponselnya. Seketika dia merutuki dirinya yang telah melupakan Naufal dan Tristan yang dengan setianya menjaganya dari jauh.


"Maaf Al aku harus pulang sekarang," ucap Rania tergesa-gesa memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.


"Tapi Ran-"


Rania sudah berlari meninggalkan Ali yang masih memanggil namanya. Bukannya dia tidak peduli pada Ali, hanya saja dia melupakan teman-temannya yang dengan setia mengikutinya dan menunggunya hingga selama itu.


Rania hanya ingin meminta maaf pada Naufal dan Tristan saja, dan berterima kasih pada mereka telah menjaganya dari kejauhan sehingga dia merasa aman meskipun bersama orang yang baru dia kenal.


Tiba-tiba Rania berhenti dari larinya ketika motor sport merah berada di depannya. Pengendara motor sport tersebut membuka helm full face nya dan berkata,


"Ran, biar aku antar kamu pulang."


Rania tidak bisa menolak lagi, dan dia memutuskan untuk mau diantar pulang oleh Ali, karena memang hatinya yang menginginkan itu.


"Baiklah, tapi biar aku telepon dulu agar mereka tidak jadi menjemputku," tukas Rania seraya mengambil ponselnya.


"Aku akan pulang diantarkan oleh Ali, temanku," ucap Rania pada seseorang di seberang sana ketika panggilannya sudah tersambung.


Kemudian Rania meminta helm pada Ali dan segera naik pada boncengan motor Ali.


"Pegangan Ran," Ali memerintahkan Rania untuk berpegangan pada pinggangnya.


Namun Rania tidak merespon apapun sehingga Ali mengambil tangan Rania dan meletakkannya pada pinggang Ali. Kini tangan Rania melingkar dengan indah di pinggang Ali.


"Sepertinya mereka pacaran Bro," ucap Tristan setelah mendengar ucapan Rania di telepon tadi.


Entah kenapa ada sedikit rasa tidak suka melihat Rania bersama dengan Ali. Wajah kesal Naufal terlihat dengan jelas oleh Tristan.


"Udah gak usah jealous gitu. Tadi yang punya ide ini siap" sindir Tristan sambil terkekeh melihat wajah Naufal yang tidak seceria tadi.


"Apaan sih, siapa yang jealous?" Naufal menanggapi candaan Tristan dengan kesal.


"Ya udah yuk cabut," Tristan masih saja terkekeh mengatakannya melihat wajah Naufal yang semakin ditekuk karena candaannya tadi.


Ali berkendara dengan perasaan senang berboncengan dengan Rania, gadis yang memiliki hatinya saat ini. Saking senangnya dia, hingga dia tidak menyadari jika Resti berdiri di jalan yang Ali lewati untuk menunggu angkutan umum yang lewat.

__ADS_1


"Itu kan Ali. Boncengan sama siapa dia? Loh kok rok seragamnya sama kayak punyaku? Tapi jaket dan tas itu sepertinya aku mengenalnya. Siapa perempuan itu? Berani-beraninya dia memeluk erat Ali seperti itu. Dan apa-apaan Ali itu, beraninya dia boncengan sama perempuan lain hingga tidak menjemputku di sekolah?" Resti menggerutu sambil melihat kepergian Ali yang membonceng mesra seorang perempuan dengan kecepatan biasa, sehingga Resti bisa melihat mereka dengan jelas dan lama.


Karena rasa kesal dan marahnya itu, Resti saat itu juga menghubungi Ali. Namun tidak satupun panggilan darinya yang diterima oleh Ali. Sehingga Resti bertambah kesal dan merasa tidak dibutuhkan lagi oleh Ali.


"Bro lihat, itu sepertinya Resti. Dia pasti melihat Aki bersama dengan Rania tadi. Lihat saja, sepertinya dia marah. Dan sekarang dia pasti sedang menghubungi Ali," ucap Naufal ketika melihat Resti yang sedang berwajah kesal sambil menelepon seseorang.


"Kita lihat saja nanti gimana. Kasihan juga jika Rania terperangkap dengan Ali jika memang dia cowok yang hanya bisa mempermainkan cewek saja," Tristan menimpali ucapan Naufal.


Resti sangat tidak menyukai jika dirinya terbuang tidak dibutuhkan lagi oleh orang lain. Oleh sebab itu dia sekuat tenaga membuat dirinya menjadi orang yang dikenal semua orang melalui prestasinya agar dia tidak diremehkan dan selalu dibutuhkan temannya untuk mengajari mereka.


Resti sangat marah. Dia mencari cara agar Ali tidak lepas darinya. Sebenarnya karena Ali lah dia bisa sedikit lega mempunyai uang lebih dari yang dia miliki selama ini.


Dan dia tidak ingin melepaskan Ali sebagai sumber keuangannya sebelum dia mendapatkan laki-laki yang sesuai dengan tipenya seperti Tristan.


Akhirnya dia tetap berada di jalan tersebut, memang sengaja dia tidak pulang agar Ali menjemputnya.


Resti menghubungi kembali Ali secara terus menerus, dan dia tidak akan menyerah sebelum Ali menerima teleponnya. Memang sikap pantang menyerah Resti bisa mengantarkannya untuk mendapatkan beasiswa di sekolah elit tersebut, namun Resti menjadi ambisius, dia menggunakan pantang menyerahnya itu pada semua aspek kehidupannya.


Getaran ponsel di saku celana Ali sangat mengganggu Ali. Tadinya Ali hanya mengacuhkan telepon tersebut karena untuknya sekarang ini yang terpenting hanya bersama dengan Rania.


"Ada apa Al?" tanya Rania pada Ali ketika Ali menghentikan motornya di tepi jalan.


"Sebentar Sayang, sepertinya ada telepon penting, dari tadi bunyi terus," jawab Ali yang membuat pipi Rania bersemu merah mendengar panggilan sayang dari Ali.


Seketika Ali mengernyitkan dahinya dan dia tidak menjawab teleponnya, sehingga membuat Rania heran melihat ekspresi wajah Ali.


"Siapa Al, kenapa kamu sepertinya kaget gitu?" tanya Rania menelisik.


"Bukannya kaget, lebih tepatnya heran. Tidak biasanya dia meneleponku berkali-kali, bahkan tidak berhenti meneleponku," jawab Ali sambil memperlihatkan ponsel Ali yang bertuliskan nama Resti di layar ponselnya.


"Resti? Ada apa? Apa karena kamu gak jemput dia tadi?" tanya Rania menyelidik.


"Entahlah. Dia gak pernah seperti ini. Bahkan jika aku menjemputnya dia yang gak mau dan dia naik ke motorku pun setelah dia jalan kaki sampai di jalan sepi sekitar sekolah. Jadi buat apa dia mencariku?" ucap Ali sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam celananya.


Ali menghela nafasnya kesal ketika merasakan kembali getaran ponsel miliknya yang sekarang sudah berada di saku celananya.


"Udah angkat dulu," Rania dengan malas mengatakannya.

__ADS_1


"Kamu gak marah kan Sayang?" Aki bertanya pada Rania.


"Kita lihat saja nanti," jawab Rania dengan malas.


"Mending dimatiin aja daripada kamu marah sama aku," ucap Ali dengan santainya sambil memencet tombol non aktif pada ponselnya.


"Eh jangan!" seru Rania melarang Ali untuk mematikan ponselnya.


"Nyalain lagi. Angkat teleponnya. Aku ingin tau dia mau ngomong apa ke kamu," Rania mengatakannya dengan nada kesal.


"Tapi janji gak marah ke aku. Marahnya ke Resti aja ya," Ali mencoba merayu Rania.


"Iya bawel, cepetan," Resti kembali berucap kesal.


Dengan cepat Ali mengaktifkan kembali ponselnya karena dia tidak mau jika Rania marah kepadanya. Dan tidak lama kemudian ponsel Aki kembali bergetar di tangan Ali.


Ali mengangkat telepon itu dan menekan tombol loudspeaker agar Rania mendengar apa yang diucapkan oleh Resti.


Ali kamu harus menjemputku sekarang juga! ucap Resti diseberang sana.


"Maaf, aku gak bisa," jawab Ali singkat.


Kamu bercanda? Aku melihatmu boncengan sama cewek dan dia memelukmu sangat erat. Apa kamu sudah lupa aku siapa kamu?


"Memangnya kamu siapa aku?" tanya Ali dengan terkekeh.


Kamu pacarku dan kamu harus menurut padaku.


"Memangnya selama ini kamu menganggapku ada? Apa selama ini kamu menganggapku sebagai pacarmu? Enggak kan? Jadi mulai sekarang kamu gak usah ganggu aku lagi, dan jangan harapkan aku lagi untuk menuruti semua keinginan kamu. Oh iya, soal semua uang yang aku berikan padamu, aku mengikhlaskannya. Semoga kamu bisa berubah menjadi perempuan yang lebih baik lagi."


Ali, kamu-


Belum selesai Resti berbicara, Ali sudah memutus sambungan teleponnya. Dengan senyum bahagianya Ali mengangkat kedua tangannya ke atas setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Yes, akhirnya aku bebas....," seru Ali.


Kemudian dia memeluk Rania dan mengangkat tubuh Rania sedikit serta memutar-mutarkannya. Hingga Rania bisa merasakan kebahagiaan dari Ali saat ini.

__ADS_1


__ADS_2