Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
202


__ADS_3

Mobil Tristan terjebak macet parah di jalan raya yang mereka lewati untuk sampai di tempat yang telah disiapkan oleh Tristan, Rania dan dibantu juga oleh Ali.


Rania yang memang sudah janjian dengan Ali, tergesa-gesa pulang dengan segera setelah Tristan membawa Raline berangkat terlebih dahulu.


Memang Rania dan Ali membantu Tristan untuk menyiapkan tempat bagi Tristan menyatakan perasaannya pada Raline.


Meskipun Tristan berangkat terlebih dahulu, namun dia bisa memastikan jika Rania dan Ali lebih dahulu sampai di lokasi yang telah mereka sepakati.


Ali dan Rania menggunakan motor sport milik Ali, sedangkan Tristan dan Raline menggunakan mobil ke sana, sehingga sudah bisa dipastikan Ali dan Rania lah yang akan lebih dulu sampai di sana.


"Sayang!" Ali memanggil Rania yang keluar dari gerbang sekolah.


Rania pun berlari mendekati Ali dengan segera


"Yuk, kita berangkat sekarang," Rania dengan senangnya menyambut Ali yang sudah menunggunya.


Ali yang duduk di atas motor sportnya tersenyum melihat perempuan manis yang berhasil mencuri hatinya.


Ali memasangkan helm di kepala Rania dengan hati-hati. Helm itu dibeli Ali khusus untuk Rania setelah Rania resmi menerima pernyataan cinta Ali.


Ali telah memberikan pada teman-temannya helm yang selalu dipakai oleh Resti. Karena Ali tidak mau jika Rania memakai helm yang bekas digunakan oleh Resti.


"Cantik banget dah pacar Ali," puji Ali pada Rania ketika sudah memakaikan helm di kepala Rania.


"Gombal!" ucap Rania malu-malu, membuat Ali gemas padanya.


Ali memegang helm yang dipakai Rania di sisi kanan dan kiri, kemudian dia gerak-gerakkan karena gemas dengan Rania yang sedang malu-malu padanya.


"Awwww.... sakit Al... iiiih....," Rania membalas Ali dengan mencubit hidungnya dan memainkannya.


Tidak jauh dari tempat Rania dan Ali berada, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.


Tangannya meremas roknya, wajahnya memperlihatkan raut kemarahan dan hatinya terbakar kemarahan.


Sialan kalian berdua! Awas kamu Ali! Rania, lihat saja pembalasanku! Aku gak akan pernah bisa terkalahkan, apalagi hanya dengan cewek sialan macam dia! Resti memaki Rania dan Ali dalam hatinya.


"Yuk Al buruan, keburu Tristan sama Raline datang lebih dulu di sana," Rania menghentikan candaan mereka dan mengajak Ali untuk segera berangkat.

__ADS_1


"Baik sayangku....," ucap Ali sambil menggandeng tangan Rania.


Ali naik ke atas motornya terlebih dahulu, kemudian tangan Ali yang menggandengnya tadi membantu Rania untuk naik ke boncengan motornya.


"Pegangan yang erat Sayang," Ali berkata sambil melingkarkan tangan Rania di pinggangnya.


Rania pun menurut, dia melingkarkan tangannya di pinggang Ali dan merasakan kenyamanan di sana.


Rasa nyaman itu tumbu karena sudah satu minggu mereka berpacaran, dan selama itu juga Ali selalu menjemputnya.


Resti sangat marah melihat kemesraan mereka berdua dan mereka berdua yang terlihat serasi dan saling mencintai.


Bahkan kamu membelikannya helm baru yang berwarna pink, warna kesukaannya. Kamu berengsek Ali! Resti berteriak marah memaki Ali dalam hatinya yang sangat bergejolak.


Tiiiiin... tiiiiin... tiiiiin...


Suara klakson mobil mengagetkan Resti dari belakang. Seketika Resti menoleh ke belakangnya, ternyata ada mobil yang dikenalinya, mobil Naufal yang telah membunyikan klakson tak berjeda pada Resti agar minggir dari tempat dia berdiri saat ini.


"Woiii minggir!!! kalau udah gak mau hidup, bunuh diri sono di jurang!" Naufal berteriak pada Resti dengan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Resti.


Tanpa berpikir panjang Resti pun minggir, dia merasa malu karena banyak mata yang menyaksikannya dihina oleh Naufal.


Mobil Naufal melewati Resti dengan angkuhnya, dan terdengar di sana suara caci maki teman-temannya yang berada di sekitarnya.


Dengan segera Resti berjalan dengan cepat menuju jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke rumahnya.


Apa aku harus keluar dari sekolahan ini? Tapi jika aku keluar sekarang, akan sia-sia semuanya, dan sebentar lagi aku akan ujian. Untuk perguruan tinggi akan lebih gampang jika aku menjadi lulusan dari sekolah ini. Ah, tapi Ali sudah tidak lagi memberiku uang, bagaimana aku akan membiayai kuliahku nanti? Resti berkata dalam hatinya sambil berjalan cepat menuju jalan raya.


"Aaaaarrghhh....!!!" Resti berteriak mengeluarkan kekesalannya.


Berbeda dengan pasangan yang sedang kasmaran setelah satu minggu mereka berpacaran. Sepanjang jalan mereka bercanda dan Rania memeluk Ali lebih erat. Hingga mereka sampai terlebih dulu di tempat yang akan digunakan oleh Tristan untuk menyatakan perasaannya pada Raline.


Rania dibantu oleh Ali mempersiapkan banyak hal agar Raline, sahabat Rania itu bisa merasakan apa yang saat ini dia rasakan. Jatuh cinta pada lawan jenisnya di usia remaja mereka.


"Kamu seneng banget kayaknya, padahal pas aku nembak kamu aja gak pakai persiapan kayak gini," Ali menyindir Rania yang sedang menyiapkan semuanya dengan gembira.


"Karena Raline itu sahabat terbaikku. Aku ingin dia bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini," jawab Rania dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Baik banget deh sayangnya Ali," ucap Ali sambil mencubit pipi Rania.


"Awww... sakit Al....," Rania membalas Ali, namun dengan sigap Ali berlari hingga mereka berkejar-kejaran di tepi danau itu.


Ya, tempat yang akan digunakan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Raline yaitu di danau yang merupakan tempat bersejarah bagi Rania dan Ali.


Tanpa mereka sadari bahwa danau tersebut juga merupakan tempat bersejarah bagi Aydin dan Kiki. Danau itu juga menjadi tempat Aydin untuk memberikan kado ulang tahun Kiki pada saat pertama kalinya mereka kenal, dan Aydin yang akan mengungkapkan isi hatinya di tempat itu, namun telepon dari Bundanya yang mengabarkan bahwa ayahnya sedang sakit di rumah sakit membuat niat Aydin batal terlaksana.


Danau tersebut juga menjadi tempat favorit untuk Raditya menenangkan diri ketika dia sedang bersedih. Dia bisa berpikir jernih jika menyendiri dan berpikir di danau tersebut.


"Huffft.... kita ngapain sih Tris ke sini? Jadi kejebak macet gini kan malahan," kini Raline sudah kesal dengan situasi macet yang mungkin nantinya akan membuatnya dimarahi oleh semua orang.


"Maaf Ra, sebenarnya aku cuma mau bilang.... Aku suka sama kamu Ra, aku cinta sama kamu. Apa kamu mau jadi pacarku?" Tristan memberanikan dirinya mengakui perasaannya pada Raline di dalam mobil, di tengah kemacetan yang membuat semua orang menjadi emosi.


Raline yang tadinya kesal dan gelisah, kini tiba-tiba rasa itu lenyap, berganti dengan rasa kaget dan bingung.


Raline tidak menyangka jika dia akan mendapatkan ungkapan perasaan cinta dari Tristan untuknya. Dan kini, dia bingung akan menjawab Tristan dengan jawaban apa.


"Ra.... apa kamu....," ucapan Tristan menggantung karena melihat wajah Raline yang sedang bingung.


"Tristan, aku... aku... sebenarnya aku ti-"


"Lebih baik kamu pikirkan saja dulu Ra. Aku akan sabar menunggu jawaban darimu. Tapi meskipun kamu belum menjawabku, tolong ijinkan aku untuk tetap seperti ini, mendekatimu dan membuktikan rasa cintaku padamu mulai dari awal pertama kita bertemu waktu itu. Tolong jangan menolak permintaanku ini Ra," Tristan mengiba pada Raline dan tanpa sadar Raline menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia menyetujui permintaan Tristan untuk menunjukkan dan membuktikan rasa cintanya pada Raline.


Di danau yang sudah tertata sesuai konsep yang direncanakan oleh Tristan dan Rania, Ali dan Rania menunggu lama kedatangan Tristan dan Raline yang tak kunjung datang.


"Kemana sih Sayang mereka berdua? Ini sudah sore banget loh, apa kamu gak telat pulangnya nanti? Aku takut jika kamu dimarahi oleh orangtuamu nanti ketika kamu pulang telat," Ali berkata dengan lesu melihat semua persiapan yang telah mereka lakukan.


"Sebentar biar aku tanyakan pada Tristan dulu," jawab Rania sambil mengirim pesan pada Tristan.


"Emmm Al, maaf ya...," Rania berkata sungkan pada Ali.


"Kenapa Sayang....?" tanya Ali heran.


"Sepertinya mereka gak jadi ke sini deh. Ini mereka masih terjebak macet, ada kecelakaan di jalan raya. Jadi....," Rania menggantungkan ucapannya.


"Jadi kenapa?" Ali bertanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Jadi Tristan mengatakannya di dalam mobil," ucap Rania dengan tersenyum lebar menampakkan deretan giginya.


"Hah?!"


__ADS_2