
Bunda mendekati Aydin dan menamparnya. Baru kali ini dia menampar anak kesayangannya itu dan baru kali ini juga Aydin mendapat tamparan dari Bundanya, yang itu artinya Bunda sangat marah padanya.
"Apa yang kamu lakukan? Kiki melihat kalian dan lari keluar. Sekarang kita tidak tau dia dimana. Cepat cari dia dan bawa dia pulang sebelum kamu menyesal nantinya!" Bunda berteriak memarahi Aydin dengan disertai suara tangisnya.
Aydin melotot kaget mendengar Kiki berlari keluar rumah karena melihat dia memangku Naila. Segera Aydin berlari keluar rumah menyusuri jalan mencari keberadaan istrinya. Ayah geram dan marah melihat ulah Naila, lantas dia menampar ponakannya itu.
"Kamu, Om sudah peringatkan kamu semalam dan sekarang... jangan harap Om bisa memaafkan mu. Apalagi jika terjadi apa - apa dengan menantu Om, pasti Om akan mengusir mu dari rumah ini", Ayah Aydin meninggalkan Naila yang masih terdiam kaget mendapatkan tamparan dari Om nya. Kemudian Ayah Aydin menyusul Aydin untuk ikut mencari Kiki. Sedangkan Bunda diperintahkan Ayah untuk tetap berada di rumah dan memberi kabar pada mereka jika Kiki sudah pulang ke rumah.
Kiki berlari tanpa arah, dia menangis menyusuri jalan yang dia sendiri tidak sadar berada di mana. Hatinya begitu sakit, dia hanya berlari dan menangis tanpa melihat dan mendengar apa yang ada disekitarnya. Hingga disaat dia berlari keluar dari gang dia terserempet oleh motor. Kiki kaget dan tidak sadarkan diri. Ada darah segar yang mengalir di kaki Kiki, membuat dress putihnya menjadi merah terkena darah. Banyak orang mengerubunginya bak tontonan, Aydin dan Ayah pun mendekati kerumunan tersebut ketika mendengar dari orang yang berjalan bahwa mereka merasa kasihan dengan gadis yang tertabrak di sana. Aydin dan Ayah begitu kaget ketika melihat yang terbujur tidak sadar di jalan adalah Kiki dan ada darah segar yang mengalir di kakinya. Aydin segera membopong Kiki dan Ayah mencari mobil yang bisa mereka tumpangi ke rumah sakit. Beruntungnya saat itu ada taksi yang melintas di depan Ayah, sehingga kini mereka bisa cepat menuju ke rumah sakit dengan menggunakan taksi tersebut. Aydin mendekap erat tubuh istrinya dengan tangisannya yang tak henti - hentinya. Ayah menyuruh sopir taksi untuk segera menuju rumah sakit miliknya yang kebetulan letaknya tidak jauh dari situ. Segera Ayah menelepon Bunda dan menyuruhnya untuk pergi ke rumah sakit sekarang. Tak lupa Ayah menelepon rumah sakit untuk segera menyiapkan ruangan pemeriksaan dan menyuruh dokter untuk berjaga sekarang juga menunggu mereka datang.
Sesampainya mereka di rumah sakit, Aydin segera membopong tubuh Kiki menuju IGD. Dia kembali menangis melihat keadaan istrinya terbaring lemah tidak sadarkan diri dengan noda lumuran darah di dress putihnya. Segera Dokter Ardi memeriksanya, kemudian dia menyuruh perawat untuk memanggil Dokter Anggi. Ayah kaget mendengar Dokter Ardi menyuruh perawat memanggil Dokter Anggi yang setahunya adalah dokter kandungan. Dokter Ardi dan perawat tidak berani menyuruh Aydin dan Ayahnya menunggu di luar karena Aydin begitu ngotot untuk menunggui istrinya dan juga karena mereka adalah pemilik rumah sakit tersebut. Mereka semua tahu jika wanita yang berada di IGD yang mereka tangani saat ini adalah istri Aydin, karena mereka dulu menikah di rumah sakit tersebut, sehingga sudah jadi rahasia umum jika Aydin sudah menikah dengan wanita yang sekarang sedang mereka tangani. Bunda baru saja datang dan menangis ketika melihat tubuh lemah Kiki yang sedang tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar di kakinya. Dokter Anggi segera datang dan memeriksa keadaan Kiki. Dia mengatakan bahwa untung saja Kiki segera dibawa ke rumah sakit, karena jika tidak segera ditangani, maka bayinya sulit untuk tertolong. Aydin, Bunda dan Ayah kaget mendengar penuturan dari Dokter Anggi barusan. Dan Dokter Anggi mengerti raut kebingungan mereka, Dokter Anggi tersenyum dan mengucapkan selamat pada Aydin karena saat ini istrinya sedang mengandung sekitar empat minggu, dan Dokter Anggi menyarankan agar Kiki tidak boleh banyak pikiran dan stress dan karena baru saja Kiki mengalami pendarahan, maka dia harus istirahat total selama beberapa minggu sampai kondisinya membaik baru dia boleh beraktifitas kembali seperti biasanya. Kemudian Dokter Anggi memberikan beberapa vitamin dan obat untuk menguatkan kandungannya.
Kiki mendapatkan perawatan dan dipindahkan ke ruangan VVIP yang sedari tadi sudah dipersiapkan ketika mereka menerima telepon dari Ayah Aydin sewaktu di taksi tadi. Setelah di dalam ruang VVIP, Kiki masih belum tersadar. Bunda menatap sendu menantu kesayangannya. Seharusnya dia senang mendengar kabar bahwa Kiki sedang hamil, namun dia sedih melihat keadaan Kiki yang kini masih belum sadarkan diri dan tentang perasaannya sekarang sedang sakit karena ulah Naila. Teringat akan hal itu, Bunda berdiri dari duduknya di samping tempat tidur Kiki, dia mendekati Aydin dan menampar kembali pipi Aydin.
"Kamu lihat, itu istri kamu sedang hamil dan kamu menyakiti hatinya. Bagaimana kalau terjadi apa - apa dengan cucu Bunda?"
Aydin hanya terdiam dan air matanya pun jatuh tanpa permisi. Dia hanya terdiam meratapi kebodohannya, kemudian dia tersadar ketika pundaknya di pegang oleh Ayah. Aydin menoleh ke arah Kiki, dan dia duduk di kursi sebelah ranjang Kiki. Tak dirasanya panasnya tamparan dari Bunda yang kedua kalinya. Dia menciumi punggung tangan Kiki dan telapak tangannya berkali - kali dengan tangisnya dia merapalkan kata maaf berkali - kali.
Ayah menenangkan Bunda, di ajaknya Bunda duduk kembali ke sofa. Ponsel Aydin berkali - kali berdering, namun tak pernah sekalipun dipedulikannya. Sampai - sampai ponselnya diminta Ayah tadi sewaktu berbunyi terus - menerus pada saat di IGD. Ayah mengangkat panggilan dari ponsel Aydin, ternyata itu panggilan dari Kevin. Ayah mengatakan pada Kevin bahwa saat ini mereka sedang berada di rumah sakit karena tadi Kiki terserempet motor dan sekarang masih belum sadarkan diri.
Kiki mengerjapkan matanya, menandakan bahwa dia sudah sadar. Aydin yang sedari tadi berada di samping Kiki tak sedetikpun melepaskan tangan Kiki dari genggamannya dan matanya selalu menatap wajah Kiki tanpa lelah karena besarnya rasa bersalah yang menggelayuti hati dan pikirannya.
__ADS_1
"Sayang... kamu udah sadar?" Aydin berdiri dan membelai wajahnya.
Kiki hanya diam saja mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Dia mengernyit dan merintih kesakitan ketika bergerak merubah posisinya mencoba untuk duduk.
"Ssttt.... aah..."
"Sayang, ada yang sakit? Bentar ya Abang panggil dokternya dulu.
Tangan Aydin hendak meraih tombol untuk memanggil dokter, namun diurungkannya ketika mendengar suara pintu terbuka dan masuklah Dokter Anggi dan Dokter Ardi bersama Ayah dan Bunda. Ya, tadi karena Bunda yang terlampau sangat cemas karena Kiki tak kunjung sadar, Ayah mengajak Bunda untuk menemui Dokter Ardi, namun Dokter Ardi menyarankan untuk meminta penjelasan tentang kandungan menantu mereka itu pada Dokter Anggi karena menurut Dokter Ardi pada saat dia memeriksa Kiki tadi menurutnya tidak ada yang di khawatirkan, namun jika dikehendaki, mereka akan melakukan pemeriksaan lebih mendetail nanti setelah Kiki sadar dan juga atas ijin Dokter Anggi selaku dokter kandungan yang menanganinya. Penjelasan Dokter Ardi dan Dokter Anggi tidak mampu menenangkan Bunda. Jadilah mereka diperintahkan oleh Ayah untuk ikut ke ruang perawatan Kiki agar mereka memeriksanya kembali. Dan disinilah mereka sekarang berada, di dalam ruang perawatan Kiki yang secara kebetulan dia baru saja sadarkan diri. Dokter Ardi memeriksa keadaan Kiki terlebih dahulu, dan hasilnya sama seperti tadi, Kiki baik - baik saja, hanya saja dia tadi syok dan terkejut sehingga dia pingsan. Kemudian giliran Dokter Anggi yang memeriksa keadaan Kiki dan kandungannya. Melihat reaksi Kiki, Dokter Anggi menyarankan untuk meminta bantuan psikiater, karena sepertinya Kiki sangat syok dan stress, takutnya berakibat buruk bagi bayinya, dan juga Dokter Anggi menyarankan kembali agar Kiki tidak boleh stress dan banyak pikiran serta tidak boleh lupa meminum vitamin dan obat agar kandungannya tidak lemah. Kemudian Dokter Anggi mengambil beberapa vitamin dan obat tersebut dari nakas dan memberikannya pada Kiki agar diminum sekarang. Kiki pun menurut, dia mengambil beberapa vitamin dan obat yang diberikan oleh Dokter Anggi untuk diminumnya, dan Aydin membantunya meminumkan air yang sudah dia siapkan tadi. Kiki yang mendengar penjelasan dari Dokter Anggi merasa senang karena kini dia menjadi seorang Ibu, namun dia sedih karena mengingat kembali peristiwa tadi sebelum dia lari dari rumah dan terjadi kecelakaan. Dia meraba perutnya yang masih rata dan air matanya jatuh di pipi begitu saja. Dokter Ardi dan Dokter Anggi berpamitan untuk bertugas kembali karena melihat Kiki yang menangis tanpa suara dan tetap diam dengan pandangan kosong, sama sekali tidak merespon permintaan maaf dari suaminya.
Ayah memerintahkan dokter psikiater untuk datang ke ruang perawatan Kiki. Dokter Vina memeriksa keadaan Kiki, dan dia meminta Ayah , Bunda dan Aydin untuk menunggu di luar, karena Dokter Vina ingin memulai berkomunikasi pada Kiki. Dokter Vina dengan lembut memulai sesi tanya jawabnya. Awalnya Kiki hanya diam saja tidak merespon, namun tanpa sadar Kiki mulai menjawab. Dengan telaten Dokter Vina bertanya, menenangkan dan menghibur Kiki, hingga Kiki sangat nyaman berbicara dengannya. Kiki menceritakan semua yang dia rasakan kepada Dokter Vina, tentunya dia bercerita dengan berderai air mata. Setelah dirasa cukup untuk hari ini, Dokter Vina kembali menenangkan Kiki dan dia berpamitan pada Kiki dan berjanji akan mengobrol dengan Kiki kembali. Kiki mengangguk dan tangisnya sudah reda. Sepertinya dia sudah lega karena sudah berbagi cerita dengan Dokter Vina. Setelah Dokter Vina keluar, dia segera merebahkan tubuhnya dan menutup matanya karena dia merasa sangat mengantuk sekali, mungkin itu efek dari obat yang diberikan oleh Dokter Anggi tadi pada saat berada di ruangan ini.
Setelah pembicaraan dengan Dokter Vina selesai, Ayah, Bunda dan Aydin kembali masuk ke dalam ruangan perawatan Kiki. Mereka melihat Kiki yang sudah terlelap tidur, karena pada saat Aydin memanggil, membelai wajahnya dan mengecup kening dan punggung tangannya pun Kiki tetap tidak menyahut, bahkan Aydin mendengar dengkuran halus dari mulut Kiki. Aydin kembali duduk di samping Kiki dan masih tetap memegang tangan Kiki. Bunda mengomel menyalahkan Naila. Menurut Bunda, kedatangan Naila adalah petaka bagi keluarganya. Bunda meminta agar Ayah mengusirnya dari rumah mereka, dan terserah Ayah akan menempatkannya dimana jika Ayah masih tetap ingin membantunya. Dan yang terpenting, Bunda tidak mau jika Naila mengganggu Aydin dan Kiki lagi. Ayah menenangkan Bunda dan dia berjanji akan menyelesaikan masalah Naila.
Bunda jadi teringat akan peristiwa di dalam mobil tadi, dia bertanya pada Aydin tentang apa yang terjadi di dalam mobil tadi, apa saja yang mereka lakukan dan Bunda ingin Aydin menjelaskan semuanya tanpa ada yang harus ditutupi, karena insting seorang ibu itu kuat jika menyangkut tentang anaknya, Bunda pasti tahu Aydin berkata jujur ataukah berbohong.
Aydin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kiki, lalu dia menghadap ke arah Ayah dan Bunda yang duduk berada tidak jauh dari tempatnya. Aydin menceritakan mulai dari awal ketika dia masuk dalam mobil sampai Naila yang tiba - tiba sudah berada di pangkuannya dan Aydin terdiam bukan karena dia menikmatinya, dia terdiam karena begitu syok dan kaget.
Bunda mendekat pada Aydin, dan kembali menampar pipi Aydin hingga suara tamparan yang keras itu mampu membangunkan Kiki. Dengan mata yang masih remang - remang akibat pengaruh obat, Kiki mencoba membuka matanya dan mendengarkan semuanya.
Tadi, memang Kiki sebenarnya sudah bangun ketika suara Bunda yang memaki Naila begitu keras meskipun mereka hanya membicarakannya dan tidak ada orangnya. Suara itu mampu menelusup masuk pendengaran Kiki, namun matanya begitu berat sehingga dia hanya mampu mendengar dan tidak bisa membuka matanya. Pada saat Bunda menampar Aydin, seolah itu menjadi kekuatan untuk membuka matanya, meskipun hanya terlihat remang - remang saja dia masih tetap berusaha untuk tetap membuka matanya dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Harusnya kamu jangan diam saja meskipun kamu syok dan kaget. Kamu harus bisa lebih tegas menghadapi wanita - wanita genit di luar sana. Jangan diam saja seperti kamu menikmatinya", Bunda masih geram meskipun sudah menampar pipi anak kesayangannya untuk yang ketiga kalinya.
"Maaf Bunda, maaf... Aydin salah", Aydin menundukkan kepalanya tanpa melihat wajah Bundanya.
"Maaf... maaf... kalau sudah begini bagaimana? Apa perlu Bunda menampar kamu lagi untuk hari ini yang ke empat kalinya supaya kamu selalu sadar dan tidak diam saja ketika ada kejadian seperti itu?"
"Jangaaaaaan.....", teriakan itu berasal dari mulut Kiki yang dengan susah payah dia ucapkan.Semua mata menoleh ke arah sumber suara.
"Sayang....", Aydin memeluk erat tubuh Kiki dan menciumi puncak rambut Kiki berkali - kali.
"Alhamdulillah.... Kamu udah baikan sayang?" Aydin menatap lembut wajah istrinya, dan Kiki pun mengangguk.
Aydin tersenyum karena Kiki sudah mau meresponnya. Bunda ingin mendekat, namun di hentikan oleh Ayah untuk memberikan kesempatan pada Aydin. Ayah dan Bunda kembali duduk di sofa untuk melihat interaksi mereka setelah menantunya sedikit merespon setelah bangun tadi.
Tangan Kiki mengelus pipi Aydin yang merah karena tamparan dari tangan Bundanya, Aydin memegang tangan Kiki yang berada di pipinya, dia tersenyum sebagai tanda untuk memberitahukan pada Kiki bahwa dia baik - baik saja, karena Aydin melihat raut kekhawatiran pada wajah Kiki saat ini.
"Pasti sakit", Kiki masih mengelus pipi Aydin yang merah itu. Tak terasa air matanya kembali jatuh. Dikehamilannya ini Kiki sangat sensitif, sehingga dia sering menangis, dan rupanya yang sebelum - sebelumnya dia manja itu ternyata dia sedang hamil, namun tidak ada yang sadar jika Kiki hamil karena dia tidak mengalami morning sickness sehingga Kiki sendiri pun tidak juga menyadarinya.
"Sayang, jangan menangis, aku baik - baik aja. Ini sama sekali tidak sakit dibandingkan dengan apa yang kamu rasakan. Aku pantas menerimanya, bahkan berkali - kali pun masih belum cukup untuk membayar rasa sakit hati yang kamu rasakan saat ini. Maafkan Abang ya.... maaf...", Aydin menghapus air mata Kiki dan seperti biasa dia mencium kedua mata Kiki untuk menghentikan tangisannya.
Kiki menggeleng. "Aku udah dengar semuanya. Apa benar itu yang terjadi?" Kiki menatap dalam mata Aydin mencari kebenaran akan jawabannya.
__ADS_1