
Pagi ini Linda masuk kerja dan menghadap pada bagian HRD. Sebenarnya Linda masih mendapatkan surat peringatan pertama, jadi masih ada kesempatan untuk dia bisa bekerja di sana lagi.
Namun nampaknya desas-desus tentang hubungannya bersama dengan Riko sudah beredar di seluruh bagian dari perusahaan yang menjadi tempat dia bekerja.
Pak Gunawan, HRD yang memanggil langsung Linda untuk menghadapnya. Linda tidak bisa lagi mengelak, dia harus menghadap Pak Gunawan agar masalahnya cepat selesai. Jika memang dia harus dikeluarkan, dia akan mencari kerja di lain tempat, namun jika dia bisa bekerja kembali, dia akan bersungguh-sungguh untuk bekerja dengan baik, karena sekarang ini sangat susah mencari pekerjaan.
Sedangkan Riko hari ini pun dia mulai masuk kembali untuk bekerja, tapi dia bebas dari panggilan HRD karena alasannya waktu itu saat dia dipenjara, alasannya untuk ijin beberapa hari untuk pergi ke desa menjenguk orang tuanya yang sedang sakit telah membebaskannya dari panggilan pihak HRD, karena selang satu minggu Riko memberi kabar jika dia masih belum bisa masuk kerja karena orang tuanya belum bisa ditinggalkan, mereka masih butuh bantuan Riko. Dan mereka percaya begitu saja dengan alasan Riko. Entah apa yang terjadi sehingga mereka mempercayai Riko.
Tok... tok... tok...
Linda mengetuk pintu ruangan Pak Gunawan dengan ragu-ragu. Dia sudah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi Pak Gunawan.
"Masuk...," suara Pak Gunawan membuat Linda menjadi deg-degan tak menentu.
Linda masuk ruangan Pak Gunawan dengan senyum yang dia buat semanis mungkin agar tidak terlihat takut dan gemetar.
"Pagi Pak, saya Linda yang Bapak panggil untuk bertemu dengan Bapak hari ini," Linda mencoba tenang berbicara pada Pak Gunawan.
Tampang Pak Gunawan memang tegas dan banyak yang takut padanya. Pria berumur hampir 50 tahun ini disegani banyak karyawan karena kedudukannya yang menjadi HRD di perusahaan tersebut.
"Silahkan duduk. Kamu tahu kesalahanmu?" tanya Pak Gunawan dengan menatap Linda dengan pandangan yang membuat nyali Linda menciut.
"Maaf Pak," hanya kata itu yang bisa Linda katakan dengan kepala yang masih tertunduk takut.
"Lalu, kamu maunya bagaimana? Apa kamu mau keluar dari perusahaan ini?" Pak Gunawan menggertak Linda sehingga Linda memejamkan matanya dengan kepala yang masih saja tertunduk di hadapan Pak Gunawan.
"Sa-saya... saya ingin bekerja Pak," jawab Linda dengan gugup dan terbata-bata.
"Kamu ingin saya beri kesempatan lagi?" Pak Gunawan menyeringai melihat Linda yang masih ketakutan padanya.
"I-iya Pak," Linda masih menundukkan kepalanya, dia tidak tahu ekspresi wajah yang ditampilkan oleh Pak Gunawan sekarang ini.
"Saya sekarang ada pertemuan dengan cabang di luar kota, saya tidak bisa memutuskannya sekarang. Atau kamu ikut saya saja, menggantikan sekretaris saya yang sedang cuti agar saya tahu kesungguhan kamu dalam bekerja. Bagaimana?" Pak Gunawan memberikan Linda pilihan yang sama sekali tidak dapat dia pilih.
"Hari ini Pak?" tanya Linda yang kali ini dengan menatap wajah Pak Gunawan.
"Iya, sekarang. Ayo berangkat," Pak Gunawan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kerjanya.
"Ta-tapi saya belum ijin keluarga saya dulu Pak," Linda memberanikan diri untuk meminta waktu.
"Cepat kamu hubungi sekarang, bilang kita pergi ke luar kota. Atau kalau tidak, kamu tidak usah bekerja mulai hari ini," Pak Gunawan mulai menggertak Linda.
"Ba-baik Pak. Saya permisi keluar sebentar mau telepon Pak," Linda segera keluar dari ruangan Pak Gunawan setelah mendapat anggukan dari Pak Gunawan.
__ADS_1
Seringai licik terbit di bibir Pak Gunawan ketika Linda sudah keluar dari ruangannya.
Riko... Riko... kamu tau aja cara meminta maaf, Pak Gunawan berkata dalam hatinya dengan senyuman liciknya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu ruangan Pak Gunawan kembali diketuk.
"Masuk," Pak Gunawan berdiri dari kursinya dan menyuruh Linda masuk.
"Ayo kita berangkat sekarang," Pak Gunawan berjalan menuju pintu.
"Tapi Pak saya tidak membawa pakaian," Linda memberanikan dirinya untuk memberitahukan pada Pak Gunawan.
"Nanti kita beli sekalian. Ayo kita berangkat," ucap Pak Gunawan sembari berjalan keluar ruangannya.
Linda mengikuti Pak Gunawan dibelakangnya dan tidak berani berkata apa-apa.
"Lin, kamu bukan bodyguard saya, berjalanlah di sebelahku, kamu itu sekretaris saya sekarang," Langkah kaki Pak Gunawan terhenti menunggu Linda berpindah di sebelahnya.
Riko bersembunyi ketika melihat Linda berjalan bersama Pak Riko, dia tidak mau Linda mengetahui jika dia melihatnya.
Di dalam mobil, Linda merasa canggung pada Pak Gunawan yang duduk di sebelahnya. Namun Pak Gunawan mengajaknya berbicara terlebih dahulu agar Linda merasa nyaman selama perjalanan dengannya.
Pertanyaan Pak Gunawan itu mengingatkan Linda akan statusnya sekarang yang belum juga dinikahi oleh Riko.
"Iya Pak," jawab Linda.
"Baguslah, jadi kamu bebas kan bisa keluar kota sekarang?" Pak Gunawan ingin memperjelas status Linda.
"Iya Pak," Linda menjawab hanya seperlunya saja.
"Linda, kamu jangan terlalu kaku dengan saya jika kita tidak dalam suasana bekerja. Biasa saja seperti kita sudah kenal dekat. Tapi jika kita sedang bekerja, kita harus profesional," Pak Gunawan kembali berusaha membuat Linda merasa nyaman jika berada dekat dengannya.
"Tapi Pak, apa boleh? Nanti dikira saya tidak sopan pada Bapak," ucap Linda, kali ini dia memandang ke arah Pak Gunawan tanpa takut.
"Kan saya bilang kalau tidak sedang bekerja. Jika sedang bekerja kita harus tetap seperti biasanya," jawab Pak Gunawan dengan menampilkan senyumnya pada Linda.
Linda terpaku, baru kali ini dia tahu senyum Pak Gunawan. Biasanya hanya wajah tegas saja yang dia tampilkan pada semua karyawan.
"Ternyata Bapak bisa senyum juga," celetuk Linda tanpa sadar.
"Hahahaha... kamu pikir saya tidak bisa senyum ataupun tertawa?" Pak Gunawan tertawa mendengar ucapan Linda yang tanpa sadar dia ucapkan.
__ADS_1
"Eh, itu... itu...," Linda bingung mencari alasan.
"Gapapa Linda, saya senang kamu sudah bisa berbicara tanpa takut dengan saya. Tapi ingat, hanya jika diluar pekerjaan saja. Ok?" ucap Pak Gunawan menoleh sekilas dan kembali memberikan senyum pada Linda, kemudian menghadap depan kembali untuk fokus pada kemudinya.
"Baik Pak," jawab Linda yang kini dengan menampilkan senyumnya.
Lama perjalanan mereka akhirnya tidak ada kecanggungan lagi dalam mobil. Linda dan Pak Gunawan kini sudah bisa bercanda. Hingga kini mereka sudah berada di luar kota.
"Itu ada toko pakaian di depan. Apa kamu mau beli pakaian disitu?" Pak Gunawan memberhentikan mobilnya di depan toko baju meskipun Linda belum menjawab.
"Lah ini udah berhenti Pak. Ya udah di sini aja gapapa Pak," jawab Linda sambil memakai tasnya.
"Ya kalau gak mau di sini gapapa, kita cari di tempat lain aja," ucap Pak Gunawan yang belum mematikan mesin mobilnya.
"Di sini aja Pak udah. Saya masuk dulu ya Pak," Linda turun dari mobil Pak Gunawan dan masuk ke dalan toko pakaian tersebut.
Di saat Linda memilih-milih pakaian yang akan dia gunakan untuk ganti besok, Pak Gunawan masuk ke dalam toko pakaian dan memilih-milih dress dengan bahan minim dan pas di badan yang membuat si pemakai terlihat sangat seksi, serta dia memilih lingerie dengan warna yang berbeda.
Kemudian dia membayarnya tanpa sepengetahuan Linda. Setelah itu ketika Linda membayar di kasir, Pak Gunawan membayarnya dengan memakai kartu kredit miliknya.
Di dalam mobil, Linda tidak mempertanyakan apa yang dibeli oleh Pak Gunawan, karena menurutnya Pak Gunawan juga membeli pakaian ganti untuk dirinya sendiri.
Kini tibalah mereka pada kota tujuannya. Hari sudah malam, mobil Pak Gunawan berbelok pada sebuah hotel. Ketika Pak Gunawan melakukan check in, Linda menunggunya di lobi dengan membawa tas belanja miliknya dan milik Pak Gunawan.
"Lin, mau makan dulu atau langsung ke kamar?" tanya Pak Gunawan ketika sudah melakukan check in.
"Langsung ke kamar aja Pak, capek. Tadi kan udah makan," jawab Linda seraya berdiri dari duduknya.
"Ok, yuk kita ke kamar," Linda dan Pak Gunawan menaiki lift untuk menuju ke kamar mereka.
Setelah sampai di depan kamar, Pak Gunawan menempelkan key card yang dia bawa dan membuka pintunya.
"Masuklah, dan jangan lupa pakailah baju yang saya belikan tadi untuk beristirahat," ucap Pak Gunawan setelah mempersilahkan Linda masuk.
"Yang ini Pak?" Linda menunjukkan tas belanja milik Pak Gunawan.
"Iya, itu saya beli untuk kamu. Dipakai sekarang ya," Pak Gunawan memberikan senyum manisnya pada Linda sebelum Linda masuk ke dalam kamar.
Pak Gunawan tidak masuk ke dalam kamar, tetapi dia menutup pintunya kembali tanpa memberikan key card tersebut pada Linda.
Selang beberapa menit, Pak Gunawan masuk ke dalam kamar dengan membawa dua gelas minuman. Pak Gunawan tahu jika Linda masih berada di dalam kamar mandi karena terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Linda keluar kamar mandi tanpa mengetahui bahwa Pak Gunawan berada di dalam kamar tersebut dan memandang penuh minat pada Linda yang kini badannya berbalut lingerie warna merah.
__ADS_1
"Wow... kamu cantik Linda," ucap Pak Gunawan yang kini mendekat pada Linda.