Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
221


__ADS_3

Setelah mengantarkan Rania pulang, seperti biasa Ali segera pulang ke rumahnya untuk menghubungi Rania dan mengabarkan bahwa dirinya sudah berada di rumah.


"Ali, kurang ajar kamu! Kamu harus bertanggung jawab pada putri saya!" suara seorang laki-laki menghentikan Ali masuk ke dalam rumahnya.


Ali menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Ayah Resti. Dia berdiri tidak jauh dari tempat Ali berdiri saat ini.


"Bapak memanggil saya?" tanya Ali dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Iya, kamu. Sini kamu!" jawab Ayah Resti sambil berjalan mendekati Ali.


Plak!


Bugh!


Bugh!


Ayah Resti menampar pipi Ali, kemudian dia memukul perut Ali berkali-kali sehingga Ali tidak bisa menghindarinya. Bukan karena dia tidak bisa membalas pukulan dari ayah Resti, namun dia enggan memukul orang yang lebih tua darinya.


"Hentikan!" suara yang berasal dari dalam rumah Ali menghentikan pukulan ayah Resti.


Tangan ayah Resti menggantung di udara, bogeman tangannya terhenti, tidak menyentuh tubuh Ali.


"Apa-apaan ini? Lepaskan anak saya!" Ayah Ali berteriak dari dalam rumahnya.


Ayah Resti pun melepaskan tangannya yang mencengkeram kerah baju Ali.


"Dia menghamili anak saya Pak!" ayah Resti berteriak memberitahu ayah Ali.


"Apa maksudmu?!" ayah Ali bertanya dengan suara yang meninggi.


"Ali telah menghamili anak saya!" ayah Resti berteriak sangat emosi memberitahukan pada ayah Ali.


"Benar itu Ali?" tanya ayah Ali pada Ali.

__ADS_1


Ali memegang pipi dan perutnya, dia menahan rasa sakit yang disebabkan oleh ayah Resti yang diselimuti oleh emosi yang membabi buta.


Ali duduk di kursi teras tanpa menjawab pertanyaan ayah Resti. Dia ingin menenangkan dirinya dan meredakan sedikit rasa sakit dari memarnya.


"Ali, jawab!" ayah Ali kembali berteriak.


"Bukan Ali Yah yang menghamili Resti. Dia sering melakukannya dengan anak geng motor yang pernah berhubungan dengannya dulu," Ali menjawab dengan suara yang menahan rasa sakitnya.


"Kurang ajar kamu! Beraninya kamu malah memfitnah anak saya!" ayah Resti meninggikan suaranya.


"Bapak yang harusnya bertanya pada anak Bapak, jangan asal main tonjok aja," Ali tidak terima dipersalahkan oleh ayahnya Resti.


"Justru karena saya tanya Resti dia bilang kamu yang menghamili dia," ucap ayah Resti yang masih bersuara tinggi.


"Bohong! Itu bukan anak saya!" kini Ali pun berteriak karena emosi.


"Bukannya kamu pernah mengajak Resti menginap waktu itu?" ayah Resti mengingatkan Ali agar tidak bisa mengelak lagi.


"Itu sudah lama Pak, dan saya bisa buktikan bahwa Resti main dengan beberapa anak, itupun sudah sejak lama, sebelum dia bersekolah di sekolah elit itu," ucap Ali yang tidak kalah kesal dan bernada tinggi.


"Enggak! Bukan saya yang menghamili dia dan saya gak mau bertanggung jawab!" ucap Ali dengan tegas.


"Kurang ajar kamu mau enaknya aja!" ayah Resti kembali mencengkeram kerah leher Ali.


"Lepaskan! Kita bicarakan ini baik-baik," ucap ayah Ali sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan ayah Resti.


Ayah Resti pun menurut. Dia melepaskan tangannya dari kerah baju Ali dan berbicara baik-baik dengan Ali dan keluarganya.


Ali menceritakan tentang Resti pada ayahnya. Dia tidak mau dipersalahkan atas perbuatan orang lain. Dan pembicaraan mereka pun sangat alot dan lama karena ayah Resti tidak mau melepaskan Ali begitu saja.


Sebenarnya ayah Ali sangat senang jika memang Resti bisa menikah dengan Ali, selain dari keluarga terkaya di desa itu, keluarga Ali juga pasti tidak akan membiarkan mereka hidup susah. Oleh sebab itu ayah Resti sangat senang ketika mendengar dari Resti jika yang menghamilinya adalah Ali.


"Saya punya bukti dan saksi jika Bapak tidak percaya dengan jawaban saya," ucap Ali pada ayah Resti.

__ADS_1


"Bukti? Saksi? Jangan mengada-ada! Mana buktinya?" tanya ayah Ali dengan senyum yang meremehkan Ali.


"Baik, akan saya tunjukkan beserta saksinya," jawab Ali yang merasa tertantang dengan ucapan ayah Resti.


Dengan segera Ali menghubungi sahabat-sahabatnya di depan ayah Resti dan kedua orang tua Ali untuk meminta mereka semua agar datang ke rumahnya.


Setelahnya mereka datang, semua bukti yang mereka punya sedari dulu diperlihatkan pada ayah Resti dan kedua orang tua Ali. Serta mereka memberikan kesaksian mereka untuk semua bukti yang mereka punya.


Terlihat jelas jika ayah Resti sangat kaget melihat semua bukti itu, namun dia masih saja tetap mengelak. Dia tetap ingin Ali yang bertanggung jawab padanya.


Ali, kedua orang tuanya dan sahabat-sahabat Ali sangat kesal dan frustasi pada ayah Resti. Hingga kedua orang tua Ali meminta agar Resti dipertemukan dengan mereka semua agar bisa lebih jelas.


Ayah Resti pun segera pulang untuk membawa Resti datang ke rumah Ali.


"Sialan! Kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab padanya?! Pokoknya aku gak mau! Aku maunya sama Rania, bukan sama perempuan sialan itu!" Ali berteriak meluapkan amarah dan kekesalannya.


"Ali, tenanglah! Kita selesaikan ini semua dengan tenang agar tidak tersebar di masyarakat luas. Ayah dan Ibu sangat kecewa denganmu Ali. Kami harap kamu tidak akan bergaul dengan perempuan macam dia lagi," ucap ayah Ali sebelum beranjak dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah.


Ibu Ali dan sahabat-sahabat Ali hanya diam, mereka merasa kasihan pada Ali yang berniat baik tapi malah diperalat oleh Resti.


Mereka semua berjanji akan membantu Ali agar bisa terlepas dari perempuan yang bernama Resti, perempuan yang menurut mereka tidak patut untuk ditolong ataupun diberi belas kasihan.


Tibalah Resti di rumah Ali. Tatapan Ali tajam seolah ingin membunuh Resti. Dan drama Resti akan segera dimulainya.


Sebelum datang ke rumah Ali, Resti dan ayah Resti berniat sekali untuk mengikat Ali dalam tali pernikahan dengan Resti. Mereka berdua saling berjanji untuk menyudutkan Ali dan membuatnya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Resti.


"Saya mau Ali bertanggung jawab atas kehamilan saya," ucap Resti dengan tegas di hadapan kedua orang tua Ali.


"Kamu gila! Bukan aku yang menghamili kamu. Dan kamu selalu berganti-ganti pasangan. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab?" Ali berteriak dengan emosinya yang meluap-luap di hadapan semuanya.


Resti kini mengeluarkan kemampuan aktingnya. Dia melakukan drama agar semua orang kasihan padanya. Dengan berlagak menjadi korban, dia ingin menyudutkan Ali agar Ali tidak bisa berkelit dan beralasan lagi sehingga Ali harus menikahinya.


Dia tidak mempermasalahkan cinta Ali padanya saat ini. Yang dia harapkan agar dia dan keluarganya tidak malu dan bisa hidup layak meskipun dia tidak bisa meneruskan sekolahnya.

__ADS_1


Bahkan Resti amat sangat yakin jika Ali akan mencintainya kembali seperti dulu karena dia akan berusaha membuat Ali tidak bisa lepas darinya.


"Bertanggung jawablah karena ini anakmu!"


__ADS_2